Tangan hangat itu lagi—dia selalu menyelamatkan diriku.
~•~
"Apakah kau baik-baik saja?" Alden melihat tangan Haura memerah akibat ulah dari cengkeraman Theo tadi.
"Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu mengkhawatirkan diriku." Haura menatap bosnya dengan seksama. Bagaimana bisa laki-laki ini lagi-lagi menyelamatkan dirinya. Apa yang dia lakukan di tempat ini? Apakah ia kebetulan tengah berkunjung ke mari?
"Apakah kau ada urusan di sini?"
Pertanyaan Haura membuat lidah Alden kelu. Seharusnya dia tidak menampakkan diri di depan wanita ini. Namun, saat dirinya tahu Haura tengah kesulitan, karena ulah mantan suaminya. Hal itulah yang memaksa Alden untuk menampakan diri.
"Aku tinggal di unit apartemen sebelah," jawabnya canggung, menunjuk ke arah pintu sebelah apartemen Haura.
Haura terbelalak mendengar pengakuan dari pria di hadapannya ini. Dia memberikan apartemen miliknya untuk Haura, dan dia malah memilih menyewa satu apartemen lagi untuk dirinya tinggal?
"Aku sengaja membeli unit apartemen tapi developer berkata jika hanya ada satu yang kosong, yaitu di samping tempat tinggalmu," imbuh Alden kembali menjelaskan pada wanita yang ada di sampingnya ini. tentu saja sebelum dia salah paham pada Alden.
"Tapi... Aku ingin mengembalikan ini padamu," jawab Haura menegaskan. Tangannya menyodorkan sebuah kartu akses apartemennya pada bosnya.
Alden merasa tersinggung dengan ucapan Haura. Bagaimana bisa dia mementahkan semua kebaikan yang diberikan oleh Alden pada Haura, bahkan ingin mengembalikan apartemen yang ia berikan secara cuma-cuma hanya agar wanita ini tidak tidur di jalan.
"Tempat itu adalah milikmu, aku sudah memberikannya, dan aku tidak bisa menariknya kembali. Jika kau tidak suka, kau bisa menjualnya!" dengus Alden berbalik badan dan pergi.
"Tap--" Sebelum Haura menyelesaikan penjelasannya, Alden menutup pintu unit apartemennya dengan sedikit keras, membuat Haura tersentak dan tidak bisa berbuat apa-apa.
~•~
Theo sangat kacau, dia sangat cemburu melihat Haura sudah memiliki pengganti dirinya. Bahkan menerima pil pahit jika pria yang bersama dengan Haura bukan pria sembarangan, seperti lelaki yang memilliki kekuasaan.
Mobil sport hitam milik mantan suami Haura yang dibeli dari hasil penjualan rumah mendiang ibu Haura itu masuk ke halaman rumah, pria itu masih terdiam di dalam mobil, hatinya seolah-olah tengah tersayat saat mendengar jika pria tadi akan menerima Haura apa adanya meski Haura seorang wanita mandul sekalipun. Tanpa sadar Theo memukul klakson mobilnya hingga menimbulkan suara bising.
Alila segera keluar setelah mendengar suara bising di luar rumahnya, wanita itu melihat mobil suaminya, dan melihat pria itu masih di dalam sana dengan wajah yang terlihat frustasi.
"Hei... ada apa?" Alila berjalan mendekati mobil Theo. Namun, pria itu benar-benar terdiam dan terlihat menolak berkomentar apa pun. "Ada apa? Apakah kau tidak bisa mendengarkan uacapanku?!" seru Alila mulai terpancing emosi. Akan tetapi pria yang baru tiga bulan menikahi dirinya itu diam, seolah mulutnya benar-benar terkunci.
Theo berjalan masuk ke rumah dengan pikiran kosong dan kalut. Dia menatap dapur rumahnya, sekelebat bayangan Haura muncul seolah dia sedang memasak makan malam, seperti yang biasa mantan istrinya lakukan ketika mereka masih bersama. Perut Theo terasa lapar, dia melirik ke arah meja makan, tapi kosong. Seperti biasa, jika istri barunya itu tidak memasak untuk dirinya. Alila hanya cantik di luar, dia hanya menghabiskan waktunya seharian untuk berdandan dan bermalas-malasan.
"Apa yang kau lakukan seharian?!" tanya Theo dengan nada tinggi, bahkan matanya memerah karena marah.
"Aku seharian ini hanya pergi ke kafe mentraktir teman-temanku, dan pergi ke salon--agar kecantikanku tetap terjaga."
Notifikasi dari bank masuk ke dalam ponsel Theo. Seharian ini saja laporan ada tiga kali dengan nominal yang tidak sedikit.
"Apakah hal tidak berguna itu saja yang bisa kau lalukan?!" Mata Theo nyalang menatap ke arah istrinya yang seolah tanpa dosa menghamburan uangnya.
"Ya... sesuai janjimu. kau akan membahagiakan diriku jika aku mau menikah denganmu!" balas wanita itu dengan nada merendahkan suaminya.
"Kau memang cantik! Tapi hatimu benar-benar--" Kalimat Theo tercekat, dia tidak jadi melanjutkan alimatnya.
"Hatiku kenapa, 'ha?!"
Theo kembali terdiam, dia mulai menyesal, dulu Haura selalu memastikan dirinya kenyang. Mengurus semuanya, dan sekarang istri barunya bahkan tidak bisa memasak untuk dirinya.
"Kau mulai perhitungan? Jika benar begitu, aku menyesal menikah denganmu!"
Suara tamparan tiba-tiba menggema di rumah mereka, Theo benar-benar emosi mendengar pernyataan Alila.
"Kau menamparku, Theo!"
"Ya... untuk membungkam mulutmu yang kotor itu!" Setelah menampar Alila, Theo masuk ke dalam kamar dan membanting pintu dengan sangat keras.
Alila menangis karena merasakan panas di pipinya, dia terus memegang bekas tamparan Theo tadi, membuatnya terduduk di atas sofa. Dalam hatinya bertanya mengapa Theo berbuat seperti itu pada dirinya, seingatnya pagi tadi suasana hati suaminya nampak baik-baik saja, apakah Theo memiliki masalah di kantornya sehingga dia berbuat kasar pada Alila?
~•~
Haura masih bingung dengan sikap bosnya yang tiba-tiba marah tanpa sebab setelah mendengar dirinya akan mengembalikan apartemennya.
Tiba-tiba ponsel Haura berdering. Ada nomor tidak dikenal menelepon dirinya. Haura menggeser layar telepon pintarnya dan menjawab panggilan itu.
"Halo."
"Ini aku," jawab pria di ujung panggilan teleponnya. Suara itu tidak asing. Ya, itu adalah suara bosnya. "Besok setelah pulang dari kantor, mari kita bertemu. Aku akan membicarakan sesuatu padamu," imbuh pria itu lagi, dan kemudian menutup teleponnya tanpa memberi kesempatan Haura untuk menjawab iya atau tidak.
To be continue~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Rin's
Alden marah mlulu,,gaje
2022-11-09
0
Ida Lailamajenun
bau bau Haura bakal ditembak Alden nih setelah 7thn berlalu baru sekarang ada kesempatan buat nembak lgsg melamar Haura uhuiii
2022-10-11
0
mama yuhu
kasian d lu theo.. memakai semua fasilitas dr mantan istri...
2022-06-04
1