"Wah wah wah ada apa nih seorang Arash Wijaya kembali kesini lagi setelah sekian lama" sapa seorang laki-laki saat Arash dan pria tinggi yang tadi bersama Arash memasuki sebuah ruangan.
"Ck.. berisik Lo" ucap Arash cuek.
"Hahaha masih dingin aja lo bro" gelak tawa laki-laki itu.
Arash enggan meladeni, dia dengan santai berjalan kearah sofa dan duduk disana diikuti oleh pria yang masuk bersamanya tadi.
"Gak usah di ladenin bro, emang tuh anak dari dulu udah sengklek" Ucap Bryan pria yang tadi bersama Arash saat mereka telah mendaratkan bokongnya di sofa.
"Wahh parah lo Bry ngatain gue sengklek" protes laki-laki tadi tidak terima yang di ketahui bernama Lucas.
"Ck.. drama" Bryan hanya berdecak melihat kelakuan Lucas yang sialnya adalah sahabatnya.
"serius amat elah, gak asik lo Bry" keluh Lucas beranjak dari duduknya.
Mereka memang dari dulu bersahabat namun bila di depan orang lain maka mereka menjadi mode serius, seperti yang di lakukan Bryan tadi ketika menyambut Arash.
Keduanya menghormati Arash di depan semua orang yang ada disana sebab Arash adalah pemilik sekaligus pendiri tempat tersebut.
"Mau kemana lo?" Tanya Bryan.
"Ambil minum" jawab Lucas tanpa menoleh.
"Jadi gimana?" Tanya Arash setelah kepergian Lucas.
"Apanya?" Tanya Bryan balik.
" Yang tadi gue omongin di telepon"
"Oohh ituu.. santai bro gak usah buru-buru kita tunggu Lucas dulu" kata Bryan.
"Gimana gue bisa santai, kalo perusahaan bokap gue yang jadi korban" ucap Arash kesal.
"Permisi tuan tuan minuman datang" heboh Lucas dari arah pintu.
"Silahkan diminum" sambungnya lagi dengan nada bicara yang di buat mendayu-dayu setelah meletakkan 3 botol minuman beralkohol di atas meja.
Kemudian dia pun ikut bergabung dengan kedua sahabatnya itu.
"Gue air putih aja cas" kata Arash kepada Lucas.
"Baiklah paduka" canda Lucas berdiri untuk mengambil air mineral untuk Arash.
"Nih.." ucapnya melemparkan sebotol air mineral kearah Arash.
"Thanks" kata Arash setelah berhasil menangkap botol tersebut.
Setelah meneguk air tersebut Arash buka suara.
"Gue kesini karena butuh bantuan dari kalian dan The Braves" Arash memulai obrolan.
Lucas yang baru mengetahui maksud kedatangan sahabatnya itu langsung meletakkan handphone kemudian mengalihkan atensinya kepada Arash.
"Bantuan? Yakin lo?" Tanya Lucas menaikkan sebelah alisnya.
Arash hanya mengangguk kemudian kembali meneguk air mineral yang ada di tangannya.
"Bukannya bokap lo gak suka lo berurusan sama dunia hitam lagi?" Tanya Lucas lagi.
Sementara itu Bryan hanya menjadi pendengar, karena pria tinggi itu pun penasaran dengan jawaban sahabat lamanya.
"Gue gak ada pilihan lain, apalagi bokap sedang di rawat di rumah sakit" Jelas Arash kemudian menunduk.
"Tapi bro.."
"Cas udah" sela Bryan menyela Lucas.
" Gue ngerti perasaan lo" ucap Bryan menepuk pelan pundak Arash.
Diantara mereka bertiga memang Bryan adalah yang paling peka meskipun agak dingin.
Sementara Arash yang paling cerdas.
Dan Lucas yang paling suka bercanda, kalo gak ada Lucas gak akan rame.
Namun meskipun hobi bercanda Lucas adalah seorang ahli IT.
"Kita akan bantu" sambung Bryan kemudian.
"Thanks Bry" ucap Arash tulus
"Tunggu tunggu tunggu apa disini gue cuma jadi nyamuk ya?" Ujar Lucas.
Arash mengalihkan pandangannya kearah Lucas sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Apa gue doang yang gak tau apa-apa disini" protes Lucas.
" Nanti gue jelasin, sekarang lo kumpulin semua anak-anak dulu di aula kita akan ngenalin Arash kepada mereka semua" Ucap Bryan dengan mode serius.
" Emang harus ya Bry pake acara pengenalan gitu? Udahlah gak usah" protes Arash yang tidak ingin tampil di depan semua anak-anak The Braves.
"Haruslah, mereka harus tau bahwa pemimpin mereka yaitu The Intelligence telah kembali" jelas Bryan panjang lebar.
"Haha The Intelligence kok aneh ya dengarnya. Udahlah gak usah pakai embel-embel itu lagi, kita udah dewasa sekarang" Ucap Arash sambil terawa.
Dulu waktu pertama kali mereka membangun geng mafia ini dari nol, mereka memang tidak menggunakan nama asli melainkan sebuah kode nama berdasarkan sifat mereka masing-masing.
Jika Arash adalah Intelligence
maka Bryan adalah Feelers
Dan Lucas Jokers
"Eits gak boleh gitu dong kita harus pakai nama itu apalagi banyak anak baru yang baru masuk" ujar Lucas memberitahu.
"Terserah kalian" kata Arash pasrah.
Mendengar nada pasrah dari Arash membuat Lucas tertawa puas.
Setelah tawanya reda barulah dia bergegas ke aula untuk membuat pengumuman supaya semua anak-anak The Braves berkumpul disana.
******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 190 Episodes
Comments
Astuti tutik2022
Good gitu jgan lurus"aja suka nich yg bgini
2023-12-12
0