.
.
Fano malas sekali, siang ini ada pelajaran olah raga. Tidak... bukannya dia tidak menyukai pelajaran olah raga tapi masalahnya itu adalah mereka olah raga di lapangan luar, bukan di dalam ruangan.
Mentari sedang terik-teriknya, panas sekali.
Guru olah raga mereka adalah pak guru yang waktu itu ikut membantu Fano di ruang kepala sekolah. mereka sedang bertanding sepak bola, perempuan sendiri laki-laki sendiri. Karena Fano dan Angel termasuk anak yang terisishkan, tidak ada yang mau satu kelompok dengan mereka.
Tapi sebenarnya baik Fano maupun Angel sama-sama berharap tidak ada yang mau berkelompok dengan mereka, dengan begitu mereka tidak perlu ikutan main bola.
Tapi keinginan dua bocah itu tidak terkabul karena pak guru olah raga memasukkan mereka pada tim yang kurang. Akhirnya mereka ikutan main sepak bola.
Beruntunglah tim yang terpaksa menampung Fano, memang Albert tidak suka main bola meski badan dan kemampuannya atletis... namun, Fano asli yang kurus cungkring pendiam tersebut suka menonton teman-temannya bermain sepak bola atau basket.
Intinya, Fano asli memiliki teori, dan Fano yang baru bisa membuat teori itu menjadi nyata dengan keahlian olah raga dari Albert.
Berkali-kali Fano berhasil membobol gawang lawan, tim Fano bersorak bahagia karena mereka bisa menang. Pak guru berjanji akan memberi hadiah bagi tim siswa maupun tim siswi yang menang.
Berkat kemampuan Fano yang tidak diduga-duga, para siswa sekarang sudah semakin baik dengan Fano, Fano pun mencoba untuk terbuka, jadi hubungannya dengan para siswa semakin baik. Walau tidak sebaik itu juga karena saat para siswa meminta Fano untuk bergabung dengan mereka dan mengajak bermain bola sepulang sekolah, Fano memilih untuk menolak dengan halus.
Tapi paling tidak dia sudah memiliki hubungan yang baik dengan para siswa di kelasnya.
Oh iya, berkat timnya menang dan mereka berbahagia, presentase kebaikan Fano meningkat lagi menjadi (80/100) jika begini terus pasti cepat untuk naik level.
Tapi senyum Fano harus luntur kembali setelah melihat Angel kembali dibully dan disalahkan karena timnya kalah.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Fano menghampiri mereka, menarik Angel untuk pergi menjauh, membawanya ke taman yang sepi.
Karena olah raga selesai tapi bel istirahat belum berbunyi, pak guru meminta mereka untuk tidak ke kantin dulu, menunggu bel istirahat. Jadi saat ini mereka sudah bebas.
Untuk hadiah yang pak guru janjikan itu adalah sebungkus camilan untuk masing-masing anak, Fano sendiri dapat dua bungkus karena kan dia yang membuat tim mereka menang, kalau yang lain dapat satu.
Fano menyodorkan satu bungkus camilan untuk Angel.
“Terima kasih”
“Angel” panggil Fano, Angel menatap Fano menunggu ucapan selanjutnya, Fano sendiri juga menoleh dan menatap Angel.
“Kenapa kau tidak pernah melawan saat diganggu seperti itu?”
Angel menundukkan kepalanya “Aku.. aku pikir mereka benar juga, mereka kalah karena ada aku disana”
“Tidak – aku melihat pertandingan kalian. Tim mu memang memiliki kerjasama yang buruk, kalaupun kau di tim yang lain mereka tetap akan kalah. Mereka menyalahkanmu hanya karena ingin melempar kesalahan pada orang lain saja agar mereka masih terlihat baik – ah, sudahlah..”
Fano bersandar pada batang pohon besar di belakangnya.
Dia tidak mengerti dengan Angel, Yoshi, bahkan Fano yang asli.. mengapa mereka mau saja di ganggu seperti itu, mereka malah diam saja dan tidak melawan, kenapa? Padahal sudah jelas-jelas mereka tidak suka diperlakukan seperti itu.
Paling tidak meski memang lemah, mencoba untuk melawan lah.
“Sepertinya aku merepotkanmu ya” kata Angel, dia juga ikut bersandar di dekat Fano, sambil memakan camilan yang Fano berikan.
“Iya, kau merepotkan.. tapi tidak apa, aku tidak keberatan”
Mungkin karena kelelahan, rasa kantuk itu perlahan menghampiri Fano, apalagi semilir angin sepoi-sepoi yang menerpa kulit wajahnya membuatnya nyaman.
TUK
Angel terkejut saat kepala Fano bersandar pada bahunya, tapi kemudian Angel tersenyum kecil melihat wajah Fano yang sedang tertidur.
Fano yang terlihat polos dan manis.
Angel berpikir, andai dirinya cantik seperti gadis-gadis lain pasti Fano bisa jatuh cinta padanya. Angel sudah berusaha untuk menurunkan badan, segala upaya telah ia lakukan.. tapi hasilnya nihil. Malah, pernah Angel masuk rumah sakit gara-gara dia memaksakan diri untuk diet.
Entah mengapa, Angel pikir dia senang Fano waku itu jatuh dari tap gedung, karena dengan begitu dia bisa sedekat ini dengan Fano. Fano ternyata baik dan tidak menilainya buruk karena penampilannya seperti anak yang lainnya.
Tapi sekarang Angel takut.. bagaimana jika Fano sudah punya banyak teman? tadi dia melihat siswa lain memuji-muji kemampuan Fano bermain bola, sepertinya mereka sudah bisa menerima Fano.
Kalau Fano sudah punya banyak teman dan meninggalkannya bagaimana?
Bolehkan Angel egois dan menginginkan Fano untuk dirinya sendiri?
Tidak Angel, kau tidak pantas untuk Fano... dia terlalu tinggi untuk kau raih.
Haruskah Angel oprasi plastik seperti usulan sepupunya? Tapi Angel takut... bagaimana jika itu berbahaya?
Bel istirahat berbunyi dengan nyaring.
Fano kembali terbangun “Apa aku ketiduran? Berapa lama?” tanya Fano sambil mengusak matanya lalu menguap sebentar, tapi dia belum mengangkat kepalanya dari bahu Angel, karena nyaman dan empuk.
“Baru beberapa menit” jawab Angel
“Oh.. apa aku berat?”
“Tidak juga..”
“Apa bahumu pegal?”
“Tidak..”
Fano mengangkat kepalanya dari bahu Angel, membuat Angel merasa sedih, sebenarnya dia suka dengan posisi tadi.
“Aku membuatkan bekal makan siang, mau merasakannya?” tanya Fano
Mendengar itu Angel terlihat bahagia kembali “Sungguh? Mau!”
“Ayo kita ke kelas mengambil bekal”
Mereka beranjak dari sana untuk kembali ke gedung kelas, Fano berencana untuk mengajak teman barunya juga, Yoshi.
Namun setelah Fano dan Angel kembali ke kelas untuk mengambil kotak bekal yang Fano siapkan baru kemudian pergi ke kelas Yoshi di sebelah kelasnya... Fano bertanya pada anak kelas itu dimana Yoshi berada, tapi mereka malah menunjuk ke arah jendela.
Tanpa pikir panjang Fano segera mendekat ke jendela dan melihat keluar, ini ada di lantai tiga, jika melihat keluar jendela ada pemandangan taman belakang sekolah, ada beberapa anak yang sedang merundung seorang siswa, Yoshi ada disana melindungi siswa itu, jadinya Yoshi yang dipukuli.
[Kau mau membantu?]
‘Ijinkan aku memukul seseorang’
[Sekali pukul saja]
Fano mengedarkan pandangannya untuk
menemukan sesuatu yang bisa ia lemparkan, sampai kemudian dia menemukan sebuah
bola basket.
“Punya siapa bola itu?” tanya Fano
“Punya sekolah, kami belum mengembalikannya” jawab salah satu siswi, agaknya siswi ini mendekat pada Fano karena terpesona oleh ketampanan Fano.
Fano tidak terlalu mempedulikannya, dia meraih bola itu lalu membuka lebar-lebar jendela yang dapat dibuka.
Kemudian, tanpa ragu dia melempar bola ke arah para preman.
Anak-anak di kelas Yoshi bersorak saat bola itu tepat mengenai kepala salah satu preman.
Para preman itu bingung dan mencari-cari siapa yang melemparkan bola basket, tapi terlambat karena Fano sudah menutup jendela.
Sementara itu Yoshi dan anak yang dirundung juga sudah kabur.
[100 koin! Sekarang koinmu ada 1796!]
‘Tukar 4 koin dengan bathbomb mawar, 2 koin dengan ramuan penyembuh’
[Okay!]
Fano mengajak Angel untuk keluar dari kelasnya Yoshi untuk mencari Yoshi di taman.
“Fano sebenarnya dia siapa sih?” tanya Angel
“Kau tidak kenal Yoshi?” Fano balik bertanya
“Oh jadi dia yang kamu cari... kau mengenalnya?” Angel
“Kami satu apartemen”
“Jadi waktu itu kamu disana karena memang tinggal di apartemen itu ya?”
“Kamu pikir apa memangnya?”
“Aku tidak tau, aku tidak berani banyak berpikir...”
Fano menepuk-nepuk kepala Angel dengan lembut “Bagus.. jangan banyak memikirkan hal yang tidak perlu”
Sepanjang perjalanan banyak orang melihat pada mereka, sebagian karena iri melihat Angel bisa jalan dengan siswa tampan dan teladan seperti Fano.
Fano menemukan Yoshi dan siswa yang belum dia kenal di UKS, Fano sudah menyangka mereka berdua akan ada disana setelah kabur dari para preman itu.
“Fano? Kenapa kamu tau aku ada disini?” tanya Yoshi
“Fano yang melempar bola itu” sahut Angel
“Dia siapa? Kenapa kalian dipukuli?” tanya Fano, dia menarik kursi untuk duduk di depan siswa yang babak belur tersebut.
Tidak jauh berbeda dengan Yoshi, siswa ini adalah anak lelaki yang manis, tipe-tipe anak baik-baik yang lemah dan mudah ditindas.. tapi – Fano melihat ambisi yang kuat dalam mata anak ini. Seperti dia sebenarnya ingin melawan, tapi tidak bisa karena memang tubuhnya terlalu lemah.
Bocah yang menarik.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 207 Episodes
Comments
Mamat Stone
up
2024-10-25
0
Babah Gumilang
beli obat pelangsing tubuh di sistem fano buat temanya
2024-10-21
0
Harman Loke
seeeeemaaaaaaaaaangaaaaaaaaattt teruuuuuuuuuuuuuuuuuuuuusssssss Fano
2024-09-21
0