Bab 20

Keisha membawa secangkir teh yang baru saja dibuatnya ke ruang tengah. Ia meletakkannya di meja yang ada di hadapan Arya.

"Ini tehnya," ucap Keisha.

"Terima kasih," ucap Arya.

Keisha menjauh dari dari tempat Arya, ia duduk di sofa singel di samping sofa yang Arya duduki.

"Silahkan diminum. Tubuhmu akan terasa hangat setelah ini," ucap Evano.

"Baik, Om." Arya mengambil teh yang ada di hadapannya, kaku mengatakan ke bibirnya.

Kening Arya berkerut saat pertama kali dia meminum teh hangat yang dibuat oleh Keisha. Ada yang aneh dari teh itu. Arya berpikir mungkin lidahnya yang bermasalah, tetapi setelah berulang kali Arya mencoba teh itu, memang benar rasanya asin, bahkan sangat asin.

"Ini bukan teh, tapi air laut." Arya menggerudel di dalam hatinya.

"Apa wanita ini sedang mengerjaiku?" batin Arya.

Arya memicik ke Keisha. Wanita itu nampak biasa saja.

"Arya," panggil Evano.

"Iya." Arya sedikit terkejut saat suara Evano tiba-tiba masuk ke indera pendengarannya.

"Ehmmmm." Arya berdehem untuk menetralkan rasa terkejutnya.

"Iya, Om." Arya meletakan kembali cangkir teh ke meja.

"Bagaimana rasa teh buatan Keisha? Enak, 'kan?" tanya Evano.

Arya merespon ucapan Evano dengan menganggukkan kepalanya dan memaksakan bibirnya untuk tersenyum.

"Kamu tahu, jika Om sedang merasa tidak enak badan, Keisha selalu membuatkan teh hangat untuk Om dan tidak lama Om merasa lebih baik," ucap Evano.

"Teh buatan Keisha memang yang paling enak," puji Evano.

Kalau yang begini saja enak, yang tidak enak kaya apa?

"Ayo habiskan, tehnya. Kamu pasti akan merasa lebih baik," suruh Evano.

"Hah?" Arya membelalakan matanya. Ia merasa bingung, tidak mungkin dirinya menghabiskan teh rasa air laut itu.

Akan tetapi karena merasa tidak enak pada kedua orang tua Keisha, Arya kembali meminum teh asin buatan Keisha. Sengaja Arya melihat ke arah Keisha berharap rasa teh itu berubah menjadi manis, semanis wajah yang dimiliki oleh Keisha. Namun, itu hanya khayalan Arya saja, pada kenyataannya rasa teh itu masih sama. Rasa asinnya bahkan masih tertinggal di tenggorokannya.

"Sudah merasa lebih baik?" tanya Evano.

"Ya, Om. Aku sudah merasa lebih baik," jawab Arya.

Hacciih!

Akan tetapi nyatanya Arya masih terus saja bersin, bahkan hidungnya nampak sudah memerah. Bahkan kini perutnya bergejolak karena rasa asin dari teh itu.

"Terima kasih untuk tehnya. Sepertinya aku harus pulang." Arya menaruh kembali cangkir teh ke atas meja.

"Hacciih, Hacciih!" Arya kembali bersin, wajahnya terlihat sangat pucat membuat semua orang di rumah itu merasa khawatir.

"Kamu yakin baik-baik saja?" tanya Kenzo

"Ya ... Hacciih!" Arya menggosok hidungnya.

"Tapi wajahmu sangat pucat," ucap Violetta.

"Sepertinya kamu butuh obat," ucap Keisha.

"Tidak ini sudah biasa. Jika aku terkena air hujan pasti aku akan bersin-bersin seperti ini," ucap Arya.

Arya merasa kesal, setiap kali terkena air hujan maka dirinya akan langsung terserang flu.

"Apa? Yang benar saja? Tubuhmu besar, tapi daya tahan tubuhmu lebih lemah dari anak kecil," ledek Keisha.

"Memang apa salahnya. Aku juga tidak ingin seperti ini," ucap Arya.

"Lagi pula aku seperti ini juga salahmu, karena aku mengejarmu," ucap Arya.

Keisha memilih untuk mengakhiri pembicaraan itu, karena ujung-ujungnya akan mengarah pada kejadian waktu di pesta.

"Baiklah, aku minta maaf. Sebaiknya sekarang ganti pakaianmu yang basah itu," suruh Keisha.

"Itu benar Arya," imbuh Evano.

"Kamu ada pakaian ganti? Atau pakai saja pakaianku," tawar Kenzo.

"Tidak usah. Aku langsung pamit saja. Kebetulan apartemenku juga di dekat sini," tolak Arya.

"Kamu yakin?" tanya Keisha.

"Tentu saja, aku ini bukan anak kecil lagi." Arya memberikan sindiran pada Keisha.

"Baiklah, terima kasih karena sudah membawa Keisha pulang," ucap Violetta yang langsung diangguki oleh Evano.

"Sama-sama, Om," ucap Arya.

Arya pamit kepada semua orang, termasuk kepada Keisha. Nampak ada kecanggungan di diri Keisha saat melihat Arya berdiri di hadapannya. Namun, Keisha berusaha menyembunyikan kecanggungan di dalam dirinya.

"Keisha, antar Arya ke depan Nak," suruh Violetta.

"Iy-a, Mah," sahut Keisha.

Keisha mengarahkan pandangannya ke Arya, mengajaknya keluar bersama.

"Ayo, aku akan mengantarmu ke luar" ajak Keisha.

Keisha dan Arya meninggalkan ruang tengah bersama, keduanya berjalan ke teras depan. Langkah mereka terhenti ketika sampai di samping mobil Arya.

"Aku pulang dulu," pamit Arya.

Keisha merespon dengan anggukan kepalanya. "Hati-hati di jalan."

Arya membalas ucapan Keisha dengan senyuman manisnya.

"Jaga dirimu baik-baik. Lupakan orang yang harusnya kamu lupakan. Jangan melihat ke belakang lagi," ucap Arya sebelum berjalan menuju mobilnya.

"Aku akan mengingat itu," ucap Keisha.

"Oh iya, aku lupa." Arya mengurungkan niatnya masuk ke dalam mobil, ia berbalik menghadap Keisha.

"Apa?" tanya Keisha.

"Terima kasih untuk tehnya. Rasanya enak jika yang kamu tambahkan itu gula, bukannya garam," ucap Arya.

Kening Keisha mengerut jelas Keisha merasa bingung dengan apa yang dikatakan oleh Arya. Ia tidak mengerti apa maksud dari ucapan Arya. Keisha ingin bertanya pada Arya, tetapi laki-laki itu sudah lebih dulu masuk ke mobil dan pergi begitu saja.

Keisha memandang ke mobil Arya yang sudah jauh melaju. Ketika mobil itu lenyap dari pandangannya Keisha kembali masuk ke rumah, ia berjalan dan masih memikirkan kata-kata Arya.

"Apa maksudnya? Mungkinkah aku salah memasukkan garam ke teh yang aku buat untuk dia?" batin Arya.

Keisha berjalan lebih cepat menuju ruang tengah. Ia membereskan cangkir teh bekas Arya. Keisha berjalan ke dapur sambil memandangi cangkir teh di tangannya.

"Tehnya enak jika aku memasukan gula, bukan garam?" Keisha masih menirukan kata-kata Arya.

"Seingatku aku memasukan gula, tapi kenapa dia mengatakan hal seperti itu? Tidak mungkin aku memasukan garam" batin Keisha.

Merasa penasaran Keisha mengambil sendok dan mencicipi sedikit teh yang sebelumnya di minum oleh Arya. Baru sendok itu menempel di bibirnya, Keisha kembali menjauhkannya.

"Kenapa tehnya rasanya sangat asin," gumam Keisha.

"Ya, Tuhan!" Tawa yang Keisha tahan akhirnya meledak, membuat Violetta yang melihatnya merasa bingung.

"Keisha, kamu kenapa?" Violetta berjalan mendekat ke Keisha.

"Mamah tahu? Ternyata aku menghidangkan teh asin bukan teh manis pada pria itu," ucap Keisha di sela tawanya.

"Maksud kamu?" Violetta masih merasa bingung dengan ucapan Keisha.

"Tadi sebelum pria itu pulang, dia mengatakan jika teh buatanku enak jika aku memasukan gula bukan garam." Keisha masih belum berhenti tertawa.

"Awalnya aku merasa bingung. Jadi aku mencicipi teh ini. Dan ternyata benar, yang aku masukkan itu garam bukannya gula," jelas Keisha.

"Ya, ampun Keisha. Kamu ini keterlaluan. Bagaimana bisa kamu melakukan ini, Nak." Violetta ikut tertawa mendengar cerita Keisha.

"Aku juga tidak tahu, Mah. Seingatku aku memasukkan gula bukannya garam, ternyata aku keliru. Ini bukan teh, tapi air laut," ucap Keisha di sela tawanya.

"Nakal kamu ya." Violetta memukul pundak Keisha, karena merasa gemas dengan ulah anak bungsunya. Dirinya merasa tidak enak dengan Arya.

"Kalau kamu bertemu dengan Arya lagi, kamu harus minta maaf untuk ini. Kasihan dia, sudah kehujanan gara-gara kamu, sampai bersin-bersin seperti itu, dan sampai sini kamu malah menghidangkan teh asin," ucap Violetta diikuti tawanya.

"Baik, Mah. Aku pasti akan minta maaf untuk ini," ucap Keisha.

"Ini sangat lucu. Aku tidak bisa membayangkan ekspresi wajah dia saat meminum teh ini. Dan aku ingin tahu apa yang dia pikirkan saat papa mengatakan teh buatanku yang paling enak." Tawa Keisha kembali meledak bahkan sampai mengeluarkan air mata.

Violetta yang ada di samping Keisha mengukir senyumnya. Untuk pertama kalinya ia melihat Keisha tertawa lepas setelah apa yang terjadi pada pernikahannya.

Terpopuler

Comments

Ray Siddiq

Ray Siddiq

air laut 🤣🤣🤣🤣🤣

2025-03-21

0

Ds Phone

Ds Phone

senyum yang mahal

2025-03-18

0

Ramli Jengka6

Ramli Jengka6

lucu banget dikasih teh asin

2023-07-24

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Perdebatan Di Pagi Hari
58 Kewaspadaan Keisha
59 Perjuangan Keisha
60 Perjuangan Keisha 2
61 Sebuah Kejutan
62 Kepercayaan
63 Malam Yang Dingin
64 Sebuah Harapan
65 Kesabaran Keisha
66 Hal Yang Tidak Terduga
67 Kejutan Besar
68 Kejutan Besar 2
69 Keisha Vs Selly
70 Keyakinan Keisha
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Chapter 94
95 Bab 95
96 Chapter 96
97 Chapter 97
98 Chapter 98
99 Chapter 99
100 Chapter 100
101 Chapter 101
102 Chapter 102
103 Chapter 103
104 Chapter 104
105 Chapter 105
106 Chapter 106
107 Chapter 107
108 Chapter 108
109 Chapter 109
110 Chapter 110
111 Chapter 111
112 Chapter 112
113 Chapter 113
114 Chapter 114
115 Chapter 115
116 Chapter 116
117 Chapter 117
118 Chapter 118
119 Chapter 119
120 Chapter 120
121 Chapter 121
122 Chapter 122
123 Chapter 123
124 Chapter 124
125 Chapter 125 (End)
126 Bonus Chapter
127 Bonus Chapter
128 Promosi
129 PBU Season 2 Chapter 1
130 Chapter 2
131 Chapter 3
132 Chapter 4
133 Chapter 5
134 Chapter 6
135 Chapter 7
136 Chapter 8
137 Pengumuman
138 Pengumuman
139 Promosi Karya
Episodes

Updated 139 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Perdebatan Di Pagi Hari
58
Kewaspadaan Keisha
59
Perjuangan Keisha
60
Perjuangan Keisha 2
61
Sebuah Kejutan
62
Kepercayaan
63
Malam Yang Dingin
64
Sebuah Harapan
65
Kesabaran Keisha
66
Hal Yang Tidak Terduga
67
Kejutan Besar
68
Kejutan Besar 2
69
Keisha Vs Selly
70
Keyakinan Keisha
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Chapter 94
95
Bab 95
96
Chapter 96
97
Chapter 97
98
Chapter 98
99
Chapter 99
100
Chapter 100
101
Chapter 101
102
Chapter 102
103
Chapter 103
104
Chapter 104
105
Chapter 105
106
Chapter 106
107
Chapter 107
108
Chapter 108
109
Chapter 109
110
Chapter 110
111
Chapter 111
112
Chapter 112
113
Chapter 113
114
Chapter 114
115
Chapter 115
116
Chapter 116
117
Chapter 117
118
Chapter 118
119
Chapter 119
120
Chapter 120
121
Chapter 121
122
Chapter 122
123
Chapter 123
124
Chapter 124
125
Chapter 125 (End)
126
Bonus Chapter
127
Bonus Chapter
128
Promosi
129
PBU Season 2 Chapter 1
130
Chapter 2
131
Chapter 3
132
Chapter 4
133
Chapter 5
134
Chapter 6
135
Chapter 7
136
Chapter 8
137
Pengumuman
138
Pengumuman
139
Promosi Karya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!