Namun tiba-tiba saja panitia penilaian merasa punggungnya dingin. Dia tanpa sadar melihat ke arah di mana seorang pria berjubah putih dan berambut putih keperakan berada tak jauh darinya.
Bukankah itu guru pendamping kelompok Xiu Jimei?
Panitia penilaian segera terbatuk canggung dan dan mau memikirkan hal lain. Dia segera menimbang berat dari ikan yang ditangkap kelompok Xiu Jimei. Sudah dipastikan menjadi yang paling berat.
Lalu yang kedua ditempati oleh kelompok yang kebanyak berasal dari ras hantu. Sepertinya ras hantu juga memiliki aura yang mampu membuat ikan terpikat. Xiu Jimei tidak merasa aneh lagi karena insiden kecelakaan Yan Yujie tadi juga disebabkan oleh kelompok mereka.
Xiu Jimei mengambil salah satu ikan besar yang panjangnya hampir satu meter. Dia menyerahkannya pada panitia penilaian sebagai hadiah.
"Panitia telah bekerja keras. Ambilah ini untuk menu makan malam nanti," kata gadis itu sambil tersenyum ramah.
"..." Panitia penilaian yang menerima ikan itu sedikit menggigil.
Ikan roh besar itu memiliki taring tajam dan masih bernapas, sepertinya menatap panitia penilaian dengan ekspresi jijik. Tapi tidak ada niatan untuk melarikan diri.
Xiu Jimei terkekeh pada ikan roh besar itu dan menepuk kepalanya. "Patuhlah! Jika tidak, kamu akan dimasak dengan cara yang buruk!" ancamnya seolah-olah ikan itu mengerti.
"..." Ikan roh bergigi tajam itu hanya membuka mulutnya beberapa kali, mencoba mengambil napas tapi tidak ada air di sekitarnya.
Tak lama, Xiu Jikai juga memberikan seekor gurita yang cukup besar pada panitia penilaian. "Ini juga!"
"Kami juga!" Hampir semua peserta ujian memberikan satu jenis ikan untuk panitia penilaian.
Setidaknya mereka panen besar hari ini. Ikan-ikan itu juga bisa dibawa pulang untuk dimasak. Para kultivator memiliki cincin ruang untuk menyimpan banyak benda. Ada yang menyimpan benda hidup atau pun benda mati. Bahkan ada juga ruang spritual kehidupan yang bisa menampung apa saja.
Contohnya Xiu Jimei. Dia memiliki ruang spritual bawaan yang diwariskan oleh Fu Chan Yin. Ruang spritual tersebut memiliki kolam ikan yang besar, tempat tinggal, beberapa toko modern serta lain sebagainya.
Di saat semua peserta ujian kembali ke tempat peristirahatan, panitia penilaian telah dikelilingi oleh banyak ikan. Tak terkecuali gurita yang kini melilit lengannya.
Panitia penilaian segera menghubungi beberapa rekannya yang lain melalui batu spiritual komunikasi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pada sore harinya.
Semua peserta ujian telah kembali ke tempat masing-masing. Mereka menyiapkan semua bahan untuk memasak. Sesuai janji, Ming Zise akan memasak lagi kali ini. Tapi kelompok Xiu Jimei membantu.
Xiu Jimei juga tidak kesulitan saat membersihkan ikan, menghilangkan sisik, mengambil isi perut, membersihkan insangnya serta memberikan banyak bumbu khas.
Api unggun telah disiapkan oleh Yan Yujie. Xiu Jikai menyiapkan panci dan merebus air, memasukkan beberapa sayuran dan bumbu.
Adapun Ming Zise, tentu saja menyiapkan ikan besar untuk dipanggang. Ikan telah dilumuri dengan bumbu yang kaya rasa. Ketika ikan dipanggang, aromanya langsung tercium.
Semua peserta ujian tentu saja memasak ikan sore ini.
"Aromanya sangat enak!" Wang Xuyue sudah tidak sabar untuk menyiapkan piring dan tentu saja saus pedas asam manis.
Xuan Xing memegang gurita yang cukup besar. Gurita roh itu masih hidup sehingga beberapa tentakelnya menempel di lengan.
"Bagaimana ini dimasak?" tanyanya pada Xiu Jikai.
Laki-laki itu tengah mengaduk sup, melirik gurita roh yang malang dipegang oleh Xuan Xing.
"Buat saja tumis gurita saus asam manis. Adikku menyukainya," jawabnya.
"Oh." Xuan Xing sepertinya segera memiliki ide.
Gurita itu segera dilemparkan ke Yan Yujie untuk diurus.
"Potong kecil gurita itu untukku. Lalu taburi dengan perasan jeruk lemon," kata Xuan Xing. Lalu dia mengerjakan tugas lainnya.
Yan Yujie mengiyakan dengan santai. Dia menyiapkan talenan besar, meletakkan gurita dan mengambil pisau daging.
Ketika dia mengayunkan pisau daging untuk memotongnya, gurita itu ternyata sangat lihai. Beberapa tentakel yang ingin dipotong Yan Yujie selalu saja menghindari pisau.
"Kenapa kamu begitu merepotkan?" gumamnya pada gurita itu.
Dia memegang kepala gurita, lalu mengayunkan pisau daging lalu. Suara pisau yang menghantam talenan terdengar berulang kali. Orang lain berpikir jika Yan Yujie sedang memotong daging gurita dengan sangat baik.
Tapi siapa yang tahu, saat Jia Lishan yang kini memegang beberapa bumbu pun melihat Yan Yujie dengan tatapan sedikit kasihan.
Gurita itu masih utuh di atas talenan tentakelnya menari ke sana dan ke sini saat pisau daging itu turun ke talenan.
Yan Yujie menjadi sangat kesal. Dia akhirnya mengeluarkan sebuah tali spiritual dan mengikat semua tentakel itu, lalu langsung memotong kepalanya. Segera, gurita di talenan tidak lagi bergerak. Mungkin jiwanya sudah terbang ke surga bintang roh.
"Lalu kenapa kamu tidak melakukannya sejak awal?" tanya Jia Lishan dengan sudut mulut berkedut.
Dia meletakkan sebuah lemon yang telah dipotong sehingga Yan Yujie tidak akan lupa untuk menghilangkan bau amis gurita dengan menggunakan lemon.
"..." Yan Yujie tahu dirinya sedikit bodoh dalam beberapa hal. Terutama ketika terkena sial.
Akhirnya gurita dipotong kecil-kecil, dimasukkan ke wadah dan dilumuri dengan perasan jeruk lemon. Tak lama setelah itu, Xuan Xing dan Kin Wenqian menyiapkan wajan, menumis beberapa bumbu lalu memasukkan potongan gurita.
Sesuai dengan instruksi Xiu Jimei, dia cukup lihai dalam memasak makanan tersebut. Xuan Xing juga diberikan buku resep masakan modern oleh ayahnya ketika masih kecil. Jadi dia tahu sedikit tentang cita rasa masakan modern yang disukai Xiu Jimei.
Ikan besar yang dipanggang Ming Zise sudah matang sempurna. Lalu beberapa hidangan juga telah siap disajikan.
Ketika malam tiba, ketujuh peserta ujian di bawah pengawasan Ming Zise duduk rapi, siap untuk makan malam.
"Kita menyiapkan banyak hidangan malam ini. Apakah mudah untuk dihabiskan?" tanya Kin Wenqian sedikit mengeluh.
"Kita punya orang yang mampu menghabiskannya," kata Xuan Xing.
Semuanya tiba-tiba saja menoleh ke arah Xiu Jimei yang tengah malam dengan lahap.
"..." Sepertinya hanya gadis itu yang mampu makan banyak tanpa mengkhawatirkan berat badan, batin mereka.
Ming Zise makan dengan anggun. Dia tidak makan terlalu banyak. Meski memasak cukup melelahkan, dia meminum segelas air spiritual untuk menghilangkan rasa lelah.
Di kegelapan, Wuming juga makan ikan bakar yang diam-diam diambilnya. Sehingga saat Xiu Jimei menghitung ikan bakar yang ada di alas daun, rasanya ada yang hilang.
Xiu Jimei menghitungnya kembali. Lalu menatap beberapa temannya yang sama sekali belum menyentuh ikan bakar yang masih ada tusukannya.
"Ada apa lagi?" tanya Xiu Jikai sedikit tidak berdaya.
Xiu Jimei mengerutkan kening. "Ada yang hilang. Beberapa tusuk ikan hilang, tumis gurita juga tidak sesuai porsi. Ikan besar yang dibakar guru juga telah dipotong di bagian ekor. Siapa yang melakukannya tanpa aku ketahui?" Dia kebingungan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 412 Episodes
Comments
Dedy Hermanto Saputra
Ada kucing pala item😜😜😜
2023-08-05
0
Dedy Hermanto Saputra
Dalam cincinnya ada Indomaret malah😜😜😜
2023-08-05
0
Riszkuma
pria berambut putih keperakan dengan pakaian serba putih itu selalu berkarisma dan suci.🤣 Seperti dewa tertinggi
2023-06-18
0