Di malam harinya.
“Ibu baru saja kembali dari rumah kakek kalian. Ulang tahun kakak sepupu kalian akan dirayakan minggu depan. Jangan lupa siapkan hadiah,” kata Fu Chan Yin.
“Yan Yujie akan ulang tahun, aku hampir lupa. Apakah kamu sudah menyiapkan hadiah?” tanya Xiu Jimei pada Xiu Jikai seraya memegang udang kukus besar kesukaannya.
Yan Yujie adalah anak semata wayang Yan Rusheng serta sepupu ketiga Fu Chan Yin yang bernama Fu Li Rong.
Xiu Jikai memiliki ekspresi datar dari awal hingga akhir namun masih menjawab, “Belum. Masih ada waktu, siapkan saja nanti.”
“Saudaraku, mari kita beli hadiah bersama besok.” Xiu Jimei menyipitkan mata pada saudara kembarnya.
Tubuh Xiu Jikai sedikit kaku dan ekspresinya agak membatu. Akhirnya, dia pulih sedikit. “Kamu pergi sendiri. Aku punya urusan lain nanti,” katanya agak tidak berdaya.
Membawa adiknya bersama? Jangan bercanda. Gadis itu pasti akan membuatnya sakit kepala sepanjang perjalanan. Ada saja keributan yang ditimbulkan Xiu Jimei. Pada akhirnya, dia sendiri yang membereskan kekacauan di luar.
Xiu Jikai tidak membenci adiknya. Justru dia sangat penyayang. Hanya saja di beberapa kesempatan, dia tidak mau dibuntuti oleh adiknya itu.
“Tidak, besok antar aku membeli hadiah. Jika tidak, aku akan mengajak Lei Mo dan Huang Fu Shi. Mereka pasti tidak akan menolak.” Xiu Jimei menyipitkan matanya lagi.
Huang Fu Shi merupakan seorang putra mahkota Kekaisaran Langit dan merupakan anak Huang Fu Jung, teman Fu Chan Yin pada masanya. Sementara Lei Mo adalah anak Lei Yuan, mantan pangeran Kekaisaran Bumi yang sekarang menjadi guru sekte. Si kembar merupakan muridnya.
Xiu Jikai merasa jika sup ayam yang dimakannya tidak gurih lagi. “Baiklah, aku akan mengantarmu besok.”
Ia tak bisa membiarkan Lei Mod dan Huang Fu Shi menanggung masalah yang ditimbulkan gadis itu.
Jichen sebagai kepala keluarga justru memiliki ekspresi masam dan suram. Tubuhnya diselimuti aura gelap yang tidak jelas. Dan Xiu Jikai menyadari kelainan ekspresi ayahnya. Kapan kira-kiranya dia menyinggung ayah tiraninya ini?
“Ibu dan Ayah kalian pergi lagi dalam waktu dekat, jadi kalian harus menjaga diri sendiri. Jika ada sesuatu, pergilah ke rumah kakek kalian untuk mengadu,” kata Fu Chan Yin masih agak khawatir.
Lagi pula, kedua anaknya kini telah berusia seratus tahun. Tentu saja bukan anak kecil lagi.
“Bu, kami sudah besar,” ujar Xiu Jimei.
“Ya, putri Ibu sudah besar dan tidak memakai popok lagi,” balas Fu Chan Yin langsung terkekeh.
“…” Bu, bukan itu maksudku, pikir Xiu Jimei.
Melihat ibu dan anak itu mengobrol dengan sangat gembira, Xiu Jichen hanya tersenyum lembut.
Meski pun dia cukup keras dan terlalu mendisiplinkan kedua anak itu, cinta kebapak an nya juga tidak kurang. Dia selalu membawa sesuatu atau barang yang sangat bagus untuk keduanya Ketika kembali ke rumah.
......................
Xiu Jimei kembali ke kamar setelah mengobrol dengan orangtuanya lalu pergi tidur. Tanpa sadar, Xiu Jimei bermimpi. Dalam mimpinya, dia melihat seorang pria jangkung berjubah brokat putih bersih, rambutnya putih keperakan. Wajahnya terlihat tampan meskipun Xiu Jimei tidak bisa melihatnya dengan jelas terlalu buram. Namun ia yakin jika pria itu sangat tampan.
Tanpa diduga, Xiu Jimei ternyata berada di sebuah taman saat ini. Ia berbaring di rumput hijau dengan tanaman bunga di sekelilingnya. Walaupun hanya mimpi, tapi rasanya sangat nyata.
Pria berjubah brokat itu duduk di sampingnya dan mengelus kepala Xiu Jimei. “Mei’er, kita akan segera bertemu. Tak lama lagi, tunggu aku,” ucapnya dengan nada bicara yang lembut dan enak didengar.
“Siapa kamu?” tanya Xiu Jimei padanya. Ia masih berusaha untuk melihat dengan jelas wajah pria itu tapi tetap saja tidak bisa jelas. Ia hanya menduga jika pria itu tersenyum saat ini. “Siapa kamu? kenapa aku memimpikanmu?”
Sosok pria berjubah putih brokat itu tidak menjawab. Di saat Xiu Jimei hendak bangkit dan menahannya, pria itu tiba-tiba saja menjatuhkan ciuman di keningnya.
“Kamu akan segera tahu, wanitaku,” jawab pria tersebut masih dengan nada yang sama.
Pada saat yang bersamaan, Xiu Jimei terbangun dari tidurnya. Ia tampak linglung sejenak dan segera mengambil duduk. Ternyata, hari sudah pagi. Xiu Jimei menggaruk kepalanya dengan bingung, wajahnya sedikit memerah.
“Mimpi basah apa yang kualami hingga bermimpi dicium seorang pria?” gumamnya seraya menyentuh dahinya sendiri. Dalam mimpi, pria berjubah brokat itu menciumnya.
Itu pasti mimpi yang berantakan. Beraninya seorang pria dalam mimpi begitu percaya diri menganggapnya sebagai wanitanya. Xiu Jimei tidak mau memikirkannya lagi. Dia segera membersihkan diri dan pergi dengan kakaknya untuk membeli hadiah ulang tahun hari ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Istana Minglan, Alam Para Dewa.
Pemandangan indah di puncak gunung memanjakan mata. Banyak bunga berbagai jenis warna dan bentuk menghiasi hampir seluruh sudut gunung. Gumpalan awan putih dan merah muda saling beriringan di sekeliling gunung.
Istana Minglan terkenal sebagai salah satu tempat paling indah di Alam Para Dewa.
Seorang pria berjubah brokat putih duduk di kursi kayu cendana merah yang diselimuti oleh lapisan bulu lembut binatang spiritual dewa. Terlihat sangat mewah. Pria itu memegang kuas, melukis seseorang dengan sangat serius.
Keningnya sedikit berkerut tapi ekspresinya tidak berubah sama sekali. Sampai pada akhirnya, seorang remaja laki-laki berjubah putih muncul dari udara tipis dan berlutut sambil menunduk.
Pria yang sedang melukis itu tidak meliriknya sama sekali. "Ada apa?"
“Tuan, aku baru saja mendengar kabar jika kakak sepupu dari si kembar Xiu yang tinggal di Negeri Alam Baka akan berulang tahun minggu depan.”
Goresan kuas pria itu berhenti setelah mendengar laporannya. "Oh … Negeri Alam Baka?”
Yang mereka bicarakan saat ini tentu saja tentang Xiu Jimei. Selama ini, pria berjubah putih itu selalu memantau Dunia Langit berulang kali dan mengirim orang kepercayaan untuk menatapnya.
Pria berjubah brokat putih itu menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum. Dia tidak lagi melukis, justru bersiap-siap untuk meninggalkan istananya.
"Kalau begitu, sudah waktunya untuk turun ke Dunia Langit."
“Ah? Tuan akan … bertemu langsung dengan pewaris esensi delapan dewa-dewi itu?”
“Ya, sudah seratus tahun … waktunya untuk pertemuan pertama,” jawabnya. Belum lagi, ia bertindak sembrono malam tadi dan memasuki mimpi gadis itu tanpa permisi.
Ming Zise adalah mantan dewa tertinggi di Alam Para Dewa. Tidak ada yang tahu dia itu dewa apa sebelumnya. Tapi yang jelas, penghuni di Alam Para Dewa menghormati Ming Zise.
Sebagai seorang pria yang memiliki darah dewa, emosinya selalu terkontrol dengan baik. Dia ditakdirkan untuk kesepian sepanjang hidupnya.
Dewa jodoh berkata jika takdir dirinya kini telah berubah. Ia masih sedikit tidak terima pada awalnya. Demi meyakinkan dirinya sendiri, Ming Zise telah mengamati kehidupan Xiu Jimei dari bayi hingga sekarang ….
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 412 Episodes
Comments
z.luxian💃
😂😂😂
2023-09-09
0
Sutiyono Tiyo
£\a1¢#ws~~
2022-07-09
0
Christy Oeki
diberikan kekuatan
2022-06-13
0