.
.
Pak kepala sekolah menatap murid-murid bandel sok preman di depannya ini dengan gusar, pasalnya mereka baru saja melapor jika salah satu murid beasiswa yang terkenal pendiam dan tidak pernah berbuat aneh telah memukuli mereka hingga babak belur.
Masalahnya, penampilan mereka juga cukup mendukung, beberapa bagian seragam terdapat darah seolah seperti telah dicambuk menggunakan ikat pinggang, persis seperti tuduhan mereka.
“Kalian yakin kalian tidak berbohong kan? aku sudah menelfon orangtua kalian ini” kata pak kepala sekolah lagi, untuk yang kedua kalinya sekarang.
“Yakin pak, Farelino memukuli kami lalu setelahnya mencambuk kami dengan ikat pinggang, bapak bisa lihat sendiri bukti nyata ini” Andy menunjukkan seragamnya yang sedikit robek dan terdapat noda merah-merah seperti darah.
“Orangtua kami harus tau ini pak, agar dia dicabut beasiswanya dan dikeluarkan dari sekolah ini” sahut Indra.
Pak kepala sekolah menghela nafas berat, sulit dipercaya pemuda baik, sopan-santun, serta pandai seperti Farelino bisa melakukan hal sekeji tuduhan bocah-bocah bandel ini.
Kemudian suara pintu terbuka terdengar nyaring, seorang guru olah raga datang membawakan siswa yang menjadi tertuduh.
Siapa lagi jika bukan Fano?
“Ada apa pak kepala sekolah memanggil saya?” tanya Fano dengan bahasanya yang santun dan enak didengar, apalagi senyuman manis yang ramah itu. Masa sih anak seperti ini bisa memukuli bocah-bocah preman? Tidak bisa dipercaya.
“Duduklah disana nak Farel, oh iya itu.. walinya nank Farel tidak bisa dihubungi kenapa ya?” tanya pak kepala sekolah
Fano memasang wajah sedihnya “Oh itu.. karena saya sudah hampir 18 tahun saya disuruh pergi agar bisa jadi mandiri” kata Fano.
Sontak pak kepsek dan guru olah raga jadi kasihan mendengarnya, bagaimana tidak? Baru saja hari ini Fano bisa sekolah setelah kejadian Fano jatuh dari atap gedung, dan hari ini pula Fano mengatakan dia telah diusir? Apa keluarga pamannya itu tidak punya belas kasih?
“Tentu saja dia diusir, dia sangat jahat seperti monster” kata Indra
“Ehem tidak ada yang menyuruhmu menyahut, ayo yang sopan ya” pak kepsek merasa ini tidak benar, pasti Fano lagi-lagi diganggu oleh mereka, tapi bukankah ini sudah keterlaluan? Pak kepsek tidak bisa terus-terusan diam membiarkan Fano yang lemah tak berdaya diperlalukan tidak adil.
Kalau kebenarannya terungkap dan Fano tidak bersalah citra kepala sekolah dan sekolah ini juga jadi buruk.
Tidak lama kemudian orangtua dari Andy, Indra, Zion dan Rano sampai di ruangan kepala sekolah. Mereka menuntut penjelasan kenapa mereka dipanggil padahal mereka sedang sibuk-sibuknya.
Kemudian keempat berandal itu menyuarakan tuduhannya pada Fano tentang mereka yang dipukuli dan juga dicambuk dengan ikat pinggang.
Ayahnya Andy terlihat sangat marah dan tidak terima.
“Berani-beraninya kau melakukan hal itu pada putraku!”
“Pak pak.. tenang dulu, kita belum mendengar ceritanya dari sudut pandang nak Farel” kata pak kepsek menengahi
“Tapi sudah jelas-jelas mereka berdarah-darah seperti ini kan!” sahut Ibu dari Zion.
“Mohon tenang ya bapak dan ibu, kita juga ingin masalah ini cepat terselesaikan” pak guru olah raga tampan ikut menengahi, jadi ibunya Zion kembali tenang.
“Ayo nak Farel bisa bercerita” kata pak kepsek
“Saya.. saya minta maaf” kata Fano
Keempat berandal tersebut menyeringai merasa sudah menang.
“Berarti kamu memang memukul anakku!” Ayahnya Indra yang merupakan manager di sebuah perusahaan besar mulai tersulut emosi.
“Pak tolong dengarkan nak Farel dulu... lihat dia ketakutan sekarang” kata pak guru plah raga tampan, ayahnya Indra pun kembali tenang meski masih emosi.
Fano yang gemetaran terlihat susah untuk bicara, pak kepala sekolah dan pak guru menenangkannya agar bisa bicara dengan baik.
“Saya.. maaf – ini semua salah saya, saya tidak tau apa salah saya selama ini tapi mereka selalu menganggu saya dan teman-teman yang lain, lalu tiba-tiba kemarin salah satu dari mereka mendorong saya hingga saya hampir sekarat.. hiks maafkan saya, karena saya selamat mereka jadi takut saya akan mengadu dan membuat-buat tuduhan ini untuk mengeluarkan saya... hiks” pak guru olah raga menenangkan Fano yang terlihat begitu sedih.
Mendengar pengakuan Fano yang sangat dramatis terlihat sangat alami tidak dibuat-buat membuat para orangtua shock.
“Tidak.. tidak mungkin anakku melakukan semua itu” kata ayahnya Andy tidak percaya.
“Ini semua catatan kenakalan anak kalian” pak kepala sekolah memperlihatkan daftar kenakalan yang seperti tidak ada habisnya.
Tidak hanya orangtua yang shock, keempat berandal itu juga shock, mereka tau setelah ini mereka akan habis oleh orangtua mereka.
Terutama Andy, dia sangat ketakutan.. ayahnya sangat seram saat marah dan ayahnya selalu menjaga reputasi keluarga mereka.
“Tapi.. dia tidak terlihat habis jatuh” kata Ibu dari Rano
“Kalian ingin melihat hasil pemeriksaan dari rumah sakit?” tanya pak kepsek.
“Ini bisa selesai dengan damai kan?” tanya ayahnya Andy, dia terlihat sudah tenang, padahal dia sangat panik “Anak saya tidak akan dikeluarkan bukan?” tambahnya.
“Kalau nak Farel mau berdamai mereka hanya akan siskors, ya kan nak Farel?” tanya pak kepala sekolah.
Tiba-tiba Fano menangis lagi, membuat seisi ruangan kembali panik.
“Mereka akan diskors.. gara-gara aku.. hiks aku.. aku jahat sekali.. hiks” Fano terus menangis sambil memeluk lengan pak guru olah raga.
“Aduh, kasihan nak Farel... tolong bawa dia ke UKS” pinta pak kepsek
“Saya akan membawanya ke UKS, ayo Farel..”
Pak guru olah raga membawa Fano pergi dari sana, tapi sebelum benar-benar pergi Fano sempat melirik pada Andy, Indra dan yang lain sambil menyeringai.
Kini mereka tau mereka tidak bisa berkutik, Fano terlalu licik dan bermain playing victim! Padahal jelas-jelas dia telah memukuli mereka dan mencambuk... oh?
“Dia berbohong ayah! Lihat ini badanku penuh bekas luka” kata Andy
“Oh benar! Itu bisa jadi bukti jika anakku tidak bersalah, sekarang tunjukkan lukanya Andy”
Kemudian Andy dan yang lain melepas kemeja mereka untuk memperlihatkan memar yang ada di punggung mereka agar semuanya tau mereka tidak berbohong.
PLAK
Ayahnya Andy memukul punggung putranya kesal
“Ayah kenapa – ”
“Masih tanya kenapa?! Punggungmu baik-baik saja dan mulus apanya yang habis dicambuk hah?! Sampai rumah ayah akan menghukummu Andy”
“Ayah..”
“DIAM!”
Andy tidak mengerti, bagaimana bisa bekas luka mereka menghilang begitu saja?
***
Fano dan pak guru sudah sampai di UKS.
“Bu guru penjaga UKSnya sedang membeli beberapa obat, tidak apa kamu istirahat disini sendiri?” tanya pak guru.
Fano mengangguk pelan “Tidak apa, saya bisa sendiri”
“Harusnya jika kamu diganggu, kamu lapor pada guru atau yang lain jangan diam saja.. kau tau ayahnya Andy memiliki banyak uang, dia bisa saja melakukan sesuatu jika yang lain tidak tau” kata pak guru
“Saya mengerti pak, tapi saya terlalu takut dan tidak berani, mereka mengancam saya”
“Kasihan sekali kamu, mana pamanmu tidak peduli padamu lagi... eh? Tapi kau tinggal dimana jika tidak bersama mereka?”
Fano tersenyum kecil “Sebenarnya selama ini saya menabung pak, jadi bapak tidak perlu khawatir, saya sudah punya tempat tinggal”
“Jika mengalami kesusahan coba berceritalah mungkin kami bisa membantu, bapak tinggal dulu ya, kamu istirahat”
Setelah itu pak guru pun pergi meninggalkan Fano sendirian di UKS.
Fano terkekeh mengingat kejadian konyol di ruang kepala sekolah tadi “Ahahaha aktingku bagus sekali.. ahaha mereka terlihat pucat! Ahahaha aku puas seka – tidak! Aku tidak puas”
[Apa lagi rencanamu?]
Fano menyeringai “Tentu saja ada, jangan khawatir sudah dulu, aku akan pura-pura tidur”
[Oh?]
Fano pun berbaring di ranjang UKS, ternyata cukup empuk... cukup, sebenarnya tergolong keras jika dibandingkan ranjang di apartemen Fano, tapi tergolong empuk jika dibandingkan dengan ranjang Fano di rumah pamannya.
[Memang siapa yang akan datang?]
‘Serius kau tidak tau? Padahal sistem’
[Kau ini –]
‘Ssshh’
Benar saja, pintu UKS terbuka, Ayahnya Andy dan Andy datang pada Fano, Fano pura-pura terpaksa bangun.
“Ada apa Andy dan ayahnya kemari?” tanya Fano kembali pura-pura seperti bocah polos tanpa dosa.
“Kamu Farelino kan? saya sebagai ayahnya Andy minta maaf dengan kejadian ini, mohon jangan memperpanjang tentang yang kamu jatuh itu – maksud saya.. kan kamu tidak kenapa-napa sekarang, mohon pengertiannya nak Farel” kata ayahnya Andy dengan nada memelas, meski Fano tau itu tidak terlalu tulus tapi Fano tidak peduli.
Yang Fano pedulikan, orang itu harus menjalankan apa yang ia inginkan.
Fano tersenyum “Tidak apa paman, saya memaafkan Andy kok”
Ayahnya Andy terlihat senang, beda dengan Andy yang tidak percaya dengan perubahan sikap Fano. Dia tidak seperti Fano yang sebelumnya... yang ini adalah iblis, tidak mungkin Fano seperti ini.
Andy mulai menyesali perbuatannya, sepertinya benar karma itu berlaku, kini dia ada di bawah Fano dan harus memohon-mohon untuk meminta belas kasihannya, bahkan ayahnya saja memohon pada Fano.
Miris sekali..
“Nak Farelino yakin?”
Fano masih tetap tersenyum “Yakin.. kan yang mendorongku bukan Andy, tapi Indra”
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 207 Episodes
Comments
The Scorpion's
ngakak cukk wkwkwkkwk
2025-02-02
0
Mamat Stone
luar biasa 👍👍👍
2024-10-25
0
Harman Loke
mantaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaappppp
2024-09-21
0