Pria bersurai putih keperakan jelas memiliki wajah yang sangat tampan, kulit wajah halus tanpa terlihat pori-pori, alisnya seperti pedang, garis matanya jelas, bulu matanya agak panjang dan cantik dan suaranya nyaman didengar.
Jakunnya naik turun saat menyesap secangkir teh.
Tentu saja dia adalah Ming Zise yang baru saja turun dari Alam Para Dewa, meninggalkan Istana Minglan nya yang indah.
Berdiri di belakang Ming Zise, ada laki-laki yang sebelumnya melaporkan semua situasi tentang Xiu Jimei. Dia merupakan orang kepercayaannya.
"Kalau begitu, Tuan yakin untuk menjadi pendamping?" Yue Ming mengklarifikasi.
Ketika Ming Zise datang dan berkata untuk menjadi pendamping kelompok Xiu Jimei, Yue Ming tidak percaya. Seorang pria yang memiliki identitas mulia, bagaimana mungkin turun menjadi pendamping kecil sebuah ujian belaka?
"Ya."
"..."
Sovereign Sekte Atas tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menyetujuinya. Dia menuliskan nama Ming Zise pada selembar kertas di mana semua nama anggota kelompok Xiu Jimei tertulis rapi.
Ming Zise tidak berlama-lama karena mungkin tim Xiu Jimei akan khawatir tentang dirinya. Dia tahu temperamen Xiu Jimei yang kadang tak tertahankan. Jika dia tidak muncul, mungkin Xiu Jimei akan menendang pintu untuk mencari pendamping baru.
Sebelum menuju halaman, Ming Zise meminta penjaga kepercayaannya untuk bersembunyi di bayang-bayang.
Saat ini, Xiu Jimei serta yang lain sedang menunggu pendamping. Ujian sudah dimulai saat ini tapi semua orang tidak terburu-buru. Lagi pula, setiap tugas memiliki tempat yang tak berjauhan.
Akhirnya, mereka melihat seorang pria berjubah brokat putih berjalan menghampiri mereka. Rambut putih keperakannya menjuntai ke pundak. Pria jangkung itu memiliki senyum datar yang menenangkan hati siapapun.
Untuk sesaat, Wang Xuyue, Xuan Xing dan Kin Wenqian menghirup napas dingin.
Pria tampan! Sangat tampan! Apakah dia turun dari surga?! Pikir ketiganya.
Berbeda dengan ekspresi Xiu Jikai, Jia Lishan serta Yan Yujie yang kebingungan, Xiu Jimei justru menatapnya dengan mata berbinar.
"Wajah putih kecil ini, apakah menjadi pendamping kami?" tanyanya pada Ming Zise. Dia tidak takut menyinggungnya sama sekali.
"..." Wajah putih kecil? Sudut mulut Ming Zise sedikit berkedut.
Ming Zise mengangguk. "Maaf sedikit terlambat. Ada beberapa hal yang harus dibicarakan dulu dengan sovereign. Namaku Ming Zise, pendamping tim. Siapa ketua timnya?"
Xiu Jimei segera menunjuk Xiu Jikai. Tapi Xiu Jikai menunjuk Xiu Jimei. Hanya saja, kelima temannya yang lain justru menunjuk Xiu Jimei secara serempak.
"..." Xiu Jimei yang mendapatkan banyak telunjuk itu akhirnya menyerah. Sejak kapan dia menjadi ketua tim ini? Pikirnya.
Xiu Jikai terlalu malas menjadi ketua. Adiknya lebih barbar, jadi cocok untuk menyiksa orang. Sementara yang lain tidak mampu menjadi pemimpin tim. Jadi, serahkan saja pada yang lebih kuat.
Saat Xiu Jimei ditunjuk sebagai ketua, Ming Zise terkekeh sedikit. Ini masih bintang phoenix-nya yang luar biasa.
"Xiao Mei memang cocok menjadi ketua, cantik dan pemberani. Sovereign berkata, kamu yang paling cantik di Dunia Langit," goda Ming Zise.
Xiu Jimei menyipitkan mata, meski dia suka melihat pria tampan, tapi semuanya hanyalah menipu. Pria tampan itu penuh tipuan bukan?
Dia mendengkus. "Pria penggoda! Tapi aku maafkan karena kamu tampan! Aku memang cantik!"
Namun Xiu Jikai merasa tidak senang saat Ming Zise menggoda adiknya. Dia khawatir adiknya tertipu oleh pria di depannya. Meski tampan dan terlihat luar biasa, siapa tahu saja niatnya tidak benar.
Jadi Xiu Jikai segera menarik Xiu Jimei ke sisinya dengan tatapan penuh kecurigaan terhadap Ming Zise.
Ming Zise melihat tindakan perlindungan Xiu Jikai terhadap saudari kembarnya, dia tidak tersinggung sama sekali.
"Baiklah, kalau begitu mari kita pergi ke tempat ujian pertama." Dia tidak bisa membuang banyak waktu.
"Apakah ujian pertama ini bertani?" tanya Jia Lishan.
"Ya." Ming Zise mengangguk. "Lokasi ujian pertama tidak jauh dari sini."
Kelompok Xiu Jimei segera meninggalkan sekitar sekte. Mereka pergi ke sebuah pedesaan di kaki gunung. Lokasinya memang tidak jauh. Mereka berhasil mendapatkan penginapan.
Ternyata beberapa kelompok lain juga telah tiba. Mereka sudah mulai mengambil cangkul, dan pisau pemotong rumput.
Beberapa di antara mereka justru hampir menghancurkan ladang, memotong rumput dengan pedang bahkan menginjak bibit pagi yang sedang ditanam di sawah.
Para pemilik ladang telah berteriak, memaki dan mengejar para murid sekte yang tampak kacau. Suasana terlihat lebih hidup.
"Hei, ini jauh di luar perkiraanku," kata Wang Xuyue tidak tahan.
Mereka semua memang pernah berburu, bertani serta melakukan hal lainnya. Tapi tidak langsung terjun ke ladang para petani.
Ming Zise hanya guru pendamping. Dia sudah mendapatkan tempat duduk di gubuk dan membaca buku tertentu. Jelas tidak terpengaruh sama sekali dengan adegan di sekitar.
Benar-benar guru pendamping yang tidak berbelas kasihan.
Xiu Jimei serta yang lainnya tidak berdaya.
"Anak muda, datanglah dan bantu!"
Seorang pria paruh baya berteriak tak jauh di ladang. Dia menyeka keringat dengan lap yang tergantung di pundaknya.
Hari memang sudah siang, cuaca agak panas. Bagi orang-orang biasa di Dunia Langit, kelelahan menjadi hal yang wajar. Meski begitu, mereka juga memiliki sedikit kemampuan seni bela diri kuno tapi tidak mempunyai fondasi untuk berkultivasi.
"Aku datang!"
Xiu Jimei sudah pergi memegang cangkul untuk menggemburkan tanah. Xiu Jikai serta yang lain juga memiliki tugas tersendiri. Baru cangkulan pertama, tanah tiba-tiba saja memiliki retakan yang cukup lebar.
Anehnya, tanah tak berumput itu terlihat sulit dicangkul. Ketika Xiu Jimei mencangkul, tanah justru seperti baik-baik saja dan tidak keras. Justru terbelah.
Xiu Jimei kebingungan. Dia menatap pria paruh baya yang memintanya mencangkul sebelumnya.
"Mungkinkah struktur tanahnya buruk?" tanyanya polos.
"..." Buruk kepalaku! Batin pria paruh baya itu meratap.
Jelas tanah di ladang ini sedikit lebih keras dan sulit digemburkan, namun mengandung banyak energi alam yang mampu membuat tanaman tumbuh subur tanpa pupuk.
Sekarang Xiu Jimei justru membuat tanahnya retak. Seberapa kuatnya dia?!
Xiu Jimei mengabaikan pria paruh baya yang terlihat bengong. Dia mencangkul lagi. Tapi kali ini, retakan lain terlihat jelas.
"Paman, tanahnya terlalu kering. Lihatlah, rumput bahkan tidak tumbuh. Pasti karena terlalu kering," jelas Xiu Jimei. Dia menyingkirkan cangkul, memikirkan rencana lain.
"..." Pria paruh baya yang mendengarnya segera memiliki firasat buruk.
Pada saat ini, Xiu Jimei menyingsingkan lengan bajunya sedikit.
"Kalau begitu, mari gunakan cara lain yang lebih ampuh!" Xiu Jimei tertawa senang, mengepalkan tangan kanannya.
Ekspresi pria paruh baya itu akhirnya berubah panik. "Apa yang akan kamu lakukan—"
Sudah terlambat!
Xiu Jimei meninju tanah di depannya dengan mengalirkan energi spiritual ke tanah. Dia tersenyum ceroboh. Matanya cerah dan penuh dorongan semangat.
Di gubuk, Ming Zise memperhatikan cara Xiu Jimei menangani ujian pertama ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 412 Episodes
Comments
Gagak Hitam
anaknya bar bar sableng 🤣🤣🤣🤣🤣
2024-02-12
0
Nunut Debora
duhh jimeiii,gelut yuk,,,😭😭 pen nampol akutuhhh
2022-11-04
0
Aya Vivemyangel
bener" turunny Fu Chan yin 🤣🤣🤣
2022-05-28
3