Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu dari arah luar menginterupsi kegiatan sang pemilik rumah yang tengah bersantai di ruang keluarga.
"Mbok.. tolong bukain pintunya" teriak seorang laki-laki paruh baya yang terlihat masih gagah diumurnya yang sudah menginjak angka 58 tahun.
"Iya tuan" ujar Mbok Tin yang merupakan art di rumah tersebut.
Cklek
"Nona Ziana" ujar Mbok Tin terkejut pasalnya anak majikannya ini sudah lama tidak pernah pulang.
"Assalamualaikum mbok" sapa Ziana tersenyum ramah.
"Wa'alaikumsalam Non, silahkan masuk" jawab Mbok Tin dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mbok Zizi kangen" ucap Ziana memeluk mbok Tin, mereka memang sangat akrab sebab Ziana sedari kecil dirawat oleh si mbok.
"Mbok juga non" ujar mbok Tin membalas pelukan Ziana.
Setelah melerai pelukan, Ziana dipersilahkan masuk oleh Mbok Tin, perlahan Ziana melangkahkan kakinya kedalam rumah.
Matanya mengedar menatap setiap sudut rumah itu.
Rumah yang menjadi tempat tinggalnya dulu, rumah tempatnya tumbuh, rumah yang penuh kenangan tentang masa kecilnya.
Perlahan air mata Ziana menetes kala mengingat semua yang ia lalui didalam rumah itu, tak urung senyumnya pun terukir.
Namun Ziana dengan cepat mengusap air mata itu.
"Siapa yang datang Mbok?" Tanya Claudia ketika melihat mbok Tin.
Belum sempat mbok Tin menjawab suara salam menginterupsi mereka.
"Assalamualaikum" sapanya ketika melihat papa, mama, dan Zoey yang tengah berkumpul di ruang keluarga.
"Wa'alaikumsalam" hanya Claudia yang menjawab salam tersebut.
"Ingat pulang juga kamu" cetus Bagas papa Ziana tanpa menoleh sedikitpun kearah sang anak.
"Mas.. jangan bicara seperti itu" sela Claudia cepat.
"Kak Ziziii" teriak Zoey berlari memeluk Ziana.
Dengan cepat Ziana berjongkok menyambut adik kecilnya.
"Kak Zizi, Zoey kangen banget cama kakak" ucap anak kecil yang berumur 3,5 tahun itu dengan aksen cadelnya.
"Kakak juga kangen sama Zoey" ujar Ziana menarik hidung Zoey sayang.
"Kakak angan pelgi-pelgi agi ya, dicini aja Ama Zoey" pintanya manja kembali memeluk leher Ziana di balas pelukan juga oleh Ziana.
"Oh iya kakak bawain Zoey mainan loh, mau liat gak?" Ujar Ziana mengalihkan pembicaraan Zoey.
"Mauu kak mana..mana" ujarnya antusias.
"Ini dia" Ziana memberikan beberapa paper bag yang berisi berbagai mainan.
"Wahh anyak anget minannya" ucap Zoey dengan mata berbinar.
"Bilang apa sayang sama kakaknya" interupsi sang mama.
"Makacih kakak Zizi" ujarnya tersenyum memperlihatkan deretan gigi susunya.
"Sama-sama sayang" jawab Ziana mengusap pucuk kepala Zoey kemudian mengecup kepala adiknya sayang.
"Sekarang bawa mainannya ke kamar ya sayang" pinta Claudia.
" Iya Ma".
"Mba tolong anterin Zoey ke kamarnya ya" ujar Claudia kepada seorang baby sitter yang memang ditugaskan untuk menjaga Zoey.
"Baik Nyonya" ujar baby sitter tersebut berlalu bersama dengan Zoey.
Setelah kepergian Zoey, Ziana kemudian berjalan kearah papanya Bagas, untuk mencium tangan, kemudian kearah Claudia.
"Masih ingat pulang juga kamu" ucap papa Bagas.
"Maaf pa" jawab Ziana pelan.
"Apa yang mau kamu buktiin dengan keluar dari rumah" ujar papa datar masih tidak mau melihat kearah sang anak.
Ziana hanya mampu terdiam mendengar perkataan sang papa, sedangkan Claudia tidak ingin terlalu ikut campur urusan ayah dan anak itu.
Setelah kepergian sang Mama hubungan Ziana dengan papa memang menjadi renggang.
Bagas menjadi jarang pulang kerumah dan lebih memilih untuk tinggal di kantornya.
Bagas sangat membenci mantan istrinya dan semakin hari, wajah Ziana semakin mirip dengan wanita itu, wanita yang dia cintai sekaligus dia benci.
Itulah sebabnya Bagas menghindari anaknya, dia tidak ingin Ziana putri kecilnya menjadi tempat pelampiasan amarahnya terhadap wanita itu karna wajah mereka yang begitu mirip.
Sedangkan Ziana ditinggal dirumah bersama mbok Tin dan beberapa art lainnya.
Ziana yang selalu merindukan papa, perlahan mulai mengerti bahwa dirinya memang anak yang tidak diinginkan oleh kedua orangtuanya.
Ziana tidak membenci mama ataupun papanya, karena jauh didalam lubuk hatinya Ziana sangat menyayangi mereka.
Mama Ziana yang bernama Zara pergi dari rumah meninggalkan anak dan suami demi mengejar karirnya yang merupakan seorang model ternama.
Mereka menikah karena perjodohan, dan Ziana adalah anak yang tidak pernah diinginkan oleh Zara.
Ketika mengandung Ziana berkali-kali Zara mencoba menggugurkan kandungannya, karena menganggap kehamilannya adalah sebuah bencana. Namun Bagas selalu bisa mencegahnya.
Bagi Zara, Ziana adalah penghalang baginya untuk bisa terus berkarir.
Bahkan ketika Ziana lahir pun Zara tidak pernah sekalipun mau mengurusnya.
Hampir setiap hari Bagas dan Zara bertengkar di hadapan Ziana, dan Zara selalu mengatakan bahwa Ziana adalah anak yang tidak pernah dia inginkan, Ziana adalah anak pembawa sial.
Ziana yang saat itu berumur 4 tahun mulai sedikit mengerti tentang pertengkaran kedua orangtuanya karena kehadiran dirinya. Dia bukan anak yang diinginkan, karena dia pembawa sial begitulah pikir Ziana.
Karena itulah kenapa Ziana ingin merintis usahanya sendiri tanpa bantuan Bagas, karena Ziana ingin membuktikan kalau dirinya bukanlah sebuah bencana, dirinya bukan anak pembawa sial.
Ziana ingin membuktikan kepada Zara kalau dia bisa berdiri sendiri tanpa bantuan kedua orangtuanya.
" Apa kamu sudah merasa hebat setelah berhasil membangun perusahaan kamu sndiri?" Cetus Bagas lagi.
"Berapa kali papa bilang sama kamu, jangan pedulikan omongan wanita itu"
"Tapi wanita itu adalah ibuku pa"
"Dia tidak pantas disebut ibu" bentak Bagas
Ziana tergugu dengan tangisnya, karena di dalam hatinya, Ziana membenarkan perkataan sang papa.
Claudia bangkit kemudian mendekap Ziana.
"Mas sudah kasian Ziana" lerai Claudia.
Setelah tangisnya reda Ziana bangkit.
"Ziana pamit pa, tadi saya kesini karena cuma ingin ketemu sama Zoey" ujarnya.
"Apa tidak sebaiknya kamu menginap saja ini sudah malam" cegah Claudia.
"Tidak perlu Ma, tadi Ziana udah ketemu sama Zoey"
Meskipun Claudia hanya ibu sambung namun hubungan mereka sangat baik.
"Tapi.." belum sempat Claudia menjawab Bagas sudah lebih dulu memotongnya.
" Biarkan dia pergi" sela Bagas kemudian berjalan kearah tangga menuju kamarnya.
"Titip salam buat Zoey, saya pamit. Assalamualaikum" pamit Ziana.
"Wa'alaikumsalam" hanya Claudia yang menjawab salam sedangkan Bagas sudah tidak terlihat lagi disana.
'Maafkan papa yang pengecut ini nak' ucapnya pelan menatap kepergian anaknya dari jendela, tanpa sadar air matanya menetes namun buru-buru dihapus karena tidak ingin Claudia melihatnya menangis.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 190 Episodes
Comments
kalea rizuky
ayah g tau diri
2024-01-16
1
Astuti tutik2022
Hhhmmm ya ya ya memang pantas mengakui diri sendiri pengecut sich
2023-12-12
0
Bagus Prakoso
kesusahan memisahkan perasaannya sendiri yach
2023-06-25
0