.
.
“Kau tidak punya bukti untuk menuduhku dasar cupu!”
Fano menyeringai semakin lebar “Aku.. tidak menuduh siapapun, apa aku menyebutkan namamu? Tidak kan?”
Menyadari hal itu Indra merasa tertipu, dengan segenap kekuatannya yang masih tersisa dia meraih kerah seragam Fano “Sialan!”
Dengan sekali hentak Fano berhasil menyingkirkan tangan Indra dari seragamnya “Ini masih peringatan pertama, kalian beruntung aku ‘sangat baik’ jadi aku tidak berbuat apapun pada kalian tapi – jika kalian berani macam-macam denganku lagi, aku tidak akan segan-segan melaporkan perbuatan kalian hingga kalian menghabiskan sisa umur kalian di jeruji besi”
“Kau tidak akan bisa melakukannya, ayahku tidak akan membiarkan itu terjadi!” kata Indra
Fano hanya mendengus saja memberikan sesuatu pada mereka “Minum ini”
“Aku tidak sudi!” kata Andy
Fano tertawa keras sebelum kemudian mengeluarkan sesuatu yang berhasil membuat mereka bungkam, sebuah belati kecildari saku celananya.
“Minum.. atau pisau ini akan menggores kulit kalian”
***
[Hei]
[Fano]
‘Diam!’
...--*--...
...MISI PENTING!...
...Membuat para perundung kapok dan minimal mendapatkan skors dari kepala sekolah, kalau bisa dikeluarkan dari sekolah terutama Indra (Karena dia yang mencelakai Fano)...
...Hadiah: 260 koin dan motor sport keren...
...--*--...
Ayolah ini sudah jam pelajaran dan sistem terus saja muncul menunjukkan misi penting itu pada Fano sampai membuat Fano tidak bisa konsentrasi pada pelajaran bahasa Inggris yang untungnya sangat mudah tersebut.
‘Apa maumu sistem?’
[Kau harus mengerjakan misi ini]
‘Aku sudah melihat misi itu penting, sekarang bisakah kau tidak menggangguku?’
[Lagipula kau hanya melamun]
‘Aku sudah punya rencana yang bagus, percaya saja padaku’
[Pada penjahat sepertimu?]
‘OY!’
[Apa aku salah?]
‘Tidak!’
[Jika kau menyelesaikan misi ini kau bisa naik level dua]
‘Keuntungan naik level dua?’
[Banyak kok, salah satunya kau bisa membeli berbagai barang baru di toko sistem]
‘Oh’
[Yang semangat dikit dong!]
Fano tidak mau menggubris sistem lagi, jam istirahat sudah berdering, jadi dia membereskan buku-buku pelajarannya dan bersiap untuk makan diang di kantin.
Hmm? Ingatan pemilik tubuh asli muncul, Fano sangat membenci makan di kantin, karena para pengganggu sering mempermalukannya di kantin dan lagipula kantin sangat ramai.
‘Kasihan sekali pemilik tubuh ini’
[Aku tidak yakin kau sungguhan merasa kasihan pada seseorang]
‘Jangan bercanda! Aku tau aku tidak pernah mengasihani orang lain, tapi sekarang sudah berbeda kasusnya, orang yang aku kasihani adalah diriku sendiri saat ini’
[Benar juga]
[Kau harus menyetujui misi penting tadi]
‘Iya iya cerewet’
“Fano..”
Fano mendongak, Angel sudah berdiri di sampingnya sambil membawa kotak bekal yang cukup besar “Iya?”
“Itu.. mau makan bersamaku?”
Lagipula Fano tidak punya teman kok “Baiklah, kau biasa makan dimana?”
“Tempat sepi” jawab Angel
“Benar.. mau makan di atap? Disana sepi” tawar Fano
Angel agak terkejut dengan saran Fano barusan “Tapi.. disana kan – itu.. ada hantunya”
Sontak Fano tertawa keras mendengar ucapan Angel barusan, hingga Angel dan beberapa anak kelas kaget dengan suara tawa Fano.
“Hahah.. kau sungguh percaya disana ada hantunya? Hahaha lucu sekali –disana tidak ada hantu, ayo kalau tidak percaya kita buktikan”
“Tapi Fano..”
Fano menyeret Angel menuju atap yang Angel pikir berhantu tersebut.
Fano mengingat tempat sepi di atap, memang jarang didatangi para siswa-siswi dan disana juga menjadi tempat meja kursi yang tidak terpakai serta benda-benda tak dipakai lainnya.
Banyak yang mengira atap berhantu, padahal tidak ada apa-apa disana, karena Fano yang asli sering sembunyi disana.
Oh iya, atap gedung tempat Fano yang asli terjatuh itu bukan di atap tempat tujuan mereka, itu adalah atap gedung satunya yang lebih sering dikunjungi para siswa terutama siswa yang suka membolos.
Mereka sampai di atap, sangat sepi, sunyi..
Tidak aneh jika banyak yang berpikir tempat ini berhantu.
“Kau takut hantu ya?” tanya Fano
Angel mengangguk pelan, Fano tertawa lagi “Haha tenang saja, para hantu takut padaku kok, mereka tidak akan menakut-nakuti kita”
“Jadi sungguhan ada hantu?”
“Tentu saja tidak”
Angel mulai tenang kembali “Syukurlah kalau begitu.. Fano, ayo kita makan..”
“Kau mau membagi makananmu denganku?”
tanya Fano
Angel mengangguk “Iya! Ini aku membawa porsi yang banyak sekali”
Sebenarnya itu tidak seberapa banyak, Fano tidak yakin Angel bisa membagi makanan itu dengannya.
“Apa kau pikir aku banyak makan jadi bekal ini tidak cukup?”
Ah, sial! Kenapa Angel bisa menebaknya dengan benar ya?
“Sebenarnya aku tidak banyak makan kok” kata Angel lagi, Fano menatap Angel tidak percaya sampai kemuudian Angel melanjutkan “Tapi banyak nyemil”
“Pantesan!”
“Hehe ayo kita makan!”
Mereka duduk di meja kayu yang paling kokoh, berbagi bekal sambil menatapi pemandangan indah dari atap gedung.
“Fano..”
“Hmm?”
“Kau tidak takut berada di atap?”
Fano menoleh menatap Angel tidak mengerti “Maksudmu? Kenapa aku harus takut?”
“Karena kau – itu.. jatuh dari atap juga kan?”
Fano terkekeh mendengar pertanyaan Angel “Jadi maksudmu karena itu aku jadi trauma?” tanya Fano, Angel mengangguk pelan “Hmm”
“Tidak, aku tidak selemah itu”
“Kau tidak punya trauma?”
Fano berpikir, apakah dia memiliki trauma?
“Menurutku, takut pada sesuatu bukan berarti kau lemah.. takut pada sesuatu akan membuatmu menjadi kuat nantinya” kata Angel.
Fano tidak mengerti maksud Angel, karena menurutnya jika takut pada sesuatu berarti dia lemah bukan? Takut berarti pecundang dan payah.
“Aku tidak mengerti Angel”
“Begini.. eum – misalnya aku takut jika nilaiku buruk, apa itu berarti aku lemah dalam pelajaran? Tidak tentu bukan? Dengan aku takut pada nilaiku buruk, aku menjadikan itu pijakan agar aku terus berusaha dan berusaha untuk menghindari nilai buruk dan mendapatkan nilai yang bagus – apa kau mengerti? Apa penjelasanku bertele-tele? Maaf Fano..” Angel menundukkan kepalanya, sepertinya dia terlalu banyak bicara.
Hanya karena Fano mau menemaninya bukan berarti Fano akan mendengarkan omong kosong yang ia ucapkan.
“Kau orang yang berpikiran postif.. jauh berbeda dariku” kata Fano, Angel kembali mendongakkan kepalanya, menatap pada wajah tampan Fano yang sedang menatap langit.
“Aku orang yang berpikiran buruk, selalu mencurigai orang, tidak mau memaafkan atau memberi kesempatan pada orang, aku orang yang keras dan –” Fano menghentikan ucapannya saat ia merendahkan kepalanya dan matanya bertemu dengan kedua mata jernih milik Angel.
“Tidak apa jika kita berbeda, berbeda bukan berarti buruk kan? berbeda artinya kita bisa saling melengkapi – oh, maksudku.. itu..”
“Kau mau melengkapiku?”
Angel kembali menoleh pada Fano, bola matanya membesar, tidak percaya dengan apa yang barusan Fano ucapkan, tidak mungkin Fano juga menyu –
“Mau menjadi temanku Angel?”
Oh tentu saja, Fano pasti hanya menganggap Angel sebagai teman, gadis gendut dan jelek sepertinya tidak mungkin bisa disukai seseorang seperti Fano.
Angel menarik bibirnya untuk tersenyum “Tentu saja”
“Ngomong-ngomong, apa kau yang memasak sendiri? Atau koki di rumahmu? Ini sangat enak” kata Fano, dia memakan telur gulung isi sosis dari kotak bekal miliki Angel.
“Maaf aku tidak bisa memasak, ini buatan koki di rumahku” kata Angel
“Kenapa kau minta maaf? Kau tidak bersalah – tidak semua orang bisa memasak, jangan khawatir.. aku bisa memasak”
Angel menatap Fano tidak percaya.
“Angel, tatapanmu seolah kau tidak percaya padaku!”
“Memang”
“Cih, lain kali akan ku tunjukkan masakanku padamu”
Angel tersenyum “aku akan menantikannya”
“Sebutkan makanan kesukaanmu, aku akan menyiapkannya” kata Fano dengan percaya diri
“Aku suka seafood”
“Itu mudah”
Obrolan mereka berhenti saat tiba-tiba suara nyaring pemberitahuan lewat speaker menyebutkan nama Fano.
“Itu namamu, Farelino! Kenapa kau diminta ke ruang kepala sekolah?”
Fano juga tidak tau tapi... hmm – tidak, sepertinya dia tau apa itu.
Seringai kembali tercetak di bibirnya “Aku akan kesana”
“Kau yakin?” tanya Angel, dia kembali terlihat khawatir seperti saat tadi pagi Fano dibawa pergi oleh preman sekolah.
“Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja, justru kau yang harus jaga diri, cepat kembali ke kelas – meski kelas tidak aman juga sih..”
“Jangan pikirkan aku, cepat ke ruang kepala sekolah”
Fano mengangguk “Aku pergi dulu” ucapnya sebelum melahap telur gulung terakhir.
Fano berjalan menjauh dari tempat itu dengan wajah sumringah, dia tau hal baik akan terjadi.
‘Kena kalian’
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 207 Episodes
Comments
Mamat Stone
👌👌👌
2024-10-25
0
Ahmad Tamby
/Good/ Mantaaaaap * Sehat Wal'afiat Selalu Thooor & Sukseees Menyrtaimuuuu./Heart//Heart//Heart/
2024-09-26
1
Harman Loke
lanjuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuttttttt
2024-09-21
0