Cakra melesat dengan cepat, jurus langkah kilat menapak angin yang dia kerahkan membuat perjalanan itu bisa di singkat, kini di depan matanya sudah terlihat bayangan gunung yang kokoh dan agung, mungkin dengan lari cepatnya, Cakra bisa sampai ke gunung Gembolo Arum tepat saat matahari sudah turun di ufuk barat.
Tepat pada saat matahari berada di atas kepala, Cakra singgah di salah satu desa yang cukup ramai, dia sengaja singgah di desa itu, selain untuk mengisi perut juga ingin memastikan bahwa gunung yang terlihat itu adalah gunung Gembolo Arum.
" Benar tuan, tepat sekali gunung yang terlihat itu memang gunung Gembolo Arum" jawab pemilik warung tempat Cakra memesan makanan.
Di warung yang kecil itu Cakra duduk di dingklik kayu panjang tanpa sandaran sambil menikmati makanan yang dia pesan.
" Butuh berapa lama perjalanan dari sini sampai ke sana paman ? " tanya Cakra.
" Kalau berjalan kaki bisa sampai satu hari setengah, kalau dengan kuda bisa satu hari baru sampai, "
Cakra mendengar itu hanya mengannguk, berarti jalan yang harus di tempuh masih jauh.
" Ada perlu apa kamu ingin ke sana anak muda? " tanya pemilik warung itu.
"Saya hanya ingin berkunjung ke sana paman, ingin menikmati anugrah Tuhan yang di berikan kepada manusia, agar semakin bersyukur kepada Sang Hyang Widi, menyadarkan bahwa diri ini sangat kecil dan lemah di bandingkan dengan besar dan agungnya gunung itu." jelas Cakra panjang lebar.
"Perlu kau ketahui, kalau gunung itu adalah gunung yang di disucikan oleh masyarakat yang ada di sana, sebaiknya kau junjung tinggi adat dan kebiasaan di sana, jangan kau menyalahi aturan yang ada di sana, karena ada pepatah DI MANA BUMI DI PIJAK DI SITU LANGIT DI JUNJUNG" nasehat pemilik warung itu agar Cakra hati hati dalam bertindak di sana.
"Terima kasih paman atas nasehatnya, aku akan berusaha melakukan apa yang paman sampaikan" ucap Cakra sambil berpamitan karena dia telah selesai makan dan bekal yang di pesan juga sudah siap.
* * *
Tepat saat matahari hampir tenggelam, Cakra sampai di gunung Gembolo Arum, dia langsung menyusuri tebing yang ada di sisi timur gunung itu, medan yang sedikit sukar karena tanaman yang berduri banyak di sana, sampai akhirnya dia menemukan tebing yang tinggi menjulang, dengan teliti Cakra memeriksa tebing tersebut, dia tajamkan matanya agar segera menemukan celah di tebing itu, dia harus cepat karena keadaan sudah mulai gelap, dia tidak mau menunda waktu untuk mencarinya.
" Ketemu" seru Cakra.
Cakra menemukan celah pada dinding tebing yang agak menjorok sehingga celah itu hanya bisa di lihat dari bawah.
Namun karena celah itu berada di tebing yang cukup tinggi dan dinding tebing yang licin karena lumut maka Cakra tidak yakin bisa memasukinya, hanya orang yang bisa terbang lah yang mampu memasukinya.
Merasa menemui jalan buntu, Cakra mencoba berfikir, dia memutuskan untuk bersemedi meminta petunjuk dari Sang Hyang Widi, apalagi malam sudah mulai menyelimuti bumi.
Kraaak kraaak..
Ada suara yang memekakan telinga terdengar dari angkasa.
Menyadari ada yang datang, Cakra segera mengakhiri semedinya, dia mendongak keatas mencoba mengetahui siapa yang datang.
Di gelapnya malam, terlihat setitik bayangan di angkasa yang sedikit demi sedikit terlihat semakin besar, bayangan itu dengan cepat meluncur ke arah Cakra, Cakar yang tajam dan kuat menghujam ke arah Cakra.
Tidak mau terluka, Cakra mengerahkan jurus meringankan tubuhnya untuk menghindari serangan cepat yang tidak terduga itu
Namun sosok bayangan yang ternyata burung raksasa berwarna coklat keemasan itu terus mengejar, seakan tidak mau kehilangan buruannya.
Cakra sadar jika serangan burung ini sangat cepat dan kuat, dia harus berhati hati.
Hingga dia berusaha menyembunyikan tubuhnya di balik pohon, burung yang kehilangan mangsanya itu segera mendarat di atas pohon besar yang ada di situ.
Melihat burung itu belum sadar keberadaannya, Cakra menyiapkan pukulan sayap garuda untuk memukul burung itu.
Hyaaaat .... Wuuuushh...
Cakra melesat ke arah burung itu, namun sebelum pukulan itu dapat mendarat di tubuh burung itu, burung itu telah mengepak ngepakan sayapnya dengan cepat, ajaibnya muncul angin yang menderu deru ke arah Cakra yang mengakibatkan Cakra terpental sejauh dua puluh tombak hingga berhenti karena menabrak pohon yang cukup besar.
Hueeek. . .
Cakra muntah darah karena luka yang dia derita.
Akhirnya dia memutuskan mengeluarkan tombak Bayu Angkasa.
Dia putar putar tombak itu yang menyebabkan timbulnya angin beliung yang berputar putar menerjang pohon tempat hinggap burung raksasa itu, burung itu terbang menjauhi angin tersebut, dia terbang tinggi kemudian menukik ke bawah masuk di pusat pusaran angin beliung itu, dia berputar putar putar mengikuti pusaran angin yang timbul dari putaran tombak Bayu Angkasa, sekali hentak sayap burung itu, burung itu melesat keluar dari pusaran angin dan membuyarkan angin beliung itu tidak sampai di situ dia langsung meluncur ke arah Cakra dengan cepat, Cakra bersiap memapaki serangan itu dengan tombak di tangannya.
Dhuuaarrr.
Suara ledakan antara paruh burung dan tombak Bayu Angkasa, membuat dua sosok yang saling berbenturan itu terpental ke belakang.
Cakra mendarat dengan anggun di tanah, dia memeriksa tombaknya khawatir jika rusak karena dahsyatnya benturan tadi, dia tidak tau keadaan burung tadi karena debu masih menebal di depannya.
Sesaat saat debu itu menghilang, dia tidak melihat burung itu lagi, yang ada sosok tua yang sedang duduk dengan tenang di situ.
Cakra segera menghampiri orang tua itu.
Cakra memandang wajah kakek itu, wajah yang teduh, bersih, pandangannya lembut dan bibirnya tersungging senyum indah.
"Kemari lah anakku, duduklah disini! " ucap kakek itu mempersilahkan Cakra duduk.
Cakra yang awalnya masih ragu, menjaga jarak dari kakek itu kini dengan mantap melangkah menuju kakek itu.
"Apa yang kau cari di sini anakku? " tanya kakek itu.
"Saya ke sini melaksanakan perintah guruku eyang" jawab Cakra kemudian menceritakan apa yang di perintahkan gurunya pada kakek itu.
Kakek itu manggut manggut dengan masih tersenyum.
"Tapi apa kamu tahu apa yang ada di dalam celah itu ? "
"Saya tidak tahu eyang, yang aku tahu di dalam sini ada kitab yang harus aku pelajari untuk menyempurnakan ilmu ku eyang" jawab Cakra jujur.
" He he he, kalau begitu niatan mu, aku mempersilahkan kau masuk ke celah itu anakku, carilah apa yang di maksud gurumu, jika kau berjodoh maka ambil pulalah pusaka yang ada di sana, aku sudah lama menjaga pusaka itu, aku yakin kau berjodoh dengan pusaka itu, untuk itu aku akan berubah jadi burung raksasa, naiklah ke punggungku, akan aku antar kau ke sana" jelas kakek tua itu.
Dengan segera Cakra bersujud di depan kakek itu karena rasa bahagia yang dialaminya saat ini.
Kakek itu segera merubah wujudnya menjadi burung raksasa yang tadi menyerang Cakra, setelah Cakra naik di punggung burung itu, burung itu terbang perlahan keatas, tepat di bawah celah itu Cakra melompat masuk ke celah itu.
* * *
Di lain tempat, Sari yang di tinggal Cakra secara tiba tiba, dia terkejut, ingin rasanya dia ikut pemuda itu, namun tugas yang di embannya saat ini sangat berat, maka dia dan ke dua pamannya melanjutkan perjalannya.
Sari menjalankan kudanya dengan pelan, seakan tidak bernafsu melanjutkan perjalanan.
" Ayo Sari cepat, kita harus cepat sampai, jangan sampai kita terlambat, " teriak paman Rejo di depan Sari agak jauh.
"Iya paman, paman jalanlah dulu nanti aku susul! " jawab Sari.
Di padang rumput yang luas, sari tetap berjalan dengan lesu, dia berjalan tanpa memperhatikan sekitar karena dia melamunkan Cakra, tanpa di sadari, Sari dan kudanya terperosok ke dalam tanah yang cukup dalam, tubuhnya meluncur diatas kuda itu, hingga puluhan tombak baru berhenti setelah kepala kuda yang di tunggangi Sari terbentur tembok batu dan mati.
Sari pingsan disitu tanpa ada seorang pun yang menyadari.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Ed Ri
sari..sari...,Titi DJ (Hati hati DiJalan)
2022-09-23
0
Onez Dewa Ganaz Trisula
😁😁😁,,, Critanya jgn du cinta2anlah thorr...
2022-05-11
2
Agus Aguskurnia
ko bisa thor
2022-04-19
1