Haura menajamkan mata, kembali mengais ingatan yang mungkin saja beberapa part potongan kecil sesuatu yang ia lupakan. Lelaki itu menarik pinggir bibirnya membentuk senyuman ironi lalu ia menyedekapkan kedua tangan dan kemudian menyandarkan punggung di kursi yang ia duduki.
"Ternyata ingatanmu tidak seperti gajah," ledeknya dengan nada memprovokasi.
Tak banyak yang tahu, jika gajah adalah salah satu hewan yang cerdas, dan memiliki otak yang besar. Gajah memiliki bagian otak bernama hippocampus yang sangat berkembang baik. Hippocampus ini berkaitan erat dengan emosi. Bagian ini memudahkan gajah mengingat dengan cara menyandikan pengalaman-pengalaman yang penting menjadi ingatan jangka panjang.
"Apa maksud Anda, Pak?" Haura nampak bingung. Ia terus memutar otak untuk mengingat siapa lelaki tampan di hadapannya ini.
"Tiga bulan lalu, kau ingin melompat di sungai Cotton Clay?" Lelaki itu mencoba mengingatkan Haura tentang kejadian memalukan yang pernah akan dia lakukan, bunuh diri—hanya karena Theo akan menceraikannya. Mendengar hal itu tentu saja lidah Haura menjadi kelu. Bagaimana bisa lelaki itu mengingat kejadian yang hanya terjadi beberapa menit saja, dan dia mengingat wajah Haura. Oh, tidak. Apakah pria ini bercanda?
"Ap--apakah, Anda yang telah menolong saya?" tanya Haura penasaran, karena di dalam ingatannya waktu itu, seorang pria tampan dengan baju stelan tiga potong rapi, tengah meraih pinggangnya dan mencoba menyadarkan dirinya.
"Untuk apa aku menolong dirimu! Aku hanya ingin mengingatkanmu, jika kau ingin bunuh diri parkirkan dulu mobilmu secara benar! Menyusahkan orang!" umpatnya pada Haura.
Haura seketika mengatupkan bibir—tidak berani menjawab dan memilih enggan berkomentar, karena dia sekarang tengah menghadapi calon bosnya. Jika dia salah bicara walau hanya satu kata saja, mungkin dia berakhir tidak akan diterima. Karena mencari pekerjaan dengan penampilannya seperti ini tidaklah mudah, terlebih lagi. Kini sang CEO langsung yang bersedia mewawancarai dirinya.
CEO tampan itu nampak membolak-balikkan berkas di tangannya, dengan sesekali menatap Haura dengan tatapan dingin. Padahal suhu ruangan ini saja sudah membuat Haura menggigil dan kini ditambah dengan wajah calon bosnya yang tidak bisa Haura gambarkan.
"Apa nilai plus yang kau miliki sehingga aku harus mempertimbangkan dirimu masuk ke perusahaanku sebagai tenaga marketing?" tanyanya tanpa menatap ke arah Haura.
"Ehm...." Haura nampak bingung harus menjawab apa, karena jujur sejak lulus kuliah dirinya langsung memutuskan untuk menikah, hal itu yang membuat Haura tidak pernah merasakan dunia kerja, apalagi melamar pekerjaan.
"Ehm?" Alden nampak melirik ke arah Haura saat mendengarkan jawaban atas pertanyaannya.
"Saya bisa bekerja secara tim, dan saya juga bisa bekerja sesuai target!" jawab Haura lantang.
Seketika ruangan hening, Alden nampak terdiam sesaat ketika Haura menjawab pertanyaannya secara lantang. Haura pikir jika ia menjawab dengan tegas—maka bosnya ini akan mempertimbangkan dirinya.
"Jawaban klasik!" gumam Alden menanggapi Haura.
Haura langsung menelan ludah saat Alden menyampaikan pendapatnya dengan kalimat pendek dan pelan, ditambah dengan senyuman ironi yang tidak pernah lepas dari bibirnya yang sempurna.
"A--apakah saya salah, Pak?" Haura nampak terbata, dia terus memainkan jari-jarinya karena dia merasa gugup.
"Oh... tidak, kau sama sekali tidak salah. Tapi ini tahun dua ribu dua puluh dua, kau menjawab pertanyaanku seolah kau sedang melamar pekerjaan di era sembilan puluhan!" jawabnya dengan nada mencemooh.
Haura mulai terprovokasi dengan calon bosnya yang sepertinya tipe manusia yang tidak mau kalah dan menyebalkan.
"Baiklah, apakah kau benar-benar berniat ingin bekerja di sini?"
Pertanyaan bodoh macam apa ini? Mengapa pria di hadapan Haura menanyakan pertanyaan retorika, apakah Haura harus menjawabnya? Bukankah jika ia melamar pekerjaan di tempat ini seharusnya pria ini sudah tahu jika dia benar-benar ingin bekerja?
"Ya," balas Haura singkat.
"Tapi aku tidak menemukan keseriusan di dirimu," jawabnya dengan nada meremehkan.
Haura sudah sangat emosi mendengar kata-kata lelaki ini, rasanya ia ingin melayangkan sebuah tinju agar pria ini diam.
"Tentu saja, saya—"
"Rubah penampilanmu dulu!" perintah lelaki itu, memotong kalimat Haura yang membuat ucapan Haura tercekat di tenggorokan.
Haura mulai terprovokasi, lalu ia berdiri dengan kasar, hingga kursi yang ia duduki terdorong ke belakang.
"Apakah perusahaan Anda menilai pekerjanya karena penampilan? Apakah fisik sangat penting dari pada loyalitas dalam bekerja?!" tanya Haura, ia benar-benar sudah tidak tahan dengan pria di depannya ini.
"Ya... karena kau akan mengisi divisi marketing, tentu saja penampilan harus diutamakan," jawab Alden dengan santai.
"Tidak waras! Lebih baik aku mencari pekerjaan lain!" Haura pergi meninggalkan kesan buruk pada Alden, tapi bukannya emosi pria itu malah terkekeh mendapat jawaban dari Haura yang berapi-api.
Haura keluar dari ruangan CEO dengan emosi yang meledak-ledak, dirinya terus mengomel dan mengucapkan sumpah serapah mengutuk Alden, dia berkata semoga Alden menjadi bujang lapuk yang tidak pernah laku!
Mendengar bosnya diumpat seperti itu membuat Josep yang dari tadi duduk di depan kantor Alden nampak terkekeh, dia berkata dalam hati—ternyata ada juga yang berani mengomel di hadapan Alden yang notabennya bos yang perfeksionis dan tidak ingin dikritik itu. Tapi hal itu tentu saja membuat Josep nampak aneh, untuk apa bosnya itu mewawancarai calon pekerja itu sendiri, padahal biasanya ia menyerahkan semuanya pada pihak HRD.
Sementara wanita yang mengantarkan Haura menemui Alden tadi yang menyapa dirinya di depan pintu lift nampak menekuk alis melihat Haura yang marah, dan mengomel sepanjang jalan menuju ke depan lift. Wanita bernama Anggeline itu ingin bertanya, tapi ia merasa tidak enak pada Haura, dan membiarkan wanita itu pergi.
**
Haura memilih kembali ke rumah, dengan mengendarai mobil butut satu-satunya yang dia punya, dia terkejut saat mendapati semua pakaiannya sudah berhamburan di halaman rumahnya. Ia bergegas masuk ke dalam, dan berharap semua baik-baik saja.
Tapi langkahnya terhenti ketika ia melihat Theo, Alila, dan Delarosa telah berada di depan rumah seolah sedang menanti kedatangan dirinya.
Delarosa langsung berdiri ketika melihat Haura masuk, ia memindai penampilan Haura yang memang terlihat menyedihkan itu. Ia menarik pinggir bibirnya seolah mengejek mantan menantunya.
"Kau baru saja melamar pekerjaan?" ledek wanita paruh baya, lalu melirik ke arah menantunya yang duduk cantik di sebuah kursi di depan teras. "Kasihan sekali, setelah ditinggalkan oleh anakku, kau harus bekerja demi menghidupi dirimu, agar tetap bisa makan," imbuhnya sembari terkekeh.
"Untuk apa kalian ke mari?" Haura mulai membuka suara, seolah menantang ketiga orang itu.
"Mengusirmu! Mau apa lagi?! Lagi pula rumah ini atas nama anakku, dan dia akan tinggal di sini bersama istri dan anak-anaknya kelak," sahut Delarosa.
"Tapi ini juga rumahku!" Haura mencoba melawan sang mantan mertua yang terkenal gila harta.
"Tidak bisa! Kau harus pergi dari rumah ini!" Kalimat yang keluar dari mulut Theo secara tiba-tiba membuat luka hati Haura kembali menganga. Bagaimana bisa Theo mengusir dirinya, padahal Theo tahu jika Haura tidak memiliki tempat tinggal sama sekali, harusnya rumah ini dijual dan dijadikan harta gono-gini, tapi seolah Theo menutup mata akan itu semua, dan memilih mengusir wanita yang pernah ia cintai dengan sepenuh hati itu.
To be Continue ~
Alden Walsh
Haura Oxley
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Roro Ireng Rahayu
jahat banget man....😭😭😭
2022-11-03
0
Winsulistyowati
Visual Cantik...Aktris Cwe..👍😊😍
2022-10-23
0
Ningsih Hassanandani
eleh eleh ada Burak Deniz sama Hande Ercel yang diSerial turki Murat and hayat...
2022-09-25
1