.
.
Mungkin karena sistem sudah memperkirakan semuanya, jadi sekolah Fano sebenarnya tidak terlalu jauh dari gedung apartemen, Fano hanya perlu berjalan 30 menit saja sudah sampai di tempat.
Fano sudah biasa jalan kaki kemana pun, jika tempat yang ingin ia datangi sangat jauh baru dia akan menaiki angkot atau ojek atau kendaraan lain. Tapi selama dia bisa jalan kaki, dia lebih memilih jalan kaki.
Karena itulah, meski tubuh Fano tergolong kurus dan lemah, ototnya pun kecil, tetapi kaki Fano cukup kokoh dan kuat.
Saat Fano berjalan memasuki gerbang sekolah, seluruh pasang mata tertuju padanya, Fano tidak mengerti karena apa mereka memandanginya seperti itu, karena ada banyak kemungkinan seperti..
Mereka menatapi Fano seperti itu setelah apa yang terjadi padanya dia malah masih hidup segar bugar sehat, padahal Fano jatuhnya dari atap gedung lho, gedung! Bukan dari atas meja!
Manusia biasa pasti sudah remuk dan tidak tertolong.
Atau.. bisa juga mereka menatap Fano seperti itu karena heran melihat Fano datang ke sekolah dengan dandanan rapi, bersih, wangi, tidak kumal, memakai tas dan sepatu mahal.. selain itu, Fano juga memakai jaket yang juga mahal.
Fano yang terkenal miskin dan mau melakukan apapun demi uang termasuk mencurangi guru dengan membuatkan tugas orang lain, sekarang tiba-tiba masuk sekolah dengan penampilan luar biasa begitu, kan aneh!
Atau..
Mereka menatap Fano seperti itu hanya karena terpesona, mau bagaimana lagi, Fano sangat tampan memang. Tidak aneh jika para perempuan meliriknya.
“Fano!”
Fano berhenti lalu berbalik setelah mendengar panggilan familiar tersebut, Angel yang memanggil namanya, dia tersenyum pada Fano lalu berlarian menghampiri Fano.
“Kau baru datang?” tanya Fano
“Iya, kau juga..” Angel bingung harus mengatakan apa, dia sangat gugup berada di samping Fano, apalagi Fano sangat tampan hari ini – tidak dia memang selalu tampan.
“Ayo jalan, tunjukkan dimana kelas kita” kata
Fano
“Kau sudah melupakan keberadaan kelas kita?” tanya Angel bingung, okelah Fano tidak mengenal teman-teman sekelasnya termasuk Angel karena Fano memang penyendiri dan tidak pedulian, tapi jadi aneh sekali jika Fano ikut melupakan keberadaan kelas.
“Aku samar-samar masih ingat, tapi daripada tersesat, aku tidak ingin tersesat dan mempermalukan diriku sendiri” jawab Fano
Angel terkekeh mendengarnya, suara tawa Angel merdu sekali, Fano tidak bohong.. Angel sangat cocok menjadi penyanyi. Setidaknya itu menurut Fano.
“Fano ada-ada saja..”
“Apa ada PR?” tanya Fano
“Tidak, tapi untuk besok sepertinya ada, aku akan memberitahumu semua PR nanti”
“Tolong ya, jika aku tidak mengerti aku juga akan minta bantuanmu lagi” kata Fano, Angel terkekeh lagi.
“Aneh sekali Fano yang paling pintar di kelas meminta bantuanku, tapi aku akan membantumu Fano”
“Tolong ya”
[Apa ini.. kau sudah mengucapkan kata ‘tolong’ dua kali]
‘Diamlah, kau berisik!’
[Heh]
Tidak mengatakan tolong salah, mengatakan tolong juga dibilang tumben.. maunya apa sistem satu ini, serba salah sekali.
Tanpa terasa mereka sudah sampai di dalam kelas.
Cibiran dan hinaan terdengar sangat nyaring disini, Fano harus menenangkan dirinya agar tidak meledak.
“Ciyee couple yang cocok sekali”
“Yang satu gendut yang satunya miskin, cocok banget deh”
“Kok dia gak mati ya? Kayak kucing aja nyawanya banyak”
Dan kata-kata memuakkan lain yang serupa, Fano tak mau terlalu mendengarkan mereka.
“Heh culun! Kemari sini, ikut kami sekarang”
Fano menyeringai dalam hati, jadi cecunguk ini yang selalu mengganggu Fano, Angel dan anak-anak lain yang tidak bersalah?
Kalian tau hama bukan?
Hama biasanya harus dibasmi, dan orang-orang seperti mereka adalah hama.
Harus segera dibasmi.
Fano pun tanpa ragu mengikuti mereka, tapi sebuah tangan menahannya, Angel menggelengkan kepalanya memohon agar Fano tidak menuruti mereka.
Fano melepaskan tangan Angel dengan lembut lalu tersenyum, sebenarnya menyeringai tapi Angel melihatnya sebagai senyuman yang tampan.
“Jangan khawatir, aku bisa menangani ini” setelahnya Fano keluar mengikut preman-preman kecil itu. Meninggalkan Angel yang terlihat sangat khawatir.
DUK
Sebuah penghapus terlempar hingga mengenai kepala Angel, untungnya Angel tidak terlalu merasa sakit.
“Gak usah sok dramatis dan romantis deh! Jijik liatnya!” teriak seorang perempuan, dia perempuan yang sama dengan yang kemarin bertemu di tempat membeli seragam, Vero.
Meski Fano miskin dan sebagainya, tidak bisa dipungkiri Fano adalah salah satu siswa tertampan di sekolah ini, dia pun sangat pintar hingga mendapat beasiswa. Meski para perempuan sering mengejek Fano, tetap saja ada rasa suka dan rasa cemburu melihat Angel si gendut di kelas dekat dengan Fano.
Kembali pada Fano, preman sekolah mengajaknya ke tempat sepi di belakang gedung sekolah. Tinggal sekitar 20 menit lagi bel masuk kelas akan berbunyi, Fano pikir waktu itu sangat cukup untuk memberi mereka pelajaran.
“Kenapa kalian membawaku kemari?” tanya Fano basa-basi.
Preman-preman sekolah tersebut tertawa mengejek “Kenapa katanya?”
“Si culun bilang kenapa tuh! Jawab!”
Seseorang yang terlihat seperti pemimpin mereka, karena lebih tinggi dan lebih besar mendekat dan mencengkram rahang Fano, Fano masih membiarkannya dan diam kali ini.
Di dalam ingatan Fano, dia mengenal anak ini.
Dia memang seperti pemimpin bagi preman-preman kecil ini, karena ayahnya adalah salah seorang pengusaha sukses yang cukup terkenal dan sering memberi sumbangan bagi warga miskin. Bisa dibilang, keluarga siswa ini terlihat baik di masyarakat.
Bagaimana jika ayahnya mengetahui kelakuan putranya?
Andy.. bersiap-siaplah.
“Memangnya aku menyuruhmu bertanya ha? Dasar culun! Punya berapa nyawa sih? Masih hidup aja kayak kucing” kata Andy sambil tertawa mengejek namun tawa itu tidak berlangsung lama, karena Fano menangkap tangan Andy yang mencengkram rahangnya, lalu dengan gerakan cepat membalik tubuh Andy hingga tangannya terpelintir.
Dia mengaduh kesakitan, sedangkan Fano tertawa menikmati suaranya yang memohon itu, terdengar indah di telinganya.
Tapi kemudian Fano segera melepaskan tangannya dan mendorongnya hingga terjatuh di rerumputan.
Fano tidak boleh berlebihan, kalau tidak dia akan mendapatkan hukuman, jangan sampai deh!
Kemudian Fano menoleh pada preman yang lain lalu menyeringai “kalian.. ingin merasakannya juga?”
“Kau sudah gila ya?” seorang preman nekat mendekat dan menyerang Fano, tapi hanya dengan sentilan jari saja, dia langsung tumbang.
Begitu juga dengan yang lainnya.
Tidak berhenti sampai disana, tangan Fano bergerak untuk melepas ikat pinggang kulitnya.
“Heh mau apa kau dengan ikat pinggang itu?” tanya salah seorang dari mereka dengan suara gemetar yang sangat kentara, Fano tertawa mendengarnya.
“Dia serem banget.. kayak sikopet!” gumam salah seorang dari mereka, tapi Fano tidak peduli.
CPLAS
Mereka berteriak ketakutan saat Fano membunyikan ikat pinggangnya untuk menakut-nakuti mereka, mereka terus mundur karena takut dengan Fano.
“Kalian tau apa gunanya ikat pinggang? Jika salah aku akan mencambuk kalian lho” kata Fano main-main.
“U.. untuk mengencangkan celana!”
“Agar celana tidak lepas!”
CPLAS
Mereka berteriak lagi.
“Salah besar.. kalian bodoh sekali ya, tidak heran nilai kalian sangat rendah, tsk tsk tsk! Aku beritahu ya.. gunanya ikat pinggang itu...” Fano menggantung ucapannya, semakin mendekat pada mereka yang terus mundur hingga punggung mereka mentok pada tembok pagar.
“Adalah.. untuk...”
CPLAS
CPLAS
“Menyiksa anak nakal seperti kalian!”
Dengan tanpa ampun Fano mencambuk kaki dan punggung mereka dengan ikat pinggangnya sambil tertawa bahagia.
“Bagaimana? Kalian suka? Ini kan tidak seberapa dengan yang kalian lakukan pada anak lain.. iya kan? bagaimana rasanya? Gurih? Manis? Kecut? ahahaha”
“Aku akan melaporkanmu pada kepala sekolah!” teriak Andy dengan suara gemetar
Fano tertawa lagi “Oh ya? Lapor saja.. aku ingin melihat kau melapor pada kepala sekolah – tapi sebelum itu... biarkan aku puas memukuli kalian!”
Fano memukuli mereka lagi, tidak ada belas kasihan dalam sorot matanya.
[Cukup]
“Cih”
Dengan perasaan dongkol Fano menyimpan ikat pinggangnya lagi, beberapa detik kemudian dia kembali tersenyum, senyum lebar yang sangat mengerikan dimata anak-anak nakal tersebut.
“Hei – kalian kan hampir membunuhku.. bagaimana jika dipenjara saja? Pasti seru deh” kata Fano
“Kau tidak punya bukti, tidak bisa menuduh kami!!” teriak Andy lagi.
Fano mengurlukan tangannya untuk mencengkram rahang Andy seperti yang tadi dia lakukan padanya, Andy pun kembali ketakutan.
“Hei.. Andy.. aku tidak berbicara padamu, kau kan diam saja waktu itu, kau bahkan tidak tau jika DIA –” Fano menoleh pada seorang siswa dengan rambut keriting sok tampan, seseorang yang dengan sengaja mendorong Fano jatuh dari atap gedung.
Hanya dia, bahkan temannya yang lain sangat terkejut saat si keriting tiba-tiba melakukan hal itu, termasuk Andy. Tebakan Fano, dia diajak kemari agar mereka bisa membungkam mulut Fano agar tidak membocorkan hal tersebut pada siapapun.
Mereka telah menutup-nutupi hal ini
dengan mengatakan Fano bunuh diri, padahal si Keriting yang mendorongnya, kalau
tidak salah Indra namanya.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 207 Episodes
Comments
Mamat Stone
tabok sampai kapok 😜
2024-10-25
0
Sebut Saja Chikal
fix sistemnya cewe
2024-10-21
0
Sebut Saja Chikal
baca kata" terakhir malah jadi inget kata" (haji bo, haji. bukan umroh) 😂😂😂
2024-10-21
0