Bab 4 : Berlatih Ilmu Kanuragan

Aria Pilong mulai berlatih keras di bawah asuhan langsung Suro Keling, latihan khusus untuk mempertajam indra pendengaran dan penciuman Aria hampir setiap hari di lakukan, begitu pula semadi di bawah tumpahan air terjun, untuk menambah daya tahan tubuh serta meningkatkan tenaga dalam Aria Pilong.

Di air terjun yang terdapat di dasar jurang lembah setan, dua orang pria tampak berdiri di atas batu.

Suro Keling bersama Aria tengah berdiri di batu yang berdekatan.

“Aria! Coba kau tombak ikan yang berada di telaga ini, kau harus bisa membedakan antar suara air terjun dan ikan berenang di dalam telaga,” ucap Suro Keling.

Aria memegang tombak kecil bertali yang di ikatkan ke pergelangan tangan oleh sang kakek.

Aria Pilong mulai memusatkan perhatian untuk membidik ikan yang berenang di dasar telaga.

Telinga Aria pilong sedikit bergerak-gerak, berusaha memilah-millah suara yang masuk ke dalam telinganya.

Tangan kanan memegang tombak kecil melesat, setelah Aria yakin dengan apa yang ia dengar.

Shing!

Hmm!

Suara dengusan terdengar dari hidung Suro Keling saat melihat tombak Aria tidak menemui sasaran.

Aria kembali menarik tali tombaknya, dan kembali membidik ikan yang terdapat di dalam telaga.

Suro Keling kesal melihat sudah puluhan kali Aria menombak ikan, tetapi tak ada satu pun yang berhasil, akhirnya ia pindah ke pinggir telaga sambil terus menggerutu.

“Dasar tolol! Sudah puluhan kali kau menombak ikan, tak ada yang berhasil.

“Pusatkan perhatianmu, tolol! Masa hal mudah seperti itu saja kau tak bisa? Teriak Suro Keling tak sabar.

“Hal itu mudah untuk kakek yang bisa melihat,” teriak Aria membalas perkataan Suro Keling.

Whut....Pletak!

Kepala Aria Pilong terkena lemparan buah kecil yang di lesatkan Suro Keling.

Byuuur!

Aria Pilong kehilangan keseimbangan terkena lemparan sang kakek, tubuhnya langsung tercebur ke dalam telaga.

Tombak yang masih berada di tangan Aria melesat ke arah batu.

Crep!

Kemudian Aria kembali naik ke atas batu, dengan bantuan tali yang terikat di tombak kayu.

Suro keling tersenyum melihat Aria bertindak cepat sehingga tidak terbawa arus air, dan memuji tenaga dalam Aria yang bisa menancapkan tombak dari kayu, ke batu keras.

Aria setelah berdiri di atas batu, kemudian wajahnya menoleh ke arah Suro Keling, Aria tahu dimana posisi sang kakek dari arah lesatan, dan suara benda yang menghantam kepalanya.

“Kau ingin membunuhku, kek? Teriak Aria dengan nada gusar.

“Kalau aku ingin membunuhmu, sudah dari kecil kau ku cekik sampai mampus,” teriak Suro Keling membalas perkataan Aria.

“Cepat kau tombak lagi ikan, karena hasil tombakanmu itu akan kau makan hari ini, jika tidak berhasil hari ini, kau harus puasa,” lanjut teriakan Suro Keling.

Malam itu di goa tempat mereka tinggal, diatas rumput kering, tampak Aria tidur sambil menekuk tubuhnya berusaha menahan lapar, karena ia tidak berhasil mendapat ikan.

Suro Keling melihat Aria dalam hati sebenarnya tidak tega, tapi ia melakukan ini untuk kebaikan Aria sendiri, karena kehidupan Aria nanti di luar sana lebih kejam dari apa yang ia alami sekarang, dan Suro Keling ingin Aria tidak manja dan terus selalu berusaha.

Hampir setiap hari Aria berlatih menombak ikan di tengah derasnya air terjun.

Di hari ketiga, karena kesal tak pernah berhasil, Aria menghentakan kaki ke batu tempat ia berdiri, ikan besar kebetulan lewat dan terkejut kemudian berenang sambil menimbulkan riak air, sehingga telinga Aria bisa mendengar gerak ikan, kemudian menombaknya.

Shing....Crep!

Tombak melesat dan menancap di tubuh se ekor ikan besar, merasakan tali di tangannya menegang, raut wajah Aria tampak senang sekali, kemudian menarik tali tombak, lalu mengangkat tombak tinggi ke atas sambil berteriak.

“Kek....kakek, aku berhasil! Teriak Aria.

Suro keling tersenyum melihat kegembiraan cucu angkatnya.

“Bagus! Mari kita kembali untuk makan besar,” teriak Suro keling.

Aria melesat ke arah suara sang kakek dengan ilmu aji Bayu samparan.

Whut!

Suro Keling tersenyum, aji Bayu samparan adalah ilmu meringankan tubuh, sejak belajar ilmu kanuragan, Aria sudah di ajari dasar ilmu meringankan tubuh andalan Suro keling, karena ilmu meringankan tubuh sangat penting untuk menghindari serangan musuh.

Malam hari di dalam goa, Suro Keling dan Aria Pilong makan besar.

Ikan sebesar paha, tidak lama habis mereka santap.

Setelah keduanya selesai makan, Suro Keling duduk santai dan bercakap dengan cucu angkatnya itu.

“Aria! Mulai besok, aku akan mengajarkan 3 ilmu kanuragan untukmu, dua ilmu andalanku yang sangat di takuti oleh orang dunia persilatan, kau juga harus hati-hati jika sudah menguasai ketiga ilmu yang kau pelajari, karena ketiganya merupakan ilmu yang sangat dahsyat dan dapat dengan mudah membunuh lawanmu,” ucap Suro Keling.

“Ilmu yang pertama adalah aji tapak Mawa geni, dan yang kedua adalah pukulan jarak jauh yang bernama, aji Cakra chandikkala.

“Dan jurus terakhir adalah jurus pedang yang sudah ku ubah untukmu, karena kau tidak pantas membawa pedang atau golok, jadi aku mengubah jurus pedangku menjadi jurus tongkat yang ku beri nama, jurus tongkat Seda gitik, apa kau siap? Tanya Suro keling.

“Aku akan belajar ajian yang kakek wariskan jika kakek percaya kepada Aria Pilong,” jawab Aria.

“Tentu saja aku percaya padamu! Kalau tidak percaya, untuk apa aku merawat kau dari kecil? Balas Suro keling.

Setelah bercakap cakap, malam itu Suro keling mulai memberitahu cara dan rahasia mempelajari ilmu yang akan di wariskan kepada Aria.

Aria setiap hari mulai berlatih ilmu yang di wariskan oleh Suro keling dengan bimbingan langsung dari sang pemilik ilmu.

****

Di bawah derasnya air terjun dari atas lembah setan, seorang pemuda duduk di bawah batu, air terjun yang dahsyat jatuh di kepala pemuda itu.

Telinga si pemuda terlihat bergerak-gerak, mencoba mengurai suara yang masuk ke dalam kedua telinga pemuda itu.

Shing....Shing!

Dua titik air melesat menghantam ke dalam telaga.

Crep....Crep!

Dua ekor ikan yang tengah berenang di dalam telaga langsung menggelepar saat dua titik air menembus badan ikan, kedua ikan tak lama kemudian langsung mengambang di permukaan telaga, di badan ikan terlihat bolong seperti terkena panah kecil.

“Aria....habisi semua lebah madu ini! Teriak suara dari pinggir telaga.

Suro keling melemparkan sarang lebah ke arah tengah telaga.

Ngung....ngung....ngung!

Suara ratusan lebah terdengar di tengah telaga, ratusan lebah keluar dan menyebar dari sarangnya, bergerak gesit diantara percikan air, karena jika terkena percikan air terjun, lebah itu akan jatuh ke air dan mati.

Bayangan hitam melesat, sinar kuning berkelebat memburu satu persatu lebah yang berusaha menghindari percikan air.

Whut....set....set!

Dua lebah jatuh ke air, tubuh lebah putus menjadi dua terkena sinar kuning.

Tak cukup sampai disana, lebah yang bergerak menyebar terus di buru oleh bayangan hitam, bayangan hitam pindah dari satu batu ke batu lain memburu lebah, beberapa lebah yang bergerombol di hantam menggunakan tangan kiri, sinar merah berbentuk lingkaran keluar dari tangan kiri pemuda berpakaian hitam, yang tak lain Aria Pilong

Shing....Blam!

7 ekor lebah jatuh ke telaga dengan lebah-lebah itu hangus terkena pukulan Aria.

Sang kakek tersenyum melihat aksi sang cucu angkat, sambil kepalanya mengangguk angguk kemudian tertawa lalu bertepuk tangan.

Ha Ha Ha

“Hebat....sungguh hebat! Dunia persilatan akan di buat geger, penerus Warok Suro Keling yang sangat di takuti akan muncul kembali menggetarkan dunia persilatan,” teriak Suro Keling.

“Hebat....! Kau sudah berhasil menebas semua lebah madu,” lanjut teriakan sang kakek.

“Belum kek! Seru Aria pilong dan memburu ke arah se ekor lebah yang mulai menjauh.

Whut....set!

Lebah yang menjauh langsung jatuh terkena sinar kuning, badan lebah putus menjadi dua.

“Sekarang baru semuanya beres, kek! Teriak Aria.

Sang kakek membalas teriakan Aria dengan nada tinggi mengandung kegusaran.

“Dasar Tolol!

Aria yang mendengar teriakan sang kakek terkejut, dan akhirnya ia sadar bahwa ia sudah berada jauh dari telaga, karena senang konsentrasi Aria terbagi.

Byuuur!

Suro Keling melesat ke arah Aria, tangan Suro keling menangkap bambu kecil berwarna kuning, kemudian melempar kearah pinggir telaga.

Brak!

Sebatang pohon patah terkena tumbukan tubuh Aria.

Suro Keling berbalik, dengan sangat ringan kaki kakek berwajah hitam itu menginjak batu, kemudian melesat dengan cepat ke arah Aria.

Setelah berada di depan pemuda itu, sebatang kayu melesat ke arah kepala.

Pletak!

“Auw!

Suara teriakan terdengar dari mulut Aria yang kesakitan.

“Dasar tolol! Kau tahu kesalahanmu tidak? Tanya Suro keling dengan suara bengis.

“Tahu Kek! Seru Aria.

“Kalau kau kehilangan konsentrasi, nyawamu yang akan menjadi taruhannya, ucap Suro Keling.

Aria tahu maksud dari sang kakek, dan hanya diam.

Karena senang, Aria tak bisa membedakan suara di sekitarnya, sehingga ia tak bisa menentukan di mana batu yang akan menjadi tempatnya mendarat.

Percikan air yang bertemu batu dan yang bertemu air, berbeda, itulah mengapa Aria seperti manusia normal seperti dapat melihat, ketika memburu lebah madu dan selalu berhasil menginjak batu di dekat air terjun.

Tetapi satu lebah yang berusaha kabur terlalu jauh dari tengah telaga, dan ia tak bisa membedakan suara percikan air ketika berhasil menebas lebah terakhir, sehingga Aria tercebur ke telaga.

Terdengar suara Suro Keling dengan nada tinggi.

“Jangan terlalu senang dengan hasil yang kau raih! Karena itu, bisa membunuhmu.”

Terpopuler

Comments

Dragon🐉 gate🐉

Dragon🐉 gate🐉

berpuas diri,lalu jd sombong, stlh itu jd arogan & malas, merasa sudah pandai.. lalu akhirnya celaka Krn Kelengahan & kelalaian diri sendiri..

2024-08-31

0

𝐋α◦𝐒єησяιтꙷαᷜ 🇵🇸🇮🇩

𝐋α◦𝐒єησяιтꙷαᷜ 🇵🇸🇮🇩

artinya apaan yak seda gitik?

2023-07-16

2

Uchy

Uchy

Perjalanan Aria Pilong memang sangat keras

2022-11-10

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Prahara Di Bukit Setan
2 Bab 2 : Tewasnya keluarga Pedagang Muda
3 Bab 3 : Kakek Misterius
4 Bab 4 : Berlatih Ilmu Kanuragan
5 Bab 5 : Saatnya Perpisahan
6 Bab 6 : Kampung Randu Alas
7 Bab 7 : Pendekar Randu Alas
8 Bab 8 : Utusan Suto Abang
9 Bab 9 : Jangan Asal Bicara
10 Bab 10 : Melawan Musuh Tangguh
11 Bab 11 : Menetap Di Randu Alas
12 Bab 12 : Hutan Kali Mati
13 Bab 13 : Menolong Penguasa Gunung Lawu.
14 Bab 14 : Penguasa Baru Istana Kali Mati
15 Bab 15 : Maafkan Aku Nona
16 Bab 16 : Padepokan Wisanggeni
17 Bab 17 : Kepungan Tiga Padepokan
18 Bab 18 : Rencana Terselubung
19 Bab 19 : Perlahan Mulai Terungkap
20 Bab 20 : Cerita Dari Masa Lalu
21 Bab 21 : Berangkat Ke Kerajaan Wengker
22 Bab 22 : Misteri Seorang Resi
23 Bab 23 : Ambisi Seorang Resi
24 Bab 24 : Tewasnya Seorang Ketua Padepokan
25 Bab 25 : Kekuatan Baru
26 Bab 26 : Cerita Naga Langit
27 Bab 27 : Apa Aku Boleh Ikut?
28 Bab 28 : Mengambil Kitab 7 Racun
29 Bab 29 : Kesedihan Wisesa
30 Bab 30 : Berangkat Ke Gunung Semeru
31 Bab 31 : Pertempuran Di Gunung Wilis
32 Bab 32 : Ingatan Masa Lalu
33 Bab 33 : Kau Ku Ampuni
34 Bab 34 : Pertempuran 2 Penguasa
35 Bab 35 : Ungkapan Hati 2 Orang Gadis
36 Bab 36 : Peristiwa Di Kota Daha
37 Bab 37 : Masalah Baru
38 Bab 38 : Perseteruan Antar Saudara 1
39 Bab 39 : Perseteruan Antar Saudara 2
40 Bab 40 : Kemarahan Tumenggung Adiguna
41 Bab 41 : Kupikir Hebat, Ternyata?
42 Bab 42 : Jangan Hina Aku
43 Bab 43 : Apa Yang Kau Tanam, Itu Yang Kau Tuai
44 Bab 44 : Jangan Remehkan Kami
45 Bab 45 : Benang Merah Dari Sebuah Ramalan Mulai Terlihat.
46 Bab 46 : Persiapan Sayembara
47 Bab 47 : Resahnya Hati Resi Sarpa Kencana
48 Bab 48 : Restu Dari Naga Langit
49 Bab 49 : Ku Berikan Setengah Kekuatanku
50 Bab 50 : Caping Kembar
51 Bab 51 : Kau Kawan Atau Lawan
52 Bab 52 : Rencana Tersembunyi Seorang Senopati
53 Bab 53 : Ku Tantang Kau Di Arena Sayembara
54 Bab 54 : Ancaman Di Tempat Pertemuan
55 Bab 55 : Maaf! Aku Membohongimu
56 Bab 56 : Sayembara Di Mulai
57 Bab 57 : Pelajaran Berharga Untuk Sang Murid
58 Bab 58 : Darah Mulai Tumpah Di Lantai Arena
59 Bab 59 : Sedih Hati Aria Pilong
60 Bab 60 : Aku Terima Tantangan Mu
61 Bab 61 : Janji Dua Orang Pendekar
62 Bab 62 : Dendam sang Kakek
63 Bab 63 : Penjaga Wilayah Barat
64 Bab 64 : Ku Serahkan Padamu
65 Bab 65 : Telaga Kelud
66 Bab 66 : Siapa Pemimpin kalian?
67 Bab 67 : Kau Yang Bertaruh, Tetapi Aku Yang Repot
68 Bab 68 : Jaga Ucapanmu, Nona!
69 Bab 69 : Julukan Baru Aria, Kakak Ketiga
70 Bab 70 : Mendapat 2 Pelayan
71 Bab 71 : Iblis Kawi
72 Bab 72 : Pertempuran Wangsa Dan Iblis Kawi
73 Bab 73 : Perjodohan Masa Lalu
74 Bab 74 : Bertemu Rombongan Saudagar Asing
75 Bab 75 : Tawaran Jalan Bersama
76 Bab 76 : Kecurigaan Sugriwa
77 Bab 77 : Pembantaian Di Desa Jatijajar
78 Bab 78 : Tawaran Kerjasama
79 Bab 79 : Jangan Coba Menipu Aku
80 Bab 80 : Kalian Pikir Bisa Mengurungku?
81 Bab 81 : Bara Di Kota Tumapel
82 Bab 82 : Kalau Lemah! Tak Usah Banyak Bicara.
83 Bab 83 : Ilmu Yang Susah Di Hadapi
84 Bab 84 : Titik Lemah Ajian Larang Boyo
85 Bab 85 : Akhir Cerita Tokoh Tua
86 Bab 86 : Arah Dan Tujuan Kita Berbeda
87 Bab 87 : Penari Di Desa Coblong
88 Bab 88 : Sahabatku Bernama Kidung Kencana
89 Bab 89 : Singa Barong
90 Bab 90 : Kesempatan Kedua
91 Bab 91 : Kesepakatan Bersama
92 Bab 92 : Bertemu Pendekar Kembar
93 Bab 93 : Satu Tawaran Untuk Ki Bayan
94 Bab 94 : Tak Ada Kesempatan Kedua
95 Bab 95 : Jalan Rahasia
96 Bab 96 : Tragedi Di Dalam Goa
97 Bab 97 : Bertemu Resi Lanang Jagad
98 Bab 98 : Kesedihan Hati Seorang Abdi
99 Bab 99 : Terima Kasih Eyang Resi
100 Bab 100 : Bantu Kami, Lalu Kami Bantu Kau
101 Bab 101 : Penguasa Gunung Batok
102 Bab 102 : Akhirnya Kau Datang
103 Bab 103 : Bertemu Seorang Utusan
104 Bab 104 : Nasehat Dan Restu Nyi Selasih
105 105 : Raden Kusumo
106 106 : Jangan Ganggu Aku
107 107 : Apa Boleh, Aku Minta Bantuan?
108 108 : Bertemu Kembali Dengan Sahabat
109 109 : Hari Ceria Jagad Buwana
110 110 : Kalabenda
111 111 : Maaf! Jalan Kita Berbeda
112 112 : Hari Pertemuan
113 113 : Lima Padepokan Besar
114 114 : Tewasnya Panglima Hitam
115 Satu Kenyataan Yang Mengejutkan
116 Pengorbanan Suketi
117 Hati Naga Yang Terluka
118 Janji Pati Elang Yang Tersakiti
119 Gabungan Kekuatan
120 Mata-Mata Atau Bukan?
121 Utusan Pelangi
122 Mencari Manusia Terkutuk
123 Bertemu Mpu Barada
124 Kisah Penguasa Alas Purwo
125 Penangkal Racun Jarum Emas
126 Desa Telaga Warna
127 Jangan Membuatku Curiga
128 Kedok Kalasrenggi Terbuka
129 Akhir Dari Sebuah Pertemanan
130 Akhir Dari Penghianatan
131 Aria Pilong Vs Kalasrenggi
132 Beri Aku Nama
133 Keterangan Mengejutkan
134 Ambisi Jati Wilis
135 Perebutan Wilayah Perdagangan
136 Informasi Dari Rama
137 Siasat Untuk melawan Jati Wilis
138 Gempar Di Kota Keta
139 Isi Hati Buwana Dewi
140 Rencana Kedua Aria Pilong
141 Hancurnya Cabang Padepokan Elang Emas Di Kota Keta
142 Kepandaian Bicara Sang Utusan
143 Arogansi Patih Argobumi
144 Pelangi Di Kota Keta
145 Hadiah Untuk Sang Utusan
146 Nasehat Untuk Pejabat Kahuripan
147 Hasrat Seorang Dewi
148 Kota Di Pesisir Pantai
149 Membantu Nelayan Kalipuro
150 Tewasnya Iwa Brengos
151 Menyebrang Ke Pulau Bali
152 Bertempur Melawan 2 Elang Raksasa
153 Maafkan Aku, Kakang
154 Bertemu Panglima Laut Kerajaan Bali
155 Undangan Persahabatan
156 Permintaan Buwana Dewi
157 Elang Jantan Menyerang Istana Tampak Siring
158 Dendam Kedua Elang
159 Kau Atau Aku Yang Berkuasa?
160 Bertempur Di Luar Benteng Istana
161 Misi Lembusora
162 Jangan Pisahkan Kami
163 Satu Harapan Yang Jauh Dari Kenyataan
164 Undangan Untuk Ki Banyu Alas
165 Nasehat Mpu Barada
166 Ijin Dan Restu Prabu Anak Wungsu
167 Persiapan Acara Pernikahan
168 Siasat Keji Di Acara Janji Suci
169 Hari Yang Di Tunggu
170 Terkena Siraman Air Beracun
171 Rencana Licik Nyoman Sidharta Gagal
172 Sudah Resmi Menikah
173 Rasa Putus Asa Mantan Patih Kerajaan
174 Istana Tampak Siring Di kepung
175 Jodoh Masa Kecil, Apa Iya?
176 Mari Kita Buktikan
177 Jangan Ganggu Putri Angkatku
178 Cinta Berdarah
179 Mentari Di Atas Istana Tampak Siring
180 Menyerang Alas Purwo
181 Menyerang Alas Purwo 2
182 Akhir Dari Sebuah Ambisi
183 Petaka Di Hari Bahagia ( End )
Episodes

Updated 183 Episodes

1
Bab 1 : Prahara Di Bukit Setan
2
Bab 2 : Tewasnya keluarga Pedagang Muda
3
Bab 3 : Kakek Misterius
4
Bab 4 : Berlatih Ilmu Kanuragan
5
Bab 5 : Saatnya Perpisahan
6
Bab 6 : Kampung Randu Alas
7
Bab 7 : Pendekar Randu Alas
8
Bab 8 : Utusan Suto Abang
9
Bab 9 : Jangan Asal Bicara
10
Bab 10 : Melawan Musuh Tangguh
11
Bab 11 : Menetap Di Randu Alas
12
Bab 12 : Hutan Kali Mati
13
Bab 13 : Menolong Penguasa Gunung Lawu.
14
Bab 14 : Penguasa Baru Istana Kali Mati
15
Bab 15 : Maafkan Aku Nona
16
Bab 16 : Padepokan Wisanggeni
17
Bab 17 : Kepungan Tiga Padepokan
18
Bab 18 : Rencana Terselubung
19
Bab 19 : Perlahan Mulai Terungkap
20
Bab 20 : Cerita Dari Masa Lalu
21
Bab 21 : Berangkat Ke Kerajaan Wengker
22
Bab 22 : Misteri Seorang Resi
23
Bab 23 : Ambisi Seorang Resi
24
Bab 24 : Tewasnya Seorang Ketua Padepokan
25
Bab 25 : Kekuatan Baru
26
Bab 26 : Cerita Naga Langit
27
Bab 27 : Apa Aku Boleh Ikut?
28
Bab 28 : Mengambil Kitab 7 Racun
29
Bab 29 : Kesedihan Wisesa
30
Bab 30 : Berangkat Ke Gunung Semeru
31
Bab 31 : Pertempuran Di Gunung Wilis
32
Bab 32 : Ingatan Masa Lalu
33
Bab 33 : Kau Ku Ampuni
34
Bab 34 : Pertempuran 2 Penguasa
35
Bab 35 : Ungkapan Hati 2 Orang Gadis
36
Bab 36 : Peristiwa Di Kota Daha
37
Bab 37 : Masalah Baru
38
Bab 38 : Perseteruan Antar Saudara 1
39
Bab 39 : Perseteruan Antar Saudara 2
40
Bab 40 : Kemarahan Tumenggung Adiguna
41
Bab 41 : Kupikir Hebat, Ternyata?
42
Bab 42 : Jangan Hina Aku
43
Bab 43 : Apa Yang Kau Tanam, Itu Yang Kau Tuai
44
Bab 44 : Jangan Remehkan Kami
45
Bab 45 : Benang Merah Dari Sebuah Ramalan Mulai Terlihat.
46
Bab 46 : Persiapan Sayembara
47
Bab 47 : Resahnya Hati Resi Sarpa Kencana
48
Bab 48 : Restu Dari Naga Langit
49
Bab 49 : Ku Berikan Setengah Kekuatanku
50
Bab 50 : Caping Kembar
51
Bab 51 : Kau Kawan Atau Lawan
52
Bab 52 : Rencana Tersembunyi Seorang Senopati
53
Bab 53 : Ku Tantang Kau Di Arena Sayembara
54
Bab 54 : Ancaman Di Tempat Pertemuan
55
Bab 55 : Maaf! Aku Membohongimu
56
Bab 56 : Sayembara Di Mulai
57
Bab 57 : Pelajaran Berharga Untuk Sang Murid
58
Bab 58 : Darah Mulai Tumpah Di Lantai Arena
59
Bab 59 : Sedih Hati Aria Pilong
60
Bab 60 : Aku Terima Tantangan Mu
61
Bab 61 : Janji Dua Orang Pendekar
62
Bab 62 : Dendam sang Kakek
63
Bab 63 : Penjaga Wilayah Barat
64
Bab 64 : Ku Serahkan Padamu
65
Bab 65 : Telaga Kelud
66
Bab 66 : Siapa Pemimpin kalian?
67
Bab 67 : Kau Yang Bertaruh, Tetapi Aku Yang Repot
68
Bab 68 : Jaga Ucapanmu, Nona!
69
Bab 69 : Julukan Baru Aria, Kakak Ketiga
70
Bab 70 : Mendapat 2 Pelayan
71
Bab 71 : Iblis Kawi
72
Bab 72 : Pertempuran Wangsa Dan Iblis Kawi
73
Bab 73 : Perjodohan Masa Lalu
74
Bab 74 : Bertemu Rombongan Saudagar Asing
75
Bab 75 : Tawaran Jalan Bersama
76
Bab 76 : Kecurigaan Sugriwa
77
Bab 77 : Pembantaian Di Desa Jatijajar
78
Bab 78 : Tawaran Kerjasama
79
Bab 79 : Jangan Coba Menipu Aku
80
Bab 80 : Kalian Pikir Bisa Mengurungku?
81
Bab 81 : Bara Di Kota Tumapel
82
Bab 82 : Kalau Lemah! Tak Usah Banyak Bicara.
83
Bab 83 : Ilmu Yang Susah Di Hadapi
84
Bab 84 : Titik Lemah Ajian Larang Boyo
85
Bab 85 : Akhir Cerita Tokoh Tua
86
Bab 86 : Arah Dan Tujuan Kita Berbeda
87
Bab 87 : Penari Di Desa Coblong
88
Bab 88 : Sahabatku Bernama Kidung Kencana
89
Bab 89 : Singa Barong
90
Bab 90 : Kesempatan Kedua
91
Bab 91 : Kesepakatan Bersama
92
Bab 92 : Bertemu Pendekar Kembar
93
Bab 93 : Satu Tawaran Untuk Ki Bayan
94
Bab 94 : Tak Ada Kesempatan Kedua
95
Bab 95 : Jalan Rahasia
96
Bab 96 : Tragedi Di Dalam Goa
97
Bab 97 : Bertemu Resi Lanang Jagad
98
Bab 98 : Kesedihan Hati Seorang Abdi
99
Bab 99 : Terima Kasih Eyang Resi
100
Bab 100 : Bantu Kami, Lalu Kami Bantu Kau
101
Bab 101 : Penguasa Gunung Batok
102
Bab 102 : Akhirnya Kau Datang
103
Bab 103 : Bertemu Seorang Utusan
104
Bab 104 : Nasehat Dan Restu Nyi Selasih
105
105 : Raden Kusumo
106
106 : Jangan Ganggu Aku
107
107 : Apa Boleh, Aku Minta Bantuan?
108
108 : Bertemu Kembali Dengan Sahabat
109
109 : Hari Ceria Jagad Buwana
110
110 : Kalabenda
111
111 : Maaf! Jalan Kita Berbeda
112
112 : Hari Pertemuan
113
113 : Lima Padepokan Besar
114
114 : Tewasnya Panglima Hitam
115
Satu Kenyataan Yang Mengejutkan
116
Pengorbanan Suketi
117
Hati Naga Yang Terluka
118
Janji Pati Elang Yang Tersakiti
119
Gabungan Kekuatan
120
Mata-Mata Atau Bukan?
121
Utusan Pelangi
122
Mencari Manusia Terkutuk
123
Bertemu Mpu Barada
124
Kisah Penguasa Alas Purwo
125
Penangkal Racun Jarum Emas
126
Desa Telaga Warna
127
Jangan Membuatku Curiga
128
Kedok Kalasrenggi Terbuka
129
Akhir Dari Sebuah Pertemanan
130
Akhir Dari Penghianatan
131
Aria Pilong Vs Kalasrenggi
132
Beri Aku Nama
133
Keterangan Mengejutkan
134
Ambisi Jati Wilis
135
Perebutan Wilayah Perdagangan
136
Informasi Dari Rama
137
Siasat Untuk melawan Jati Wilis
138
Gempar Di Kota Keta
139
Isi Hati Buwana Dewi
140
Rencana Kedua Aria Pilong
141
Hancurnya Cabang Padepokan Elang Emas Di Kota Keta
142
Kepandaian Bicara Sang Utusan
143
Arogansi Patih Argobumi
144
Pelangi Di Kota Keta
145
Hadiah Untuk Sang Utusan
146
Nasehat Untuk Pejabat Kahuripan
147
Hasrat Seorang Dewi
148
Kota Di Pesisir Pantai
149
Membantu Nelayan Kalipuro
150
Tewasnya Iwa Brengos
151
Menyebrang Ke Pulau Bali
152
Bertempur Melawan 2 Elang Raksasa
153
Maafkan Aku, Kakang
154
Bertemu Panglima Laut Kerajaan Bali
155
Undangan Persahabatan
156
Permintaan Buwana Dewi
157
Elang Jantan Menyerang Istana Tampak Siring
158
Dendam Kedua Elang
159
Kau Atau Aku Yang Berkuasa?
160
Bertempur Di Luar Benteng Istana
161
Misi Lembusora
162
Jangan Pisahkan Kami
163
Satu Harapan Yang Jauh Dari Kenyataan
164
Undangan Untuk Ki Banyu Alas
165
Nasehat Mpu Barada
166
Ijin Dan Restu Prabu Anak Wungsu
167
Persiapan Acara Pernikahan
168
Siasat Keji Di Acara Janji Suci
169
Hari Yang Di Tunggu
170
Terkena Siraman Air Beracun
171
Rencana Licik Nyoman Sidharta Gagal
172
Sudah Resmi Menikah
173
Rasa Putus Asa Mantan Patih Kerajaan
174
Istana Tampak Siring Di kepung
175
Jodoh Masa Kecil, Apa Iya?
176
Mari Kita Buktikan
177
Jangan Ganggu Putri Angkatku
178
Cinta Berdarah
179
Mentari Di Atas Istana Tampak Siring
180
Menyerang Alas Purwo
181
Menyerang Alas Purwo 2
182
Akhir Dari Sebuah Ambisi
183
Petaka Di Hari Bahagia ( End )

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!