Tak seperti hari-hari biasanya, Langit mulai diselimuti awan mendung, seolah-olah ingin mengantarkan Dinda menuju panti asuhan Kasih Ibu, tempat dimana dia pernah tinggal.
"Non, hari ini sepertinya cuaca sudah tidak mendukung, apa nona masih tetap ingin pergi ke panti?" tanya Adi yang mulai ragu.
"Aku akan tetap pergi paman, kalau paman mau tinggal juga tidak papa. Aku bukan tipe orang yang suka mengulur waktu, selama aku masih bisa pergi aku akan tetap pergi." Jawab Dinda yang kekeh dengan keputusannya.
"Baiklah kalau nona tetap ingin pergi, saya juga akan tetap ikut."
Mereka pun segera pergi ke panti asuhan, dimana tempatnya berada di luar kota, dan melewati tempat dimana tragedi kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya.
Dalam hati Dinda masih memiliki pertanyaan yang belum terjawab kan, yaitu tujuan orang tuanya pergi keluar kota menemui siapa? sampai ajal lebih dulu menjemputnya.
"Non apa masih ingat, jika di depan sana adalah tempat terjadinya kecelakaan yang menghilangkan nyawa orang tua nona." Ucap Adi sambil menunjuk ke arah depan. Dinda memperhatikan, lalu menggelengkan kepalanya, ia tak ingin mengingat lagi kejadian itu yang membuatnya trauma. Bahkan saat melewatinya Dinda memilih memejamkan matanya tak sanggup membayangkan lagi apa yang terjadi.
Dinda yang saat itu berusia dua tahun, sudah bisa menyimpan memori ingatan setiap kejadian, itulah sebabnya Dinda masih ingat betul saat ia menangis di pelukan sang bunda yang berusaha melindungi dirinya dan melihat papanya yang sudah tergeletak tak berdaya. Sebuah tangan besar mengambil tubuh mungilnya dari pelukan sang bunda dan di saat itu juga Dinda tak sadarkan diri dan tak tahu lagi apa yang terjadi, iya hanya tahu saat dirinya bangun sudah berada di panti asuhan.
Tak terasa air mata lolos begitu saja saat mengingat kejadian masa lalu. Setelah perjalanan cukup panjang akhirnya sampai di sebuah bangunan yang sudah terbengkalai dan sudah mulai usang.
Saat keluar dari dalam mobil Dinda hanya disambut bangunan yang sudah benar-benar di tinggal penghuninya, garis polisi melintang di seluruh area panti asuhan.
"Maaf nona, anda mau mencari siapa? bangunan ini sudah di kosongkan pihak kepolisian." Ucap seorang laki-laki paruh baya yang tiba-tiba saja muncul. Dinda menoleh ke arah laki-laki itu lalu datang menghampiri.
"Ada masalah apa dengan panti ini pak, kenapa harus dikosongkan? lalu dimana para anak panti yang tinggal di sini atau pindah kemana? tanya Dinda.
"Mereka bukan anak-anak yatim piatu non, mereka anak-anak dari hasil penculikan dan di pekerjaan sebagai pengamen jalanan, panti asuhan ini hanya kedok belakang non." Jelas lelaki itu lalu pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa lagi.
"Jadi saat itu aku di culik? pantas saja setiap pagi semua anak-anak pergi dan kembali di malam hari. Tapi kenapa aku dibiarkan tinggal dan tidak di perlakukan seperti mereka? ini semua benar-benar janggal, aku harus tahu kebenarannya." Gumam Dinda dan langsung kembali masuk kedalam mobil.
"Maafkan saya non, seharusnya saya cari informasi dahulu tentang tempat ini sebelum datang kemari." Ucap Adi yang merasa bersalah.
"Paman kita kembali, tidak ada gunanya lagi kita disini." Ajak Dinda.
"Baik non." Adi segera ikut masuk kedalam mobil dan segera pergi.
"Paman aku butuh informan, tolong Carikan yang terbaik." perintah Dinda.
"Baik non, saya akan carikan informan terbaik yang bisa di andalkan."
***********
Setelah keputusannya untuk mengambil alih perusahaan, Dinda membutuhkan pakaian yang sesuai dengan posisinya sekarang. Rima menyarankan untuk mencari pakaian di butik multi brand, namun Dinda menolak untuk membeli pakaian yang bermerek. Dinda yang terbiasa mengenakan baju dengan harga murah, ia sangat menyayangkan jika uangnya di gunakan untuk membeli pakaian malah. Rima tak bisa berkata apa-apa saat Dinda sudah menolak.
Dengan mengenakan outfit casual, Dinda pergi ke mall di temani Rima untuk berbelanja pakaian.
Saat sedang memilih-milih pakai yang ada di salah satu butik di mall, tanpa sengaja Dinda bertemu Gavin sedang bersama Amora yang sedang memilih pakaian juga.
Mereka terdiam sejenak, sebelum Gavin menyapa lebih dulu. "Dinda kamu ada di sini juga, kebetulan sekali kita bertemu. Sedang cari baju apa? kamu pilih saja biar nanti aku yang bayar." Ucap Gavin dengan percaya diri.
"Gavin, kenapa kamu jadi sok baik dengan Dora, bukankah kamu sudah janji padaku sampai kapanpun kamu tidak akan pernah dekat-dekat dengan dia atau jangan- jangan sekarang kamu berubah pikiran karena Dora sekarang terlihat lebih cantik dan seksi." Saut Amora dengan kesal.
Dinda menyeringai, dengan melipat kedua tangannya di dada, saat melihat reaksi Amora." Kamu gak perlu kuatir Amora, aku juga sudah tidak tertarik dengannya, dulu memang aku tergila-gila padanya karena ku kira kebaikannya tulus, tapi kini aku baru tahu, tidak ada gunanya larut dalam kesedihan karena penghianatan kalian. Ambil saja laki-laki brengsek seperti dia, apa kamu tahu Amora sebentar lagi kamu juga kan di campakkan dia begitu saja seperti aku saat itu." Ucap Dinda dengan tegas, kebencian masih menyelimuti hati Dinda, namun ia berusaha untuk bisa mengontrol emosi agar tidak terjadi kegaduhan yang bisa memalukan dirinya sendiri.
"Kamu benar-benar..." Amora hampir melayangkan tamparan di pipi Dinda, namun dengan sigap Gavin menahan tangan Amora.
"Cukup Amora, apa yang kamu lakukan pada Dinda, dia gak salah, dia bicara apa yang ada di hatinya dan mulai detik ini kita putus, aku sudah tidak nyaman lagi bersamamu, kau terlalu posesif padaku dan aku tidak suka itu."
"Apa kamu bilang Gavin? putus!."
Plakkk....
Amora pun menampar wajah Gavin dengan keras, " Dasar laki-laki brengsek. Baru saja tadi siang kamu merayu aku dan sekarang kamu memutuskan aku."
Plakkk....
Tamparan sekali lagi mendarat di pipi Gavin membuat Gavin meringis menahan panas di pipinya.
Melihat adegan di depannya Dinda benar-benar puas. Kali ini giliran dirinya yang menyaksikan apa yang pernah dia rasakan saat itu.
Amora pun dengan tangis bercampur dengan amarah pergi meninggalkan Gavin dan Dinda yang masih berdiri terpaku melihat kepergian Amora.
"Makasih Gavin atas hiburannya. Oya gak perlu membayarkan pakai yang aku inginkan, aku sekarang sudah bisa membelinya sendiri dan tak butuh belas kasihan dari orang lain." ucap Dinda tanpa rasa bersalah, kerena sudah membuat Gavin dan Amora putus. Dinda pun segera pergi meninggalkan Gavin. Sedangkan pakaian yang dipilihnya semua di urus Rima.
Saat melewati Gavin Dinda hanya bisa mengepal kedua tangannya, ingin sekali meninju wajahnya, namun Dinda tak ingin mempermalukan Gavin di tempat umum lagi.
_TBC...
✔️ JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK ☺️☺️☺️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
Shinta Dewiana
maunya ada bodyguat deh yg stay tuk adinda
2024-07-10
3
Muhammad Fachri Bimansyah
Thor. buat penampilan Dinda, anggun dan elegan. sebagai CEO yg berwibawa. dan baik hati.
balas dendam dgn halus tapi menghancurkan perlahan-lahan..
2022-05-30
6
Ulufi Dewi
Author yg budiman bkin dinda jd perempuan berwibawa & elegant dong
2022-05-22
1