Apakah kau sedang kasihan denganku? Atau ada perasaan lain yang tercipta untuk diriku?
~•~
Haura keluar dari mobil, saat Alden tengah masuk mobilnya sendiri, wanita itu berlari ke arah mobil bosnya yang akan berjalan menjauh darinya. Melihat Haura yang malah keluar dari mobil, membuat Alden menghentikan kendaraan mewahnya itu, dan kemudian dia membuka kaca, untuk bertanya pada Haura.
"Ada apa? Kenapa kau malah keluar? Apakah perintahku tidak cukup tegas untuk dirimu?!" dengus Alden memindai wajah Haura, yang tengah memilin jari-jarinya karena gugup.
"Tidak, Bos. Tapi mobil saya mogok," balas Haura ragu.
Alden menarik napas panjang, dengan perasaan malas, dan tentu saja ekspresi yang tidak menyenangkan dia meminta Haura untuk ikut ke dalam mobilnya.
"Masuk!"
"Tapi, Bo—"
"Masuk!" potong pria itu lagi, menegaskan agar Haura tidak kembali menjawab perkataannya.
Haura menurut, dan berjalan menuju pintu belakang hendak membukanya. Tapi dengan suara meninggi Alden mencegah Haura.
"Kau pikir aku ini sopirmu?!" bentaknya.
Haura terdiam, tak lama ia mengerti dan berjalan memutar menuju pintu mobil bagian depan, Haura nampak canggung duduk di samping bosnya. Ia sudah mengenakan piyama tidur kali ini, dan dia sudah menghapus riasan di wajahnya.
Alden bergeming, lalu mengemudikan mobilnya menuju ke sebuah apartemen yang digadang-gadang menjadi hunian mewah para publik figure. Melihat hal itu Haura menelan ludah tidak bisa berkata apa-apa. Apa yang akan dilakukan pria ini padanya? Apakah dia akan berniat jahat pada Haura? Wanita itu memberanikan melirik ke arah bosnya yang tampan, pria itu nampak tenang dan seperti tidak terjadi apa-apa.
Benar saja, Alden membawa mobil sedan hitamnya menuju ke basemen apartemen mewah yang menyatu dengan pusat perbelanjaan di mana Theo bekerja. Haura sendiri tidak pernah menginjakkan kaki di tempat ini. Tapi sekarang dengan Alden dia berada di sini, dan tidak tahu apa yang akan dilakukan pria ini.
Alden turun dari mobil, dan membanting pintu dengan sedikit keras, kemudian berjalan menjauh dari mobilnya. Namun, langkahnya terhenti ketika Haura masih berdiam diri di dalam sana, dengan wajah dingin pria itu berjalan ke arah Haura yang masih mengedarkan pandangan ke segala arah.
"Hello... Apa yang kau pikirkan?" Tiba-tiba Alden muncul di sebelah kaca Haura dan mengetuk-ngetuk dari luar. Haura terkesiap, secara reflek menengok ke arah bosnya yang sudah berada di luar. Haura segera keluar dari dalam mobil, dengan mata terus memandang ke segala arah.
"Bos, mengapa Anda membawa saya ke mari?" Haura memberanikan diri bertanya pada bosnya yang mulai berjalan.
"Kau akan mengerti ketika sudah sampai di atas!" balas pria itu berlalu.
Haura tidak ada pilihan selain mengikuti langkah bosnya pergi ke tempat yang lelaki itu mau.
•
Di dalam lift Haura mencoba mencairkan suasana dengan membuka percakapan di antara dirinya dan bosnya yang nampak dingin itu.
"Bos, mengapa Tuan Josep tidak mengantarkan Anda pulang?" tanya Haura, karena ia pikir seperti di dalam drama televisi, sekertaris akan mengantarkan bosnya pulang.
Alden menoleh, tatapannya begitu dingin seolah mampu membuat tubuh Haura membeku layaknya es.
"Kau pikir aku ini anak sekolah dasar, yang harus diantarkan pulang dan pergi?!"
Haura langsung mengatupkan bibirnya dan memilih diam karena respon Alden yang sangat tidak menyenangkan untuk dirinya. Haura tahu jika dia memang tidak pantas memberi pertanyaan kepada tuan sempurna di hadapannya ini.
Akhirnya mereka sampai di lantai tiga puluh yang ada di dalam apartemen tersebut. Alden berjalan pelan dan berhenti tepat di unit dengan nomor 307 yang memiliki pintu besar berwarna coklat kayu yang mengkilat. Untuk membuka pintu besar itu, Alden hanya cukup menempelkan sidik jarinya ke arah sebuah benda yang seperti kunci otomatis tersebut. Tak lama suara 'BIP' terdengar di telinga Haura, dan pintu pun terbuka.
Alden masuk diikuti Haura yang mengekor ke belakang. Alden menyalakan lampu satu persatu, keadaan yang sebelumnya gelap gulita kini nampak terang benderang.
"Ini apartemen Anda?" tanya Haura.
"Bukan...." Hening sesaat. "Aku akan serahkan tempat ini untuk dirimu. Tinggallah semaumu," imbuh Alden kemudian, lelaki itu berjalan ke arah balkon dan menatap pemandangan malam kota Tadpole yang dihiasi lampu-lampu.
Haura hampir tidak percaya mendengar ucapan Alden, bagaimana bisa pria ini begitu baik kepadanya. Siang ini dia memberi dia kejutan, dengan memberi dirinya black card yang ia miliki untuk berbelanja, dan kini ia memberikan apartemen ini dengan cuma-cuma, padahal keduanya sama sekali belum pernah saling mengenal satu sama lain.
"Siapa Anda?" Suara Haura hampir bergetar ketika melontarkan pertanyaan pada pria itu.
Alden berbalik badan, menatap Haura dari jauh. Lelaki itu berjalan mendekat seolah berharap Haura mengenali dirinya.
"Kau benar-benar tidak mengenaliku?"
Haura menggeleng pelan, dia memang merasa tidak asing pada nama pria di depannya ini, akan tetapi dia benar-benar lupa pernah mendengarnya di mana.
"Alden Walsh... Sekolah Menengah Atas Forest Quebec," tandas Alden tanpa ragu.
Forest Quebec adalah salah satu sekolah favorit di kota ini, dari mana Alden tahu jika Haura dulu sekolah di sana? Haura merasa semakin bingung. Wanita itu nampak mengerutkan kening.
"Alden Walsh, murid yang selalu dibully karena penampilannya yang culun, karena selalu memakai kaca mata tebal." Penjelasan Haura membuat wanita itu terkejut, bahkan hingga membuat dirinya tidak bisa berkata apa pun. Dia mengingat pria itu, pria dengan rambut berminyak, kaca mata tebal, dan selalu membawa buku. Tapi, bukan Alden ini—mereka seperti dua orang yang sangat berbeda.
"Apakah kau—"
"Ya, kau tidak salah mengingat. Dulu kau selalu membantuku ketika aku dibully. Kuingat dulu kau gadis yang begitu populer dan cantik, dan hanya kau yang selalu membelaku," Jawabnya.
Haura menyelipkan rambut ke telinga, ia benar-benar terkejut, memang benar jika dulu dia selalu membantu Alden ketika dia dibully. Apakah ini cara dia membantu dan membalas kebaikan Haura dulu?
"Maaf jika aku menginvasi kehidupanmu. Aku juga sudah tahu sejak awal jika kau baru saja dicampakkan oleh suamimu. Pertemuan kita di pusat perbelanjaan kala itu, ketika karyawanku memaksamu membeli produk kami, saat itulah untuk pertama kalinya aku melihatmu setelah tujuh tahun kita tidak bertemu."
Haura kembali mengingat kejadian itu, di mana seorang pria tampan menyelamatkan dirinya dari seorang wanita yang memaksa untuk membeli cussion mereka.
"Ketika aku ingin mengakhiri hidup?"
"Ya, aku mengikuti dirimu," jawabnya lugas.
Kebetulan macam apa ini? Bagaimana bisa pria ini berbuat banyak untuk Haura dan memata-matai dirinya selama ini. Sungguh semua ini ada di luar pikiran Haura.
"Dan sebuah kebetulan, saat aku tahu kau melamar pekerjaan di perusahaanku."
"Apa maksudmu?" Haura mulai penasaran.
"Lupakan! Aku hanya ingin membalas kebaikanmu di masa lalu. Bukan berati aku menaruh perasaan padamu!" potong Alden, mengelak. "Aku akan pergi, dan ini untukmu." Sebelum pergi Alden menyerahkan amplop putih pada Haura.
"Untuk apa ini?" Haura enggan menerima benda itu.
"Untuk menyambung hidupmu!" Sahutnya menaruh amplop itu di atas meja, dan pergi begitu saja meninggalkan Haura yang masih kebingungan.
to be continue
Terima kasih masih setia membaca Kala Bos Menggoda.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Rin's
nahh,,berbuat baik, akn ada hasilnya, walo entah kpn,,spt Hauraa
2022-11-09
1
Ida Lailamajenun
dugaan ku bener klu Alden emg kenal ma Haura dari dulu.dan Haura juga gk merasa klu kebaikannya dulu disimpan sama Alden dan disaat Alden sukses berbalik membantu Haura.apa yg kita tabur itu yg kita tuai.jadi jgn ragu utk menabur kebaikan pada siapapun tanpa memilih stts utk menolong org..
2022-10-11
0
LENY
Kl kita berbuat baik suatu saat Tuhan akan membalasnya spt Haura ini.
2022-08-18
1