Sebuah bayangan bergerak dengan ringan, berlari dari satu atap ke atap yang lain tanpa satu orang pun menyadarinya, sepotong bulan yang menggantung di angkasa terselimuti dengan awan, hal ini menjadikan sosok itu lebih leluasa bergerak tanpa takut di pergoki orang kampung yang terlelap.
Kurang dari seteguk teh, bayangan itu telah sampai pada bangunan besar yang di kelilingi pagar tembok tinggi yang terletak di barat kampung.
Bayangan itu adalah Cakra yang ingin menyelidiki dahulu tentang padepokan tameng landak, dia mengendap mengitari pagar itu mencari celah untuk masuk ke dalam, tepat di pojok belakang terdapat rumpun bambu yang rimbun, ini cocok untuk menyusup.
Huuph,,, dengan ringan Cakra meloncati pagar yang tinggi itu dan mendarat di tanah tanpa ada suara, bahkan rumput yang di injak pun tidak meninggalkan jejak seakan rumput itu tidak pernah di injak kaki, ini menunjukan jika jurus meringankan tubuh yang di miliki oleh Cakra sudah berada pada tahapan sempurna.
Melihat suasana di padepokan itu sangat sepi karena mereka yakin tidak akan ada orang yang berani menyusup di padepokan itu, yang ada cuma 3 orang penjaga di gardu depan sambil minum tuak untuk menghangatkan badannya dari dinginnya malam sebagian mereka istirahat di dalam bangunan yang cukup besar itu, Cakra segera melesat naik ke atas atap genting tanah, dia mengendap untuk mencari ruang tempat pemimpin padepokan ini berada.
Crinh cring cring...
Belum sempat menemukan ruangan dari pemimpin padepokan itu, dari depan telah masuk kereta kuda yang langsung berhenti tepat di depan pendopo.
Dari dalam kereta kuda tersebut keluar seorang laki laki dengan tampang bengis menyeret seorang gadis, melihat pakaian yang di pakai gadis itu sudah di pastikan kalau gadis itu seorang gadis kampung.
Gadis itu meronta tidak mau di ajak masuk, namun apa daya baginya, tenaganya kalah jauh di banding laki laki bengis itu, dia terseret ke dalam pendopo itu, di pendopo itu baru muncul seorang laki laki tinggi besar memakai sorjan warna coklat yang mewah, di kepalanya bertengger blangkon yang menambah wibawa orang itu.
"Maaf ki Jagotawi, ini gadis yang anda pesan" ucap laki laki itu sambil menunjuk gadis yang terduduk di lantai pendopo.
Ki Jagotawi berjalan mendekati gadis itu, tangannya mengulur mengangkat dagu gadis itu, ia mengamati lekat lekat wajah gadis itu dengan seksama. wajah yang manis berkulit sawo matang itu risih dilihati oleh ki Jagotawi, dia memalingkan wajahnya kesamping, hal ini menyinggung hati ki Jagotawi.
Plaak.
Suara tamparan terdengar keras di wajah gadis itu, mendapat perlakuan seperti itu dia menangis sambil memanggil manggil simboknya.
"Dasar tidak tau diri kamu ya, siapa namamu haah? " tanya ki Jagotawi.
Hik hik hik,
Tidak ada jawaban dari gadis itu, yang ada cuma tangisan gadis itu.
Merasa tidak di gubris, tangan kiri ki Jagotawi mencengkeram leher gadis itu, namun segera di cegah oleh laki laki yang membawanya, kemudian ki Jagotawi melepaskannya, sejenak dia diam memandangi wajah dan tubuh gadis itu.
"Cukup lumayan" gumam ki Jagotawi.
"Karpolo, bawa dia di kamarku, " ucap ki Jagotawi kepada laki laki yang membawa gadis itu sambil melangkah masuk kedalam padepokan.
"Injiih ki" jawab Karpolo.
Dia segera menghampiri gadis itu, namun kurang selangkah dia sampai, terdapat bayangan yang melesat cepat, tanpa di sadarinya tubuh gadis itu telah lenyap di depannya.
"Heee... Siapa yang berani membuat masalah dengan padepokan tameng landak keluarlah! " ucap Karpolo.
Mendengar teriakan itu ketiga orang yang berjaga itu mendatangi Karpolo, beberapa orang yang ada di rumah itupun juga keluar, total sudah ada lima belasan orang yang ada di situ.
"Ada apa kakang? kenapa kakang teriak teriak ? " tanya salah satu penjaga itu.
"Bodoh kalian, ada penyusup kenapa kalian tidak tau, apa kerja kalian cuma mabuk mabukan? " hardik Karpolo.
"Di mana ada penyusup, dari tadi kami tidak menemukan ada penyusup. "
"Aku di sini, " ucap Cakra di kegelapan, yang setelah meletakkan gadis itu ke tempat aman dia kembali ke padepokan itu, dia sangat geram dan merasa bahwa padepokan ini harus di hancurkan.
Semua yang berada di situ merasa kaget, karena sebelumnya mereka tidak merasakan adanya orang di situ.
"Siapa kamu?, beraninya kamu membuat onar di padepokan tameng landak ini, " tanya Karpolo.
"Aku hanyalah seorang pengembara yang akan menghentikan tindakan keji kalian"
"Kurang ajar, terima ini" teriak salah satu orang penjaga sambil meloncat dan mengarahkan kakinya menerjang dada Cakra.
Mengetahui serangan datang Cakra bersiap, dia ingin memapak serangan itu dengan tangan kirinya.
Duukh ,,,,, kraak Aachh...
Terdengar jerit kesakitan orang itu yang tidak menyangka kalau serangannya di papaki cuma dengan tangan kiri dan tangan kanannya memukul dari samping sehingga membuat tulang kakinya patah, dia terjatuh berguling guling merasakan sakit yang luar biasa pada kakinya sampai dia pingsan tidak sadarkan diri.
Melihat temannya terkapar dalan satu gebrakan, orang orang yang berada di situ pun marah, dihunus lah golok golok mereka dan mereka maju menyerang Cakra.
Cakra dengan santai menghindari serangan serangan musuhnya itu menggunakan jurus sayap seribu, desingan golok yang silih berganti menyerang tidak satupun mengenai tubuh Cakra, hingga pada saat penyerang itu agak kelelahan dengan cepat Cakra menggerakkan tangan kanan dan kirinya bersamaan.
Plak plak plak,
Tubuh para penyerang itu terpelanting dan tidak sadarkan diri karena terkena tamparan dari Cakra.
Kini orang orang yang di depan padepokan itu cuma tinggal lima termasuk Karpolo, nyali mereka menciut melihat teman temannya di tumbangkan oleh pemuda tampan dengan mudahnya.
Sekejap mereka ragu untuk menyerang, namun dari dalam munculah ki Jagotawi bersama dengan beberapa orangnya langsung mengepung Cakra.
"Ada apa ini Karpolo, kenapa ribut ribut" tanya ki Jagotawi, dia terkejut karena beberapa orang pengikutnya sudah terkapar tidak sadarkan diri.
"Pemuda ini telah merebut gadis tadi ki "
"Kurang ajar, berani beraninya kamu membuat onar di sini, cincang tubuh pemuda itu" teriak ki Jagotawi di damping kepala kampung itu.
Serentak mereka yang tadi sudah menciut nyalinya kini setelah datang teman temannya, muncul keberaniannya. mereka menyerang Cakra bersama sama.
Banyaknya orang yang menyerang Cakra, Cakra segera mengeluarkan jurus sayap garuda mengepak, tangan kanan dan kirinya bergerak ke depan dan kebelakang di lambari dengan tenaga dalam, lama kelamaan dari gerakan itu muncul angin yang menderu deru sehingga tubuh penyerang yang mendekatinya terbang terhempas angin yang di ciptakan Cakra, tubuh tubuh itu tidak terkendali, ada yang menabrak atap padepokan, ada yang menabrak pohon dan ada juga yang bertabrakan dengan temannya sendiri. bergelimpangan lah tubuh para penyerang itu ada yang pingsan ada yang kehilangan nyawanya termasuk Karpolo.
"Hanya tinggal kalian disini, apakah kalian ingin bertaubat dan merubah cara hidupmu? " ucap Cakra kepada ki Jagotawi dan kepala kampung itu.
"Cuiih,, jangan berkhutbah di depanku pemuda, kamu kira dengan mengalahkan anak buah ku dengan jurus murahan mu itu membuat aku takut, ayo serang aku ! " jawab ki Jagotawi.
Mendengar itu, tidak ada lagi keraguan bagi Cakra untuk melenyapkan padepokan tameng landak.
Dia mulai membuka jurus cakar Garuda, dengan langkah kilat menapak angin dia bergerak.
Craaak craak.
Sungguh mengerikan kekuatan Cakra, seorang pentolan padepokan sekelas ki Jagotawi yang di takuti oleh banyak pendekar, kini tak mampu berbuat apa apa, tanpa sempat menarik pedangnya, lehernya telah putus mengeluarkan darah, tubuhnya jatuh ke tanah di ikuti tubuh kepala kampung yang mengalami nasib yang sama sebentar tubuh mereka berkelojotan kemudian diam tanda hilangnya nyawa mereka.
Tamatlah riwayat ki Jagotawi dengan padepokan nya malam itu.
....
Pagi hari itu warga kampung di kejutkan dengan banyaknya mayat yang bergelimpangan di padepokan tameng landak, mereka menemukan ki Jagotawi dan kepala kampung sudah menjadi mayat.
Akhirnya pada pagi itu orang orang kampung berkumpul di situ dan mengadakan musyawarah siapa pengganti kepala kampung.
Setelah itu di sepakati ki Darso untuk memimpin kampung itu.
Untuk tugas pertama yang di berikan ki Darso kepada warga kampung adalah memerintahkan mengubur mayat mayat itu, kemudian ki Darso, Mbah Gerit dan beberapa orang yang ada di situ memeriksa di dalam padepokan itu, mereka menemukan ruangan yang menyimpan harta benda dan ruangan yang menyimpan cadangan padi padepokan itu.
Dengan bijaksana Ki Darso membagi rata harta itu kepada warga kampung sampai habis sebagian untuk kas kampung.
Hari ini warga kampung sangat berbahagia karena selain mendapat harta benda juga mereka terlepas dari kungkungan Ki Jagotawi yang selama ini memerasnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Onez Dewa Ganaz Trisula
Lanjuuttt...
2022-05-10
2
Agus Aguskurnia
paten thor lanjut
2022-04-19
1
akp
cukup memuaskan
2022-01-15
1