He Xun mampir ke salah satu kedai makanan yang sangat ramai, disana dia bisa berbaur di antara kerumunan dan tidak dicari oleh Klan He.
He Xun yakin, He Yan pastilah akan kembali padanya untuk mencari masalah padanya. Jadi He Xun memiliki untuk bermain petak umpet dengan Klan He yang 'terhormat'.
Sangat terhormat sekali sampai sampai membuatnya sangat muak dan ingin muntah ketika mendengarnya.
"Tuan, aku ingin tahu tumis sayur hijau dengan satu porsi nasi putih. " Ucap He Xun dengan tenang.
"Silakan menunggu. " Ucap pelayan itu dan langsung menyiapkan apa yang di pesan olehnya.
Tidak lama, pelayan keluar dengan semangkuk nasi dan sepiring tahu tumis sayur hijau dengan asap yang masih mengepul.
Harum dari tahu tumis itu membuat perutnya terus memberontak ingin memakannya dan warna tahu yang berwarna kuning keemasan telah membuatnya menelan air liurnya.
Pelayan menaruh pesanan nya dan dia dengan tidak sabar memakan itu, tapi baru saja menempelkan nya di bibir.
Itu telah membuat bibirnya mati rasa dan terasa melepuh, He Xun segera menariknya lagi dan meniupnya dengan sabar.
Setelah yakin bahwa itu aman, He Xun segera menelannya dan mengunyah nya, tidak heran bahwa toko ini sangat ramai.
He Xun memejamkan matanya ketika tahu yang berwarna kuning keemasan itu dikunyah olehnya, sangat enak.
He Xun memakannya dengan sabar dan dengan setiap langkah yang sabar, He Xun akhirnya menghabiskannya.
"Tuan, hitung tagihan ku !" Panggilnya pada pelayan yang sedang mondar mandir.
"1 Tael Perak. " Ucap pelayan itu.
He Xun membayarkan nya dan berjalan keluar dengan perut kenyang dan hati yang gembira, bahkan terik sinar matahari tak bisa lagi mempengaruhi suasana hatinya.
He Xun adalah orang yang sederhana tanpa suka berputar putar untuk mendapatkan sesuatu, hal yang dianggap orang lain sebagai sederhana mungkin saja sangat berharga bagi nya.
Seperti makan di kedai tadi, orang orang menganggapnya hanya sebagai makanan yang enak tanpa arti lain.
Tapi, He Xun menganggapnya sebagai sesuatu yang sangat berharga, nasi hangat dan uap yang mengepul dari makanan yang ia pesan telah membuatnya sangat bahagia.
Selama ini, makan nasi yang telah mendingin begitu lama bahkan telah lewat hari, bagaimana mungkin makanan ini bisa dibandingkan dengan makanan lewat hari itu ?
Baginya , ini seperti Surga Dunia, dimana He Xun merasakan kehangatan manusia dan merasakan kesenangan.
Jadi, hanya dengan makanan yang sederhana, He Xun bahkan bisa mengembalikan suasana hatinya yang sedang buruk.
Itu adalah He Xun.
He Xun mendatangi seorang bibi penjual sayur yang sangat sederhana dan memilih milih sayur.
"Bibi, aku ingin 2 kilogram wortel, 1 kilogram kentang, sawi putih, sawi keriting, bayam, kangkung, bawang putih , bawang merah, jahe. " Ucap He Xun menyebutkan semua yang dia mau dan itu adalah satu kantung besar yang terbuat dari anyaman jerami.
"Berapa ?" Tanya He Xun.
"35 Tael Perak. " Ucap bibi penjual sayur itu dengan semangat karena dia membeli banyak sekaligus.
"Terimakasih." Ucap He Xun dan membawa barangnya setelah membayar lalu pergi ke tukang daging, dimana disana dijual berbagai macam daging.
"Tuan, aku ingin 3 kilogram daging ayam, daging sapi, dan daging babi, dan 1 kilogram ikan ini. " Ucap He Xun sambil menunjuk salah satu ikan yang tidak ia ketahui jenis apa itu.
Hanya saja yang pasti ikan itu sangat gemuk dan dia yakin bahwa itu pasti akan sangat enak jika dimasak secara langsung.
"Anak muda, itu sangat banyak, apakah kau yakin ?" Tanya penjual daging itu dengan ragu.
"Ya." Ucap He Xun dengan yakin.
Karena, He Xun tahu bahwa ada sebuah kotak yang biasanya dijual, itu adalah kotak berisi mantra yang bisa mengawetkan daging agar tidak rusak bahkan setelah satu bulan.
Harganya tidak mahal, hanya saja dia perlu mencari ke toko penempa bahkan mungkin menuju Toko Penempa Cahaya Bulan yang kemarin.
Setelah membawa barang tambahan sebesar 10 kilogram ditambah dengan sayur yang dia beli tadi, itu bahkan masih tampak ringan jika He Xun yang membawanya.
Lalu, He Xun berjalan menuju toko teh, disana dia memilih banyak jenis teh seperti teh bunga krisan, teh Oolong, teh Osmanthus dan banyak lagi, itu tidak banyak tapi lebih dari cukup untuknya selama satu bulan ke depan.
Selanjutnya adalah toko baju, He Xun memilih banyak pakaian sederhana tapi masih memberinya kesan elegan.
He Xun memilih lebih dari 10 setel pakaian dan semuanya cocok dengannya sampai sampai pemilik toko merasa kagum, tapi ini bukan toko dimana dia membeli ketika turun gunung.
Toko itu, dekat dengan Klan He dan He Xun memilih untuk tidak pergi ke sana karena tidak suka dengan aura disana, terlalu suram.
"Tuan berapa ?" Tanya He Xun dengan kembali lelah.
Memilih jenis jenis teh telah membuatnya haus sampai membuat tenggorokannya terasa perih.
"11 Tael Emas. " Ucap pemilik toko itu, He Xun membayar dan menyebutkan alamatnya dan semuanya akan dikirim sebelum malam tiba.
He Xun pergi ke toko penempa cahaya bulan dengan bosan dan membeli apa yang dia inginkan, baru saja mengatakan bahwa akan pulang.
He Xun melihat ada seorang gadis kecil yang sedang dipukuli oleh orang orang, dalam sekejap mata yang hampir terpejam itu kembali terbuka dengan sangat cepat.
"Apa yang kalian lakukan ?!" Bentak He Xun dengan marah.
Semua perhatian langsung tertuju padanya dan anak gadis itu menatapnya dengan tatapan polos yang berair.
"Datang darimana bajingan ini ?" Tanya salah satunya dengan marah.
"Tidak peduli aku datang darimana, aku bertanya apa yang sedang kalian lakukan ? Memukuli gadis kecil secara membabi buta, apakah kalian tidak merasa malu ?!" Tanya He Xun dengan penuh penekanan.
"Tidak perlu ikut campur !" Bentak yang lain.
He Xun mengeluarkan Pedang Naga Petir tapi tidak mengeluarkannya dari sarungnya dan bertarung dengan 4 orang di depannya.
Orang pertama adalah pria botak yang mungkin berada dalam umur 30an tahun, He Xun menunduk untuk menghindari pukulannya sementara pedangnya memutar dan memukul perut pria botak itu.
Lalu, pria kedua memiliki rambut cokelat tua, membawa sebuah pisau, pisau dengan sarung pedangnya saling bertabrakan yang menghasilkan suara dentingan.
He Xun hanya bisa bertarung dengan satu tangan sementara tangan lain membawa banyak sekali barang belanjaan nya.
Gadis kecil itu menatap penolongnya dengan tatapan nya yang polos dan matanya yang bulat dengan penuh kekaguman.
He Xun mendorong pria kedua dengan keras sampai pria kedua itu terlempar ke belakang dan dua yang lainnya mundur dengan waspada dan menatapnya dengan ketakutan.
"Jika kalian memiliki nyali, maka maju dan serang aku. " Tantang He Xun dengan dingin.
"Kau ! Lihat saja ! Kami akan membalaskan ini padamu !" Ucap dua yang lainnya sambil membawa dua yang lain , yang telah dihajar nya sampai pingsan.
Kini, tatapan He Xun tertuju pada gadis kecil yang menyedihkan dan tertutupi oleh lumpur tapi tatapan nya masih sangat bercahaya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
Stephen (Phoenix dalam celana)
seperti kata guruku bahwa jika kamu sudah pernah merasakan yang namanya kesederhanaan, kemiskinan, kelaparan dan semua penderitaan serta rasa sakit maka kamu akan merasa lebih bersyukur bahkan dengan sesuatu yang sederhana sekalipun.
2024-04-09
2
Lalu Adi
Ceritanya lambat. Saran thor kalau belanja sayur atau daging bisa diurai secara detail.. Seperti sayur namanya apa, warna, berapa helai daun, berapa lama dipetik, ditanam dimana, siapa yg tanam, cara bawa kepsar dll. Sama juga seperti daging dan belanjaan lainnya... Supaya ceritanya lebih panjang mungkin bisa jadi 10 bab.. Pasti hebat.
2023-09-27
1
Lalu Adi
MC nya bloon.. Tau sedang bertarung belanjaan masih di tenteng... Goblok....
2023-09-27
0