Sebuah rahasia besar tengah disembunyikan!
***
Setelah mendapatkan sebuah tamparan keras dari seorang wanita cantik yang entah dari mana datangnya, membuat Haura membeku. Dia benar-benar tidak tahu apa salahnya sehingga membuat dirinya bisa diperlakukan seperti ini. Pipinya seketika memerah bekas tangan dari wanita di hadapannya ini, yang menatap dirinya dengan tatapan nyalang penuh kebencian.
"Siapa dia, Alden?" tanyanya mencecar bos Haura, seolah dia adalah istri dari atasan Haura tersebut.
"Mengapa kau ke mari? Dan apa wewenangmu menampar karyawanku?!" Alden menjawab pertanyaan wanita cantik berambut hitam itu dengan nada dingin.
"Aku—aku berdiri di sini, sebagai calon tunanganmu! Kau tidak bisa seperti ini pada—" Suara wanita itu tersendat, menanyakan perihal tentang Haura yang tiba-tiba muncul di hadapan Alden. Melihat Angeline yang selalu mengekor Alden saja membuatnya gerah, kini dia harus kembali melihat wanita lain di sekitar calon tunangannya itu. Bahkan ia sempat melihat Alden begitu terpesona dengan kecantikan Haura.
"Lancang sekali kau!" desis Alden, dengan tatapan tidak sukanya. Alden melempar isyarat mata pada Angeline, pria itu meminta Angeline membawa wanita pengganggu itu keluar dari ruangannya meninggalkan dirinya dan Haura. Angeline mengangguk mengerti dan membawa wanita tadi pergi keluar dari sana.
"Mari Nona Iris. Saya antarkan Anda keluar dari ruangan ini!" Angeline berkata sopan pada wanita bernama Iris tersebut. Ya, dia adalah wanita cantik yang rencananya akan dijodohkan dengan Alden, belum juga pertunangan itu diselenggarakan, akan tetapi Iris selalu berlagak seolah-olah dia adalah kekasih Alden yang selalu ingin mengikuti bos Haura ke manapun pria tampan itu pergi, padahal kehadiran Iris sangat membuat Alden jengah.
"Ingat Alden, aku akan melaporkan pada kakek dan nenek tentang penghinaan ini!" ancam wanita itu, dengan berlalu pergi meninggalkan ruangan Alden. Pria itu menolak berkomentar, dan memasang ekspresi kelam dan menakutkan karena marah.
Haura benar-benar berdiri mematung, tidak berani berbuat apa pun. Bahkan pipinya yang memerah karena bekas tamparan wanita bernama Iris tadi masih terasa panas, dan membuatnya benar-benar tidak nyaman dibuatnya, secara impulsif Haura menyentuh pipinya dengan jari-jemari lentik, yang kuku-kukunya sudah di cat berwarna merah menyala.
"Apakah itu sakit?" Suara Alden membuyarkan lamunan Haura, pria itu menatap pipi Haura yang memerah, wajahnya menyiratkan kekhawatiran di matanya yang berwarna pasir.
"Tidak... Sama sekali tidak sakit, Bos," jawab Haura, kemudian wanita itu menyodorkan kartu kredit yang tadi Alden berikan. "Saya ingin ini semua dihitung sebagai hutang, dan bisa dipotong dengan gaji saya setiap bulan," lanjut Haura lagi.
"Tentu saja. Ini adalah fasilitas kantor, dan kau harus tetap membayarnya. Mungkin butuh waktu tiga tahun hingga semua ini lunas," jawab Alden, berjalan menuju kursi hitamnya, lalu duduk dengan santai menatap Haura masih dengan ekspresi yang tidak bisa Haura gambarkan.
'Apa tiga tahun? Apakah semua ini semahal itu, hingga seperti seolah aku sedang mencicil sebuah mobil'
Batin Haura berkecamuk saat mendengar ucapan Alden. Dia tidak tahu jika semua yang diberikan Alden adalah kualitas nomor satu, di mana para artis dan istri pejabat menghabiskan waktu untuk berbelanja dan menghabiskan uang di tempat tadi.
"Kalau begitu, karena kau sudah berdandan layaknya seorang karyawan di bagian marketing, maka silakan kau mulai bekerja saat ini juga. Josep akan mengantarkan dirimu di meja kerjamu!" Alden berucap sembari membuka map putih yang ada di meja kerjanya. Sementara Haura sedikit membungkuk dan memberi hormat pada bosnya yang nampak dingin dan misterius itu.
Seorang Alden menyimpan rahasia yang cukup besar dan di balik semua kebaikannya pada sosok wanita malang seperti Haura.
**
Malam itu benar-benar malam yang dingin, hujan turun dengan lebatnya, membuat mobil Haura berputar tak tentu arah. Dia akan pergi ke mana kali ini, dia benar-benar tidak memiliki tempat berpulang, dan Haura tidak tahu harus berbuat apa.
Di tengah rasa gundahnya air mata Haura tanpa sadar mengalir membasahi kedua pipinya, cobaan ini benar-benar begitu berat untuk Haura, yang sudah hidup sebatang kara sekarang.
Tanpa sadar ia kembali mengarahkan mobilnya ke arah basemen gedung perusahaan De Beauty milik Alden, Haura berpikir inilah tempat yang nyaman, memarkirkan mobilnya dan tinggal di sini untuk beberapa waktu, terbebas dari dinginnya hujan yang menusuk tulang. Bahkan di dalam mobil Haura tidak ada selimut yang akan membungkus kulitnya di kala dingin, ia hanya menutupi tubuhnya saat tidur dengan baju seadanya.
Malam ini benar-benar terasa membeku dan membuat Haura tidak tahan, mengapa hidupnya harus setragis ini—suaminya diambil oleh wanita lain, dan dia harus benar-benar menjadi gelandangan yang tidak memiliki tempat berteduh.
Dari kegelapan malam, muncul siluet bayangan hitam yang membuat Haura terkesiap. Bayangan itu terus mendekat, hingga membuat napas Haura seolah berhenti karena takut. Siapa pria itu? Apakah dia penjahat? Atau apa? Mungkin dia sekuriti yang siap mengusir Haura untuk segera pergi dari basemen ini. Tanpa pikir panjang Haura hendak menyalakan mesin mobil. Namun, entah mengapa kendaraannya ini seolah tidak bisa diajak kompromi, dan tidak mau menyala. Napas Haura nampak terengah, jantungnya dua kali berdetak lebih kencang. Oh... Tuhan apakah ini? Haura benar-benar ketakutan.
Akan tetapi ketika melihat siapa di balik bayangan itu, membuat geleyar waspada yang sejak tadi Haura nyalakan dalam dirinya seketika sirna. Pria itu adalah Alden yang entah mengapa dia seolah tahu Haura sedang berada di sini.
Pria itu bahkan menatap Haura dengan tatapan dingin tidak suka. "Untuk apa kau masih di sini? Bukankah seharusnya kau sudah pulang?" tanya Alden sedikit mencecar Haura.
"Saya... saya... tidak memiliki tempat tinggal, Bos," jawab Haura terbata, bahkan ia menunduk malu saat mengucapkan kalimat jika dia adalah wanita terlunta-lunta yang tidak memiliki tempat tinggal.
"Sudah berapa lama kau seperti ini?" tanya pria itu dengan wajah datar.
"Rencananya baru hari ini saya akan tinggal di basemen ini."
"Bukan itu yang aku maksud. Sejak kapan kau tidak memiliki tempat tinggal?"
"Sejak suami saya menceraikan saya," jawab Haura seadanya. Jika pun ini salah karena Haura tanpa izin akan tinggal dan menggunakan fasilitas untuk memudahkannya menjalani hidup, Haura berharap Alden tidak memecat dirinya.
"Ikut aku!" Alden membuka pintu mobilnya, yang ternyata terparkir tepat di sebelah mobil Haura, wanita itu hanya bisa terpana saat mendengar bosnya meminta dirinya untuk ikut padanya. Haura tidak bisa menolak itu, karena lelaki ini yang sudah membantu Haura dan menyediakan pekerjaan untuk dirinya.
"Ke mana?"
"Ikut saja! Bawa mobilmu bersama dirimu!" ucap Alden tegas.
To be Continue ~
Hai... Bestie, aku mau sedikit promo tentang novel temen aku dengan Pena Neneng Susanti.
Samudera ErRainly Rahardian Wijaya.
Pria berusia dua puluh lima tahun tahun yang terpaksa menikahi calon istri dari pria yang ia tabrak tanpa sengaja sampai harus meregang nyawa di rumah sakit.
Untuk mempertanggung jawab kan kesalahannya dan menuruti permintaan terakhir si korban, Sam akhirnya mengadakan ijab kabul secara mendadak sebelum menghembuskan napas terakhir.
Akankah wanita itu mau menerima Sam sebagai suaminya untuk menggantikan kekasihnya yang telah tiada?
Dan Apakah San mau mengorbankan hubungannya yang sudah terjalin tujuh tahun demi pernikahannya itu?
~•~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
ReD
Tampar balik kek diem baeee
2022-10-17
0
Ida Lailamajenun
perjuangan Upik abu jadi Cinderella jika ingin ketemu pangerannya harus menderita dulu..
2022-10-11
0
mama yuhu
ehhemmmmmm.. cinta lama yg belum kelar k bossss😁😁😁
2022-06-04
1