.
.
Senyuman lebar tidak berhenti tersungging di wajah Fano, bagaimana tidak? Hadiah motor dan mobil dari sistem benar-benar datang, ada di parkiran khusus yang memang disediakan apartemen untuknya.
Motornya warna hitam dengan aksen merah sedangkan mobilnya berwarna merah, Fano merasa puas karena hadiahnya sesuai keinginannya malah melebihi ekspektasi.
Mana dia tau jika hadiahnya sungguhan begini? Mungkin dia terlalu meremehkan sistem.
[Untuk surat ijin dan keahlian mengemudi bisa kau dapatkan juga]
“Oh sungguh? Kalau begitu aku mau” sahut Fano antusias
[150 koin dikeluarkan untuk membeli surat-surat ijin mengemudi dan keahlian mengemudi]
[Sekarang sisa koinmu ada 1100 koin]
“150 banyak banget!”
[Kau bilang kau mau tadi]
Fano berdecak malas, lalu dia berbalik untuk kembali ke apartemennya, sistemnya sangat menyebalkan, sudah seperti ibu tiri.
[Hah?]
‘Jangan intip pikiranku juga!’
[Hmm]
Fano keluar dari lift, dia tinggal berjalan beberapa langkah lagi untuk menuju apartemennya, tapi perhatiannya teralihkan pada seorang wanita yang sedang bertengkar hebat dengan seorang pria.
Bukan urusannya sih, Fano tidak peduli juga.
[Hei]
‘Tidak tidak! Jangan beri aku misi lagi’
[Hanya membantu wanita itu saja kok, aku akan memberi 400 koin, jadi koinmu nanti akan jadi 1500 bagaimana?]
‘Gak mau’
[Hukumannya adalah membebaskan diri dari kolam penuh buaya]
Fano berhenti berjalan, kemudian menoleh pada pria dan wanita yang bertengkar itu. Mau tidak mau dia harus ikut campur urusan orang dan membantu wanita itu.
Entah apa yang mereka pertengkarkan, tapi saat Fano sudah dekat pria itu mengangkat tangannya hendak memukul kepala wanita itu. Dengan sigap Fano menangkapnya lalu menahan lengan pria itu sambil mencengkramnya kuat.
“Siapa kau kenapa ikut campur hah?!” teriak pria itu
“Aku penghuni apartemen sini dan aku terganggu dengan kelakuanmu, kau ini pria macam apa mau memukul wanita?!” kata Fano sekenanya.
“Kau tidak tau apa-apa!” sahut pria itu, dia ingin melepaskan tangannya dari cengkraman Fano tapi dia tidak bisa, Fano sangat kuat saat ini.
“Mantan suamiku ingin membawa putraku pergi bersamanya.. aku tidak sudi anakku diasuh oleh wanita jal*ng itu!” sahut si wanita.
“KAU! Hei! Lepaskan aku!” pria itu masih berusaha melepaskan diri tapi Fano tetap lebih kuat tak tergoyahkan.
“Siapa yang memenangkan hak mengasuh anak, nyonya?” tanya Fano
“Tentu saja aku, kita saja cerai karena dia selingkuh!” kata wanita itu
“Dimana anak anda?” tanya Fano “Kita harus menghargai pendapat anak juga” lanjut Fano
[Oh, kau boleh juga]
‘Ssstt!’
Fano melepas tangan pria itu, lalu si wanita pergi ke dalam untuk menemui putranya.
Fano pikir putra yang dimaksud itu masih kecil, paling bear SMP lah.. eh, ternyata sudah besar. Fano yakin pernah melihat wajahnya itu di sekolah, dia juga masih mengenakan seragam yang sama dengan yang Fano kenakan.
Tapi, anak itu adalah tipe-tipe anak manis polos dan culun.
Iya, ada ingatan Fano asli tentang anak ini... mereka pernah dibully secara bersamaan. Anak itu juga terkejut melihat Fano ada disana.
“Kau memilih ibumu atau ayahmu” tanya Fano to the point
“Eh? It.. itu... mama..” ucap anak itu.
“Kau harus ikut denganku Yoshi!” sambar si pria.
“Hak asuh dimenangkan nyonya ini, dan putra anda juga tidak ingin mengikuti anda, sebaiknya anda menyerah dan pergi dari sini sebelum saya laporkan pad –”
BUGH
“PAPA HENTIKAN!!”
Ucapan Fano tidak selesai karena pria itu tiba-tiba memukul Fano dengan keras hingga Fano yang tidak siap terhuyung ke belakang.
‘Sial! Ijinkan aku memukul balik!’
[Satu pukulan untuk satu pukulan]
Fano menyeringai, sistem yang pengertian.
Fano tanpa pikir panjang memukul balik tepat diperutnya hingga pria itu tidak berkutik.
“Maaf telah memukul ayah dan mantan suami anda, cepat lapor satpam untuk mengusirnya” kata Fano
“Baik.. tapi, kamu gak apa-apa nak?”
Fano mencoba untuk tersenyum “Tidak apa nyonya, saya baik-baik saja”
***
Menurut Fano berbuat baik itu akan berdampak, seperti jika kau berbuat buruk.. itu akan mengantar kita pada perbuatan buruk yang lainnya.
Berbuat baik juga begitu, akan mengantar kita pada perbuatan baik berikutnya, juga akan membuat orang yang ditolong jadi beralih baik pada kita.
Tapi.. bukankah itu bagus?
Bagi orang lain mungkin bagus, tapi berbuat baik dan beramah-tamah dengan orang lain sejujurnya mengganggu bagi Fano. Itu hanya... eum – merepotkan?
Tidak apa jika itu dengan orang yang sekali-kali Fano lihat.. tapi ini tetangganya, satu gedung apartemen pula.
Apalagi, Fano tidak bisa berbuat seenaknya, dia harus baik, ramah, sopan santun, berbicara dengan baik, murah senyum... itu adalah hal paling merepotkan bagi Fano.
Iya, dia memang tidak tulus melakukan semua ini.
Kenapa?
Kalian mau protes?
“Apa makanannya tidak enak?” tanya wanita yang Fano tolong, namanya Nia. Nia sangat berterima kasih karena Fano membantunya mengusir mantan suaminya. Setelah satpam datang untuk mengusir pria keturunan Jepang itu, Nia mengundang Fano untuk makan malam dengan mereka.
Apalagi.. Yoshi, anak dari Nia yang seumuran dengan Fano, mengenal Fano. Nia sudah berpikir mereka berdua teman. Nia senang sekali karena putranya punya teman.
Fano? Dia hanya senyum-senyum saja padahal dalam hati dia sudah berteriak kesal.
Sudahlah Fano, terima takdirmu.. kau harus menjadi baik demi ibumu, ingat itu! Jadilah anak baik dan berteman dengan anak baik seperti Yoshi.
[Haha]
‘Diam kau!’
“Bukan begitu bu Nia, saya baru kali ini memakan masakan Jepang, ternyata enak sekali” kata Fano asal, tapi dia memang tidak pernah memakan masakan Jepang.
“Yoshi sangat menyukai masakan Jepang, karena kami dulunya tinggal di Jepang sampai Yoshi berumur 13 tahun, tapi kemudian mantan suamiku selingkuh, kami pun bercerai dan kami pindah ke tempat asalku.. disini” cerita Nia.
Di atas meja makan terdapat banyak sekali makanan khas Jepang, seperti nabe, udang goreng tepung, lalu... sashimi? Fano tidak tau itu daging ikan apa, yang pasti itu sashimi dan rasanya enak.
“Pasti berat ya harus berpisah” kata Fano, lagi-lagi asal, tapi karena Fano yang asli pandai berbicara jadi ya nyambung saja.
“Iya sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi... kebahagiaan putraku lebih utama”
Fano menoleh pada Yoshi yang hanya makan sambil diam, dia tidak banyak bicara, dia sesekali juga menoleh pada Fano seakan ada yang ingin dia bicarakan tapi tidak berani.
“Apa kalian teman baik di sekolah?” tanya Nia lagi.
Fano menggeleng pelan “Tidak juga bu, saya anak yang pendiam dan penyendiri jadi ya... tidak bisa akrab dengan teman lain” kata Fano
“Sama kalau begitu dengan Yoshi, kalian berteman dengan baik ya” pinta Nia.
[Kalau kau berteman dengan Yoshi –]
‘Apalagi?’
[Aku hanya ingin bilang dia anak yang baik, kau mungkin bisa ketularan baik jika bersama orang baik juga!]
‘Oh, aku pikir kau akan memberiku koin jika mau berteman dengannya’
[Tidak mau!]
‘Pelit!’
[Tapi kau bisa cepat naik level jika berteman dengannya]
‘Oh, level sistem?’
[Iya]
‘Hehe’
[Dasar!]
‘Apa?’
Yoshi mengernyitkan dahi melihat Fano yang diam saja tapi terlihat sedang membayangkan sesuatu yang aneh.
Fano jadi sangat aneh sejak jatuh dari atap gedung.. tapi lebih aneh lagi karena dia bisa selamat seperti itu dan tidak mati.
Kemudian Fano juga menatap Yoshi, melihat Yoshi yang menatapnya dengan tatapan aneh Fano jadi merasa... aneh?
Oh iya, Yoshi laki-laki ya, kalian jangan berpikiran aneh.
Setelah makan malam, Nia meminta Yoshi untuk menemani Fano.
Jadilah mereka berdua bersama mengerjakan PR, tapi di apartemen Fano kali ini.
Rasa canggung mendadak terasa memenuhi seluruh apartemen ini.
Fano tidak suka ini.
Baiklah dia akan berteman dengan Yoshi.. ini akan jadi sangat sulit, karena Yoshi sangat pendiam.
“Hei.. Yo.. Yoshi?” panggil Fano
Yoshi menoleh pada Fano, menatap Fano dengan mata bulat kecilnya yang lucu. Sebenarnya Yoshi ini tampan, tapi lebih dominan manis dan imut.. seperti adik laki-laki yang menggemaskan dan manja tapi juga merepotkan. Hanya saja Yoshi sangat pendiam.
Menurut Fano, Yoshi mirip anak kucing.
Fano tidak suka sesuatu yang terlihat baik seperti ini, ingin ia hancurkan dan rusak...
Tapi tentu saja dia tidak bisa, apalagi Yoshi bukan boneka tapi makhluk hidup. Kalau boneka mungkin sudah dari tadi Fano pukuli hingga puas.
“Kenapa?” tanya Yoshi, dia terlihat agak was-was dan sedikit menjaga jarak dengan Fano.
“Tidak, itu.. mau jadi temanku?”
“Hah?”
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 207 Episodes
Comments
Mamat Stone
semoga aja MCX Menjadi Mafia Budiman 🤭
2024-10-25
0
Harman Loke
Fano jangan selalu bertengkar dengan sistem
2024-09-21
0
Inyoman Raka
berbuat baik itu susah,tapi pano bebuat baik dibayarrrr kan bisa jadi ya
2024-05-30
3