Perasaan aneh apa ini?
~•~•~
Haura memindai seisi showroom, di sana berjejer mobil-mobil mulus dalam berbagai warna, dengan beberapa tipe yang tentu saja harganya tidak murah.
"Aku tidak bisa, Bos." Haura menolak halus, karena mungkin saja mobil-mobil ini berharga lebih dari lima puluh ribu dollar.
"Kenapa? Aku ikhlas memberikannya untukmu, sebagai transportasi untuk kekasih kontrakku," tegasnya.
Haura menarik napas resah, ia benar-benar tidak bisa memilih, atau bahkan tidak pantas memiliki mobil sebagus itu, terakhir kali dirinya membelikan sebuah mobil sport untuk mantan suaminya, seharga rumah mendiang ibunya, dan dia tidak diizinkan menaiki mobil tersebut, bahkan setelah mereka resmi bercerai.
"Karena mahal?" Alden menegaskan keraguan Haura, disambut anggukan kecil dari wanita itu. "Harga apartemen yang kau tempati sekarang, lebih mahal dari pada mobil-mobil ini," sahut pria yang saat ini mengenakan setelan jas berwarna abu, dipadu dengan celana warna senada yang nampak sempurna membungkus kakinya yang jenjang, turtle neck putih nampak menambah sempurna bos Haura hari ini, ada nada kekehan di kalimatnya.
Haura berbalik badan, berjalan menyusuri satu persatu mobil yang terdisplay rapi di hal gedung showroom tersebut.
Haura hanya harus memilih, yang kemungkinan sangat murah dan tidak memberatkan bosnya. Pilihan Haura jatuh pada mobil biru kecil, yang nampak lucu, memiliki empat pintu, dan empat kursi, dan Haura pikir mungkin saja memiliki harga termurah, karena terlihat mungil.
Seorang pramuniaga menjelaskan spesifikasi mobil yang tengah Haura sentuh.
"MINI 5 Door Panjang adalah 3982 mm, sedangkan lebarnya adalah 1727 mm. Sedangkan engine Perpindahan MINI 5 Door adalah 1499 cc." Si Pramuniaga menjelaskan pada Haura secara terperinci membuat Haura sedikit ternganga tidak mengerti.
"Kau mau ini?" Suara Alden tiba-tiba sudah ada di belakangnya, membuat Haura kembali terkejut. "Saya memilih mobil ini untuk tunangan saya, siapkan semua persyaratannya untuk pembayarannya sekarang." Alden berucap santai, kepada si pramuniaga wanita itu.
"Baiklah, ini memang pilihan yang sangat tepat untuk tunangan Anda, Tuan." Pramuniaga pergi untuk mengurus semua dokumen mobil yang dipilih oleh Haura.
Tunangan? Mengapa bos Haura berkata soal tunangan, bukankah mereka adalah sepasang kekasih palsu—lalu mengapa pria ini berkata pada pramuniaga tadi jika keduanya adalah tunangan.
"Berapa harga mobil itu?" tanya Haura ingin tahu.
"Jika aku memberi tahu, apakah kau bisa membayarnya?"
"Bukan... aku hanya ingin mengetahuinya saja."
"Mungkin sekitar tujuh puluh ribu dollar," balas pria itu santai, tidak ada terbersit kegusaran karena akan menggelontorkan uang yang tidak sedikit untuk Haura.
Haura sendiri hanya bisa menelan ludah, tujuh puluh ribu dollar, bukanlah uang yang sedikit, untuk Haura saja—mengumpulkan uang itu mungkin butuh waktu lama, atau mungkin seumur hidup.
Setelah semua selesai, Haura memiliki dua pilihan, mobil di antar ke apartemen, atau dia akan bisa membawa pulang kendaraan itu secara langsung. Namun, wanita itu memilih opsi pertama.
Haura akan kembali pulang dengan menaiki kendaraan umum, tapi yang terjadi adalah Alden mencegahnya dan meminta dirinya ikut serta ke rumah kakek dan neneknya.
"Ikut aku, kakek dan nenekku ingin bertemu dengan dirimu," ajaknya, Haura yang masih tidak percaya dirinya sudah memiliki mobil, apakah ini tahun keberuntungan sekaligus kesialannya? Karena dia dikhianati, akan tetapi dibalik itu semua ia menemukan secercah kebahagiaan. Jika merunut kalimat religi, pemuka agama—selalu ada pelangi setelah badai.
"Kau mau, bukan?" tegas Alden sekali lagi, suaranya tidak mampu membuyarkan lamunan Haura, yang baru saja membayangkan sebuah cahaya terang kehidupan di pikirannya.
Sebenarnya setelah bercerai, dia hanya ingin berkerja dengan tenang—tapi karena bosnya adalah teman semasa Sekolah Menengah Atas, dan membuat Haura mengikuti alur kemauan pria moody di depannya ini, mau tak mau—wanita itu harus menerimanya, toh dia juga sudah banyak menolongnya ketika dirinya terpuruk, anggap saja ia membalas kebaikan Alden.
"Nona Oxley?!" Suara Alden sedikit meninggi.
"Ya." Hampir saja Haura gelagapan saat Alden memanggil nama belakangnya, sebelumnya dia menggunakan nama Fernard di belakang namanya, akan tetapi setelah bercerai kini dirinya kembali menggunakan nama belakang mendiang ayahnya.
"Kau mau?"
"Untuk apa?"
"Bertemu kakek dan nenekku."
"Hah... haruskah secepat itu?"
Alden mengangguk, lalu keluar dari Showroom mobil itu. Yang Haura harus lakukan kali ini, sebagai pacar kontrak, dia harus berlakon seolah mereka sepasang kekasih yang saling mencintai.
~•~•~
Keduanya telah sampai di sebuah rumah besar, sebenarnya tidak bisa juga di sebut rumah, karena bangunan ini laksana kastil di atas sebuah bukit yang memanjakan mata, dengan hamparan hijau pohon-pohon pinus di sepanjang jalan. Mobil Alden memasuki pintu gerbang tua. Namun, tetap berdiri kokoh padahal sudah berumur. Mereka di sambut beberapa penjaga, yang langsung membungkukkan badan ketika mereka tahu mobil Alden masuk ke dalam.
"Apakah kakek dan nenekmu tinggal di sini?"
"Ya, bahkan ayah dan ibuku juga. Bukan itu saja kakek dan nenek buyutku juga lahir dan meninggal di sini," papar Alden, masih konsentrasi dengan stir kemudinya, dan memarkirkan mobil tidak jauh dari sebuah air mancur indah.
Haura memindai seluruh tempat ini, udara sejuk memenuhi paru-paru Haura, sungguh hunian idaman, karena jauh dari pusat kota Tadpole yang tidak pernah sepi dari kehidupan.
Alden turun dari mobil, kemudian dia memutar, dan membukakan pintu untuk Haura, sungguh manis sekali—ia tidak langsung berjalan pergi, tapi dia langsung menggandeng tangan Haura, membuat jantung Haura seolah berhenti berdetak. Sebenarnya sudah beberapa kali Alden menyeret tangan Haura, akan tetapi kali ini dirinya seolah merasakan kehangatan dalam sentuhan Alden.
"Ini adalah formalitas, lihat penjaga kakek dan nenekku!"
Haura menengok ke kanan dan ke kiri. Benar, banyak penjaga—ternyata tuan dan nyonya Walsh tidak benar-benar tinggal di sana sendiri, karena banyak pekerja yang meramaikan kastil mewah ini.
Alden meraih lengan Haura dan melingkarkan ke lengannya sendiri, keduanya benar-benar seperti sepasang kekasih yang sedang di mabuk kepayang.
Ia membuka pintu besar, berjalan pelan menuju ruang makan—langkah Haura terhenti saat melihat ada beberapa orang yang mengisi kursi makan di sana. Alden menoleh dan melihat ekspresi tidak nyaman di wajah wanita cantik itu. Lagi pula Haura ke sana mengenakan pakaian kasual, sementara orang-orang yang tengah bercengkrama di sana mengenakan pakaian formal. Haura juga melihat wanita si menamparnya tempo hari yang sukses membuat pipinya panas dan telinganya berdengung hebat.
"Ada apa?" tanya Alden, ikut menghentikan langkah.
Sebelum Haura menjawab, sebuah suara yang sedikit renta memanggil nama Alden, pria itu menoleh—neneknya sudah berdiri dan akan berjalan menuju ke arah mereka berdua yang masih mematung di ambang pintu.
"Siapa Nona ini?" sapanya, lagi. Ekspresinya sungguh ramah, meski wajahnya tidak muda lagi.
"Kekasihku, Nek."
"Kekasih? Tapi—" Ucapan sang nenek tercekat di tenggorokan, wanita yang memiliki keriput di beberapa bagian wajahnya itu nampak terperangah mendengar kalimat yang muncur dari bibir sang cucu.
"Ya, bahkan kami sudah tinggal bersama selama beberapa bulan ini."
Kini Haura yang menelan ludah saat Alden seolah mengaku jika keduanya selama ini benar-benar sudah tinggal dalam satu atap.
"Hei... kau!" Wanita cantik yang sejak tadi ikut serta dalam jamuan makan siang tersebut berdiri dan menghardik ke arah Haura. Jari telunjuknya mengacung seolah ingin memprovokasi Haura. "Kau ingat aku! Aku adalah calon tunangan Alden," tegasnya, Iris Brown berjalan mendekat ke arah ketiga orang yang terdiam dan masih di ambang pintu. Mata Iris menangkap tangan Haura melingkar di lengan Alden, lelaki pujaannya. "Apa-apaan ini! ? Mom... Dad! Lihat! Alden...."
Di luar dugaan Haura, Tiba-tiba Alden berkata dengan lantang, "Bukan kau yang akan kunikahi, tapi wanita ini!" Bibir Alden kemudian mengecup lembut bibir Haura, menciptakan geleyar aneh yang merambat di relung sukma Haura, seolah ia tengah melayang tinggi saat bibir pria itu menyentuhnya.
To be continue~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
ρuʝi ¢ᖱ'D⃤ ̐ OFF 🤍
Alden menang banyak nih🤣🤣🤣
2023-02-12
2
Mari Anah
hhaaaa alden modus deh😂😁ambil kesempatan dlm kesempitan tuh🤣🤣😂lanjut mom
2023-01-20
0
Rafinsa
maaf ya Thor..saya adalah tipe silent reader..... 😁😁 jarang komen..
2022-10-19
0