"Ada lagi Pak?" tanya Alvin.
"Itu saja," ujar David
Dan David teringat lagi pada Rena. Ia penasaran bagaimana gadisnya itu bekerja di perusahaannya. Dan ia memutuskan untuk melihatnya. Tentu saja ia tidak akan menemuinya secara pribadi, karena gadis keras kepala itu pasti akan langsung menolaknya. Tetapi David tidak kehabisan akal, sebagai seorang CEO ia bisa bertindak apa saja di perusahaannya.
Mereka pun sampai di gedung Mahendra Tower yang megah.
"Alvin, kita ke bagian keuangan terlebih dulu, pagi ini," ujar David sambil melirik ke arah jam tangannya.
"Keuangan Pak? Bukankah kemarin kita baru saja dari sana?" tanya Alvin Dan lagi si Bos tidak menjadwalkan kunjungan ke bagian keuangan pagi ini.
"Ya, ada beberapa hal yang ingin aku cek di sana," ujar David tanpa menoleh pada Alvin. David memang tidak memberitahukan kepada Alvin bahwa ia hendak melihat Rena.
"Perlu saya informasikan ke manager keuangan Pak?" tanya Alvin.
"Tidak perlu, anggap saja ini sidak!" Ujar David kembali bersikap angkuh.
Dan mereka pun naik lift ke lantai 20 tempat bagian keuangan berada. Betapa terkejutnya staff dan manager keuangan saat melihat kedatangan David.
David pun berbicara selama beberapa saat dengan manager keuangan. Alvin yang mendampinginya dan terheran - heran, karena David hanya berbicara hal yang sudah di sampaikannya kemarin.
Apakah David lupa kalau mereka sudah kesana kemarin? Pikir Alvin.
"Saya ingin melihat kondisi karyawan di sini," ujar David sambil melihat ke arah luar melalui jendela ruangan manager keuangan.
"Bapak mau ketemu karyawan?" tanya sang manager.
"Saya harap tidak merepotkan," ujar David penuh wibawa.
Alvin pun tambah heran.
"Tentu saja tidak, Pak! Mari....," ujar sang Manager kemudian ia pun memandu David menuju keruangan karyawannya. David tampak ramah berbicara dengan para karyawan yang ada di sana. Dan karyawan pun tampak senang. Tetapi setelah beberapa saat, Alvin melihat ekspresi wajah David yang tidak tenang dan pandangannya seperti mencari sesuatu, barulah Alvin mengerti. Dan Alvin pun tersenyum geli.
"Pak, apakah Bapak sudah selesai?" tanya Alvin sambil membawa jadwal David hari ini, seolah - olah menunjukkannya jadwal berikutnya.
"Oh ya, sudah saya masih ada meeting lain hari ini," ujar David kepada Manager keuangan.
Ia kemudian berbicara sebentar untuk menyemangati para karyawannya, dan pamit.
Alvin pun menunggu sampai mereka berdua masuk ke dalam lift VIP.
"Pak, kalau Bapak sedang mencari Mbak Rena, Mbak Rena tidak ada di bagian keuangan," ujar Alvin sambil menahan senyum.
"Saya tidak mencari dia!" Ujar David berdalih, masih berusaha menutupi tujuannya mengadakan sidak.
"Begitu, ya Pak. Baiklah!" Ujar Alvin berpura - pura salah sangka.
Tahu - tahu David memukul tengkuk Alvin.
"Kenapa tidak kau bilang dari tadi! Gajimu ku potong Alvin!" Ujar David dengan kesal.
Alvin tidak bisa berkata - kata melihat kelakuan CEO yang terkenal arogan dan angkuh itu berubah 180 derajat.
"Cepat katakan dimana dia!" Ujar David dengan tidak sabar.
Alvin pun memencet tombol angka 30 di dinding lift.
"Mbak Rena, ada di bagian Marketing Pak," ujar Alvin menahan senyum.
Alvin kau buang - buang waktuku saja, bukannya bilang dari tadi!" Gerutu David.
Pintu lift pun terbuka di Divisi Marketing.
*****
Rena melangkah kakinya di lantai 30 gedung Mahendra Tower, ia berangkat pagi hari ini, dan ruangan Divisi masih sepi saat dia datang.
Rena sudah sempat membaca kembali buku - buku Marketingnya tadi pagi, dan ia sangat antusias untuk mempraktekkannya di dunia bisnis yang sesungguhnya.
Apalagi ia menyadari akan bekerja penuh di perusahaan David walaupun hanya untuk 6 bulan. Rena sudah memutuskan untuk resign dari pekerjaanya di Pub, karena selain ancaman David untuk menutup Pub itu, jika ia masih bekerja di sana, ia pun sudah berjanji pada Kakaknya untuk mencari pekerjaan lain. Dan Rena sudah menelepon Adrian tadi pagi untuk mengundurkan diri.
Rena berniat serius untuk bekerja di bagian Marketing, walaupun Manda tidak mengajarinya, ia akan belajar dari seniornya yang lain. Itu tekadnya.
"Hallo cantik!" Sapa Gita padanya, saat berjalan memasuki ruangan.
"Hallo juga kesayangan!" Jawab Rena sambil cipika - cipiki dengan Gita.
"Bagaimana perasaaanmu hari ini? Sudah baikan?" tanya Gita yang sudah mengetahui bahwa ia pingsan kemarin siang, namun di pikirnya Rena langsung pulang, bukan malah tidur di ruangan CEO mereka.
"Alhmadullilah sudah lebih baik," ujar Rena sambil tersenyum lebar.
"Kemarin sore, ada yang nyari kamu dari bagian keuangan. Orangnya ganteng!" Ujar Gita sambil menunjuk sebuah buket bunga mawar merah dan pink di mejanya.
Rena mengerutkan dahinya.
"Dari siapa?" tanyanya sambil berjalan mendekati meja kerjanya.
"Tuh, lihat aja sendiri!" Ujar Gita sambil tersenyum.
Rena meraih buket bunga mungil itu dan membaca kartu yang ada di atasnya.
(To : Rena. Get well son. From Lintang Permana)
"Pacarmu ya?" tanya Gita, sambil mengerlingkan mata menggoda Rena.
Rena tertawa dan berkata, "Ya, bukanlah baru aja kenal kemarin,"
"Oooh... kirain... iya juga gk pa - pa!" Goda Gita sambil tersenyum.
Rena lalu menaruh bunga itu di atas sebuah gelas plastik berwarna putih setelah mengisinya dengan air mineral.
"Git, boleh nggak aku ikut project PT. HUBB? Aku ingin coba belajar!" Tanya Rena ia ingin belajar Marketing hari ini, dan sepertinya Gita tidak akan keberatan untuk mengajarkannya.
"Boleh, nanti ikut aku ya. Aku mau ke PT. HUBB jam 10," ujar Gita senang.
"Nih, kamu pelajari dulu projeknya mumpung masih pagi," tambah Gita sambil menyerahkan sebuah file dari mejanya.
"Oke, makasih ya!" Ucap Rena tersenyum. Ia pun langsung mempelajari projek perusahaan PT. HUBB.
"Rena buatkan aku kopi!" Seru Manda dari kubikusnya.
Gita dan Rena saling pandang.
"Sory Manda, aku lagi ada kerjaan nih, minta OB saja," ujar Rena sambil terus membaca filenya.
Manda tertegun, mendengar ucapan Rena. Tidak seperti biasanya ia menolak di suruh.
"Ren, kamu sibuk apaan sih?' tanya Manda yang sudah ada di dekat Rena dan mengambil file yang ada di tangan Rena.
Manda pun membaca file itu.
"PT. HUBB, ngapain kamu baca - baca file ini? Ini tuh bukan tugas kamu. Anak baru tugasnya cuma bikin kopi!" Ujar Manda sambil membuang file itu ke lantai. Beberapa orang yang dekat dengan Manda pun tertawa, dan mengejek Rena.
"Eh, apa - apaan ini, Manda?" ujar Gita yang tidak terima file projeknya di lempar ke lantai ia pun mengambil filenya dari lantai.
"Alah, project begitu doang, Git!" Ujar Manda pada Gita dengan menjetikkan jaringanya. PT. HUBB memang perusahaan kecil sehingga projeknya memang tidak besar.
"Manda, jagan gitu! Gimana pun itu usahanya Gita, hargai dong!" Ujar Rena tidak suka dengan cara Manda.
"Lagian ngapain kamu pake ikut - ikutan projeknya Gita? Kamu itu bawahan aku ngerti?!" Ujar Manda sambil menunjuk kepala Rena.
Bersambung...
Jangan lupa like, komem, vote dan hadiahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 161 Episodes
Comments
Widia Aja
Kalau pinisirin ama Rena, pasang cctv di ruang2 kerja..
2023-01-30
3
Jasmine
wuihhh...merasa atasan Rena...pemilik perusahaan aja bisa dia perintahkan apalagi lho hny butiran debu dr sekian ribu karyawan perusahaan David...
2022-03-11
1
Bankit Susanto
coba ja rena jdi cwek ea berani jago brantem klau ada yg mau jahatan dia biar gak direndahkan dan dijahatin mulu psti si david bkalan tambah kagum atas keberanian rena ditambah ksemsem sma rena dan makin suka
2022-03-06
1