Kau akan menjadi ratu di tangan orang yang tepat~
~•~
Haura sangat tergesa-gesa, dirinya bangun kesiangan pagi ini. Semalam dia tidur sangat larut karena memikirkan kepindahan Alden yang secara tiba-tiba di sebelah unit apartemennya.
Wanita itu berlari tunggang langgang, dengan heels yang ia kenakan. Karena tidak berhati-hati, ketika berlari di depan lift, Haura hampir saja terpelanting dan jatuh, jika sebuah tangan hangat hangat tidak kembali menahan tubuh Haura.
Haura tersentak saat pinggangnya direngkuh oleh seseorang yang memeluk dirinya dengan posisi di belakang Haura. Itu adalah tangan seorang pria yang tidak asing untuknya.
"Bos...." Haura menelan ludahnya sendiri, lalu cepat-cepat dia melepaskan diri dari pelukan pria itu."maafkan aku," imbuhnya lagi, entah mengapa sejak Haura tahu jika pria di sampingnya ini adalah temannya semasa Sekolah Menengah Atas, dia selalu menggunakan bahasa informal dengan Alden.
"Hati-hati, Haura!" erang pria itu mengingatkan pada karyawannya yang terlihat ceroboh.
"Maaf... aku sedang terburu-buru."
Pintu lift terbuka, dan keduanya masuk ke dalam untuk turun ke lantai dasar. Seketika suasana di dalam lift itu hening, seolah keduanya tengah memikirkan pikiran mereka masing-masing.
Haura berpikir, jika Alden ingin berbicara penting, mengapa menunggu nanti sore? Setelah pulang kerja, kenapa tidak sekarang? Toh, keduanya sedang berdua di dalam lift ini, jika itu sesuatu yang penting, pasti tidak akan ada orang yang bisa melihat percakapan mereka, bukan?
"Kau berangkat naik mobilmu?" Alden membuka suara, pria itu berdiri tepat di depan Haura, ia berbicara tanpa menoleh sedikitpun pada wanita itu.
"Aku naik transportasi umum. Karena mobilku rusak, dan masih berada di basemen kantor."
"Kalau begitu, kau ikutlah bersamaku!"
Mendengar ucapan Alden, Haura tidak ada pilihan lain selain menerimanya, Haura mengangguk, karena dia takut terlambat, dan atasannya mengomel, ia memilih untuk ikut bersama CEO tampan itu menuju kantor.
Haura berjalan mengikuti langkah bosnya, mobil Alden sudah ada di luar lobi apartemen. Seorang valet parkir menyerahkan kunci mobilnya pada si empu mobil sedan hitam mewah tersebut. Setelah Alden mengambilnya barulah keduanya masuk ke dalam.
Selama berada di dalam mobil mereka berdua nampak kembali diam, seolah suasana di dalam sana berubah canggung.
"Untuk apa kau mengajak bertemu nanti malam? Bukankah sekarang kita sudah bertemu? Mengapa kau tak bicara saja sekarang?" Haura memberanikan diri untuk bertanya, padahal sejak tadi lidahnya sangat kelu dan seolah tidak bisa membuka suara.
Alden menoleh ke arah wanita yang tengah duduk di sampingnya. "Pembicaraanku sangat penting, dan tidak seharusnya aku utarakan sekarang--bahkan di dalam situasi seperti ini," pungkas pria itu, seperti biasa, memperlihatkan wajah yang sangat serius.
Haura sedikit berpikir apakah benar lelaki ini adalah Alden walsh yang dulu selalu di bully di sekolah? Padahal dia sangat ramah pada Haura bahkan murah senyum. Tapi seolah terlahir kembali menjadi seorang pria baru dengan penampilan luar biasa sempurna. Alden berubah menjadi pribadi yang perfeksionis dan dingin, bahkan sejak pertemuan keduanya, Alden tidak pernah tersenyum pada dirinya sama sekali.
Sesekali Haura melirik ke arah Alden, dia juga enggan menanggapi balasan atas pertanyaannya tadi, dan kembali memilih diam.
~•~
Mobil Alden sudah masuk ke dalam halaman super luas yang dimiliki oleh perusahaan De Beauty milik pria dingin tanpa senyum itu.
"Bolehkah aku turun di sini." Tiba-tiba Haura meminta turun agak jauh dari gedung utama, karena ia sangat takut jika karyawan lain melihat mereka berangkat bersama dan menjadi bahan perbincangan mereka.
"Untuk apa? Kau akan berjalan lumayan jauh hingga sampai ke kantor," balas Alden, masih sibuk dengan kemudinya sambil sesekali melirik ke arah Haura.
"Tidak... tidak. Aku hanya takut jika orang-orang akan membicarakan kita di belakang," sangkal Haura. Sementara mobil Alden semakin mendekat ke lobi gedung utama yang menyatu dengan pabrik itu.
"Peduli apa dengan anggapan mereka? Apakah aku harus memecat orang-orang yang membicarakan dirimu?" Kalimat Alden membuat Haura tersentak, apakah benar pria ini akan berbuat sejauh itu pada dirinya. Sebenarnya ada rahasia apa yang Alden sembunyikan, hingga dia bisa sebaik ini pada Haura?
Mobil Alden berhenti tepat di depan pintu lobi, membuat Haura gusar. terlebih lagi dari balik kaca mobil dia bisa melihat banyak pekerja yang sudah nampak berlalu lalang di dalam dan di luar gedung.
Saat Alden hendak keluar dari mobil, secara impulsif, tiba-tiba wanita itu menarik ujung jas Alden, yang membuat pria itu untuk sejenak mematung--beberapa detik kemudian barulah Alden menoleh arah wajah Haura yang nampak terlihat cemas, kemudian melirik tangan Haura yang mencengkeram kuat lengan jasnya. Haura sadar perbuatannya itu tidak sopan, dan buru-buru melepaskan pegangannya.
"Ada apa? Apa yang kau takutkan?" Alden bertanya pada wanita itu.
Haura sangat tidak nyaman, karena takut dianggap sengaja mendekati bosnya--padahal dia adalah seorang karyawan baru di perusahaan ini, bahkan dia tidak memiliki jabatan di perusahaan ini sama sekali.
"Bukan... bukan begitu, tapi--"
Alden keluar dari dalam mobil, dan seorang sekuriti yang menjaga pintu nampak hormat padanya. Namun, anehnya Alden berjalan memutar menuju pintu di mana Haura duduk, dan membukanya. Haura tidak percaya dengan apa yang dilakukan bosnya itu--bahkan di depan mata semua karyawannya.
"Keluarlah!" pintanya lembut, nada suaranya seolah berubah, padahal sejak tadi Alden terlihat dingin, akan tetapi kali ini dia malah bertidak romantis dan sangat lembut pada Haura. Wanita itu keluar dengan mengatupkan kedua bibir, dia hanya bisa pasrah mendapatkan perlakuan istimewa dari bosnya. Tentu saja semua orang memerhatikan mereka, tak terkecuali Angeline dan Josep yang ternyata juga melihat mereka dari jauh.
Setelah Haura keluar baru pria itu menutup pintu mobil, dan menyerahkan kunci kepada sekuriti agar seorang valet parkir dapat memarkirkan mobilnya.
haura hanya bisa berjalan mengikuti Alden, menuju pintu lift, semua orang saling berbisik karena melihat Haura yang keluar darI mobil CEO mereka.
Haura seolah berjalan sembari menahan napas, dia seperti tidak memiliki muka, apakah Alden sedang menggodanya agar dia salah paham? Atau bagaimana?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Venny Oktavianita
gemesshh bet bacanya.. 😍
2022-07-14
0
mama yuhu
eheeeem.. jd gak sabar sampe sore😊😊
2022-06-04
2
Kiki Sulandari
Alden mau bicara apa pada Haura?
Kenapa harus nanti malam?
Aduh...gosip mulai beredar,,nih,....
2022-06-01
2