Cahaya sekelebat secara tiba-tiba muncul, memperlihatkan dengan jelas wajah Lan An yang saat itu telah diselamatkan beberapa ksatria dari Kekaisaran Shang. Wajahnya penuh luka. Tubuhnya bisa dikatakan remuk dari dalam. Jauh sebelum hari ini, laki-laki itu telah melewati ratusan pertempuran yang selalu mengancam nyawanya.
Maka Lan An tak heran lagi juga suatu saat dirinya tumbang. Namun keinginan untuk jatuh itu selalu kalah saat dirinya mengingat istri dan anaknya yang akan lahir. Dia tak sanggup membiarkan Xin Xia sendirian. Lan An masih memiliki satu keyakinan teguh; Pedang Iblis akan kembali. Dia sudah bersumpah untuk mengembalikan satu-satunya keluarga Xin Xia yang tersisa.
Namun mengatakan tidak semudah melakukan. Jalan berdarah yang harus ditempuhnya mati-matian tidak pernah menjamin apa-apa.
Pikiran Lan An tertuju pada hal lain, saat sebelum dia meninggalkan Kekaisaran menuju medan perang. Salah satu Penasehat Kekaisaran berdiri di dekat sebuah jendela panjang, sementara kedua bola matanya terpaku pada langit malam.
"Keajaiban tak akan terjadi dua kali, bukan?"
"Aku sama sekali tidak mengerti apa yang anda katakan." Lan An saat itu tak menangkap permasalahan apa yang dibahas oleh lelaki renta yang umurnya bahkan melewati satu abad. Tak bisa dipungkiri dengan umur yabg begitu panjang, laki-laki tersebut memiliki insting dan firasat tajam. Dia adalah orang yang sangat hebat dalam membaca situasi. Oleh karena itu, Lan An selalu berhati-hati saat mendengar dia berbicara akan sesuatu yang buruk.
Karena takut hal itu akan benar-benar terjadi.
"Tanah kita adalah tanah yang damai."
Lalu dengan sedikit mengibas lengan jubahnya, dia berdiri menghadap Lan An yang kebingungan.
"Di balik kedamaian itu, dibutuhkan penopang. Seorang pilar yang mampu menyatukan semua orang."
Sedikit tersenyum kecut Lan An mendengarnya. "Aku sama sekali tidak memiliki itu, bahkan dari segi kekuatan pun ..." ucapnya tertahan di tenggorokan. Rasa sakit di dadanya kembali terasa. Entah apa yang sedang sahabatnya lakukan di luar sana, dia benar-benar kehilangan dan yang paling menyedihkannya tak mampu berbuat apa-apa.
"Meski begitu ..."
Lan An mengangkat wajahnya. Berharap sesuatu yang baik keluar dari mulut laki-laki itu.
"Keajaiban bisa direnggut darimu. Layaknya sebuah pusaka langit yang diinginkan manusia ... Semua berlomba-lomba menyentuhnya. Bagaimana jika wujudnya adalah manusia? Apakah menurutmu, keajaiban yang seharusnya diperuntukkan pada kita bisa saja menjadi kengerian terbesar yang tak mampu dihadapi siapa pun?"
Diam menyelimuti keduanya. Lan An sampai tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Aku berharap itu tidak akan terjadi."
Dia kembali menatap bulan berwarna pucat di atas langit sana. Lalu gumamnya terdengar di telinga Lan An.
"Aku hanya bisa berharap pemimpin kelompok dengan lambang Bulan Darah itu-"
Pikiran Lan An buyar ketika sebuah hantaman keras menghancurkan tanah dan juga bebatuan besar. Keping-keping bebatuan melompat ke atas mengikuti hantaman berikutnya yang jauh lebih keras. Angin kencang pecah di sekitarnya. Mata Lan An yang kini telah dipenuhi oleh darah terbuka, dia tidak bisa melihat dengan jelas tapi sesuatu yang baru saja di sadarinya, dua sosok mahkluk mengerikan muncul.
Dia nyaris tak mengenal sosok Li Baixuan yang saat ini bentuk tubuhnya jauh berbeda dari awal. Siapa pun dapat merasakan kekuatan tingkat tertinggi yang dimiliki Li Baixuan.
Di samping itu lawan bertarungnya tak jauh mengerikan. Dia adalah Roh Dewa Perang yang saat ini mengamuk murka akibat perbuatan Li Baixuan.
Sebelah tanduknya patah. Kemurkaan roh itu kini tak kenal ampun. Dia tak peduli lagi mana kubu lawan atau kubu kawannya. Satu hempasan yang disertai kekuatan besar muncul, orang-orang yang berada di sekitarnya terpental. Roh itu mengangkat tangannya hingga perlahan dari cahaya merah terbentuk sebuah senjata besar.
"Manusia-manusia ini menghalangiku. Aku tidak peduli lagi janji dengan si manusia batu itu, mau berapapun nyawa yang harus mati dari pihaknya, aku harus membunuh makhluk berbahaya sepertimu."
"Cobalah jika kau sanggup. Aku bahkan tak yakin manusia batu yang kau sebut itu sanggup mengalahkan ku."
Li Baixuan mengeluarkan senyuman penuh arti.
"Berapa kali pun kau membunuhku, aku akan tetap hidup. Karena aku adalah keabadian. Kau tidak bisa menghancurkanku bahkan dengan kekuatan roh sekalipun."
*
Note: maaf part kli ini agak sedikit. Bbrp hari ini author benar-benar kelimpungan mengurus ini dan itu, waktu menulis cuma pas malam, itu pun kadang kepikiran sm tugas kuliah. Mau nulis pikiran udh kacau duluan. Keselnya aku, satu kelompok ada 8 org yang buat makalah ama ppt cuma aku seorang //Malah curhat:(
Bisa tetap update aja skrg dah Alhamdulillah o(TヘTo) くぅ thanks banyak-banyak buat yg udh mampir, dukung dan tetap setia baca. Love sekebon buat kalian semua mwahh
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 275 Episodes
Comments
Andesta
kk vi bknkh suami xinxia udah meningal di pendikar idlis2
2023-05-17
0
Reader 💯
Author memang best'lah 👍🏻🙏
2023-01-28
0
Yuniansyah
Ternyata Si Author nya anak kuliahan ya...
2022-11-26
1