.
.
Mereka sudah sampai di gudang, suster menunjukkan sebuah koper lusuh pada Fano.
“Suster, kapan aku boleh pergi dari rumah sakit?” tanya Fano
“Eh? Sebenarnya besok sudah boleh pergi tapi.. kau mau tinggal dimana? Maksudku – pamanmu bilang..”
“Suster jangan khawatir, itu akan menjadi urusanku”
Suster tersebut menatap Fano dengan tatapan kasihan, jika dulu ada yang menatapnya seperti itu sudah akan ditebas habis olehnya, tapi sekarang berbeda, dia sudah berada di tubuh orang lain, dan juga ia tidak bisa sembarangan berbut buruk, dia diawasi oleh sistem. Lagipula, dia setuju jika Fano memang patut dikasihani, memang kasihan sekali hidupnya.. sudah ditinggal orangtua, dianiaya saudaranya sendiri, dibully dan hampir dibunuh preman sekolah – tidak.. Fano asli sudah dibunuh.
Fano membawa kopernya menuju ruangan yang dia tempati, kemudian ada suster lain membawakannya makan siang. Kali ini makan siangnya berupa bubur, Fano sudah mengira jika buburnya akan biasa saja dan hambar, tapi ternyata tidak. Di atas buburnya ada potongan daging ayam kecil, tirisan telur.. ingatan Fano asli menyebutnya bubur ayam, padahal ayamnya sedikit sekali, kenapa disebut bubur ayam ya?
Bodo amat, yang penting enak saat disantap.
Saat makanannya habis ada suster lain yang datang untuk mengambil makanan dan sendoknya.
Setelah suster pergi, Fano membuka kopernya, ada sebuah map yang terlihat baru disana, dia membukanya dan ternyata itu memang sertifikat apartemen hadiah miliknya. Dia tidak terlalu berharap, mau apartemennya bagus atau tidak, yang penting dia mendapat tempat untuk bernaung, dia tidak akan sudi bersama dengan paman dan bibinya Fano.
Kalau memaksa tinggal bersama mereka lagi yang ada dia tidak akan bisa menahan dirinya untuk menebas kepala mereka.
Jika dia tidak bisa menghukum mereka dengan kekerasan.. berarti hanya bisa dengan memenjarakan mereka. Tapi dia tidak punya bukti kuat.
Untuk menuduh preman sekolah juga ia tidak punya bukti meski jelas-jelas mereka yang salah. Jika Fano hanya datang pada polisi yang ada dia akan kalah, karena pemimpin preman itu adalah anak dari seorang pengusaha, orang kaya.
Sebagai mantan ketua mafia, dia bisa mengerti jika orang-orang kaya bisa melakukan apapun untuk menghindari hukum. Jadi jika tidak punya bukti kuat dia tidak bisa berbuat apa-apa, dia harus cari cara...
Itu bisa dipikirkan nanti setelah keluar dari sini.
Oh iya, Fano baru saja naik kelas tiga SMA, umurnya sudah 18 tahunan, jadi buku-buku untuk kelas tiga sudah dia dapatkan dari uang tabungannya sendiri. Karena Fano tidak memegang uang peninggalan orangtuanya, Fano berusaha keras untuk mencari tambahan uang sendiri, meski kadang direbut preman sekolah atau sepupunya.
Setelah umur 17 Fano membuat rekening sendiri karena sudah punya KTP, tapi.. ya, uang yang ada didalamnya miris sekali, hanya ada sekitar 200 ribu.
Untungnya dokter yang menangani Fano baik sekali mau membantu biaya Fano di rumah sakit, Fano dengar dari suster yang membantunya mengambil koper, jika Fano tidak bangun tadi pagi, mungkin dokter sudah membayar biaya untuk oprasi Fano.
Ternyata dokter tampan dan muda tersebut adalah anak bungsu dari pemilik rumah sakit besar ini. Dokter tersebut memang sangat baik dan ramah, banyak suster menyukainya.
Tentu saja, orang-orang menyukai orang baik seperti itu.
Di dalam koper lusuh itu hanya ada beberapa lembar baju, semua buku-bukunya, ponsel butut.. itu bisa digunakan tidak ya?
Fano mengambil ponsel tersebut dan berusaha menyalakannya, ternyata bisa nyala.
Batrainya ada 50% dan butuh dicharge, tidak ada yang menarik di dalam ponsel ini.. untungnya semua pengetahuan Fano masih menempel, jika tidak dia akan seperti orang kuno tidak bisa menggunakan ponsel.
Dulu saat jamannya Albert masih hidup, telepon genggam tidak seperti ini, sangat berbeda dan tidak umum digunakan. Tapi sekarang bahkan bocah SMP saja memiliki ponsel.
Dunia sudah berubah dalam beberapa tahun, semuanya sekarang serba canggih.
Fano menyimpan ponselnya kembali.
Besok dia sudah keluar, setelah itu rencana sudah harus disusun.
***
Di pagi hari Fano sudah membereskan diri untuk keluar dari rumah sakit, ada dokter dan suster yang menyempatkan diri mereka untuk mengantar kepergian Fano. Dokter tampan dan muda itu memberikan kartu namanya, dia bilang jika ada sesuatu Fano bisa menghubunginya, begitu juga dengan suster.
Selain kartu nama dokter yang ternyata bernama Tio tersebut memberinya uang 500 ribu, Fano sudah ingin menolaknya, tapi dokter dan suster memaksanya, katanya untuk ongkos naik angkot.
Padahal dalam ingatan Fano naik angkot tidak sampai 50 ribu kok.
Tapi karena mengerti dia tidak memiliki uang tunai sepeserpun akhirnya Fano menerima uang itu, dan mengucapkan terimakasih pada mereka dengan sopan.
Untuk informasi, sistem memberinya misi untuk berterima kasih dan berlaku sopan pada mereka, dengan begitu sistem akan memberi 100 koin untuk Fano. Fano belum mengerti koin itu untuk apa tapi dia menurut saja dari pada dihukum.
Sistem tidak salah, Fano.. bukan, jiwa Albert memang cukup susah untuk berterima kasih pada kebaikan orang lain, kemarin berkali-kali dibantu suster saja dia tidak mengucap terimakasih sedikitpun. Mungkin sistem sudah jengkel, dia memberi nasihat jika berterima kasih itu baik dan wajib diucapkan.
Padahal Fano pikir tidak sewajib itu.
Fano pun pergi menggunakan taxi, suster yang memesankan taxi untuknya.
Saat supir taxi menanyakan dimana Fano ingin diturunkan, Fano menjawabnya dengan alamat apartemen mewah yang dia dapatkan kemarin.
Supir taxi terlihat agak terkejut, tapi Fano tidak terlalu peduli.
Tidak lama kemudian mereka sampai di depan gedung apartemen mewah, gedungnya sangat besar dan terlihat berkelas.
Fano pun membayar taxi, ada lebihan sedikit, jadi Fano bilang agar supir itu ambil saja kembaliannya.
“Terima kasih tuan! Tuan baik sekali”
Lagi-lagi dia disebut baik, itu sangat canggung.
Fanopun keluar membawa koper lusuhnya, taxi itu juga segera pergi.
Seorang satpan datang menghampiri Fano yang berjalan mendekat, satpam tersebut bingung melihat pemuda berpakaian lusuh datang ke gedung apartemen mewah begini.
“Berhenti! Ada keperluan apa adik datang kemari?”
Fano tau satpam ini terlihat meremehkannya, pandangannya menatap Fano rendah.
Tidak mau repot-repot menjawab, Fano mengeluarkan sertifikat apartemen, satpam tersebut terlihat terkejut, dengan tangan gemetar dia mempersilahkan Fano untuk memasuki gedung apartemen.
“Si.. silahkan tuan..”
Fano memasukkan kembali sertifikatnya lalu melanjutkan jalan.
Dia pikir apartemen ini bagus juga dan sangat moderen, bahkan pemilik tubuh asli juga pertama kali melihat kemewahan seperti ini, luar biasa!
“Kenapa ada orang lusuh masuk sini sih? Pengemis ya?” seorang remaja sok tampan yang menggandeng seorang gadis menor berkata, merasa tidak kenal, Fano hanya melewatinya begitu saja.
Karena kesal remaja asing tersebut ingin menarik bahu Fano, tapi Fano lebih cepat menangkap tangannya lalu memelintirnya, remaja itu mengaduh kesakitan lalu Fano melepasnya.
“Ups! Maaf refleks, ku pikir serangga” ucap Fano dengan nada datar saja
“Cih! Bagaimana pengemis sepertimu berada disini sih? Dimana satpamnya kenapa tidak bekerja?!” kata remaja itu lagi.
Fano merogoh saku kemeja lusuhnya lalu mengeluarkan sebuah kunci apartemen “Jadi aku pengemis?”
“It.. itu..” remaja laki-laki dan gadis menor itu mengenali kunci yang Fano pegang sebagai kunci dari salah satu unit termewah di gedung ini.
“Itu kan unit yang lebih bagus dari apartemenmu!” kata gadis menor itu
Karena kesal dan merasa kalah, juga karena malu, remaja laki-laki itupun menyeret si gadis agar segera pergi dari sana.
Fano menyeringai melihat raut mereka, terlihat malu sekali.
“Tuan ada yang bisa dibantu?” seorang resepsionis cantik datang pada Fano.
“Tentu, aku baru membeli salah satu apartemen, bisa antarkan aku kesana?”
“Tentu saja tuan! Boleh saya melihat surat-suratnya terlebih dahulu?”
Fano pun memperlihatkan sertifikatnya, setelah wanita tersebut yakin itu sertifikat asli, dia pun mengantar Fano menuju unit apartemen yang Fano beli.
Wanita cantik itu membawa Fano memasuki sebuah lift, memencet tombol lantai 10 dan lift pun naik dengan perlahan.
Tidak membutuhkan waktu lama mereka telah sampai di lantai sepuluh, wanita itu membawa Fano menuju salah satu unit.
Wanita itu juga menjelaskan berbagai fasilitas lain yang dimiliki apartemen ini seperti kolam indoor, jogging track, gym, supermarket besar yang ada di sebelah. Pokoknya apartemen ini memiliki banyak fasilitas yang akan memudahkan Fano nantinya.
Setelah berterima kasih pada wanita tersebut, Fano pun memasuki apartemennya.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 207 Episodes
Comments
Mamat Stone
ditunggu Aksinya Fano 😎
2024-10-25
0
Harman Loke
lanjuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuttttttt
2024-09-21
0
nisyaa
ini pasti seru
2023-11-26
3