"Critt." Tiba-tiba Edi menghentikan mobilnya. "Itu." Adam melihat zombie berkulit biru dengan cakar yang tajam. Zombie berkulit biru melihat ke arah Mobil yang dikendarai Adam kemudian melesat dengan cepat. "Mundur, dia pasti zombie evolusi tipe kecepatan." Teriak Adam. Edi kemudian memundurkan mobil.
"Centarrr." Zombie berkulit biru memecahkan kaca mobil dengan cakarnya. "Ahhh." Intan berteriak panik. "Berengsek." Adam kemudian menghunus katana ke zombie. "Wush." Zombie berkulit biru melompat mundur menghindari serangan Adam.
"Cepat kalian berdua pergi, aku akan menghadapinya." Teriak Adam kemudian turun dari mobil. "Baiklah, aku serahkan zombie itu padamu." Edi memutar mobilnya kemudian mulai menjauh dari Adam.
"Kakek kenapa kamu meninggalkan Adam." Teriak Intan marah. "Dia mempunyai rahasia, yang tidak ingin ditunjukan kepada kita." Balas Edi kemudian mengingat bagaimana Adam memunculkan bazoka saat melawan monyet bermutasi. Edi tidak bertanya hal itu kepada Adam. Karna Edi menebak itu adalah keahlian khusus Adam.
Setelah Edi dan Intan Pergi, Adam secepat kilat membuka aplikasi shop di smartphone specialnya, dan membeli 2 bazoka seharga 40 coin. "Aku mempunyai 500 coin, membeli dua bazooka tidak masalah." Beberapa detik kemudian smartphone special mengeluarkan cahaya putih, dan dua bazoka muncul di depan Adam.
"Woar." Seakan tahu bahwa Adam ingin menggunakan bazoka, zombie evolusi tipe kecepatan melesat ke arah Adam. "Cepat." Adam terkejut melihat kecepatan zombie kemudian secara reflek melompat ke samping. "Crash." Adam melihat pakaiannya robek terkena cakaran zombie.
"Fiuh, untung hanya pakaianku saja." Adam menghela nafas melihat dirinya tidak terluka. Adam Kemudian mengayunkan pedang ke arah zombie. Zombie dengan mudah mengelak serangan Adam. "Aku tidak bisa mengenainya." Adam depresi melihat serangan pedangnya selalu gagal.
"Woar." Melihat zombie melesat ke arahnya Adam menghembuskan nafas kemudian mengayunkan pedang ke depan. "woar." Zombie dengan cepat mengelak dan melompat mundur. "Kena kau." Melihat zombie berjarak 20 meter darinya, Adam mengambil bazoka kemudian membidik zombie.
"Boom." Bazoka mengenai zombie. "Uhuk." "Uhuk." Adam terbatuk saat menghirup debu akibat ledakan bazoka. "Aku beruntung memiliki reflek bagus. Terlebih lagi aku tidak akan berani membidik target yang jaraknya kurang dari 10 meter." Kata Adam melihat dampak bazoka dan mayat zombie yang hancur.
"Ting." Adam mendengar suara. "Itu pasti pesan pemberitahuan masuk." Adam menebak. Adam kemudian berbalik dan melihat sebuah mobil yang mendekat ke arahnya. "Adam." Adam tersenyum melihat Intan melambai ke arahnya. "Dasar. Lama-lama aku bisa menyukainya." Adam tersenyum.
"Hahaha, aku yakin kamu pasti bisa mengalahkan zombie itu." Edi tertawa kemudian menepuk bahu Adam. "Adam apa kamu baik-baik saja." Kata Intan khawatir. "Aku baik-baik saja Intan." Adam tersenyum.
"Oh, apa kamu memakai kedua bazoka itu." Tanya Edi melirik bazoka yang tergeletak di tanah. "Aku hanya memakai satu." Kata Adam kemudian mengambil bazoka yang tidak dia gunakan. "Adam dari mana kamu mendapat bazoka ini." Intan menyentuh bazoka yang tergeletak di tanah.
"Rahasia." Adam tersenyum. "Huh, baiklah jika kamu ingin merahasiakannya dariku." Intan cemberut. "Baiklah, mengapa kita mengobrol di mobil saja." Kata Edi. "Benar, aku takut zombie seperti tadi akan muncul lagi." Kata Adam kemudian masuk ke dalam mobil dengan membawa bazoka.
"Adam kamu yang menyetir." Kata Edi. "Baiklah, aku berharap tidak ada zombie berevolusi lagi atau hewan bermutasi yang muncul." Kata Adam kemudian mengemudikan mobil.
30 menit kemudian Adam berhenti di depan sebuah rumah. "Kita sudah sampai dirumahku." Kata Adam. "Beruntung kita tidak bertemu zombie berevolusi lagi atau hewan bermutasi selama perjalanan di rumahmu." Intan menghela nafas.
Adam kemudian turun dari mobil di ikuti Edi dan Intan. Saat membuka pintu rumahnya, Adam terkejut bahwa pintu tidak terkunci. "Aku ingat sudah mengkunci pintu saat pergi beberapa hari lalu." Adam bergumam kemudian mengambil pedang di punggungnya dan masuk ke dalam rumah.
"Apa pencuri masuk ke rumahmu." Tanya Edi saat melihat Adam mengambil pedang di punggungnya. "Mungkin, kalian tunggu di ruang tamu. Aku akan memeriksa setiap ruangan." Balas Adam. "Baik." Balas Edi dan Intan.
Saat berjalan di dapur, Adam melihat persediaan makanan yang dia beli beberapa hari lalu menghilang. "Berengsek, siapa yang berani mencuri persediaan makananku." Adam marah melihat makanan yang dia beli dicuri.
Adam yang masih marah kemudian memeriksa seluruh ruangan dan menghela nafas melihat hanya persediaan makanan yang dicuri. "Jika aku tahu siapa yang mencuri makananku, aku akan memotongnya meski dia seorang manusia evolusi atau orang yang kukenal." Adam mencengkram tinjunya.
Adam berjalan ke ruang tamu dan melihat Edi dan Intan. "Maaf, semua makananku dicuri." Adam menghela nafas. "Tidak masalah, mungkin orang yang mencuri makananmu sedang kelaparan. Saat makanan kita habis, kita akan mencari makanan di supermarket." Kata Adam tersenyum. "Benar Adam, Kakek sudah memutuskan untuk mencuri, karna makananmu juga dicuri. Terlebih lagi dia tidak ingin mati kelaparan." Intan tertawa.
Adam tersenyum melihat Edi dan Intan kemudian berkata. "Aku ingin bertanya ke tetanggaku, apakah dia tau soal makananku. Apa pak Edi dan Intan mau ikut." "Aku ikut." Intan tersenyum. "Aku menunggu disini saja." Balas Edi. "Baiklah, ayo pergi Intan." Kata Adam kemudian pergi diikuti Intan.
Tidak lama kemudian Adam dan Intan tiba di depan rumah Doni. Renji mengetuk pintu dan melihat seorang pemuda yang tidak lain Samuel. "Ahh, Kak Adam." Kata Samuel terkejut. "Apa Doni di dalam, aku ingin menemuinya." Balas Adam. "Kak Doni ada di dalam." Balas Samuel dengan gugup.
Adam memperhatikan ekspresi Samuel yang gugup kemudian masuk ke dalam rumah diikuti Intan di sampingnya. "Ahh, Kak Adam." Seorang perempuan yang tidak lain Katrine terkejut melihat Adam. "Halo Katrine, dimana Doni." Tanya Adam.
"Adam." Doni dan beberapa orang mulai keluar dari ruangan. "Kenapa kalian terkejut saat melihatku." Tanya Adam. "Ku pikir kamu sudah mati." Balas Seorang perempuan yang tidak lain Silvi.
"Huh, aku tidak akan mati semudah itu." Adam kesal dirinya di anggap mati. "Maaf, karna kamu tidak kembali setelah beberapa hari. Kami menggangap kamu mati" Doni tersenyum kecut. Adam menatap semua orang dan berkata. "Aku disini ingin bertanya, apa kalian tahu siapa yang masuk ke dalam rumahku dan mencuri persedian makananku."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
𝙍𝙮𝙪𝙪 𝘼𝙯𝙖𝙩𝙝𝙤𝙩𝙝
... Bunuh yang mencuri itu
2023-01-29
2
Reza
cvhf
2022-04-12
0