Beberapa hari kemudian.
Di pegunungan mati, sepasang anak kembar yang telah melebihi usia seratus tahun tengah bertarung sengit.
Anak pegunungan mati di sekitarnya banyak yang rusak akibat ledakan energi spiritual keduanya. Karena keduanya sangat mirip, sedikit sulit untuk dibedakan. Jika bukan karena lekukan tubuh keduanya yang berbeda antara pria dan wanita, mungkin mustahil bisa membedakan siapa Xiu Jimei dan Xiu Jikai.
Xiu Jimei menyeka keringat bercampur air hujan di dahinya yang tertutupi poni. Ia menyeringai pada kakaknya yang memegang pedang yang diselimuti energi spiritual kegelapan. Memegang pedang naga esnya, gadis bergaun putih itu menyipitkan mata.
“Kakak, kamu semakin enggan saat bertarung denganku ‘kan? Tapi jangan lupa, ayah masih menonton kita saat ini,” katanya.
Xiu Jikai mendengkus. Tidak menghiraukan perkataan saudari kembarnya. Ia kembali menyerangnya tanpa ragu sedikit pun. Pedang keduanya beradu di udara, menciptakan percikan api dan embusan angin langsung mengibarkan pakaian mereka.
Hujan berpetir di pegunungan mati tidak pernah berhenti sama sekali. Sesekali keduanya akan menghindari petir yang menyambar permukaan pegunungan. Ketika dua pedang beradu kembali, ada pemahaman diam-diam antar saudara kembar.
Tiba-tiba saja menghilang dari pandangan Xiu Jichen yang memperhatikan dari salah satu anak pegunungan mati. Xiu Jichen menaikkan sebelah alisnya. Tanpa diduga, si kembar muncul di samping kiri dan kanan Xiu Jichen seraya mengayunkan pedangnya.
“Hei, Ayah!” Xiu Jimei menyeringai dan energi spiritual di pedang naga es nya jelas menyapu tubuh Xiu Jichen.
Pedang kegelapan Xiu Jikai juga mengarah pada ayahnya. Xiu Jichen tidak terlalu terkejut tapi ia masih terlambat untuk menghindar. Mau tidak mau, ia hanya bisa teleportasi ke sisi lain sehingga pedang Xiu Jimei dan Xiu Jikai langsung beradu lagi. Energi spiritual dari kedua pedang yang berbeda langsung menciptakan ledakan besar.
Xiu Jichen sepertinya menyadari jika target si kembar adalah dirinya sendiri saat ini. Mau tidak mau ia mengangkat salah satu tangannya ke atas dan membaca mantra yang tidak diketahui oleh keduanya. Namun jelas pasti bukan hal yang baik.
“Apa yang dilakukan Ayah?” bisik Xiu Jimei.
“Kamu akan tahu sebentar lagi,” jawab Xiu Jikai acuh tak acuh.
Tak lama setelah Xiu Jichen menggumamkan mantra, anak pegunungan mati yang keseratus bergetar. Dari tengah-tengah anak pegunungan, sebuah totem lingkaran tiba-tiba saja muncul dan mengeluarkan cahaya di setiap ukirannya.
Xiu Jimei dan Xiu Jikai merasa jika yang dilakukan Xiu Jichen tak lain adalah memanggil Jin Long, naga emas yang tinggal di pegunungan mati.
“Oh, ini sulit untuk dihadapi, ayah benar-benar ingin kita melawan naga emas jelek itu,” gumam gadis itu.
Xiu Jichen memanggil Jin Long saat ini. Lebih tepatnya dia sudah bernegosiasi dengan naga emas untuk memberi pelajaran pada si kembar. Ketika Jin Long muncul dengan mata merah menyalanya, si kembar tanpa sadar menghindar lebih dulu.
Jin Long tidak muncul sepenuhnya. Ia hanya memperlihatkan kepala hingga sebagian kecil dari tubuhnya. Sementara sisa tubuhnya masih tenggelam dalam lingkaran totem spiritual. Jin Long tidak perlu berbasa-basi dan langsung menyerang si kembar dengan semburan apinya.
Xiu Jimei menggunakan perisai pedang naga es. Ia menciptakan embusan angin yang sangat dingin hingga mampu menghalangi semburan api besar Jin Long.
“Sulit untuk menjatuhkannya,” kata Xiu Jimei.
“Kamu hanya malas.” Xiu Jikai mencibir.
“Kakak, bisakah kamu menyelamatkan wajah untuk adikmu ini?”
“Wajahmu sudah lama hilang,” jawab laki-laki itu tidak peduli.
“…” Ini benar-benar kakaknya yang cuek, batin Xiu Jimei sedikit tidak berdaya.
Xiu Jimei tiba-tiba saja memiliki ide untuk melawan Jin Long. Ia membisikkan beberapa patah kata pada Xiu Jikai. Diam-diam Xiu Jikai juga setuju. Dia sudah ingin meninggalkan tempat tersebut hingga mau tidak mau berkompromi dengan adiknya.
Jin Long merasakan firasat buruk akan datang. Dia segera berwaspada. Ketika si kembar menghilang dari tempatnya, Jin Long melihat sekitar. Tak lama, keduanya muncul di kiri dan kanan kepala naga emas itu.
“Sekarang!” Xiu Jimei berteriak.
Xiu Jikai dan Xiu Jimei langsung membentuk rantai spiritual ungu kehitaman yang tampak kuat. Rantai itu seketika menjerat kedua kumis panjang Jin Long. Naga emas terkejut. Mau tidak mau meraung ke langit dan sangat marah.
“Beraninya menyentuh kumis naga ini. Kalian bosan hidup!” Jin Long melakukan perlawanan.
Kumis adalah simbol naga, selain tanduk tentunya. Jin Long masih ingat jika di masa lalu, Fu Chan Yin memotong salah satu kumisnya dan ia sangat marah tak berdaya. Setelah kumisnya tumbuh sekarang, anak-anak wanita itu juga ingin bermain dengan kumisnya?
Perlawanan naga emas tidak terlalu berhasil dan si kembar memiliki kekuatan tidak biasa. Jin Long khawatir kumisnya putus jika keduanya menggunakan rantai spiritual untuk menariknya.
“Hentikan! Hentikan! Aku tidak akan melawan lagi. Jangan Tarik kumisku!” Jin Long dengan marah bicara pada keduanya.
“Ternyata kelemahanmu adalah kumis!” Xiu Jimei tersenyum.
“…” Bisakah ini disebut kelemahan? Aku hanya tidak ingin malu lagi jika kumisku hilang! Batin Jin Long penuh kebencian.
“Humph! Kamu adalah binatang buas. Kata-katamu tak bisa dipercayai seperti emas di tubuhmu!” Xiu Jimei masih bersikeras dan menarik kumisnya kembali.
Jin Long meraung rendah dan mau tidak mau melemaskan tubuhnya. “Aku adalah naga roh purba yang telah hidup sejak zaman batu Dunia Langit. Apakah aku harus berbohong? Bukankah itu merusak reputasiku sebagai naga yang agung?” Ia ingin memutar bola mata besarnya.
Si kembar akhirnya melepaskan rantai spiritual dari kumis naga itu. Jika Jin Long punya kaki yang panjang, dia ingin menyentuh kumisnya saat ini.
Setelah Jin Long berpikir jika kumisnya baik-baik saja sekarang, dia tidak mau berurusan dengan si kembar dan langsung menghilang. Xiu Jichen yang melihat betapa pengecutnya Jin Long, hanya bisa mendesah diam-diam.
Lupakan saja, melawan pikiran licik putrinya jelas tidak akan berhasil sama sekali.
“Ayo kita kembali,” katanya sebelum salah satu dari si kembar berbicara.
Ketika kembali ke Istana Golden Lotus, Fu Chan Yin memarahi Xiu Jichen karena berani membiarkan si kembar melawan Jin Long. Ditambah keduanya pulang dengan tubuh kotor dan kelelahan. Fu Chan Yin berprasangka buruk pada suaminya.
Beraninya membuat kedua anaknya menderita, Xiu Jichen benar-benar meminta pemukulan!
Pada akhirnya, Xiu Jichen menyimpan kebencian kosong di hatinya dan mulai menceramahi putranya dengan baik. Lagi-lagi ia tertangkap basah oleh Fu Chan Yin.
“Xiu Jichen, jika kamu melemparkan ketidaksukaanmu pada Kai’er lagi, aku tidak akan membiarkanmu masuk kamar tidur malam ini!” Fu Chan Yin sudah memegang cambuk peraknya dan bersiap memberi pelajaran pada Xiu Jichen kapan saja.
“Istriku, kamu terlalu memihak. Di mana kebiasaan modernmu? Apakah hilang?” Xiu Jichen tersenyum penuh provokasi.
“Kamu masih berani memikirkan dunia modernku!”
Pada akhirnya, keributan kecil terjadi di ruang utama. Para pelayan diam-diam menjauh agar tidak terkena sial kedua tuannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 412 Episodes
Comments
Anonymous
/Good/
2024-09-07
1
Hman Pedang
ceritanya bagus
2023-05-29
1
Marini
👍👍
2023-05-14
0