Sebuah kebaikan akan dibalas setimpal~
•~•~•
Sepanjang hari Haura tidak konsen dalam bekerja, terlebih lagi saat semua orang memandangi dirinya dengan tatapan aneh, membuat dia tidak nyaman dan bertanya-tanya di dalam hati, apakah mereka membicarakan dirinya dan Alden di belakang.
Bahkan atasannya di divisi marketing pun nampak tidak bersahabat dengannya, padahal sebelum mereka tahu jika Alden dan Haura dekat, ia nampak ramah. Bahkan tatapan tidak suka ia perlihatkan untuk Haura.
Haura berpikir jika dia harus menyelesaikan kesalahpahaman ini, agar semua orang tidak menganggap dirinya sebagai penggoda bosnya sendiri.
Sebagai seorang marketing Haura diberikan tugas mengenal produk knowledge dari semua kosmetik yang diproduksi di perusahaan De Beauty. Karena selama ini dia tidak pernah mempercantik diri, Haura baru tahu ada banyak jenis kosmetik di dunia ini, Haura hanya tahu bedak, lipstik, atau foundation saja, hingga membuatnya terheran-heran memindai satu persatu produk itu, bahkan semua itu dibandrol dengan harga yang lumayan mahal, membuat Haura sekali lagi menelan ludah.
Ada juga skin care yang diklaim sebagai produk anti aging. Anti aging sendiri adalah produk yang bertujuan untuk memperlambat atau mengurangi tanda-tanda penuaan yang muncul di permukaan kulit, bahkan benda ini digadang-gadang terbuat dari bahan-bahan alami seperti buttermilk, oatmeal, dan minyak zaitun.
~•~•~
Setelah mengerjakan pekerjaannya, dan sudah waktunya Haura pulang, saat wanita itu akan bersiap-siap untuk pergi, tiba-tiba atasannya memberi Haura pekerjaan tambahan, dan mengharuskan Haura bekerja lembur.
"Haura, kau bisa memeriksa ini semua? Aku meminta kau untuk lembur hari ini," titah sang atasan yang sejak tadi menaruh rasa tidak suka pada Haura.
Tidak ada pilihan lain, selain menerima pekerjaan itu, karena ini semua sudah tugas Haura sebagai karyawan biasa.
Haura memutuskan untuk menghubungi Alden jika dia akan datang terlambat, tidak sesuai janji karena ada pekerjaan tambahan.
Setelah mendapat telepon dari Haura, Alden nampak kesal, mengapa tiba-tiba wanita itu bekerja lembur, padahal Alden sebagai CEO tidak pernah menerapkan istilah lembur pada para karyawannya, dengan perasaan marah—Alden pergi menuju ruangan divisi marketing untuk melihat Haura, para karyawan yang tidak pernah melihat Alden sampai ke ruangan mereka nampak gelagapan dan langsung membungkuk memberi hormat. Dari kejauhan Alden melihat Haura tengah berkonsentrasi dengan setumpuk map di atas meja kerjanya.
"Haura... Siapa yang memintamu lembur?" Suara Alden membuyarkan pikiran Haura, mata wanita itu langsung menyambar pria tampan dengan stelan tiga potong yang membuatnya memesona itu.
"Atasan saya, Pak." Karena di dalam kantor, Haura sebisa mungkin menggunakan bahasa formal demi menjaga agar semua orang tahu jika Haura hanyalah karyawan yang tidak spesial untuk Alden.
Tapi tindakan Alden kali ini membuat Haura ternganga, bagaimana tidak—bosnya ini meninggikan suara dan membuat kegaduhan di divisi marketing. Setiap hari Haura selalu dibuat berdebar atas perilaku Alden yang menurutnya berlebihan pada Haura.
"Siapa kepala divisi marketing?!" Teriakan Alden, membuat pekerja yang belum pulang langsung merasa bergidik ngeri, karena CEO yang selalu terlihat dingin itu, kini telah murka.
Dari sebuah ruangan, seorang wanita cantik keluar, dengan berlari terseok-seok karena heels yang ia kenakan, dan tentu saja gugup karena Alden memanggil dirinya dengan cara seperti itu.
"Saya, bos," ucapnya dengan nada lirih, kepalanya menunduk karena benar-benar takut.
"Siapa yang menyuruh Haura bekerja lembur?!" tanyanya.
"Maaf... Bos, tapi pekerjaan kami sedang banyak-banyaknya, jadi kami meminta para tim marketing lembur."
Alden langsung memindai seluruh ruangan, akan tetapi dia hanya melihat beberapa orang saja yang masih berada di meja kerjanya, dan sepertinya mereka sedang tidak melakukan pekerjaan apa pun.
"Aku melihat tidak ada lembur di sini, yang ada aku hanya melihat Haura saja! Apakah kau sudah lupa, jika di perusahaan ini tidak ada istilah lembur?!" Alden nampak semakin tersulut emosi.
"Bos... Saya juga tidak keberatan mendapat tugas lembur dari Miss Luna," sela Haura menghentikan amarah Alden.
"Ya, kau memang tidak keberatan, karena kau masih baru, Haura! Tapi aku perlu meluruskan pikiran atasanmu ini, bahwa yang dia lakukan melanggar peraturan perusahaan!"
Haura terdiam jika ini semua sudah menjadi aturan perusahaan.
"Maafkan saya, bos." Suara lirih kembali keluar dari mulut Luna, atasan Haura itu.
"Jika kau melakukan hal di luar batas lagi, maka aku aku akan memecatmu!" desis Alden menatap tajam ke arah Luna yang berdiri mematung. "Ayo Haura! Kita pulang!" Alden menyeret tangan Haura, yang dengan cepat menyambar tasnya dan mengikuti langkah Alden yang berjalan cepat.
~•~
Alden yang merasa resah karena Haura tidak pernah tegas, padahal di surat kontrak kerja sudah tertulis jelas jika perusahaannya tidak akan mengadakan lembur kecuali urusan urgent, tapi nyatanya Haura malah menerima saja tugas yang tidak masuk akal itu, dan membuat Alden kesal.
"Apakah kau selalu begini?!"
"Apa maksudmu?"
"Kau selalu menerima apa pun perbuatan tidak baik orang—terhadapmu," erang pria itu tidak suka.
"Dia atasanku, jadi aku harus menuruti perintahnya."
"Tapi aku bosnya! Mengapa kau tidak menurut padaku?!"
Haura menelan ludahnya sendiri. "Maksudmu?"
"Sudah... Lupakan!"
Alden masuk ke dalam mobil, sementara Haura malah berhenti di luar dan tidak ikut bersama dengan Alden.
"Halo... apakah kau sudah melupakan janjimu?! Aku ingin bicara penting kepadamu! Apakah kau tidak ingin masuk?" Alden yang tadinya akan masuk, kembali keluar karena melihat Haura yang linglung.
Alden menarik napas panjang melihat kepolosan Haura, yang benar-benar membuatnya tidak habis pikir.
Mobil Alden pergi menuju restoran mewah di pusat kota, tempat makan yang menyajikan hidangan mewah seperti spicy tuna dengan kaviar, yang harganya luar biasa mahal. Haura memindai seisi restoran tersebut, yang terparkir di sana hanyalah deretan mobil mewah saja.
Haura berjalan masuk mengikuti bosnya, mereka duduk di sebuah balkon utama yang nampak privat. Haura merasa aneh karena di area mejanya tidak ada meja lain selain mereka berdua.
Haura ingin membuka suara, dengan mempertanyakan perihal tempat ini, tapi buru-buru Alden berkata menjelaskan, seolah dia tahu jika Haura akan bertanya.
"Aku menyewa balkon ini, untuk kita berdua," kelakar pria itu.
Haura hanya bisa mengatupkan bibir, karena tidak jadi bertanya, dan memilih diam dan tidak berkomentar.
Setelah semua hidangan yang mereka pesan datang, dengan suasana senja yang menyuguhkan pemandangan kota Tadpole, Alden membuka percakapan keduanya.
"Haura, kau tahu wanita yang menamparmu tempo hari?" ekspresi Alden nampak serius.
Haura mengangguk sembari menyendok spicy tuna dengan kaviar di hadapannya.
"Dia adalah gadis yang akan bertunangan denganku, tapi—" Alden nampak berhenti berucap.
"Tapi apa?" Haura semakin penasaran tentang apa yang sebenarnya Alden mau dari dirinya.
"Tapi, aku tidak suka dengannya karena dia wanita manja, dan susah diatur, terlebih lagi semua tindakannya terkesan penuh emosi dan tidak berkelas."
Lalu jika dia wanita manja, apa hubungannya dengan Haura, wanita itu sangat bingung dengan pemikiran para orang kaya, jika dia mau ya, seharusnya nikahi. Jika tidak suka ya, tolak saja. Haura masih santai mendengar kalimat demi kali yang terucap dari bibir Alden.
"Kakek dan Nenekku berkata, jika aku menolak pertunangan ini, aku harus setidaknya memiliki kekasih. Karena aku belum memilikinya, aku memintamu untuk menjadi kekasih kontrak, sampai kakek dan nenekku melepaskanku untuk tidak menjodohkanku dengan Iris," pungkas Alden santai.
Haura terbatuk-batuk mendengar ucapan Alden yang membuatnya tersedak.
To be continue~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Mari Anah
di geber trooooss alden😁😂
2023-01-19
0
Ardaa Almddn
cara jitu menjebak gebetan🤣
2022-10-12
0
Ida Lailamajenun
awal kontrak setelah aman lgsg sah 😂😂😂
2022-10-11
0