Matahari pagi memancar begitu terangnya, menyelinap masuk kedalam kamar Dinda.
Secara berlahan Dinda terbangun dan merenggangkan otot-otot di tubuhnya, dengan rambut yang masih acak-acakan, Dinda mer*aba ponsel yang ia letakkan di atas nakas untuk melihat jam di ponselnya.
Dinda langsung terduduk saat mendapati jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. itu artinya waktu Dinda tinggal satu jam untuk sampai kantor.
"Astaga.... ini beneran, mataku yang eror atau jamku yang eror, masa ini sudah jam tujuh. Mati aku bisa-bisa aku terlambat pergi ke kantor"
Dinda menepuk jidat dan bergegas turun dari ranjang dan bersiap untuk berangkat bekerja.
"Non... sudah siang..." ucap salah satu pelayan sambil mengetuk pintu.
"Iya tinggu sebentar, aku sudah bangun." Dinda melangkahkan kakinya menuju pintu dan segera membukanya. Sudah berjejer para pelayan dan masing-masing membawa keperluan Dinda. Satu persatu pelayan masuk dengan tugas masing-masing, membuat Dinda hanya melongo melihat apa yang mereka lakukan.
"Nona... airnya sudah saya siapkan."
"Nona... pakaiannya sudah saya pilihkan, yang cocok dengan suasana hari ini."
"Nona, sudah saya siapkan makeup dan parfum yang perlu anda gunakan hari ini."
Ucap para pelayan bergantian dan yang lain membersihkan tempat tidur, membuka gorden dan juga pintu balkon. Semuanya melakukan tugasnya masing-masing.
Tanpa berkata apa-apa, Dinda segera membersihkan diri dan mengenakan apa yang sudah di siapkan.
Rima datang dan langsung mengambil alih untuk menyisir rambut Dinda dan membantunya menggunakan makeup yang belum pernah Dinda pakai.
"Dimana paman Adi?" tanya Dinda pada Rima.
"Pak Adi ada di lantai bawah dan sedang menunggu nona untuk sarapan." jawab Rima Sambil tangannya terus bekerja untuk memoles wajah Dinda.
"Apa aku boleh bertanya padamu?"
"Tentu saja boleh nona, silahkan nona mau bertanya apa?"
"Berapa gaji semua pelayan yang ada disini?" tanya Dinda yang sangat penasaran.
"Delapan sampai lima belas juta, tergantung pekerjaannya."
"Lalu siapa yang bayar kalian semua?"
"Nona lah yang harus bayar kami."
"Apa..." Dinda terkejut
'Jika rata-rata satu pelayan sepuluh juta di kali lima puluh berarti lima ratus juta sebulan buat gajih mereka. Darimana dapat uang segitu? Kalau gini lebih baik aku ikutan jadi pelayan biar dapat gaji besar, kan lumayan dari pada kerja di CS company cuma enam juta sebulan.' Gumam Dinda sambil senyum-senyum sendiri tak bisa mikir.
Setelah selesai make up, Dinda bergegas keluar kamar untuk segera pergi ke kantor. Tak peduli yang lain masih sibuk dengan pekerjaannya bahkan pelayan dapur sudah menyiapkan menu sarapan.
"Nona mau pergi kemana???" tanya Adi yang mengejar Dinda yang sudah keluar dari dalam rumah.
"Kerja paman, aku sudah hampir terlambat, nanti bisa di pecat." saut Dinda tergesa-gesa.
"Tapi... nona belum sarapan."
"Tidak cukup waktunya paman, belum lagi masih nunggu angkot lewat." saut Dinda lagi.
"Angkot? lalu apa gunanya mobil yang ada kalau masih menunggu angkot?" ucap Adi dan membuat langkah Dinda terhenti.
"Mobil."
"Iya... mobil, nona bisa lihat sendiri di garasi mobil sudah berjajar menunggu nona, bahkan mobil hadiah dari orang tua anda juga masih ada tapi maaf sudah saya ganti dengan keluaran terbaru." Dinda mengikuti Adi yang menunjukkan garasi yang berisi mobil-mobil mewah.
"Paman, apa kau bisa jelaskan padaku. Apa hubungan pendiri perusahaan Scorpio dengan aku. Aku pernah dengar, jika pimpinan Scorpio adalah orang yang sangat sulit di temui dan bahkan untuk mendapatkan informasi secara detail tenang keluarga Scorpio pun sangat sulit, lalu kenapa paman membawaku ke mari. Aku sama sekali tak mengenal keluarga ini paman."
"Pimpinan Scorpio adalah orang tua Nona, sebelum kecelakaan itu terjadi, tuan Arnold sudah mewariskan semua harta kekayaannya pada nona. Saya sebagai orang kepercayaan tuan Arnold sudah mencari nona selama bertahun-tahun karena kami yakin Nona selamat dari insiden itu."
"Darimana paman tahu kalau aku adalah anak dari keluarga Scorpio?"
"Kalung yang anda jual, nona mengakui kalau itu benar-benar milik nona. Apa nona tahu, Lion itu sebenarnya ada dua yang satu milik nona dan yang satu milik ibunda nona dan saat anda menjualnya liontin itu sudah menyatu itu berarti, nona bisa menyimpulkannya sendiri...."
Dinda benar-benar terkejut dengan pernyataan Adi, Dinda tak pernah mengira jika kalung yang selama ini dia sembunyikan dari Kusuma bisa membawanya pada identitas aslinya sebagai anak keturunan dari keluarga Scorpio yang menghilang.
"Cristal Aurora Scorpio itu adalah nama lengkap nona bukan Adinda ataupun Dora. Saya akan segera mengumumkan kembalinya Nona sebagai putri Scorpio dan akan menjadi CEO Scorpio, dan saya yakin semua orang yang sudah merendahkan dan menghina bahwa memandang nona sebelah mata akan datang berbondong-bondong mendekati nona bahkan mereka akan bersujud di kaki nona hanya untuk numpang nama nona." Jelas Adi menyakinkan agar Dinda mau menerima semua peninggalan orang tuanya.
"Tidak paman, aku belum siap menjadi seperti apa yang paman katakan, aku gak terbiasa dan aku gak mau orang lain mendekati aku karena posisiku sekarang, aku masih ingin bersama dengan orang-orang yang mau berteman denganku tanpa memandang kekuranganku." tolak Dinda.
"Nona, lebih baik nona memimpin perusahan sendari pada harus bekerja menjadi karyawan. Apa nona tidak tertarik dengan semua yang sudah nona miliki bahkan gaji nona selama satu bulan itu hanya bisa untuk jajan nona satu hari." Adi tetap berusaha membujuk Dinda yang ternyata memang keras kepala dan selalu kekeh dengan keputusannya, sama Persis dengan sikap papanya yang ternyata diwarisi putrinya itu.
"Tidak paman, aku tidak ingin berhenti, aku belum bisa lepas dari pekerjaan yang aku sukai. Aku harus pergi sekarang paman, nanti aku bisa terlambat." Dinda bergegas pergi tak perduli Adi berapa kali memanggil. Dinda yang terbiasa hidup sederhana sama sekali tak tertarik dengan harta melimpah yang di tinggalkan orang tuanya.
"Haahhh, setelah menjadi asisten tuan Arnold yang super keras kepala, sekarang aku kembali mengurus putrinya yang jauh lebih parah dari bapaknya." Adi menggeleng dan segera mengejar Dinda dengan mobil untuk mengantarkannya kekantor.
Dinda sampai di kantor tepat waktu, penampilannya dan hasil makeup Rima membuat Dinda bingung sendiri untuk menyembunyikan wajahnya dari penilaian karyawan kantor lainnya. dan merasa tak percaya diri dengan penampilannya.
"Dora..." Panggil Zion dari belakang dan seketika itu pula Dinda menoleh kebelakang mencari sumber suara yang memanggilnya.
"Pak Zion..." Sapa Dinda.
"Ini beneran kamu Dora." Zion memegang kedua pundak Dinda dan memperhatikan setiap inci wajah Dinda. "Jadi tadi malam kamu berbohong ya."
"Bohong, tidak aku tidak pernah berbohong padamu."
"Lalu ini apa? kamu dandan buat ngasih kejutan padaku kan." jawab Dinda. Dinda terdiam tanpa ekspresi mendengar ucapan Zion yang terlalu percaya diri.
" Karena kamu tahu jika hari ini adalah hari ulang tahunku dan juga Zack" imbuh Zion dengan ekspresi sangat bahagia.
_TBC
✓jangan lupa tinggalkan jejak
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
Nike Natalie
thor,,,pemilihan tokoh kok goblok sih,,,
2024-12-20
0
Nani Haryati
masih kaget jadi orang kaya ya neng, sampe kepikiran buat jadi pelayan juga 😅😅😅
2024-07-15
1
Shinta Dewiana
haduh gr zion...tp emang cocok sih dg dinda....zion yg tulus...
2024-07-10
1