Braaak...
"Tolong ampuni saya tuan, " ucap seorang pedagang tua di pasar Andong Kuning.
"Apa kamu tidak sadar sudah dua kali kamu tidak membayar pajak keamanan kepada kami, haah mau beralasan apa lagi kamu ? " bentak gendon, lelaki bermuka hitam anggota preman pasar yang ada di situ.
"Ampun tuan, memang sejak tadi pagi daganganku belum ada yang laku, banyak dagangan buahku yang mulai membusuk karena dari kemaren belum ada yang laku, jangankan untuk memberi tuan, untuk tengkulak besok aja aku tidak tau bisa atau tidak, " jawab pedagang itu dengan takut.
"Jangan banyak alasan, sini bayar pajakmu!, kalau tidak akan ku hajar kau, aku tendang kau sampai keluar dari pasar ini, dasar pedagang tidak berguna" hardik gendon lagi.
Berpasang pasang mata melihat kejadian itu dengan iba, bukannya mereka tidak mau membantu pedagang buah itu, namun nasib mereka pun tidah lebih baik di bandingkan dengan nasib pedagang buah, mereka sama sama mengalami perlakuan sama dari gendon dan kawan kawannya.
Gendon dengan tidak sabar mengayunkan kakinya berniat menendang pedagang buah yang sedang meringkuk di depannya.
Duukhh aaakh,,,
Sesaat sebelum kaki Gendon mengenai pedagang tadi, sebuah kerikil kecil mengenai pergelangan kaki Gendon, menjadikan kaki itu berubah arah tidak mengenai pedagang buah dan menjadikan Gendon kesakitan sambil jingkrak jingkrak.
" Kurang ajar, siapa yang berani membokong kami ? " teriak salah satu teman Gendon.
" Hayo siapa yang berani macam macam sama kelompok bajul sengoro, kalau tidak orang ini bakal mati" teriaknya lagi sambil mengacungkan goloknya dan di tempelkan ke leher pedagang itu.
"Tidak usah teriak teriak begitu, aku tidak budeg, " jawab seorang kakek berpakaian serba putih yang tiba tiba muncul di belakang kelompok preman bajul sengoro.
Mendengar itu serempak empat teman Gendong menoleh ke belakang, mereka begitu kaget melihat ada seorang kakek yang berani menantang mereka.
"Hai kakek, sebaiknya sayangi nyawamu, pulanglah kerumah bermain dengan cucumu sambil menunggu kematianmu di rumah!, tidak perlu kau mempercepat kematianmu disini" ucap salah satu orang kelompok bajul sengoro menakuti kakek itu.
"He he he, kamu kira aku anak kecil, yang jika kau bentak lalu pulang ketakutan, heehh? dengar baik baik, aku eyang Bagaskara akan menguliti kalian, " balas gertak sosok kakek itu yang ternyata eyang Bagaskara.
Mendengar itu nyali preman bajul sengoro mulai menciut, sudah lama mereka mendengar nama besar eyang Bagaskara, namun baru kali ini mereka apes bertemu dengannya.
Namun tidak mau malu di depan para pedagang di pasar itu mereka mulai memberanikan diri,
"Tidak usah banyak omong tua bangka, serang! " teriak Gendon yang masih menahan sakit, memberi perintah kepada teman temannya.
Empat orang maju menyerang eyang Bagaskara, dengan golok di tangan mereka mengeroyok eyang Bagaskara.
Dengan tenang eyang Bagaskara meladeni seranganan itu, berkelebatan golok silih berganti datang, namun tidak ada satu pun yang bisa mengenai kulit eyang Bagaskara.
Melihat serangan teman temannya tidak membuahkan hasil, Gendon pun ikut menyerang, namun hal itu tidak berarti apa apa bagi eyang Bagaskara.
Mulai bosan bermain main, akhirnya eyang Bagaskara mulai membalas serangan.
Plaakh plaakh plaakh plakkh plaakh....
Sekali serang kelima orang itu terpelanting terkena tamparan eyang Bagaskara, mereka berlima terkapar tanpa bisa bangun lagi karena pinsan, beruntung bagi mereka, tamparan itu tidak di barengi dengan tenaga dalam, jika tidak, sudah pecah batok kepala mereka.
Setelah ke lima orang itu terkapar, eyang Bagaskara menghampiri pedagang tersebut.
"Terima kasih eyang, engkau telah menyelamatkan nyawa saya,"
"Tidak perlu sungkan, sudah sepatutnya kita saling menolong, terimalah ini, sedikit uang kepeng untuk keperluan modal daganganmu, belilah dagangan buah dan sayur yang bagus dan segar, agar daganganmu laris" ucap eyang Bagaskara sambil menyodorkan sekantong uang kepeng kepada pedagang itu.
Sebenarnya pedagang itu malu untuk menerima pemberian eyang Bagaskara, namun karena desakan eyang Bagaskara akhirnya dia menerima pemberian itu.
* * *
Kreseeek.. Kreseeek....
Telinga Cakra yang terlatih menangkap bunyi yang mengarah padanya, bunyi langkah yang berat menabrak ranting ranting yang berserakan di sekitar situ.
Bunyi yang semakin mendekat menjadikan Cakra lebih waspada.
Ghreeeeerrrr,,, aauuuumm. ...
Suara seekor harimau yang meloncat hendak menerkam Cakra yang sedang terbaring di bawah pohon.
Dengan sigap Cakra segera mengelit ke samping, hingga lolos lah dia dari terkaman harimau, segera dia berdiri dan menyiapkan kuda kudanya.
Harimau sebesar anak sapi yang di hadapi Cakra saat ini mulai waspada, segera dia memutari badan Cakra, Cakra yang tahu harimau itu sedang menyiapkan serangannya lagi, dia meningkatkan kepekaannya.
Whuuaam,,
Harimau itu menerkam, dengan sigap Cakra bersalto ke belakang menghindari cakaran harimau, sambil dia berusaha membalas dengan menendangkan kakinya ke perut sisi bawah harimau.
Buukh. . .
Tendangan itu mengenai harimau itu, hingga harimau itu terpental berjungkir balikan, hal ini menjadikan harimau lebih murka, walau tendangan itu tidak berasa di badannya, namun dia tidak bisa menerkam lawannya.
Hingga akhirnya terjadilah pertarungan seru antara anak manusia dan hewan penghuni hutan, beberapa kali pukulan dan tamparan Cakra mengenai tubuh harimau itu, namun semua itu seakan tidak berefek,
harimau itu tetap bergerak dengan gesit dan beringas.
" Jika terus terusan seperti ini, aku pasti akan kehabisan tenaga dan bisa bisa habis aku di makan harimau" gumam Cakra
"Aku harus mencari akal agar aku tidak mati di terkam harimau ini"
Akhirnya Cakra pun mendapat cara, dia segera menerapkan jurus langkah kilat menapak angin, jurus meringankan tubuh yang di ajarkan oleh Eyang Bagaskara.
Sekali hentak tubuh Cakra mencelat ke atas pohon, harimau itupun tidak mau kehilangan mangsanya, dia berusaha mengejar Cakra, dengan ringan Cakra meloncat dari satu pohon ke pohon lain menghindari kejaran harimau.
Hingga pada suatu saat Cakra melihat celah, segera dia menjejakan kakinya ke batang pohon dan menambah daya lontarnya, dia meluncur dengan cepat kearah harimau itu sambil mengeluarkan jurus cakar garuda membelah badai.
Tepat saat itu harimau mengangkat kaki depannya untuk menyongsong tubuh Cakra, mengetahui itu Cakra berkelit dan Craaaash. . . .
Darah segar mengucur dengan deras dari leher harimau itu, sebentar harimau itu mengerang kesakitan sesaat setelah itu dia tak bergerak karena sudah tidak bernyawa.
Melihat itu, Cakra segera mengeluarkan belati kecil dari balik bajunya, dia menguliti harimau itu dan membawa pulang ke pondok.
* * *
Saat eyang Bagaskara sampai di pondok, dia terkejut, karena menemukan kulit harimau yang besar di rentangkan dengan kayu di halaman agar cepat kering.
Dia segera masuk ke pondok mencari murid satu satunya yang dia khawatirkan.
Di depan dia tidak menemukan muridnya, dia mencari di dapur pondok, hatinya sangat lega karena menemukan Cakra di sana sedang memasak air dan membakar talas di perapian.
"Cakra, apa kamu tidak apa apa ?" sergah eyang Bagaskara.
" Seperti yang eyang lihat, tidak ada sesuatu yang kurang eyang" jawab Cakra sambil tertawa terkekeh.
"Syukurlah kalau begitu, aku khawatir kau terluka"
"Kenapa di luar ada kulit harimau" tanya eyang.
Sambil nyengir Cakra menceritakan tentang perkelahiannya dengan harimau di hutan sebelah utara.
Eyang Bagaskara geleng geleng kepala mendengar cerita dari muridnya, dia bersyukur muridnya bisa membunuh harimau itu.
"Aku sengaja membawa kulit harimau itu sebagai hadiah untuk guru, untuk alas duduk dan tidur guru agar eyang guru merasa lebih nyaman. " ucap Cakra.
"Terima kasih Cakra, kau sungguh berbakti, tapi lain kali kau tidak boleh lagi seperti itu, sangat berbahaya jika itu terjadi lagi, " saut eyang Bagaskara.
Cakra pun berjanji untuk tidak mengulangi lagi, segera dia mempersilahkan minum kepada eyang Bagaskara yang baru pulang dari desa Andong Kuning, kemudian menyiapkan talas bakar yang sudah matang di taruh di atas daun jati untuk di makan oleh eyang Bagaskara gurunya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Onez Dewa Ganaz Trisula
Lanjuutt..
2022-05-08
2
Agus Aguskurnia
siiip thor
2022-04-18
1
🔥⭐ SANG PENGINTIP⭐🔥
semoga semakin menarik👍👍👍
2022-02-16
4