Rena terbangun dan merasa sedikit malas untuk beraktifitas. Hari ini ia di minta untuk menghadap Alexander David Mahendra jika ingin menerima keringanan biaya perbaikan mobil. Alvin memberitahukannya dua hari yang lalu, bahwa ia bisa berbicara dengan CEO yang bertangan besi itu.
Rena sebenarnya enggan untuk bertemu dengan David, membayangkan wajahnya saja sudah membuatnya sebal, apalagi harus bertatap muka dengannya.
Rena berencana akan menebalkan mukanya di depan David untuk meminta keringanan, karena bagaimana pun juga, uangnya tidak cukup untuk membayar biaya yang di bebankan kepadanya. Ia hanya punya uang 1/ 3 dari biaya yang di bebankan oleh si pria bebal itu.
Selain meminta keringanan ia juga meminta untuk mencicil pembayarannya. Dengan begitu, akan lebih ringan baginya membayar hutangnya terhadap David, ia pun tersenyum dengan rencananya.
Sesuai dengan jam yang sudah di beritahukan oleh Alvin, ia datang ke kantor David dengan memakai blus lengan panjang biru dongker dabn rok Alvin berwarna abu - abu terang. Ia hanya memulas make up tipis natural dan membiarkan rambutnya tergerai indah.
Kantor David terletak di pusat kota dan merupakan gedung pencakar langit tertinggi di kota itu bernama Mahendra Tower. Dulu nama gedung itu adala AE Tower, singkatan dari Alfaro Enterprise Tower. Ya, dulu Ayah Renalah yang membangun gedung itu, namun saat perusahaan keluarganya jatuh bangkrut, gedung itu di beli oleh keluarga Mahendra.
Rena berdiri di depan gedung yang tinggi nan megah itu, memandanginya dari bawah. Ia teringat saat Ayahnya mengajaknya ke sana, memamerkan padanya dan Austin gedung itu.
***** Flashback On *****
"Bagaimana, kalian suka gedung ini?" tanya Alfaro pada kedua anaknya. Rena dan Austin dengan di dampingi oleh Ibu mereka, Syanaz Alfaro.
"Ini punya Ayah?" tanya Rena kecil yang saat itu masih berusia 12 tahun, yang melihat gedung yang indah itu dengan pandangan yang takjub.
"Iya, Ayah bangun gedung ini untuk kalian. Nanti kalau kalian sudah besar, kalian yang akan memimpin perusahaan keluarga kita dari gedung ini," ujar Alfaro dengan rasa bangga telah membangun gedung yang terindah dan tertinggi di kota mereka untuk anak - anaknya.
***** Flashback Off *****
Air mata menggenang, mengenang Almarhum Ayah dan Ibunya.
'Ayah, walaupun gedung ini bukan milik kita lagi, tetapi Rena sangat bangga dengan Ayah," batin Rena.
Rena memasuki gedung lobi itu, dan melihat sekelilingnya. Interior gedung itu terlihat jelas telah berubah, namun bangunnya masih sama seperti dulu.
Rena teringat bagaimana Ayahnya menggandengnya dan Abang Austin menyusuri bangunan gedung itu. Mengomentari oranamen indah yang ada di langit - langit ruangan gedung itu dengan celotehannya dan Austin. Ia tersenyum mengenang saat - saat itu.
Rena tersadar dari lamunannya saat ada beberapa orang berjalan berkelompok dan tidak sengaja menyenggol bahunya. Ia tidak menyalahkan orang - orang tersebut. Karen dirinyalah yang berhenti di tengah lalu lalang orang - orang yang berjalan.
Rena berjalan mendekati meja Resepsionis di tengah ruangan lobby itu.
"Selamat siang, nama saya Adrena Clarissa Putri, saya ada janji temu dengan Bapak Alexander David Mahendra," ujar Rena pada gadis Resepsionis yang sedang duduk di sana.
Gadis itu berdiri seperti memperhatikan dirinya, kemudian ia menelepon untuk menanyakan mengenai janji temunya, mungkin dengan sekretaris David.
"Silahkan Mbak Pakai ini, dan naik lift paling ujung di sebelah sana, naik ke lantai yang paling atas, lantai 60. Nanti, Mbak lapor lagi dengan Ibu Ratih sekretaris Pak David," ujar resepsionis yang memakai name tage Lea di dadanya.
"Terima kasih Mbak Lea," jawab Rena yang menerima tanda pengenal visitor darinya yang kemudian ia jepitkan di leher blusnya.
Ia berjalan mengikuti intruksi Lea, berjalan pelan menyusuri koridor sampai ia masuk ke dalam lift yang di maksud. Kemudian memencet tombol angka 60. Setelah beberapa menit sampailah Rena di tempat kantor CEO berada.
Dulu, lantai ini adalah kantor Ayahnya. Ia ingat benar jalan menuju keruangan CEO yang merupakan ruangan terluas di lantai itu, dengan lounge ruangan istirahat, ruang rapat dan kamar mandi dalam.
Rena berjalan pelan membiarkan memorinya kembali saat ia berjalan di sepanjang koridor lantai yang memiliki interior mewah itu. Ia ingat dulu Ayah pernah mengatakan bahwa marmer yang tertempel di tembok dan lantai yang di pijaknya di impor langsung dari italia. Indah dan mewah. Ayah memang memiliki selera impor yang tinggi dalam memilih suatu barang. Hanya yang terbaik yang akan di belinya.
Jemarinya menyentuh marmer yang ada di tembok koridor itu. Dingin dan halus.
Ia tidak pernah menyangka bisa menginjakkan kakinya di lantai tertinggi bangunan ini lagi.
"Ehem," deheman Alvin membuyarkan lamunn Rena dan ia sangat malu di pergoki oleh Alvin saat sedang mengagumi keindahan bangunan itu.
"Selamat pagi, Pak Alvin." sapa Rena untuk menutupi rasa malunya.
"Selamat pagi Mbak Rena. Mari ikut saya," ujar Alvin kemudian berbalik dan mengarahkannya menuju ke kantor David dan Rena pun mengikutinya. Ia menghela napas, mengumpulkan keberaniannya untuk menghadapi sang CEO yang bertangan besi itu.
Melewati meja sekretaris, Alvin langsung berjalan masuk dan sang sekretaris hanya mengangguk dan membiarkan mereka berdua lewat.
Sebagai Asisten pribadi David posisi Alvin masih di atas sekretaris David.
"Mbak Rena silahkan duduk, Pak David akan segera datang," ujar Alvin kemudian pergi, meninggalkannya sendiri di dalam ruang kantor itu. Alvin pergi di sebuah pintu kecil di sisi samping. Di sanalah ruang kerja Asisten Pribadi.
Rena memandang ruangan itu dan ia kembali terkenang Ayahnya.
'Ini ruang kerja Ayah,' batin Rena sambil memandang sekeliling ruang kerja itu.
Banyak sekali perubahan pada ruang kantor itu, terlebih interiornya, tetapi bentuk ruangan itu masih sama.
Terhanyut oleh perasaaan rindunya pada sang Ayah, Rena berjalan mengelilingi kantor David. David mengubah sebagian besar perabot ruangan itu. Tetapi ia masih menggunakan meja kerja yang sama dengan yang di gunakan oleh Ayahnya. Meja kayu besar dan kokoh yang tak lekang oleh waktu membuat siapa saja yang duduk di meja itu terlihat berwibawa dan karismatik. Mungkin alasan itulah David tetap menggunakan meja kerja itu.
Rena teringat sesuatu, dan ia pun menggeser kursi sang CEO dan berjongkok. Tangannya meraba sesuatu di bawah meja besar itu dan ia tersenyum saat menemukannya. Di turunkannya sedikit kepalanya untuk mengintip apa yang di pegangnya di bawah meja kerja itu.
Austin dan Rena.
Goresan namanya dan Kakaknya yang mereka buat dengan cutter saat ia dan sang Kakak bermain di ruang kerja sang Ayah.
Rena sangat terbawa dengan lamunannya akan masa lalunya sang Ayah, hingga ia tidak menyadari kehadiran David.
David yang baru keluar dari kamar mandi dalam di ruang kerjanya tertegun melihat gadis itu sedang berjongkok di meja kerjanya.
Apa yang ia lakukan di situ? Pikir David heran melihat apa yang Rena lakukan. Belum ada seorang pun yang berani memegang barang - barang pribadi dalam kantornya, dan gadis itu terlihat sedang meraba - raba meja kerjanya.
"Sudah puas?" tanya David dengan suara berat maskulinnya. Rena yang mendengarnya terkaget dan langsung bangkit. Akan tetapi ia lupa kepalanya masih berada di bawah meja kerja David, hingga kepalanya pun terpentok meja kerjanya.
"Aduh..." erangnya dengan keras sambil memegang kepalanya.
David menahan tawanya. Ia berusaha mati - matian menjaga imejnya di depan gadis ini.
Rena yang melihat David sangat tampan berdiri di belakangnya dengan sorot mata tajam dan tangan melipat di depan dadanya.
"Maaf," jawab Rena sambil berjalan memutari meja David dan berhenti di bagian luar meja kerja David.
"Apa setiap bertemu, kamu selalu meminta maaf?" tanya David dengan cueknya sambil duduk di kursi CEOnya.
Rena tidak menjawab, menyadari kebodohannya.
Kenapa ia sampai lengah dan membiarkan dirinya di pergoki sedang memeriksa meja David? Kenapa ia tidak duduk diam dan menunggu saja sampai David datang! Gerutunya pada dirinya sendiri.
"Cobalah untuk tidak bertindak bodoh dan ceroboh setiap saat," ujar David datar ia tidak terlihat marah ataupun kesal. Ia tahu tidak ada yang perlu ia khawatirkan dari barang - barang pribadinya. Tidak ada yang berani mencuri darinya. Dan ia yakin Rena tidak akan sebodoh itu untuk mencuri sesuatu darinya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya David tanpa mempersilahkan Rena duduk terlebih dahulu.
Rena yang masih merasakan kedutan dan nyeri di kepalanya akibat terpentok meja memandang David. 'Menyebalkan sekali orang ini!" Ucapnya dalam batinnya.
"Cepatlah, aku tidak punya waktu seharian ini untuk menunggumu bicara!" Ujar David kesal! Karena Rena hanya diam saja.
Bersambung...
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 161 Episodes
Comments
Jasmine
thor cerita di IPC ttg Rena dan David adlh teman sejak kecil spt kisah Devan dan Kanaya koq ga ada kenangan yg teringat di memory keduanya yaitu persahaban dr mereka kecil dulu
2022-03-11
2
Jasmine
koq rok Alvin thor...typo atau jenis rok terbaru yg nama model rok tsb Alvin
2022-03-11
1
Sunraiska
up up up up up up up up up up up up up up up 👻👻👻👻👻👻
2022-03-02
0