Wuushh.
Wuuushhh...
Bayangan putih melesat dengan cepat, ranting ranting pohon yang di pijak sama sekali tidak bergerak, seakan tidak ada yang pernah menapak, sungguh kecepatan yang luar biasa.
Cakra kini berlari sangat cepat seakan terburu buru di kejar waktu, dia sadar semakin lama dia mencari gua yang di perintahkan gurunya, semakin banyak pula rakyat yang merana hidupnya.
Shiiiing thaaaaph...
Telinga Cakra yang peka faham jika ada serangan dari sisi kirinya, dengan cepat dia melentingkan tubuhnya menghindari serangan itu, kakinya mendarat di tanah dan melesetlah pisau kecil yang mengarah padanya hanya mengenai pohon sebesar paha orang dewasa.
"Senjata beracun" gumam Cakra melihat pohon yang tertancap pisau itu langsung layu menandakan hebatnya racun di senjata itu.
Hwa ha ha ha, , ,
Suara tawa dengan tenaga dalam tinggi terdengar mengalun, suara itu datang terus menerus membuat siapapun yang mendengar bisa terluka dalam atau malah meregang nyawa karena tidak tahan.
Namun hal ini tidak berlaku bagi Cakra, dia dengan tenang berdiri di situ dan mencari keberadaan sumber suara itu.
Merasa serangan suaranya tidak berarti apa apa kepada pemuda itu, penyerang misterius itu mengubah suaranya menjadi lengkingan panjang yang menyakitkan.
Tidak ingin terus di serang, Cakra sudah menyiapkan pukulan jarak jauhnya.
Blaaarrrrr...
Sesaat setelah Cakra mendapatkan letak penyerang itu, segera Cakra mengarahkan pukulannya ke pohon beringin tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Seketika suara lengkingan itu berhenti dan di depan Cakra telah muncul seorang kakek membawa tongkat kayu berwarna hitam.
"Maaf kek, saya tidak pernah ada urusan dengan kakek, kenapa kakek menghalangi perjalananku " ucap Cakra sopan kepada kakek itu.
" Kau tidak boleh kemana mana, karena di sinilah kuburanmu, " ucap Kakek itu arogan.
" Tapi kek, aku tidak pernah membuat masalah kepada kakek, kenapa kakek ingin membunuhku " jawab Cakra keheranan.
" Dasar bodoh kau, sesuai ciri cirimu kau adalah orang yang membunuh Jagotawi anakku, kamu kira aku akan tinggal diam terhadap kematiannya" jawab kakek itu.
" Aku ki Branjang yang di kenal dengan pendekar teken ireng akan menuntut balas kematian anakku" lanjut kakek itu langsung menyerang dengan tongkat di tangannya.
Tanpa bisa menjawab, Cakra langsung menghindari sabetan tongkat kakek itu yang mengarah ke kepalanya.
Setelah serangan itu luput, tongkat itu berbalik arah menyasar dada Cakra, karena serangan itu sulit di hindari, maka Cakra segera menangkis tongkat itu dengan tangan kanan.
Duuarrr.
Suara ledakan akibat benturan tenaga dalam, akibatnya karena posisi cakra tidak menguntungkan dia terjajar tujuh langkah ke samping kiri.
" Dasar sombong, kemampuan secuil saja sudah berani mencari gara gara" sinis kakek Branjang atau pendekar teken ireng.
Setelah menguasai tubuhnya untuk tidak terjatuh, Cakra segera mengatur nafasnya, dia merasa tenaga dalam kakek Branjang sangat besar, meski tadi dia belum mengerahkan semua tenaga dalamnya, hanya sepertiga yang dia keluarkan.
Kini Cakra sudah siap jika di serang lagi.
Sekarang dia yang berinisiatif menyerang lawannya, karena dia tidak ingin berlama lama di situ.
Cakra menggelar jurus Cakar Garuda membelah Badai.
Wuushhh.
Cakra tidak tanggung tanggung, di barengi dengan jurus langkah kilat menapak angin, gerakannya sangat cepat, tangan kanan dan kirinya menyambar ke arah tempat vital kakek branjang,
Wheeet wheeet wheet sraaakkk...
Cakar tangan Cakra merobek baju lengan kiri kakek Branjang.
Whuuss..
Langkah kaki Cakra yang kokoh dan lincah mengejar kemanapun kakek Branjang berada.
Bukannya tanpa perlawanan, kakek Branjang pun kadang membalas serangan Cakra dengan tongkatnya.
Tongkat itu ia gerakkan dengan cepat menyasar tubuh Cakra, seakan kan tongkat itu punya mata yang melihat kemana dia harus mengejar mangsanya.
Dukhh.
Dua kekuatan itu bertemu lagi dan kini terlihat imbang karena mereka berdua sama sama terjajar 3 langkah ke belakang.
Tidak mau berlama lama di situ, Cakra segera mengeluarkan tombak Bayu Angkasa untuk pertama kalinya.
Tepat saat tombak itu muncul, angi datang menderu deru, menerbangkan daun daun yang ada di situ.
Kakek Branjang sempat kaget dengan senjata yang di keluarkan oleh pemuda itu, namun dia tetap bertekad membunuh pemuda itu.
Kini mereka sudah bersiap lagi, langsung mereka melesat memulai serangan.
Taakh. weeshh
Setiap tongkat dan tombak mereka beradu muncul tekanan angin dari tombak Bayu Angkasa yang cukup besar, hal ini menjadikan kakek branjang kerepotan.
Wussh..... craang
Pada suatu kesempatan Cakra menebaskan mata kapak melebar tepat kearah kakek Branjang, Kakek itu berusaha menangkis tebasan tersebut dengan menyilangkan tongkatnya di atas kepala, namun naas bagi Kakek Branjang, tongkat yang di pakai untuk melindungi kepalanya terpotong menjadi dua dan tebasan tombak Bayu angkasa tetap meluncur mengarah kepala kakek Branjang hingga terbelahlah kepala itu mengeluarkan isinya dan ambruklah tubuh dari kakek Branjang.
Cakra segera melesat meninggalkan tempat itu sesaat setelah menyimpan tombak Bayu Angkasa di tubuhnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Elmo Damarkaca
Mantap ini baru Pendekar tegas tanpa basa basi tumpas habis kebatilan.
2022-05-29
1
Onez Dewa Ganaz Trisula
Mantap nih cnya sangat bringas mmbnuh musuh2nya, semangatt thorrr...
2022-05-11
1
Onez Dewa Ganaz Trisula
Lanjuuttt...
2022-05-11
1