Sore itu saat Attar dan Aruna sudah tiba di sebuah pusat perbelanjaan mereka langsung bergegas ke stand penjual mainan seperti niat awalnya.
Namun Attar tidak sengaja melihat kearah kasir dan disana sudah berdiri seorang wanita yang tidak asing. Wanita yang selalu di carinya, yaitu Aunty Zi.
Dengan cepat anak kecil itu berlari meninggalkan Aruna.
"Attar kamu mau kemana sih, hei jangan lari-lari nanti kamu jatuh" teriak Aruna berusaha mengingat kan Attar.
Namun anak kecil itu tetap berlari hingga tiba-tiba
Pluk
"Aunty Zi" ucap Attar memeluk salah satu kaki wanita tersebut dari belakang yang merupakan Ziana.
Membuat Ziana dan Dita kaget karena ulah anak kecil itu.
"Ehh" ucap Ziana kaget.
Dan dari arah anak kecil tadi muncul seorang gadis remaja yang terlihat ngos-ngosan.
"Aduh kak maafin ponakan saya ya" ujar gadis tersebut tidak enak dengan ulah Attar.
Gadis itu terlihat berusaha melepaskan pelukan tersebut namun tangan kecil itu begitu erat memeluk kaki Ziana.
Terdengar isakan yang keluar dari bibir anak tersebut.
Perlahan Attar mendongak dengan lelehan air mata yang sudah memenuhi wajahnya.
"Aunty Zi" ucapnya terisak.
"Attar.. ya ampun sayang kenapa menangis" Ziana dengan cepat berjongkok dan meraih tubuh kecil itu masuk kedalam dekapannya.
"Cup cup cup jangan menangis ya" bujuk Ziana sambil mengusap pelan punggung dan kepala Attar dengan sayang.
"Attar kangen Aunty" ujar Attar sesegukan.
"Sekarang Aunty udah disini jadi jangan menangis lagi ya" ucap Ziana melepaskan pelukannya dan menghapus air mata anak tersebut.
"Iya Aunty"
Sementara itu Aruna terbengong melihat kedekatan Attar dengan seseorang yang di panggilnya Aunty Zi.
Pasalnya perempuan itu bisa dengan cepat membujuk Attar yang notabenenya seorang anak yang susah dibujuk ketika sudah menangis.
"Attar kesini sama siapa sayang" tanya Ziana.
"Sama Aunty Aruna" jawab Attar menunjuk kearah Aruna.
Aruna mengangguk kearah Ziana sembari tersenyum dibalas anggukan pula oleh wanita tersebut.
"Attar kesini mau beli mainan kan?" Tanya Ziana dibalas anggukan oleh Attar.
"Iya Aunty"
"Yasudah yuk Aunty bantuin kamu cari mainan" ajaknya.
Keduanya sudah berlalu untuk mencari mainan meninggalkan Dita dan Aruna di belakang.
"Mari silahkan" Ujar Dita kepada Aruna.
"Iya kak" ucapnya pelan.
Kemudian mereka berdua menyusul Ziana dan Attar.
Setelah puas memilih mainan dan banyak sekali yang mereka pilih dan tentu saja semua mainan itu dibayar oleh Ziana.
akhirnya mereka keluar dari toko tersebut.
Kini mereka berempat sudah berada disebuah food court dan menikmati makanan yang telah mereka pesan.
Hanya terdengar suara Attar yang antusias bercerita banyak hal dan di jawab oleh Ziana.
Sementara Dita tampak sibuk dengan makanannya sementara Aruna terlihat sesekali memperhatikan kedekatan keduanya.
"Oh iya kalian tadi kesini naik apa?" Tanya Ziana menoleh kearah Aruna.
"Tadi diantar supir kak, tapi supirnya sudah pulang nanti baru kesini lagi buat jemput kita." Kata Aruna menjelaskan.
"Tidak usah menelpon supir, nanti biar sekalian kita antar pulang." ujar Ziana.
"Tidak perlu kak nanti merepotkan" tolak Aruna tak enak.
"Tidak repot kok iya kan Dita?" Ujar Ziana menoleh kearah sekertarisnya.
Ziana berdecak sebal karena pertanyaannya tidak dijawab oleh sang sekertaris.
"Ditaaa" teriak Ziana membuat sang empu nama terkejut.
"Ehh monyet.. duh maaf Bu kenapa?" Ujar Dita latah karena kaget.
Membuat tawa Attar dan Aruna pecah namun buru-buru menguasai diri mereka.
"Gue bukan ibu Lo" cetus Ziana kejam.
"Duh salah ngomong" ujarnya memukul bibirnya sendiri.
"Kenapa kakak Ziana" ralatnya lagi sok manis.
"Najis"
"Hahaha lagian kenapa sih ngangetin aja, nggak tau apa kalau gue lagi menikmati keindahan ciptaan Tuhan" ucap Dita lebay.
"Gak usah lebay deh, jaga image." protes Ziana membuat Dita cengengesan.
Sementara itu Aruna lagi-lagi terbengong melihat perubahan sikap Ziana yang tadinya kalem dan lembut sekarang tiba-tiba menjadi bar-bar.
Setelah makanan mereka habis Ziana benar-benar mengantarkan mereka pulang dengan Dita yang membawa mobil.
Ziana duduk di kursi penumpang bersama dengan Attar sedangkan Aruna duduk disebelah Dita.
Sesampainya mereka Attar menangis tidak mau turun, dia ingin ikut dengan Aunty Zi nya.
"Attar gak mau, nanti kalau Attar kangen Aunty lagi gimana" ujar Attar yang kini duduk di pangkuan Ziana sembari memeluk erat leher wanita tersebut.
"Sayang kan kita masih bisa ketemu, kita juga masih bisa telponan atau Vidio call an" bujuk Ziana.
Mendengar itu akhirnya Attar melepaskan pelukannya dan menatap mata Ziana.
" Boleh Aunty?" Tanyanya
" Boleh dong, tapi harus janji gak boleh nangis lagi, ok?"
"Ok Attar janji"
"Anak pintar" ujar Ziana mencium kening Attar sayang.
Setelah memberikan kartu namanya kepada Aruna barulah Attar keluar dari mobil lengkap dengan mainan yang tadi mereka beli.
" Dadah Aunty Zi, dadah Aunty Dita" ujar Attar melambaikan tangannya.
Dibalas lambaian juga oleh Ziana dan Dita setelah itu mobil tersebut meninggalkan halaman rumah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 190 Episodes
Comments
Lamsiah Lamsiah
sepertinya attar merindukan sosok ibu deh thoor
2023-12-27
0
Astuti tutik2022
Mantaaap
2023-12-12
1