Hingga tak terasa waktu sudah hampir jam makan siang saat mereka selesai dan bersepakat.
"Terima kasih atas waktunya Ibu, secepatnya akan kami siapkan kontrak kerja samanya," ujar Gita.
"Sama - sama Mbak Gita, saya senang sekali kita bisa bekerja sama," ujar Ibu Andini.
"Mbak Rena, terima kasih sudah datang," ujar Ibu Andini sambil memandang Rena.
"Baik Bu, kami permisi," ujar Rena.
Rena dan Gita pun segera kembali ke kantor Mahendra Tower.
"Ren, mau makan siang dulu? Ada restoran enak di depan sana," ujar Gita mengajak Rena makan siang, sebenarnya Rena mau saja. Tetapi ia teringat janjinya untuk datang ke ruangan kantor David.
"Aku nggak bisa, Git. Kebetulan ada temen yang datang dan mengajak makan siang," ujar Rena beralasan.
"Siapa? Pacarmu ya?" tanya Gita dengan tatapan yang menggoda.
"Ah, bukan. Hanya teman saja," jawab Rena.
"Orang kantor kita, Ren?" tanya Gita masih penasaran.
"Bukan, teman di luar kantor," ujar Rena, ia tidak ingin Gita tahu mengenai dirinya dan David.
"Baiklah, selamat bersenang - senang cantik!" Ujar Gita tertawa kecil.
Sesampainya di kantor Rena langsung memisahkan diri dengan Gita, dan berpura - pura hendak keluar kantor.
Setelah Gita, sudah tidak terlihat lagi, baru lah Rena menaiki lift dan memencet angka 59, agar tidak menimbulkan kecurigaan. Karena, hanya orang - orang yang terpentinglah yang datang ke lantai 60.
Saat semua orang keluar dari lantai 59,Rena langsung memencet angka 60, dan sampailah ia di lantai sang CEO.
Security di kantor itu, telah mengenal Rena dan ia membiarkan Rena masuk. Di lihatnya Bu Ratih sedang duduk di mejanya, tetapi ia tidak melihat Pak Alvin.
"Silahkan masuk Mbak Rena, Pak David sudah menunggu," ujar Ibu Ratih padanya. Dan Rena mengangguk sopan, kemudian masuk ke kantor David.
David sedang duduk di kantor meja kerjanya saat Rena masuk.
"Selamat Siang, Pak. Bapak memanggil saya?" ujar Rena bersikap formal dan berdiri kurang dari 1,5 meter dari meja kerja David.
"Kenapa kamu lama sekali? Saya sudah lapar!" Ujar David sambil berdiri. Ia pun menggulung lengan bajunya dan berjalan menuju keruang rapat di sisi samping ruang kerjanya. Terdapat meja panjang dengan beberapa bangku dan di atas meja itu terdapat beberapa jenis makanan.
"Saya baru pulang meeting, Pak." jawab Rena tanpa bergeming dari tempatnya berdiri.
"Ya sudah, kenapa kamu diam saja di situ? Ayo cepat kesini! Temani saya makan," ujar David sambil mencuci tangannya di wastafel tak jaih dari meja itu.
Rena pun menghampiri meja rapat dan berdiri di sana.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Cuci tanganmu dulu!" Ujar David sambil duduk di salah satu kursi.
Rena pun mencuci tangannya dan kembali ke meja rapat.
"Duduk di sini!" Ujar David menunjuk kursi yang ada di sebelahnya.
"Saya duduk di sini saja, Pak." jawab Rena, sambil menggeser kursi yang berjarak beberapa kursi dari David.
"Adrena Clarissa Putri, saya perintahkan kamu untuk duduk di sini!" Ujar David dengan nada yang memerintah dan pandangan tajam, ia sungguh tidak ingin di bantah.
"Rena, menatapnya dengan kesal. Namun, ia pindah tempat duduk juga.
"Tak usah cemberut, aku hanya mengajakmu makan dan bukanya berkelahi! Ayo segera makan, jangan sampai kamu pingsan lagi!" Ujar David sambil melirik wajah Rena yang cemberut.
Rena melihat hindangan yang ada di meja. Ada beberapa jenis makanan padang yang terhidang di sana, dan pastinya untuk lebih dari dua orang!
David menyendokkan nasi dan mengambil rendang serta gulai daun singkong serta perkedel, kemudian ia makan menggunakan tangannya.
Rena tertawa kecil, melihat CEO yang arogan, angkuh, sombong itu makan dengan tangannya seperti orang kebanyakan.Kapan lagi bisa melihat Alexander David Mahendra makan seperti itu!
"Kenapa? Ada yang aneh?" tanya David melihat Rena tertawa.
"Anda seperti bukan Alexander David Mahendra," ujar Rena berusaha menahan tawanya.
"Banyak hal tentang saya yang belum kamu tahu," ujar David yang mengambil sepotong gulai ayam ke piringnya.
Ia kemudian menyendokkan nasi ke piring Rena.
"Makanlah!" Ujar David sambil melihat Rena.
Rena pun segera mengambil sepotong Ayam balado dan gulai singkong, dan makan dengan tangan seperti halnya David.
"Ceritakan tentang dirimu, Rena?" ujar David ia masih berusaha mencari tahu mengenai gadis ini.
"Saya tak punya cerita, Pak David," jawab Rena.
"Apakah begitu rahasia, sampai kau tidak mau mengatakan apapun?" tanya David sambil memperhatikan ekspresi wajah Rena.
"Bukan, bukan itu. Karena, tidak ada hal yang menarik dari hidup saya untuk di ceritakan," ujar Rena segera mengoreksi.
"Jangan buang - buang waktu Bapak untuk mendengarkan kisah saya," ujar Rena lagi.
"Hmmm... saya rasa tidak," ujar David, lalu mengambil sejumput nasi dan lauknya ke mulutnya.
"Maksud Bapak?" tanya Rena.
"Saya merasa ada sesuatu di diri kamu, seperti kamu bukanlah kamu yang sebenarnya," ujar David sambil memandang kedua bola mata Rena.
Rena tertawa.
"Bagaimana mungkin, saya bukan saya Pak?" tanya Rena ia ingin tahu sejauh mana David mengetahui perihal tentang dirinya.
"Karena saya sudah pernah bertemu versi kamu yang sebenarnya!" Ujar David sambil menatap tajam mata Rena.
Tenggorokan Rena terasa tersekat dan jantungnya serasa berhenti bernafas.
Bagaimana mungkin ia bertemu dengan Alxander David Mahendra di masa lalunya? Rena yakin belum pernah mengenal Alexander David Mahendra sebelum kejadian di Pub.
"Adrena Clarissa Putri! Katakan saja siapa dirimu yang sebenarnya!" Ujar David tepat di depan wajah Rena.
Rena sadar David belum mengetahui identitas dirinya yang sebenarnya, walaupun ia memiliki dugaan yang kuat mengenai masa lalunya.
Rena pun tertawa.
"Pak David hanya mengada - ada saja!" Ujar Rena.
"Baiklah, kalau Bapak ingin tahu tentang kisah saya, akan saya ceritakan," ujar Rena sambil mencuci tangannya di mangkuk air yang telah di sediakan di sana, kemudian mengelapnya dengan serbet.
David menunggu Rena bercerita.
"Saya besar di sebuah panti asuhan di kota F sampai saya berusia 15 tahun, dua orang yang sangat baik hati dan menyayangi saya mengangkat saya menjadi anak mereka, hingga saya lulus SMA kemudian saya menutuskan untuk kuliah di kota ini. Yah, begitulah kisah saya tidak ada yang menarik. Kehidupan di panti asuhan pun bukanlah sesuatu yang menarik untuk saya ceritakan," ujar Rena. Tentu saja ia tidak menceritakan cerita aslinya.
"Rena... saya sudah katakan padamu, saya tidak suka di bohongi dan di permainkan. Jadi kamu sudah tahu hukumanmu, jika saya membongkar rahasian mu nanti! Bersiap - siaplah Rena!" Ujar David sambil tersenyum penuh keyakinan. Matanya menatap bibir Rena yang ada di hadapannya.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 161 Episodes
Comments
Jasmine
David doyan sop bibir miliknya Renan🤣🤣🤣
2022-03-11
2
Agus Borotoding
lanjut dong 💪🙏
2022-03-07
2
Bankit Susanto
semoga identitas rena cpet terkuak agar david bsa mlindungi rena dri kejarab musuh ayahnya terutama malvin
2022-03-07
2