Dengan bangga dan dengan masih memakai celemek, Keisha membawa hasil karya masakannya ke meja yang diduduki oleh Arya. Sejujurnya Keisha merasa malas untuk kembali berinteraksi dengan pria itu. Namun, dirinya harus bersikap profesional.
Dari jauh Keisha berjalan sambil memandangi Arya. Sayang sekali, dengan wajahnya yang tampan dan terlihat dewasa pria itu justru tukang menggoda wanita. Wajahnya sungguh sangat kontras dengan sikapnya.
"Ini menu spesial di cafe ini." Keisha meletakan dua porsi steak daging ke meja Arya.
"Silahkan dinikmati. Saya permisi." Keisha pergi meninggalkan meja Arya. Namun, baru saja Keisha berbalik dan ingin melangkah, suara Arya menghentikannya.
"Tunggu!" cegah Arya.
Keisha tentu saja langsung menghentikan langkahnya, ia merasakan akan ada firasat buruk.
"Apa yang sebenarnya diinginkan oleh pria ini?" batin Keisha.
Jika saja Keisha tidak ingat dirinya harus menjaga image cafe yang baru saja dibukanya, mungkin Keisha akan langsung melempar pria menyebalkan itu keluar dari cafenya.
Sebelum berbalik Keisha lebih dulu menarik napasnya dalam-dalam dan mengganti wajah galaknya dengan senyuman ramah.
"Ada apa, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Keisha.
"Apa ini menu spesial di cafe ini?" tanya Arya.
"Seperti yang sudah saya katakan tadi," jawab Keisha.
"Bentuknya sama seperti steak pada umumnya. Apa spesialnya?" tanya Arya.
Jelas sekali dari ucapannya Arya bermaksud untuk menghina makanannya. Keisha merasa tidak boleh kalah, ia harus membalas kata-kata pedas pria itu.
"Apa saya harus membentuk steak itu dengan bentuk lain? Mungkin dengan bentuk hati?" balas Keisha.
"Sepertinya itu ide yang bagus. Lebih bagus lagi jika menambahkan namaku di atasnya." Arya berucap dengan menaik-turunkan alisnya, serta senyum manis yang terlukis di bibirnya.
Keisha memutar bola matanya karena merasa jengah. Ya ampun tamu yang satu itu benar-benar sedang menguji kesabarannya.
"Begini saja, makan dan rasakan makanan itu. Meskipun bentuknya sama dengan steak pada umumnya, aku yakin pasti rasanya berbeda," ucap Keisha.
"Benarkah?" Arya merasa tidak yakin.
"Saya sangat yakin." Keisha menjawab dengan penuh rasa percaya dirinya.
"Baiklah, aku akan mencobanya," ucap Arya.
"Tio, cobalah lebih dulu! Jika rasanya enak, aku akan memakannya," suruh Arya.
Reaksi Keisha setelah mendengar ucapan Arya jelas sangat kesal. Laki-laki itu sudah berani terang-terangan menghina dirinya. Akan tetapi, tamu adalah raja, ungkapan itu yang masih membuat Keisha bisa bersabar sampai saat itu.
Keisha beralih pada Tio yang sedang mencicipi steak daging yang dibuatnya. Jantungnya berdegup kencang, tetapi Keisha yakin jika steak daging buatannya sangat enak. Beberapa saat kemudian, senyum Keisha merekah saat laki-laki bernama Tio itu terlihat sangat lahap memakan steak buatannya.
"Tio, aku menyuruhmu untuk mencicipinya, bukan malah menghabiskannya," ucap Arya.
"Maaf, Bos. Saya tidak bisa menjabarkan rasa dari makanan ini. Yang pasti rasa makanan ini sangat enak," ucap Tio.
"Terima kasih atas pujiannya," ucap Keisha.
Pandangan Keisha langsung beralih pada Arya.
"Anda sudah mendengarnya, 'kan? Jadi silahkan dinikmati." Keisha memandang Arya dengan senyum penuh kemenangan.
"Baiklah, saya akan mencobanya." Arya mulai memotong steak daging yang ada di hadapannya.
Keisha melipat kedua tangannya di depan dadanya, memerhatikan Arya yang sedang mengunyah makanannya. Raut wajah Arya nampak biasa saja, membuat Keisha merasa penasaran.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Keisha.
"Biasa saja," jawab Arya.
"Apa? Apa lidahmu bermasalah? Makanan enak seperti ini, kamu bilang rasanya biasa saja," tanya Tio yang tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Arya.
"Jangan berani bicara seperti itu! Aku ini bosmu," ucap Arya.
Pandangan Arya beralih pada Keisha, ia memerhatikan Keisha dari atas hingga bawah. Akan tetapi Arya lebih fokus pada celemek yang melekat di tubuh Keisha.
"Apa kamu yang memasak ini sendiri?" tanya Arya.
"Iya," jawab Keisha.
"Rasanya biasa saja. Aku ingin makanan yang lain. Tapi harus kamu yang memasaknya sendiri," suruh Arya.
"Anda bilang masakan saya biasa saja. Jadi lebih baik saya suruh koki di sini untuk memasak makanan untuk Anda," ucap Keisha.
"Aku tidak mau. Aku hanya ingin kamu yang memasaknya," tolak Arya.
Sungguh merepotkan!
"Cepatlah! Jangan membuat tamu menunggu di sini. Atau aku akan memberitahukan pada atasanmu kalau kerjamu tidak beres," ancam Arya.
"Heh, sebelumnya maaf. Tapi saya sendiri pemilik cafe ini," ungkap Keisha.
Mendengar apa yang baru saja Keisha katakan membuat Arya merasa terkejut dan sedikit malu, tetapi Arya menyembunyikan dengan mencoba untuk tetap tenang. Akan tetapi reaksi pria yang merupakan asisten Arya berbeda, dia justru tergelak bahkan sampai memegangi perutnya, membuat Arya mendengkus karena merasa kesal.
Keisha sendiri merasa bingung dengan tingkah aneh kedua pria itu. Jujur dirinya baru bertemu dengan dua orang aneh seperti mereka.
"Diam! Atau aku akan memotong gaji bulananmu," ancam Arya.
"Baiklah, Bos. Aku akan menutup mulutku." Tio memang berhenti tertawa, tetapi dirinya masih melipat bibirnya untuk menahan tawanya.
"Baiklah, saya permisi dulu. Saya akan membuatkan makanan yang lain untuk kalian," ucap Keisha.
"Tunggu." Tio mencegah Keisha pergi. "Buat saja untuk dia. Saya sudah merasa kenyang dengan makanan yang Anda sajikan ini," ucap Tio.
"Baiklah, sepertinya Anda laki-laki yang baik dan mengerti akan sopan santun." Matanya melirik ke arah Arya yang juga sedang melihat ke arah dirinya.
Keisha meninggalkan meja Arya dengan rasa kesal. Langkahnya membawanya kembali ke dapur.
"Pria itu berani merendahkan masakanku! Lihat saja, aku akan membuatnya ketagihan dengan makanan yang aku masak," ucap Keisha.
Setengah jam Keisha berkutat di dapur cafenya. Dua menu dari makanan pembuka sampai makanan penutup berhasil Keisha siapkan dengan dibantu oleh satu koki.
Setelah itu Keisha membawa sendiri semua makanan itu ke meja Arya dengan meja dorong. Sejak dari dapur Keisha sudah menyiapkan dirinya dengan komentar pedas yang akan Arya berikan untuknya.
"Ini beberapa menu di sini, silahkan Anda coba. Jika tidak enak, aku akan memberinya secara gratis." Keisha memilih untuk menyerang lebih dulu.
"Apa kamu pikir aku tidak mampu untuk membayarnya?" Arya memberikan tatapan tajam kepada Keisha.
Keisha melihat kedua tangannya di depan dada, ia berpaling untuk menghindari tatapan dari Arya. Beberapa saat kemudian Keisha menoleh kembali ke arah Arya, pria itu mulai mencicipi satu per satu makanan yang disiapkan oleh dirinya.
"Ini lumayan juga," ucap Arya.
Bibir Keisha melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman, meskipun Keisha melihat Arya mengatakannya dengan setengah hati, tetapi itu lebih baik.
"Tapi tidak seenak makanan buatan asisten rumah tanggaku di rumah," ucap Arya.
Senyum Keisha yang awalnya merekah tiba-tiba saja meredup. Bahkan Keisha mendengkus, ia merasa sangat kesal dengan pria itu.
Dasar mulut cabe.
"Sepertinya Anda memiliki masalah denganku, Pak. Sudah dari tadi Anda mencoba menghina saya," ucap Keisha.
"Masalahnya hanya satu, Nona Keisha," sela Tio.
"Dia kesal dengan Anda karena Anda wanita satu-satunya yang tidak terpengaruh dengan rayuannya," ledek Tio.
"Sekali lagi kamu bicara, aku akan memecatmu," ancam Arya.
"Silahkan saja. Tapi aku yakin kamu tidak akan menemukan asisten pribadi yang baik sepertiku," ledek Tio yang langsung membuat Arya mendengkus. Jelas Tio tahu, itu hanya sekedar ancaman. Arya tidak akan pernah memecatnya karena menggodanya, kecuali jika dirinya melakukan kesalahan fatal.
Keisha masih memerhatikan perdebatan kedua pria dewasa yang sama seperti anak kecil. Bibirnya melipat ke dalam untuk menahan tawanya.
"Ini sudah malam. Kita harus pulang, Bos," ajak Tio.
"Ya kamu benar." Arya melihat waktu pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah menunjukkan pukul 9 malam.
Pandangan Arya kembali pada Keisha. Sejenak ia memandang Keisha yang justru sedang melihat ke arah lain. Ada senyum di bibir Arya saat itu.
"Berapa yang harus saya bayar untuk semua ini?" tanya Arya.
"Tidak perlu. Saya memberikannya gratis pada kalian," ucap Keisha.
"Saya mampu bayar," ucap Arya.
"Saya tahu. Tapi di sini sedang ada grand opening. Jadi anggap saja ini sebagai perkenalan saja," ucap Keisha.
"Saya tidak bisa menerima ini. Saya sudah makan dan saya harus membayarnya," tolak Arya.
"Tapi—" Ucapan Keisha langsung dipotong oleh Arya.
"Begini saja. Ini kartu namaku." Arya memberikan kartu namanya kepada Keisha.
"Dua hari lagi ada acara pesta di perusahaanku. Aku pesan semua menu makanan di sini. Masing-masing berjumlah 1000 porsi," ucap Arya.
"Tio berikan cek kosongnya," perintah Arya.
"Ini, Bos." Tio membuka tas kerjanya untuk mengambil cek kosong lalu memberikan cek kosong kepada Arya.
Arya menerima cek kosong yang diberikan oleh Tio lalu menulis nominal uang di kertas itu.
"Ini cukup 'kan untuk dp-nya?" Arya memberikan cek bertulisan 500 juga kepada Keisha.
Jelas saja mata Keisha melotot melihat nominal yang begitu besar. Akan tetapi apakah Keisha bisa mempersiapkan makanan dengan jumlah yang Arya sebutkan. Namun, jika dirinya tidak menerimanya pria yang ada dihadapannya pasti akan terus mengejeknya.
Keisha memutuskan menerima kerjasama itu sekaligus untuk membuktikan jika dirinya mampu.
"Baiklah saya terima," ucap Keisha.
"Tapi ingat, jangan membuat malu dengan tidak membuat makanan enak," ucap Arya.
Mendengar ejekan Arya, Keisha hanya mampu mengela napasnya dalam-dalam, mencoba untuk bersabar menghadapi sikap Arya.
"Baiklah, Pak. Terima kasih sebelumnya untuk kepercayaannya," ucap Keisha.
Akhirnya Keisha merasa lega saat Arya meninggalkan cafenya. Namun, Keisha menjadi gelisah saat melihat nama perusahaan yang tertulis pada kartu nama yang diberikan oleh Arya.
"Ini kan perusahaan tempat Miko bekerja?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Sita Aryanti
wah lepas dr Miko bisa dpt bos by Miko..ici kiwir...
2025-03-03
1
Ds Phone
alah ada aja masalah
2025-03-17
0
Tiwik Firdaus
ooooo alah ternyata miko karyawan bukan yang pjnya perusahaan sendiri gitu aja sombong mau poligami
2023-07-06
1