Padepokan Tameng Landak

Pagi begitu cerah, Cakra yang menginap di rumah mbah Gerit, berjalan jalan menyusuri tengah perkampungan yang cukup ramai, sesekali Cakra membalas senyum atau anggukan kepala kepada orang orang yang di temui, mereka tau bahwa Cakra adalah tamu dari mbah Gerit sehingga tidak ada yang menaruh curiga kepadanya.

Suasana pagi khas kampung tersaji di sana, kaum laki laki di sana ada yang berjalan menenteng cangkul menuju sawahnya, ada yang masih mengasah sabit untuk mencari rumput pakan ternaknya, sedang perempuan perempuannya sedang menumbuk gabah di lesung berbentuk perahu menggunakan alu, suara merdu terdengar bagai musik hasil dari tumbukan lumpang dan alu, ada beberapa gadis muda yang baru pulang dari sungai dengan kemben yang masih basah dan menenteng bakul dari anyaman bambu berisi pakaian yang baru di cuci, sungguh suasana kampung yang sederhana namun bersahaja.

Namun ada sedikit keganjalan yang di rasakan di hati Cakra, tapi hal itu tidak dia tanyakan kepada siapapun.

Hari sudah mulai beranjak siang, Cakra kembali ke rumah mbah Gerit, di sana dia sudah di sambut dengan hidangan sarapan berupa nasi liwet dan pepes ikan wader yang mbah Gerit dapatkan dari memasang wuwu di sungai kecil di kampung itu, lumayan banyak ikan yang terperangkap di wuwu itu.

"Wahhh.. kebetulan kau sudah pulang ngger, ayo silahkan makan, sarapannya sudah siap" ucap Mbah Gerit

"Saya menjadi sungkan mbah, saya begitu merepotkan," jawab jawab Cakra.

" Aahhh ndak usah di fikirkan, aku senang kau bersedia menginap di gubukku yang reot ini, ayo silahkan di makan ! " ajak Mbah Gerit sambil dirinya sendiri pun mengambil nasi liwet yang masih hangat itu.

Mereka makan dengan nikmat, sesuap demi sesuap makanan itu sudah pindah ke perut mereka.

" Sungguh nikmat masakan mu Mbah, mungkin aku akan selalu kangen dengan masakan ini nantinya, " ucap Cakra memuji masakan Mbah Gerit.

"Maka dari itu kau harus sering sering berkunjung di sini"

"Pasti,,, pasti kek saya akan sering mampir sini jika sedang di sekitar sini" jawab Cakra.

Selesai makan, Cakra membersihkan alat alat makan ke dapur rumah Mbah Gerit, niatnya ingin membuat wedang sere untuk dirinya dan Mbah Gerit, namun telinganya mendengar derap kaki kuda yang menuju ke arah rumah itu, tidak lama empat ekor kuda dengan pengendaranya telah sampai di depan rumah Mbah Gerit.

" Heeii kakek bau tanah, keluar kau" teriak salah seorang dengan kasar tanpa turun dari punggung kuda.

Mbah Gerit pun dengan tergopoh gopoh keluar dari rumah sambil tubuhnya merunduk.

"Ampun tuan tuan, apa gerangan yang menyebabkan tuan tuan ini mau berkunjung ke gubukku yang reot ini ? " tanya Mbah Gerit.

"Hahh,, apa kamu lupa kalau hari waktunya kamu membayar upeti ? gertak orang itu.

"Ohh,, maafkan hamba ini yang sudah tua, sudah pikun dan pelupa," ucap Mbah Gerit sambil undur diri masuk ke rumah mengambil seikat padi.

"Ini tuan, silahkan.. " Mbah Gerit memberikan seikat padi itu kepada salah satu orang yang menaiki kuda.

" Kenapa hanya segini ? " tanya orang yang menerima padi tadi.

"Maaf tuan, aku harus mengirit, karena padi di sawahku baru keluar bulirnya, mungkin 2 purnama baru bisa aku panen"

"Halah alasan, "

Buukh, orang itu menendang Mbah Gerit tepat di dadanya, untung saat tubuh Mbah Gerit terjengkang kebelakang, Cakra telah menangkap tubuh itu.

"Kalau kau panen nanti kau harus membayar pajak 2 kali lipat" ucap orang itu sambil menggebah kudanya meninggalkan halaman rumah itu di ikuti teman temannya.

"Siapa mereka Mbah, saya akan mengejarnya, " ucap Cakra hendak mengejar.

Namun tangan Cakra di pegang oleh Mbah Gerit.

"Tidak perlu nggerr, aku tidak apa apa kok" cegah Mbah Gerit.

"Tapi mereka siapa mbah ? "

"Ayo masuk! nanti aku ceritakan" ajak Mbah gerit masuk ke dalam rumah.

Segera mereka masuk ke rumah itu, mereka duduk berhadapan di atas tikar pandan.

"Bagaimana keadaan mu Mbah" tanya Cakra.

"Aku tidak apa apa, mereka itu orang orang dari padepokan tameng landak, padepokan yang ada di sebelah barat kampung ini yang di pimpin oleh ki Jagotawi, mereka setiap bulannya menarik upeti kepada warga kampung sini, mereka merasa jika kampung ini aman karena ada mereka, sehingga mereka menarik upahnya setiap bulan, jika mereka tidak di beri, mereka sering memukul orang orang kampung sini" cerita Mbah Gerit.

"Bukankah mereka seharusnya mengayomi, tapi kenapa mereka malah memeras orang kampung ini? " gumam Cakra.

"Memang begitulah keadaannya, dulu waktu padepokan itu belum di pimpin oleh ki Jagorawi, warga kampung ini merasa terlindungi, namun setelah di pegang oleh ki Jagotawi hal ini berubah"

"Bagai mana dengan pemimpin kampung ini, kenapa tidak menghimpun warga untuk melawan? "

"Tidak mudah Cakra, dulu pemimpin kampung ini juga sudah pernah mau melakukan itu, namun belum sempat rencana itu terlaksana, pemimpin kampung itu di temukan tewas di dalam kamarnya, sehingga rencana itu tidak jadi di laksanakan dan kini pemimpin kampung ini di pegang oleh orang orang mereka. " lanjut Mbah Gerit.

"Apakah ini juga yang menyebabkan orang orang di kampung ini hidup dengan sederhana ? padahal melihat suburnya tanah ini, warga kampung ini bisa hidup berkecukupan Mbah? tanya Cakra.

" Benar,,, begitulah yang terjadi"

Kini pertanyaan yang sejak tadi pagi mengusik hati Cakra telah terjawab.

"Bagaimana dengan pihak kerajaan Mbah, apa mereka hanya berpangku tangan ? " tanya Cakra

Mbah Gerit menggelengkan kepalanya.

"Pihak kerajaan saat ini tidak peduli dengan rakyatnya, mereka lebih peduli dengan rencana rajanya untuk meluaskan kekuasaannya, mereka hanya akan mendatangi rakyatnya saat mereka mengumpulkan upeti bagi kerajaan, setelah itu mereka pergi tidak mau tahu dengan nasib rakyat seperti kita kita ini, untuk urusan makan dan keamanan, rakyat lah yang harus mengurusinya sendiri" ucap Mbah Gerit menumpahkan segala keluh kesah hatinya.

Mendengar itu, Cakra sangat marah, tangannya menggenggam erat dan sorot matanya menajam.

" Aku tidak akan membiarkan ini terjadi, aku akan berusaha membantu, ijinkan aku tinggal di sini dulu Mbah, "

"Dengan senang hati aku menerima mu disini, namun masalah kamu mau mengusik padepokan tameng landak, sebaiknya kau urungkan niatmu itu"

"Tidak apa apa Mbah, tidak perlu mengkhawatirkan aku, aku bisa menjaga diri" jawab Cakra.

" Kalau begitu silahkan, namun jangan kau melibatkan warga kampung ini, kasihan mereka jika keselamatannya terancam" sambung Mbah Gerit.

"Baiklah Mbah, aku minta doa restunya. "

Cakra kemudian berusaha menyusun rencana untuk menyelesaikan masalah ini.

Terpopuler

Comments

Elmo Damarkaca

Elmo Damarkaca

Yo wis Kàng Cakra, habisin aja padepokàn Tameng landak.

2022-05-29

2

Onez Dewa Ganaz Trisula

Onez Dewa Ganaz Trisula

👍👍👍

2022-05-10

1

Falantino Dody Simanungkalit

Falantino Dody Simanungkalit

hajar

2022-05-04

1

lihat semua
Episodes
1 PRAHARA
2 SANG PERTAPA
3 Doa Yang Terkabulkan
4 MENEMPA DIRI
5 Legenda Kesatrya Jatayu
6 Hadiah untuk Eyang Guru 1
7 Hadiah Untuk Eyang Guru 2
8 Kayu Gung Suhuhe Angin 1
9 Kayu Gung Susihe Angin 2
10 Jurus Bumantara
11 Potongan Sayap Jatayu
12 Meninggalkan Hutan Pancer
13 Petuah Luhur
14 Padepokan Tameng Landak
15 Menghancurkan Padepokan Tameng Landak
16 Pertemuan Yang Tidak Terduga 1
17 Pertemuan Tidak Terduga 2
18 Menuju Gunung Gembolo Arum
19 Ujian Sebelum Masuk Gua
20 Menerima Pusaka 1
21 Menerima Pusaka 2
22 Meluapkan Rindu 1
23 Meluapkan Rindu 2
24 Meluapkan Rindu 3
25 Memulai Tugas
26 Mulai Penyelidikan 1
27 Mulai Menyelidiki 2
28 Putra Mahkota 1
29 Putra Mahkota 2
30 Bergabung Dengan Putra Mahkota 1
31 Bergabung Dengan Putra Mahkota 2
32 Menyusun Rencana
33 Mencari Bantuan 1
34 Mencari Bantuan 2
35 Nyi Selasih
36 Satu Langkah Awal
37 Desa Ringin Anom 1
38 Desa Ringin Anom 2
39 Menuju Hutan Kuncoro 1
40 Menuju Hutan Kuncoro 2
41 Menuju Hutan Kuncoro 3
42 Tiba di Hutan Kuncoro
43 Mempersiapkan Pasukan
44 Di Satroni Musuh
45 Mulai Bergerak
46 Penyerangan Awal
47 Batu Penghalang
48 Pencerahan
49 Semangat Baru
50 Dendam yang Membinasakan 1
51 Dendam yang Membinasakan 2
52 Markas Baru
53 Shindung Bawana
54 Desa Mojosari
55 Dewa Tongkat Rotan
56 Umpan yang Tersambar
57 Mengatur Siasat
58 Sanja Kelana
59 Perang Terbuka 1
60 Perang Terbuka 2
61 Perang Terbuka 3
62 Perang Terbuka 4
63 Tewasnya Sangga Bhumi
64 Sumpah Jati Kusuma
65 Membangun Pemerintahan
66 Dendam Datuk Sesat 1
67 Dendam Datuk Sesat 2
68 Kabar Yang Mengejutkan
69 Pembantaian
70 Membantu Romo
71 Membantu Romo 2
72 Merenung
73 Serangan Fajar.
74 Tibanya pertolongan
75 Menggempur Musuh 1
76 Menggempur musuh 2
77 Tercerai Berai
78 Serangan Pamungkas 1
79 Serangan Pamungkas 2
80 Serangan Pamungkas 3
81 Akhir Dari Perang
82 Cinta Buta
83 Kecamuk Perang Di Hati
84 Merindukan Eyang Bagaskara
85 Menyelidiki Kematian Eyang Guru
86 Jalan Yang Terjal
87 Melacak Jejak Pembunuh
88 Empat Setan Gendut
89 Rahasia Pendekar Seruling Bambu 1
90 Rahasia Pendekar Seruling Bambu 2
91 Rahasia Pendekar Seruling Bambu 3
92 Rahasia Pendekar Seruling Bambu 4
93 Perebutan Patung Garuda Emas 1
94 Perebutan Patung Garuda Emas 2
95 Perebutan Patung Garuda Emas 3
96 Balas Budi Kawan Lama
97 Roh Garuda Agni 1
98 Roh Garuda Agni 2
99 Roh Garuda Agni 3
100 Roh Garuda Agni 4
101 Mencoba Kekuatan Baru
102 Menuju Gunung Semeru
103 Menuju Gunung Semeru 2
104 Perjalanan Yang Tertunda
105 Menghadapi Ki Ambiseno ( Gagak Merah )
106 Semeru Menunggu
107 Fitnah
108 Pengkhianatan Permana
109 Jati Diri Empu Songgo Langit
110 Serangan Licik
111 Matinya Murid Durhaka
112 Tugas Baru
113 Wujud Pedang Garuda Yang Baru
114 Meninggalkan Padepokan Gunung Semeru
115 Desa Randu Alas 1
116 Desa Randu Alas 2
117 Desa Randu Alas 3
118 Desa Randu Alas 4
119 Penculikan
120 Lautan Api di Hutan Murwo
121 Pertarungan Sepasang Pendekar
122 Pertarungan Sepasang Pendekar 2
123 Teror Siluman Kera
124 Teror Siluman Kera 2
125 Teror Siluman Kera 3
126 Raja Siluman Kera 1
127 Raja Siluman Kera 2
128 Raja Siluman Kera 3
129 Resi Wisrawa
130 Mustika Sodo Jagad
131 Mustika Sodo Jagad 2
132 Serangan Mendadak
133 Serangan Mendadak 2
134 Serangan Mendadak 3
135 Penobatan
136 Membangun Tatanan Baru
137 Menunjukkan Kekuatan Baru
138 Kebun Istana
139 Memenuhi Undangan
140 Memenuhi Undangan 2
141 Mengakhiri Pertarungan.
142 Lawan Menjadi Kawan
143 Restu Orang Tua
144 Restu Orang Tua 2
145 Restu Orang Tua 3
146 Restu Orang Tua 4
147 Kejutan 1
Episodes

Updated 147 Episodes

1
PRAHARA
2
SANG PERTAPA
3
Doa Yang Terkabulkan
4
MENEMPA DIRI
5
Legenda Kesatrya Jatayu
6
Hadiah untuk Eyang Guru 1
7
Hadiah Untuk Eyang Guru 2
8
Kayu Gung Suhuhe Angin 1
9
Kayu Gung Susihe Angin 2
10
Jurus Bumantara
11
Potongan Sayap Jatayu
12
Meninggalkan Hutan Pancer
13
Petuah Luhur
14
Padepokan Tameng Landak
15
Menghancurkan Padepokan Tameng Landak
16
Pertemuan Yang Tidak Terduga 1
17
Pertemuan Tidak Terduga 2
18
Menuju Gunung Gembolo Arum
19
Ujian Sebelum Masuk Gua
20
Menerima Pusaka 1
21
Menerima Pusaka 2
22
Meluapkan Rindu 1
23
Meluapkan Rindu 2
24
Meluapkan Rindu 3
25
Memulai Tugas
26
Mulai Penyelidikan 1
27
Mulai Menyelidiki 2
28
Putra Mahkota 1
29
Putra Mahkota 2
30
Bergabung Dengan Putra Mahkota 1
31
Bergabung Dengan Putra Mahkota 2
32
Menyusun Rencana
33
Mencari Bantuan 1
34
Mencari Bantuan 2
35
Nyi Selasih
36
Satu Langkah Awal
37
Desa Ringin Anom 1
38
Desa Ringin Anom 2
39
Menuju Hutan Kuncoro 1
40
Menuju Hutan Kuncoro 2
41
Menuju Hutan Kuncoro 3
42
Tiba di Hutan Kuncoro
43
Mempersiapkan Pasukan
44
Di Satroni Musuh
45
Mulai Bergerak
46
Penyerangan Awal
47
Batu Penghalang
48
Pencerahan
49
Semangat Baru
50
Dendam yang Membinasakan 1
51
Dendam yang Membinasakan 2
52
Markas Baru
53
Shindung Bawana
54
Desa Mojosari
55
Dewa Tongkat Rotan
56
Umpan yang Tersambar
57
Mengatur Siasat
58
Sanja Kelana
59
Perang Terbuka 1
60
Perang Terbuka 2
61
Perang Terbuka 3
62
Perang Terbuka 4
63
Tewasnya Sangga Bhumi
64
Sumpah Jati Kusuma
65
Membangun Pemerintahan
66
Dendam Datuk Sesat 1
67
Dendam Datuk Sesat 2
68
Kabar Yang Mengejutkan
69
Pembantaian
70
Membantu Romo
71
Membantu Romo 2
72
Merenung
73
Serangan Fajar.
74
Tibanya pertolongan
75
Menggempur Musuh 1
76
Menggempur musuh 2
77
Tercerai Berai
78
Serangan Pamungkas 1
79
Serangan Pamungkas 2
80
Serangan Pamungkas 3
81
Akhir Dari Perang
82
Cinta Buta
83
Kecamuk Perang Di Hati
84
Merindukan Eyang Bagaskara
85
Menyelidiki Kematian Eyang Guru
86
Jalan Yang Terjal
87
Melacak Jejak Pembunuh
88
Empat Setan Gendut
89
Rahasia Pendekar Seruling Bambu 1
90
Rahasia Pendekar Seruling Bambu 2
91
Rahasia Pendekar Seruling Bambu 3
92
Rahasia Pendekar Seruling Bambu 4
93
Perebutan Patung Garuda Emas 1
94
Perebutan Patung Garuda Emas 2
95
Perebutan Patung Garuda Emas 3
96
Balas Budi Kawan Lama
97
Roh Garuda Agni 1
98
Roh Garuda Agni 2
99
Roh Garuda Agni 3
100
Roh Garuda Agni 4
101
Mencoba Kekuatan Baru
102
Menuju Gunung Semeru
103
Menuju Gunung Semeru 2
104
Perjalanan Yang Tertunda
105
Menghadapi Ki Ambiseno ( Gagak Merah )
106
Semeru Menunggu
107
Fitnah
108
Pengkhianatan Permana
109
Jati Diri Empu Songgo Langit
110
Serangan Licik
111
Matinya Murid Durhaka
112
Tugas Baru
113
Wujud Pedang Garuda Yang Baru
114
Meninggalkan Padepokan Gunung Semeru
115
Desa Randu Alas 1
116
Desa Randu Alas 2
117
Desa Randu Alas 3
118
Desa Randu Alas 4
119
Penculikan
120
Lautan Api di Hutan Murwo
121
Pertarungan Sepasang Pendekar
122
Pertarungan Sepasang Pendekar 2
123
Teror Siluman Kera
124
Teror Siluman Kera 2
125
Teror Siluman Kera 3
126
Raja Siluman Kera 1
127
Raja Siluman Kera 2
128
Raja Siluman Kera 3
129
Resi Wisrawa
130
Mustika Sodo Jagad
131
Mustika Sodo Jagad 2
132
Serangan Mendadak
133
Serangan Mendadak 2
134
Serangan Mendadak 3
135
Penobatan
136
Membangun Tatanan Baru
137
Menunjukkan Kekuatan Baru
138
Kebun Istana
139
Memenuhi Undangan
140
Memenuhi Undangan 2
141
Mengakhiri Pertarungan.
142
Lawan Menjadi Kawan
143
Restu Orang Tua
144
Restu Orang Tua 2
145
Restu Orang Tua 3
146
Restu Orang Tua 4
147
Kejutan 1

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!