Jangan buat aku melayang tinggi!
~•~•~
Sejak tadi Haura sangat gelisah--dia hanya bisa berbaring menatap langit-langit kamarnya. Besok hari minggu, Haura berpikir apakah dia harus membawa mobilnya ke bengkel. Dia tidak harus mencari alasan ketika dirinya bertemu dengan Alden, dan pria itu pasti akan menawarkan tumpangan untuknya lagi, dan hal yang sama akan terjadi, semua karyawan akan menganggap dia ada hubungan spesial dengan bosnya itu.
Tiba-tiba dirinya dikagetkan suara bel pintu yang berbunyi. Haura tersentak, seolah jantungnya ingin lepas dari tempatnya. Ia menyambar ponselnya di atas nakas. Sialnya benda itu mati, dan Haura lupa mengisi daya baterai di ponsel lawasnya itu. Yang benar saja, waktu sudah menunjukkan jam satu pagi, apa mungkin ada orang asing yang akan berbuat jahat pada dirinya? Tapi itu tidak mungkin, karena keamanan di apartemen ini berlapis-lapis.
Haura beringsut di dalam selimut tebalnya dan mencoba memejamkan mata, seolah pura-pura tertidur, dan mungkin saja tamu itu akan pergi dengan sendirinya. Tapi dugaan Haura salah. Bel berbunyi semakin masif, dan seolah seseorang di luar sana tidak akan menyerah sampai Haura benar-benar membuka pintunya.
Haura bergerak turun dari kasurnya yang nyaman, berjalan mendekati pintu--dia berinisiatif untuk mengintip dari balik lubang pintu, ketika dia tahu bosnya yang berdiri di depan sana mengenakan jogger pants berwarna hitam, dengan kaos putih—wajahnya pun nampak terlihat khawatir, ia masih terus memencet bel berharap Haura membuka pintu unit apartemennya.
Wanita yang sejak tadi tidak bisa memejamkan mata itu, membuka pintu dengan tenang. Namun, alangkah terkejutnya dia ketika Alden langsung menarik tubuhnya dan memeluknya dengan erat, keduanya nampak diam sesaat—Haura sendiri tidak percaya, matanya hampir saja lepas karena saking kagetnya dan tidak bisa berkata apa-apa.
"Apakah kau baik-baik saja?!" serunya setelah melepaskan pelukannya pada Haura, tapi kedua tangan pria itu masih menggenggam erat kedua lengan wanita itu, seolah tidak ingin melepaskannya. "Aku tidak bisa tidur, karena memikirkan dirimu yang pulang mengantarkan mantan suamimu, dan ditambah lagi ponselmu mati," imbuh pria itu.
"A–aku–baik-baik saja, bos." Suara Haura sangat pelan, tapi tetap bisa terdengar di telinga Alden. Lagi pula mengapa pria ini sangat aneh, dia mengkhawatirkan Haura? Tidak mungkin, bukan. Jika ia sedang menaruh hati pada Haura, tidak pernah sedikit pun terbersit di pikiran Haura, jika tuan sempurna di hadapannya ini jatuh hati dengan wanita seperti Haura.
Tiba-tiba suasana hening, Alden seolah tersadar oleh sesuatu, hingga membuatnya kikuk. "Besok jika ada pria itu datang lagi. Kau harus meminta bantuanku, ok!" hardik Alden, tapi kini suaranya terlihat malu.
"Tadi kau yang meninggalkan aku lebih dulu, bagaimana bisa aku meminta bantuan padamu, lagi pula kau sangat garang dan dingin. Mana berani aku memintamu untuk ikut serta mengantarkan Theo sampai ke rumahnya," balas Haura tidak kalah canggung.
"Ehm... baiklah, maaf aku telah mengganggu istirahatmu, aku melakukan ini karena kau adalah kekasih kontrakku," sanggahnya, lalu berjalan pergi ke samping menuju unit apartemennya. Hal itu membuat Haura merasa aneh. Sebenarnya ada apa dengan Alden?
Alden menutup pintu, lalu bersandar di sana. Jantungnya berdetak lebih cepat. Apakah perasaannya pada Haura telah tumbuh semakin subur? Sehingga ketika ia bertatap muka dengan wanita yang telah lama ia sukai itu—membuatnya berdebar.
~•~•~
Waktu telah menunjukkan pukul sepuluh pagi, Haura sudah menelepon mobil derek untuk membawa mobil bututnya ke bengkel. Haura berharap dia bisa memperbaiki mobil itu, dan bisa dipakai kembali tentunya. Meski benda itu memiliki kenangan pahit bersama Theo, akan tetapi hanya kendaraan itu saja yang dia punya untuk pulang dan pergi.
Haura keluar mengenakan pakaian kasual, celana jeans hitam dan kaos berwarna biru muda yang bergambar logo merk yang pernah dibelinya bersama Angeline waktu itu. Dia keluar dan berjalan santai, sepatu sneaker yang ia kenakan, benar-benar tidak memiliki suara ketika ia berjalan di lantai lorong apartemen. Ketika sampai di depan lift, lagi-lagi Haura bertemu dengan Alden, seolah pria itu benar-benar ada di mana-mana, kejadian semalam membuat Alden hanya melirik ke arah Haura dan bahkan tidak menyapanya, hingga sampai keduanya masuk—Alden tetap saja diam.
Haura yang tidak merasa melakukan salah apa pun, sangat bingung hingga ia memberanikan diri menyapa bosnya itu terlebih dahulu. "Hai... bos, kau mau ke mana?" sapanya mencoba santai. Akan tetapi jawaban Alden benar-benar di luar dugaan. Pria itu kali ini nampak ketus membuat Haura memilih untuk diam dan tidak ingin sok akrab dengan pria dengan mood swing seperti Alden.
"Apa urusanmu aku mau pergi ke mana? Apakah aku harus laporan padamu, Haura?"
Haura menelan ludah, dan seketika mengatupkan kedua bibirnya.
Keduanya kembali terdiam, seolah menjadi saling tidak kenal.
Tak lama lift yang mereka tumpangi, turun hingga basemen, Alden keluar dan diikuti Haura dari belakang. Saat Haura melihat mobil derek yang sudah berhenti tidak jauh dari mobilnya, wanita itu langsung membukuk ke arah Alden, memberi hormat, lalu berjalan menjauh setengah berlari menuju mobil derek.
Alden yang melihat tingkah karyawannya itu, menekuk alisnya ke dalam seraya berpikir aneh, ia menghentikan langkahnya menuju mobil hitam kesayangannya, dan berbalik berjalan mengikuti Haura, wanita itu seperti mengobrol kepada dua orang petugas mobil derek yang akan membawa mobilnya ke bengkel terdekat. Alden mendengar percakapan tentang tawar menawar pembayaran jasa mobil derek yang akan membawa mobil Haura. Haura beranggapan jika uang yang harus dibayar Haura sangat mahal, dan dia berniat menawarnya
"Ada apa ini?" Suara Alden menggema di telinga Haura, pria ini benar-benar aneh, tadi ia terlihat sangat garang. Tapi kini ia kembali ingin ikut campur dengan apa pun yang Haura lakukan. Tapi Haura tidak bisa membalas pertanyaannya dengan ketus, karena pria ini adalah bosnya.
"Aku akan membawa mobilku ke bengkel, bos." Haura berkata sembari melirik ke arah mobil tua berwarna silver yang terparkir berhari-hari di basemen gedung apartemen ini.
"Mr. Bawa mobil Nona ini, dan saya akan mengurus semua pembayarannya," cetus bos Haura.
"Jangan bos! Aku masih memiliki uang untuk membayar ini semua," tolak Haura, yang tidak ingin kembali merepotkan pria itu.
"Kau tidak dalam keadaan bisa menolak atau menerima keputusanku, Haura!" sungut Alden, membuat Haura mengatupkan bibir.
Kedua pekerja itu mengangguk dan mengerti dan mulai mengerjakan apa yang dikatakan oleh Alden.
Alden meraih tangan Haura, dan membawa wanita itu ikut serta menuju mobilnya, Alden mengeluarkan ponselnya untuk menelepon seseorang.
"Kakek... nenek, aku akan sedikit terlambat, aku akan membawa seorang nenek-nenek yang tidak sengaja kutabrak menuju rumah sakit," ujarnya dari balik telepon.
Haura merengut, ketika ia dijadikan alasan keterlambatan Alden, bahkan dia dikatakan sebagai nenek-nenek oleh Alden, dan dalam keadaan tertabrak pula. Haura juga tidak mau bertanya tentang telepon Alden barusan. Karena pasti pria itu akan menjawab dengan mode menakutkan.
~•~
Haura benar-benar terkejut ketika Alden membawa dirinya ke sebuah showroom mobil mewah, yang membuat Haura kembali ternganga tidak percaya.
"Pilihlah salah satu untukmu!" Alden berucap santai, kemudian duduk di sofa tunggu.
"Pi–pi-pilih?" Haura tergagap menanggapi ucapan Alden, apakah pria ini benar-benar tidak waras?
"Jangan terlalu percaya diri! Aku membelikan ini sebagai kekasih kontrakmu, jangan berharap perasaan lebih," papar pria itu dengan ekspresi menyebalkan.
To be continue~
Terima kasih atas koreksi beberapa typo-nya, sudah direvisi, dan aku akan berusaha lebih baik 💜
Semoga tulisan ini masih bisa dinikmati dengan asyik oleh Bestie semua~
Luv,
Novi Wu
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
💕febhy ajah💕
aku suka gayamu alden
I miss you so much ❤❤❤
🤭🤭🤭🤭🤭🤭
2023-05-11
0
Rin's
gillllaaakk,,mobil mewahhh,,Alden no kalenggg2
2022-11-10
0
Roro Ireng Rahayu
hadeeeehh bozz.....jujur z bozz.....heeee
2022-11-04
0