Violla terus memandangi cincin yang sudah tersemat di jari manisnya, memutar-mutar cincin dan terus memainkannya
Merasa bosan dan bingung harus berbuat apa akhirnya Violla memilih untuk menyangga dagunya, memperhatikan mamah Laras yang sedang sibuk dengan penggorengannya
"Violla, Sayang. Hari ini kamu ada mata kuliah nak" tanya nya menghampiri Violla
"Enggak ada mah" jawab Violla setelah menggeleng
"Nanti Rayhan jemput katanya mau fithing baju, sekalian cari cincin nikah kalo masih ada waktu mau cari undangan"
Violla mengangguk tanpa ingin menjawab, kemudian kembali menyangga dagu
"Kamu sarapan yah" ucapnya kemudian
"hm"
Laras mengisi piring dengan sangat penuh, entah mengapa hatinya begitu merasa amat sedih. Setelah semalam putri satu-satu nya yang ia miliki sudah di lamar orang Laras memang begitu susah untuk memejamkan matanya
"Mamah suapi yah, mau yah" pinta nya dengan sedikit memaksa pada Violla
Violla mengernyitkan keningnya, bingung dengan permintaan sang mama. Tapi belum Violla berucap sesendok nasi goreng sudah berada tepat di depan mulut nya
"Aaaa" pinta mama membuka lebar mulut nya seolah memberi contoh
Violla membuka mulut nya lebar, kemudian mengunyah nasi tersebut. Tidak lama setelah nasi tersebut sudah ia telan sang mama kembali menyendok nasi
"Aaaaaa"
Violla hanya menurut, dan terus membuka mulut ketika sang mama memberi aba-aba. Sampai tidak terasa nasi yang begitu menggunung sudah habis di makan oleh Violla
Violla terus memperhatikan setiap ekspresi yang keluar dari sang mama, ketika dia kembali menyendok nasi dan kembali menyuapi Violla
Seperti ada sesuatu yang di sembunyikan tapi Violla tidak tahu
"Nasi nya udah abis mama cuci dulu yah"
Violla semakin aneh dengan sikap sang mama, kemudian memandangi punggung wanita tersayang itu yang kemudian berjalan semakin menjauh
"Mama kenapa sih kok aneh" tanya Violla mendekat
Laras hanya menjawab dengan gelengan, tangannya terus sibuk mencuci piring bekas Violla
Violla semakin merasa aneh dengan kelakuan sang mama, hanya sekedar mencuci piring satu saja membutuhkan waktu yang cukup lama
Violla memegang pundak mama Laras, terasa bergetar dan juga terdengar isak tangis membuat Violla semakin merasa aneh dan khawatir
"Mama kenapa sih" tanya Violla memeluk sang mama dari belakang
Laras tidak menjawab, dia terus menunduk untuk menyembunyikan tangisnya
Violla semakin mempererat pelukannya merasakan bahwa ibu nya sedang tidak baik-baik saja
Mendengar sang mama menangis dengan pilu, Violla pun terbawa suasana dan ikut menangis tanpa sebab
Laras perlahan membalikkan badannya karena mendengar isak tangis Violla, kemudian merengkuh tubuh putrinya yang ternyata sudah begitu bergetar
"Kamu kenapa menangis" heran Laras memeluk sang putri
Violla tidak menjawab dia terus membenamkan wajahnya di ceruk leher sang ibu
Sampai kemudian Bumi turun dari lantai atas, berjalan dengan cepat karena melihat kedua wanita yang ia sayang tengah berpelukan dan lebih mengkhawatir kan nya lagi mereka sedang menangis
"Mamah sama Vio kenapa menangis" tanya nya ketika sudah berdiri di depan sang mama
Mereka berdua sama-sama bungkam, membuat Bumi benar-benar merasa khawatir
Perlahan Laras meregangkan pelukannya, kemudian memapah Violla untuk duduk dan di ikuti oleh Bumi
"Kamu kenapa nangis" tanya Laras ketika Violla sudah duduk
"Mamah kenapa nangis, aku kan jadi ikut sedih makanya aku juga ikut nangis" jawab Violla yang masih sesegukan
Bumi mengernyitkan alisnya, merasa bingung dengan ucapan dari sang Adik
Sampai kemudian Adiwijaya datang menghampiri dengan raut wajah khawatir
"Tadi papah denger orang nangis, siapa yang nangis" tanya nya setelah sampai di meja makan
Adiwijaya memandangi anak dan juga sang istri yang sama-sama terlihat sembab di bagian mata
"Kalian nangis ada apa" sambungnya
Mereka berdua masih sama-sama bungkam membuat Adiwijaya bingung dan kembali melontarkan pertanyaan pada putra sulungnya
Namun Bumi juga hanya menjawab dengan gelengan, karena Bumi juga tidak tahu apa-apa
"Kalian ini kenapa sih sebenarnya, ayo lah jawab papah khawatir" ucap nya dengan sedikit frustasi
"Aku nangis karena mamah nangis, jadi aku ikutan sedih" jawab Violla dengan polos
Adiwijaya memandangi sang istri yang sekarang sudah terlihat tenang tidak begitu kacau ketika dia baru keluar kamar
"Mamah juga gak tahu kenapa tiba-tiba sedih aja terus nangis" jawab tersenyum
Violla terlihat cemberut kemudian melipat kedua tangannya di atas meja
"Tau gitu tadi Violla gak ikut nangis, padahal mamah nangisnya begitu memilukan" jawab nya yang merasa kesal
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
mama yuhu
mak sedih krna akan berpisah dgn anak gadis nya
2022-04-16
0
Erni.w
bagus ceritanya
2022-03-15
0
Dzaky Fadillah
aku bingung kata ny Ervan sahabatan sama Bumi dan sering main ke rumah Bumi tp kok gak tau klw Viola adik ny Bumi 🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔
2021-10-28
1