Dengan segala keterkejutannya Li Baixuan sampai tak sempat menyadari bahwa tangannya telah terputus. Matanya terkunci di satu titik di mana seorang pemuda yang diselimuti kekuatan begitu besar tengah menatap tajam ke arahnya. Rasa terancam itu kembali hadir. Bukan merasa takut, Li Baixuan semakin tertantang untuk melawan sang Pemimpin Empat Unit Pengintai.
"Akhirnya kita bertemu ... Sepertinya aku tidak bisa meremehkanmu." Sunggingan tipis yang begitu mengejek tengah mengarah ke arah Xin Chen. Li Baixuan mendadak hilang dan menghantamkan senjata ke tempat di mana Xin Chen berada tapi dia tak mengenai apa pun selain udara. Sosok itu menghilang begitu cepat, lebih cepat daripada kedipan mata Li Baixuan sendiri.
Lagi-lagi tawa kecil keluar dari mulut lelaki itu, dia mengangkat kepala ke atas. Sementara itu di bagian tangannya yang terputus mulai menampakkan pergerakan yang aneh. Shui yang berada tak jauh darinya bergidik ngeri saat melihat cacing-cacing seukuran jari telunjuk keluar dari dalam tubuh Li Baixuan yang terpotong. Mereka memanjang dan menyatu kembali dengan tangan Li Baixuan satunya lagi, yang telah jatuh ke tanah tanpa sedikitpun darah.
Bola mata laki-laki itu seakan-akan mengikuti sebuah pergerakan yang begitu cepat di atas sana. Dalam sekejap mata sebuah guntur besar datang, badai yang berisik menjadi diam dalam sebentar. Di tengah keberisikan perang, tiba-tiba saja rantai-rantai petir muncul di bawah awan.
Bercabang hingga terbentuk puluhan ribu petir yang seperti akan turut ibaratnya hujan. Semua orang menengadah ngeri, bahkan ada yang sampai terjatuh ke tanah. Fenomena alam itu tak akan mereka temui seumur hidup. Saat langit malam yang harusnya gelap mendadak dipenuhi cahaya petir yang jumlahnya amat mengerikan. Siapa pun tak akan selamat dari serangan itu.
Sementara itu di atas sebuah lembah yang jaraknya cukup jauh, seseorang dengan jubah hitam berdiri. Beruntung dia berada di zona aman yang terlepas dari serangan hujan petir. Di balik topeng gagak yang dia gunakan wanita itu bergumam, "Jadi dia kah alasanmu berkhianat?"
Satu suara besar datang dan dapat didengar dari jarak satu kilometer. Wanita itu sampai berkedip di balik topeng. Tak menyangka kekuatan musuhnya akan sekuat itu.
"Dia dilahirkan memang untuk semua ini. Semua kekacauan yang tidak bisa diatasi manusia biasa ..." Ucapannya menggantung.
"Seberapa banyak kekuatan itu? Kau yakin dia sanggup menghentikan kita?"
Wanita bertopeng terkejut hebat, dia menoleh. Jubahnya terkibas memperlihatkan sosok bertopeng lainnya yang telah menodongkan pisau di balik punggungnya sejak tadi.
"Jika kau berpaling dariku, akan ku paksa lehermu tetap menghadapku. Sekalipun harus mematahkannya."
*
Di tempat lain suara petir menggelegar keras sekali. Dalam sekali waktu, petir-petir turun dan menghantam bumi secara bersamaan. Cepat dan langsung membunuh. Namun sebelum serangan benar-benar jatuh Jenderal-1 berteriak kepada prajurit-prajuritnya dan perintah langsung menyebar ke segala sisi. Mereka menggunakan perisai besi untuk melindungi kepala masing-masing. Alhasil benar saja, meski mendapatkan luka serius mereka dapat bertahan dari serangan tersebut. Berkat perintah itu, korban yang jatuh dipihak mereka sedikit berkurang.
Darah mengucur deras, mayat-mayat berserakan. Suara-suara orang yang tengah meregang nyawa terdengar di sekitar. Anehnya tidak satupun prajurit atau anggota Empat Unit Pengintai terkena serangan yang begitu luas tadi. Tidak ada yang bisa mengerti bagaimana seseorang bisa mengendalikan sebuah serangan jarak jauh dalam skala yang amat besar dan juga tanpa sedikitpun menyentuh orang-orang di pihaknya.
Corak malam yang semula terang kembali gelap seperti semula. Hujan telah berhenti namun angin badai mulai bertiup. Di tengah pekatnya malam, seekor siluman burung melesat cepat. Menembus awan dan menukik tajam ke atas.
Jika melihat dari bawah orang-orang hanya berpikir cahaya yang bergerak begitu cepat di atas mereka hanyalah petir.
Pertarungan yang tak diduga dimulai.
Saat Xin Chen menurunkan Hujan Petir Li Baixuan berhasil mengetahui lokasi di mana pemuda itu berada. Dia bersiul kencang memanggil siluman burung, menyerang tepat di arah musuh yang sama sekali tidak bergerak dari tempatnya.
Senjata tajam beradu kencang, gesekan keduanya memunculkan suara nyaring disertai percikan bunga api. Tanpa melonggarkan tempo, Li Baixuan menyerang bertubi-tubi. Lawannya sama sekali tidak memberikan perlawanan selain menangkis semua serangan.
Merasa lawannya tak sanggup untuk menyerang Li Baixuan merasa bangga. Tubuhnya semakin mengeluarkan kekuatan besar, urat-urat otot di tangannya menonjol. Dia mengangkat senjata dan menahannya di atas bahu saat pertarungan berhenti. Siluman yang ditungganginya memang tidak begitu cepat menyaingi kecepatan Xin Chen. Tapi meski begitu, jika soal kekuatan Li Baixuan tetap tak mudah dikalahkan.
Sesaat laki-laki itu berhenti mengetuk pedang di atas bahunya. Perlahan-lahan Xin Chen mengangkat wajahnya. Angin berhembus kencang membuat rambutnya berterbangan, membuat tanda bunga api yang telah berubah warna terbuka begitu saja.
Gelapnya malam membuat Li Baixuan tercengang akan cahaya biru yang begitu indah dari kedua bola mata Xin Chen. Tapi di sisi lain, tatapan dari mata itu menyimpan kebengisan. Nyala api biru di keningnya ibarat kekuatan yang berada di dalam tubuhnya. Jika Li Baixuan bisa menebak, jumlah kekuatan yang keluar dari sana sangatlah besar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 275 Episodes
Comments
Fatahilla Ida
padahal diriku udah membaca cerita ini, tp tak bosan pula ngulang cerita si chen'er ni..
2023-11-28
0
Reader 💯
Hajar dia Chen'er 🔥🔥🔥
2023-01-28
0
Dina⏤͟͟͞R
xin chen kembali..😍😍
2022-12-18
1