Cahaya berkilauan sedikit demi sedikit membentuk dua sosok tubuh yang gagah dan tampan, dua tubuh itu kini berdiri di depan bima.
"Bima anak ku, sebenarnya apa yang kamu cari selami ini itu tidak ada di dunia ini," ucap Dewa Bayu dengan berwibawa dan lembut, seakan orang tua menasehati anaknya.
"Iya pukulun, namun saya sebagai seorang ksatrya harus menepati setiap janji yang saya ucapkan, dan saya harus melaksanakan perintah dari guruku sampai dapat walau saya harus mencarinya di dasar samudra dan di atas langit" jawab Bima dengan sopan, entah saat mendengar Dewa bayu bersabda, Bima yang berwatak keras dan brangasan sekarang menjadi sopan.
"Nggerr, anakku Bima, dengarkan aku!, sejatinya apa yang di sebut Kayu Gung Susuhe Angin itu ada pada diri manusia itu sendiri, kayu gung susuhe angin adalah bentuk dari usaha mengenal diri sendiri untuk mengenal Sang Hyang Widinya, kayu gung bisa di artikan sebagai pohon yang agung, pohon sebagai sumber kehidupan di alam ini, dengan adanya pohon manusia sampai saat ini masih bisa bernafas, pohon juga sebagai penyeimbang alam ini, pohon yang agung laksana kalbumu, kalbu yang bersih dari angkara murka, bersih dari sifat sifat tercela, sehingga kalbu itu bisa menjadi kalbu yang menyebarkan sifat sifat baik, yang menjadikan orang lain yang dekat dengan pemilik kalbu yang bersih tadi merasa nyaman dan terayomi, layaknya pohon rindang yang mengayomi setiap makhluk yang ada di pohon itu."
"Angin sebagai simbol jiwa, angin yang tidak di ketahui keberadaannya namun dapat di rasakan, begitupun dengan jiwa manusia nggeer, jiwa manusia bisa lembut juga bisa menjadi brangasan sesuai di tempat mana dia berada, jika jiwa itu bertempat di kalbu yang bersih penuh dengan sifat sifat ksatrya, maka jiwa yang ada di sana menjadi jiwa yang tenang dan mengayomi, namun jika jiwa itu bertempat di kalbu yang penuh keangkara murkaan maka yang ada hanya jiwa memunculkan kerusakan. "
Bima mendengarkan wejangan Dewa Bayu dengan penuh takdzim, dia simpan mustika pelajaran itu di hati yang dalam sebagai bekal dia di dalam mengamalkan semua ilmu kesaktiannya.
"Seperti saat ini ngger, lihat akibat apa yang kau perbuat, hanya karena ingin memenuhi ambisimu dan ingin mencapai tujuanmu, kau telah merusak sebagian besar dari hutan ini, padahal hutan ini adalah tempat banyak makhluk untuk bernaung dan hidup, " ucap Dewa Bayu menyindir Bima.
Bima yang merasa dirinya di sindir baru sadar setelah mengedarkan pandangannya ke bagian hutan yang rusak, dia begitu malu dengan apa yang di perbuatnya, sehingga dia menundukan pandangan sebagai tanda penyesalan.
" Ngger anakku, hilangkan lah sifat angkara yang ada dalam kalbumu, berusahalah mengisi kalbumu dengan sifat sifat yang luhur, jadikan kalbumu cermin yang menuntun jiwamu dalam bertindak, agar jiwamu tidak salah arah dalam melakukan sesuatu. " lanjut Dewa Bayu lagi.
"Baik pukulun, saya akan berusaha menjadikan nasehat pukulun sebagai jimat yang akan selalu terpatri dalam hati sanubari saya, mohon doa restu dari pukulun berdua agak saya bisa melaksanakan setiap titah yang pukulun sampaikan, saya sudah menyadari ke khilafan saya" jawab Bima.
"Baguslah kalau begitu ngger anakku, sebagai bentuk restu dari kami, maka kami akan memberi hadiah buat mu nggeer, terimalah ini ! " ucap Dewa Bayu sambil menyerahkan pusaka berbentuk sabuk yang jika sabuk itu di pakai, maka siapapun yang memakai akan bisa bernafas di dalam air, walau di dasar samudra yang dalam sekalipun.
"Terima kasih pukulun, " sembah Bima setelah itu menerima pusaka pemberian Dewa Bayu itu.
....
"Dirimu harus seperti Bima, bisa menyingkirkan angkara mirka dari hatinya, maka sebelum kamu mulai menghimpun tenaga dalam, kamu harus bersemedi mensucikan jiwa ragamu! " ucap Eyang Bagaskara kepada Cakra muridnya.
"Kau harus memikirkan langkahmu sebelum bertindak, jangan sampai sesuatu yang kau pandang baik ternyata hal itu merugikan bagi orang lain. "
"Sendiko dawuh Eyang ( Saya akan melaksanakan perintah Eyang ), " jawab Cakra dengan sungguh sungguh.
"Mohon petunjuk dan bimbingan eyang, agar saya bisa melaksanakan apa yang eyang perintahkan" sambung Cakra.
"Pasti Cakra, pasti, sekarang istirahatlah!, ini sudah larut, seharian kamu sudah berlatih dengan keras, " perintah Eyang Bagaskara kepada muridnya.
Cakra pun segera pamit kepada gurunya untuk masuk ke dalam biliknya, sebelum dia bisa memejamkan mata, dia banyak merenungi apa yang tadi di sampaikan oleh gurunya, dia merasa mendapat permata yang berkilauan yang dapat memoles kalbunya menjadi lebih indah yang akhirnya dapat bermanfaat bagi setiap jejak langkah kakinya nanti setelah keluar dari dasar jurang itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Elmo Damarkaca
mantab nasehatnya eyang Baskara, kalau jaman know istilahnya Nasehat Eyang benar2 SUPER..👍👍
2022-05-29
3
Onez Dewa Ganaz Trisula
Lanjuuttt...
2022-05-08
2
Bangkar Warah
top...
2022-04-06
3