Geleyar perasaan aneh itu, mulai aku rasakan~
~•~•~
Lagi-lagi Haura disuguhkan kejutan tak terduga, Alden—bosnya, mencium bibir Haura, geleyar panas menyelimuti seluruh tubuh wanita itu, bahkan kakinya gemetaran, dan bulu kuduknya meremang mendapat kecupan hangat dari pria yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya itu.
"Kurang ajar!" geram Tuan Brown ayah Iris dengan nada luar biasa marah, ketika menyaksikan Alden mencium wanita lain, di depan mata anak semata wayangnya yang sudah lama mendambakan Alden, sejak kepulangannya dari kuliah di luar negeri. Dulu Iris sendiri sangat menolak perjodohan mereka berdua, saat Alden masih terlihat seperti pemuda culun, tapi ketika gadis itu melihat Alden menjadi CEO tampan, matanya tidak pernah bisa lepas dari Alden, bahkan seolah hatinya sudah tertaut untuk pria itu dan bertekad meraih hati pria pria pujaannya itu.
"Papa...." rengek Iris, menghampiri ayahnya, yang tengah membelalakkan mata, menyaksikan penghinaan di depan matanya sendiri.
"Tuan dan Nyonya Walsh, saya tidak akan melupakan kejadian ini!" tegas Tuan Brown, dan langsung mengajak anak dan istrinya pergi begitu saja tanpa berpamitan.
Sementara Edward dan Callie Walsh hanya diam , tanpa mencegah kepergian keluarga Brown—yang meninggalkan kediaman mereka dengan keadaan marah. Setelah memastikan mereka pergi, barulah Callie, nenek Alden memukul lengan cucunya dengan tongkat yang menopang dirinya berjalan.
"Anak kurang ajar!" desis wanita tua itu, tapi anehnya ekspresinya menunjukan kelegaan ketika melihat cucunya berbuat seperti tadi.
"Callie, aku pikir. Iris bukanlah jodoh yang tepat untuk cuci kita," timpal Edward, merangkul Alden, dengan satu tangan masih setia memegang tongkat penopang pria tua itu berjalan, dan Callie mengangguk setuju dengan ucapan suaminya.
Haura yang mendengar dialog tidak wajar dari orang-orang kaya di depannya ini, kembali dibuat ternganga, bagaimana bisa mereka membenarkan perbuatan Alden tadi di depan calon besannya.
"Oh... aku lupa menanyakan pada kekasihmu, siapa namanya?" Callie memindai Haura dari atas hingga ke bawah, dengan pandangan menilai.
"Haura... namanya Haura Oxley," sahut Alden, memperkenalkan kekasih kontraknya pada kakek dan neneknya.
"Apakah anak nakal ini selalu membuatmu susah?" celoteh Callie pada Haura, wanita tua yang rambutnya sudah dipenuhi uban itu nampak melontarkan pertanyaan yang membuat Haura bingung harus menjawab apa. Karena sejujurnya bagi Haura—Alden cukup menyusahkan dirinya, yang membuat Haura selalu terkejut, bahkan seolah ingin membuat Haura menderita serangan jantung saat Alden membuat surprise yang kadang membuat dirinya ingin pingsan di tempat.
"Tidak... nenek. Alden sangat baik padaku, bahkan dia sangat romantis di setiap tindakannya." Haura hanya bisa berbohong, hanya untuk melancarkan drama yang dibuat Alden untuk kakek dan neneknya.
"Callie, kenapa kau tidak menyuruh cucu menantu kita untuk duduk di meja makan? Dia pasti sangat lapar." Edward nampak sudah duduk menunggu Alden, Haura, dan sang istri untuk ikut serta makan siang bersama.
"Ah... aku lupa, karena aku terlalu bersemangat," jawab Callie, memegang tangan Haura, untuk menggandeng wanita itu menuju meja makan. "Kau tahu Haura, Alden sangat susah jatuh cinta, orang tuanya sudah lama menjodohkan dirinya pada Iris dari keluarga Brown itu, bahkan sebelum kedua orang tua Alden meninggal sepuluh tahun lalu," ungkap Callie, sembari berjalan pelan.
Haura hanya menanggapi setiap ucapannya dengan anggukan kepala, hanya untuk meyakinkan Callie, jika dia benar-benar mendengarkan ceritanya.
"Aku juga tidak benar-benar menyukai mereka." Edward bicara terus terang, lelaki tua itu menganggap jika keluarga Brown adalah keluarga konglomerat yang sangat sombong, bahkan dulu anak mereka selalu menghina Alden, dan tidak mau dijodohkan. Entah kenapa? Mungkin saja Iris baru saja terbentur batu—sehingga dirinya kini yang mengejar-ngejar Alden.
"Aku sudah berkata terus terang, jika aku tidak ingin dijodohkan," sela Alden dengan wajah masam.
"Sudah kubilang, jika kau sudah memiliki kekasih, maka kami akan menggagalkan pernikahan kalian!" dengus Callie, karena dia tahu cucunya sangat tidak suka dengan Iris yang manja dan sombong, tapi karena dia takut jika cucunya tidak bisa menikah, karena terlalu sibuk, dan tidak berkencan—maka dari itu tidak ada pilihan lain untuk menjodohkan Alden dan Iris.
Mereka duduk di meja makan, dan mulai menyantap hidangan yang sudah di suguhkan para koki di kastil ini. Sementara bekas makanan keluarga Brown sudah di bawa pergi oleh para pelayan.
Haura yang sejak tadi diam, mendengar perdebatan lucu antara kakek, nenek, dan cucunya tampak menahan senyum, sungguh di luar dugaan Haura—yang dia pikir adalah orang-orang kaya akan bersikap sombong karena merasa memiliki uang berlimpah atau kekuasaan, padahal sifat seperti itu, tergantung orangnya masing-masing.
"Nona Oxley, makanan apa yang kau suka, aku akan memasakkan untukmu, jika kau datang kemari—nanti." Senyuman tulus keluar dari wajah wanita renta itu, membuat Haura tidak tega, padahal hubungannya dengan Alden bukan seperti yang mereka pikirkan.
"Nenek bisa memanggilku Haura saja," jawabnya, tangannya menyentuh tangan Callie yang nampak keriput karena termakan usianya yang telah senja. "Aku suka semua makan, tapi paling favoritku adalah lasagna, karena makanan itu selalu mengingatkan aku pada mendiang ibuku," imbuhnya lagi, menerawang jauh saat sang ibu selalu memasak makanan itu untuk dirinya.
"Kau yatim piatu?" tanya Edward sembari menyendok makanan di hadapannya dan memasukkan ke dalam mulut.
"Ya, ayahku adalah tentara, dia meninggal di medan perang sejak aku berumur dua belas tahun. Sementara ibuku meninggal lima bulan yang lalu." Mata Haura hampir saja berkaca-kaca ketika kembali mengingat momen-momen saat ayahnya meninggal. Secara impulsif, Alden memberikan sapu tangannya pada Haura yang sudah menguarkan air matanya. "Maaf jika aku sudah membuat suasana menjadi sedih." Haura mengusap air mata yang hampir saja menetes dengan sapu tangan yang diberikan Alden tadi.
"Tidak apa, kami malah senang jika kau nyaman menceritakan masalah ini pada kami," jawab Callie mengusap punggung Haura dengan begitu lembut.
Haura sendiri seperti merasakan kehangatan keluarga kembali di kastil ini. kakek dan nenek Alden begitu baik, bahkan dikatakan memiliki pikiran yang sangat terbuka.
"Aku ada di sini, akan melindungimu—selalu," timpal Alden tiba-tiba, membuat Haura langsung menoleh ke arahnya, hingga tersenyum canggung.
"Alah... awas saja kalau kau menyakiti Haura!" cibir Callie, mengejek cucunya yang memang selalu menjahili dirinya.
"Aku berjanji akan membahagiakan Haura!" tandas pria itu lagi, kali ini ada nada tegas di balik kalimat yang diucapkan CEO itu.
Bagaimana bisa Alden bicara seperti itu, mereka berdua adalah sepasang kekasih kontrak yang tidak memiliki hubungan apa pun, bagaimana cara Alden akan menjaga Haura dan membahagiakan dirinya di atas hubungan palsu yang akan memiliki ujung menyedihkan di akhir kisah mereka nantinya.
~•~
Theo tidak kunjung bangun dari tidurnya, Alila membiarkan sang suami tidur di atas sofa semalaman. Dia benar-benar sangat marah, dan harga dirinya runtuh saat melihat pria yang menikahinya itu pulang dalam keadaan mabuk, diantarkan oleh mantan istrinya. Alila tidak bisa menerima itu—karena itu menandakan jika suaminya masih belum bisa menerima perceraiannya dengan Haura, padahal Theo sendiri yang berkata ingin menikah dengannya dan siap menceraikan Haura begitu saja. Bahkan sang ibu mertua juga turut meyakinkan dirinya untuk menerima pinangan Theo, hingga memintanya resign dari pekerjaannya di De Beauty perusahaan kosmetik terbesar di negara ini, dulu di sana Alila bekerja sebagai beauty consultant, dan terpaksa berhenti bekerja, karena Theo berjanji akan menghidupi dirinya dengan kemewahan.
Alila memutuskan menghubungi sang ibu mertua, dan berkata jika dirinya tidak sanggup hidup dengan putera dari Delarosa yang masih mengingat masa lalunya.
Delarosa pergi menuju ke rumah anaknya, hanya untuk mencegah Alila yang sudah bersiap akan pergi meninggalkan anak kesayangannya yang payah itu.
Sesampainya wanita paruh baya itu sampai, dia mendapati Alila sudah bersiap angkat kaki dengan dia koper yang siap wanita cantik itu bawa.
"Tu–tunggu, Alila! Kau mau ke mana?" Delarosa mencoba menghentikan kepergian menantunya.
"Tidak bisa, Ma! Aku sudah merasa terhina dengan tindakan anak yang sudah di luar batas!" Alila mengerang tidak suka.
Bagus, betapa bodohnya Theo. Delarosa tidak habis pikir kenapa anaknya bisa melakukan hal memalukan seperti semalam, padahal sejak awal dia sudah mencuci otak Theo untuk benar-benar meninggalkan Haura dengan cara yang amat sangat menyedihkan, tapi yang terjadi sebaliknya, Theo malah seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, pergi menemui mantan istrinya dan mengemis cintanya kembali.
"Kau tetap di sini, aku akan mengurus suamimu!" pinta Delarosa, kemudian pergi ke kamar mandi entah apa yang akan dia lakukan.
Alila menyedekapkan tangan, menyaksikan apa yang akan dilakukan sang ibu mertua pada suaminya, dengan ekspresi malas.
Delarosa keluar dengan sebuah wadah berisi air, dan dengan kejam menyiram muka Theo yang masih terlelap di atas sofa ruang tamu.
Theo langsung terbangun dengan keadaan linglung saat sang ibu datang dengan mengguyur dirinya dengan air, wajah wanita yang telah melahirkannya itu nampak menakutkan karena amarah yang ia pendam sejak tadi.
"Dasar anak tidak berguna!"
To be continue~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
💕febhy ajah💕
begitulah hasilnya kalau orang tua selalu ingin mencampuri urusan rumah tangga anaknya
2023-05-11
0
Roro Ireng Rahayu
sama, ma emaknya .....heeee
2022-11-04
0
Ida Lailamajenun
Anda baru tau klu anak emg tidak berguna bukti nya 3thn nikah ma Haura gk otw juga tuh baby..
2022-10-12
0