Kusir kuda menghentikan kereta kuda yang dikendarainya tepat di depan Paviliun Ru Yi.
"Nona Ruo Li! Kita telah tiba di Paviliun Ru Yi," kata kusir kuda.
Yang Ruo Li melompat turun dari kereta kuda dan terkagum dengan bangunan Paviliun Ru Yi di hadapannya.
Paviliun Ru Yi adalah salah satu tempat perdagangan terbesar di Kota Shang Ri La. Paviliun Ru Yi mempunyai tiga lantai.
Lantai pertama menjual berbagai macam barang komoditas seperti pil elixir, obat-obatan, pakaian, dan senjata. Lantai kedua dijadikan sebagai tempat pelelangan. Berbagai macam benda berharga bisa dilelang di sana. Lantai ketiga adalah ruangan untuk tamu khusus. Tidak ada satu orang pun boleh masuk ke lantai tiga jika tidak membawa undangan.
Di daratan Zhong Yuan yang luas, setiap tempat perdagangan selain melelang benda berharga, juga digunakan untuk melelang manusia yang akan dijadikan budak ataupun pelayan. Bahkan ada satu jenis pelelangan terbesar yang dilakukan setiap dua bulan sekali yaitu pelelangan hewan roh atau spirit.
Pada umumnya spirit yang dilelang adalah spirit yang sudah berhasil dikalahkan oleh seorang summoner dan summoner itu tidak ingin mengikat kontrak dengan spirit itu sehingga bisa melakukan transfer ke summoner lain yang ingin mengikat kontrak dengan spirit itu dan tentu saja dengan harga bayaran yang tinggi di pelelangan.
Pelelangan spirit akan dihadiri oleh summoner dari berbagai tempat karena jika berhasil mengikat kontrak dengan spirit yang mempunyai tingkat tinggi, maka bintang milik summoner pun akan meningkat.
"Kamu tunggu di sini!" kata Yang Ruo Li ke kusir kuda.
"Baik, Nona Ruo Li!" jawab kusir kuda.
Yang Ruo Li berjalan masuk ke dalam Paviliun Ru Yi dengan tenang tanpa menyadari kemunculannya sedang diperhatikan dengan saksama oleh tiga orang yang berada di tempat makan Penginapan Teratai. Penginapan Teratai terletak di seberang Paviliun Ru Yi.
Ketiga orang itu adalah Li Zhe Liang dan kedua bawahan kepercayaannya yaitu Lu Jing dan Feng Teng. Mereka bertiga sedang menunggu kabar dari Fu Rong mengenai identitas gadis misterius si pemilik pakaian robek di Hutan Tengkorak semalam.
"Feng Teng! Bukankah itu gadis kejam di Hutan Tengkorak?" tanya Lu Jing.
"Iya, benar. Tetapi kenapa wajahnya berubah jelek lagi?" tanya Feng Teng.
Li Zhe Liang menikmati teh di dalam cangkirnya dengan tenang. Percakapan antara Lu Jing dan Feng Teng tentu saja terdengar oleh Li Zhe Liang.
"Apa yang akan dilakukan gadis itu?" kata hati Li Zhe Liang.
Walaupun gadis yang ditemuinya di tepi sungai Hutan Tengkorak bersikap menyebalkan dan berusaha menggodanya, Li Zhe Liang akui gadis itu sangat cantik. Akan tetapi, sekarang wajah kiri gadis itu berubah menjadi jelek lagi dan pastinya atas keinginan gadis itu sendiri.
"Mengapa dia ingin menutupi wajahnya yang sudah sembuh?"kata hati Li Zhe Liang.
Li Zhe Liang meletakkan cangkir tehnya di atas meja dan berdiri dari kursi. Kemudian berjalan keluar dari Penginapan Teratai tanpa berbicara sepatah kata pun ke Lu Jing dan Feng Teng.
Lu Jing dan Feng Teng buru-buru berdiri dari tempat duduk dan berjalan menyusul Li Zhe Liang. Feng Teng menyenggol bahunya ke bahu Lu Jing dengan pelan sewaktu menyadari Li Zhe Liang menuju Paviliun Ru Yi.
"Putra mahkota mau ngapain?" tanya Feng Teng dengan suara kecil ke Lu Jing.
"Aku menduga putra mahkota akan mencari gadis itu," jawab Lu Jing.
"Apa? Maksudmu putra mahkota menyukai gadis itu?" tanya Feng Teng dengan polos.
"Bagaimana mungkin? Putra makkota tidak mungkin menyukai gadis itu. Mungkin hanya ada sedikit ketertarikan saja," jawab Lu Jing dengan serius.
"Benarkah begitu?" kata Feng Teng.
"Jangan berpikiran sembarangan! Cepat ikuti putra mahkota!" kata Lu Jing sambil mempercepat langkah kakinya sehingga Feng Teng pun mengikuti dari belakang dengan langkah kaki yang cepat juga.
Sementara itu Yang Ruo Li menghentikan langkah kakinya dan membalikkan badannya untuk melihat sekelilingnya. Dirinya merasakan ada sepasang mata yang mengawasinya dari belakang, tetapi saat ini tidak terlihat siapa pun di sana.
"Mungkin hanya perasaanku saja," kata hati Yang Ruo Li.
***
Kehadiran Yang Ruo di dalam Paviliun Ru Yi menarik perhatian sejumlah orang yang sedang memilih barang komoditas di lantai satu. Kebanyakan mereka mengenali Yang Ruo Li karena bercak hitam di wajah kirinya.
"Bukanlah dia si nona sampah dan buruk rupa dari Keluarga Yang?"
"Mana mungkin Paviliun Ru Yi menerima dia sebagai tamu. Sebentar lagi dia pasti akan ditendang keluar."
Berbagai macam hinaan dan ejekan diucapkan oleh pelanggan Paviliun Ru Yi, tetapi Yang Ruo Li tidak memedulikan perkataan mereka sama sekali. Yang Ruo Li berjalan ke arah tangga dan ingin menaikinya menuju lantai dua. Yang Ruo Li yakin Chun Hua berada di lantai dua.
"Hei jelek!" Terdengar teriakan nyaring dan belakang tubuh Yang Ruo Li. Yang Ruo Li mengenali suara itu dan menggeser tubuhnya ke samping ketika merasakan sesuatu akan mengenai lengannya.
Naluri Yang Ruo Li sangat tepat. Seseorang yang berdiri di belakang ingin mencekal lengan Yang Ruo Li, tetapi karena Yang Ruo Li berhasil mengelak, orang itu mendengus kesal.
"Ada apa Peng Wei Wei?" tanya Yang Ruo Li dengan wajah tanpa ekspresi.
Peng Wei Wei memberikan tatapan penuh kebencian kepada Yang Ruo Li. Tadi suasana hatinya sangat buruk karena kejadian Yang Rong Xian mencium Fu Jiu Yun sehingga Peng Wei Wei datang ke Paviliun Ru Yi untuk berbelanja supaya suasana hatinya membaik, tetapi kemunculan Yang Ruo Li membuat suasana hati Peng Wei Wei semakin buruk sehingga dia ingin mempermalukan Yang Ruo Li di depan umum.
"Kamu memalukan Keluarga Yang dengan memakai pakaian kuno ini!" ejek Peng Wei Wei sambil tersenyum sinis.
Perkataan Peng Wei Wei mengingatkan Yang Ruo Li akan ejekan dari Peng Xiao Ran yang sama persis di Hutan Tengkorak tadi pagi.
"Kakak dan adik sama saja. Suka menindasku! Aku akan memberinya pelajaran," kata hati Yang Ruo Li.
Yang Ruo Li menjentikkan jari telunjuknya ke arah Peng Wei Wei secara diam-diam tanpa disadari oleh siapa pun. Kemudian Yang Ruo Li melipat kedua tangannya di depan dada dan memberikan tatapan mengejek ke Peng Wei Wei.
"Pakainku memang kuno, tetapi tidak sebanding dengan pakaian Nona Wei Wei yang berlumuran darah menstruasi," kata Yang Ruo Li.
Para pelanggan Paviliun Ru Yi yang sedari tadi menonton pertikaian antara Yang Ruo Li dan Peng Wei Wei spontan melihat ke arah pakaian Peng Wei Wei.
"Apa yang kalian lihat? Kalian semua bodoh mempercayai perkataannya!" teriak Peng Wei Wei ke arah para pelanggan Paviliun Ru Yi.
"Ternyata Nona Wei Wei bermuka tembok. Darah menstruasimu sudah mengotori lantai. Masih saja tidak malu!" kata Yang Ruo Li sambil tertawa kecil.
Wajah Peng Wei Wei menjadi pucat seperti warna kertas ketika menundukkan kepalanya dan melihat darah di lantai tepatnya di bawah kakinya.
"Tidak mungkin!" teriak Peng Wei Wei sambil memegang pakaian bagian belakang dan ternyata sudah basah.
"Sangat memalukan! Membuat kotor Paviliun Ru Yi!"
"Benar sekali! Bagaimana mungkin pejabat Peng mempunyai putri seperti dia?"
"Pejabat Peng lebih menyayangi putri pertamanya, Peng Xiao Ran! Aku menduga dia tidak diajarin tata krama di Kediaman Keluarga Peng!"
Para pelanggan Paviliun Ru Yi mempergunjingkan Peng Wei Wei, sedangkan dua penjaga Paviliun Ru Yi segera berjalan mendekati Peng Wei Wei.
"Nona! Kamu mengotori Paviliun Ru Yi! Bayar ganti rugi untuk membersihkan lantai yang kotor dan segera tinggalkan Paviliun Ru Yi!" ucap salah satu penjaga Paviliun Ru Yi.
Peng Wei Wei memberikan uang koin perak untuk ganti rugi dan segera berlari meninggalkan Paviliun Ru Yi sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
Peng Wei Wei sangat malu dengan kejadian ini. Dirinya adalah seorang gadis dan sekarang menjadi bahan tertawaan seluruh Kota Shang Ri La karena melihat pakaiannya yang basah oleh menstruasi.
Padahal Peng Wei Wei mengingat jelas jadwal menstruasinya dan pastinya bukan hari ini. Peng Wei Wei yakin Yang Ruo Li lah penyebab dirinya dipermalukan hari ini.
"Awas kamu, Yang Ruo Li!" kata Peng Wei Wei sambil mengepalkan kedua tangannya.
Peng Wei Wei terpaksa berjalan kaki pulang ke Kediaman Keluarga Peng karena tidak ada kusir kereta kuda yang mau mengantarnya pulang.
***
Follow Author LYTIE di Noveltoon dan medsos ya readers 🤗
Terima Kasih
IG : lytie777
FB : Lytie
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 244 Episodes
Comments
lily
jadi penasaran jaman dlu kalo wanita menstruasi ditampung pake apa dong ? dulu kan belum ada pembalut
2024-06-23
0
Dewi Alwi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣lucu darah menstruasi
2023-09-10
0
murniati cls
kan waktu di hutan kan mukanya masih bercak itam,masak putra mahkota tak ingat
2022-12-18
0