Kepanikan terjadi di salah satu bagian dari rombongan pengungsi, Nyai Galuh yang baru menyadari anaknya sudah tidak ada lagi di sampingnya dengan panik dia menerobos melawan arus para pengungsi, Dia mencari keberadaan Cakra, dengan panik dia memeriksa anak kecil yang dia temui, Dia berusaha mendatangi setiap anak kecil yang berjalan bersama orang-orang dewasa sambil berharap bahwa anak itu adalah cakra anaknya, Namun usaha tersebut masih belum membuahkan hasil, Setiap anak yang di hampirinya ternyata bukan Cakra, Sampai pada suatu saat dia berjumpa dengan salah satu prajurit anak buah suaminya.
"Ada apa nyonya ? kenapa nyonya terlihat panik seperti ini ? " tanya prajurit itu kepada nyai Galuh yang dia kenali sebagai istri atasannya.
"Aku terpisah dengan anakku Cakra, Aku berusaha mencarinya, Tolong bantu aku mencarinya ! " jawab Galuh.
"Tenang nyonya, Kami akan segera berusaha mencarinya, Semoga aden Cakra baik-baik saja, Sebaiknya nyonya kembali jalan sesuai arah kita agar kita semakin cepat bisa keluar dari hutan ini" jawab prajurit itu menenangkan Galuh.
Prajurit itupun mengabarkan kepada semua teman prajurit bahwa anak dari atasan mereka telah terpisah dari biyungnya, Sehingga di sela-sela tugas mereka mengatur para pengungsi, Mereka juga berusaha mencari tahu keberadaan Cakra. Mereka mencoba menyisir setiap tempat yang di harapkan bisa menemukan Cakra, setiap sisi di periksa, sebagian menyisir pinggiran jurang meneliti jika ada tanda-tanda keberadaan Cakra di situ. Namun usaha mereka belum membuahkan hasil.
Tepat dengan terbenamnya matahari yang menjadikan alam menjadi gelap, Rombongan para pengungsi telah keluar dari hutan Pancer yang angker, Lurah Bajra memutuskan untuk mengistirahatkan para pengungsi di pategalan yang cukup luas untuk menampung para pengungsi yang ribuan itu, Disitu Braja terkejut menerima laporan dari prajurit anak buahnya bahwa Cakra anaknya telah terpisah dari biyungnya dan sampai saat ini masih belum ditemukan, Braja kemudian mencari Galuh istrinya.
Galuh memeluk suaminya sambil terisak, Air matanya meleleh penuh kekhawatiran dan penyesalan terhadap hilangnya Cakra.
"Maafkan aku kakang, Aku yang bersalah telah teledor dalam menjaga anak kita" kata Galuh sambil menangis di pelukan suaminya.
"Tenangkan hatimu istriku, Aku akan mencoba mencari anak kita, Tidak ada yang perlu di salahkan dalam kondisi seperti ini, kita semua tahu kita dalam keadaan kelelahan, Semoga anak kita baik-baik saja dan segera bisa kita temukan" ucap Bajra menenangkan istrinya.
Niat hati lurah Braja ingi kembali menyusuri jalan hutan Pancer yang gelap dan licin, Namun hal itu di segera di cegah oleh para sesepuh yang ikut didalam rombongan pengungsi itu, Tentu cukup berbahaya bila malam-malam seperti ini memasuki hutan Pancer.
Dengan berat hati lurah Braja mengurungkan niatnya untuk menyusuri hutan Pancer mencari anaknya, Kemudian dia memberi perintah untuk menginap di tempat itu dan melanjutkan perjalanan esok hari setelah tenaga mereka pulih karena keselamatan para pengungsi lebih utama baginya dan dia menempatkan beberapa prajurit di tepi hutan agar lebih awal mengetahui jika ada pasukan musuh yang datang.
Esok paginya, Setelah semua pengungsi sarapan dari bekal yang mereka bawa kemaren, Lurah Braja memerintahkan Narto, Wakilnya di pasukan prajurit untuk memimpin rombongan melanjutkan perjalanannya, Dia sendiri dengan di bantu lima orang prajurit kembali menyusuri jalanan hutan Pancer yang kemaren mereka lalui, mereka berharap mendapatkan jejak keberadaan Cakra.
......
Byuuuurrrrr...
Suara benda jatuh di mata air yang jernih, Mau tak mau suara itu mengusik seorang kakek berusia 65 tahun yang sudah lama bertapa di bawah cekungan jurang yang tidak jauh dari mata air yang tertimpa benda tadi, Dengan perlahan pertapa yang bernama ki Bagaskara itu membuka mata dan secepat angin ki Bagaskara melesat kearah mata air itu, Dengan sigap ki Bagaskara mengangkat tubuh kecil yang baru saja jatuh di mata air itu untuk di bawa ke tempat yang teduh dan terlindungi dari kucuran air hujan yang turun dengan cukup deras.
Beruntung bagi Cakra, Dia terjatuh di jurang yang agak miring tidak di jurang yang curam, Dia terjerembab dan tubuhnya menggelinding kebawah, Menerobos semak dan membentur pohon yang cukup menjadikan Cakra tidak sadarkan diri, Dia menggelinding jatuh di mata air yang cukup dalam hingga memperkecil cidera yang dialami oleh Cakra, Yang kemudian berakhir tubuhnya di gendong dan di bawa ke tempat teduh oleh ki Bagaskara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
adi dwi
jaman dlu ada jga ya yg panggil nyonya
2024-01-01
1
Kalakai Murag
karya yang bagus....sukses selalu....
2023-11-01
0
Choirudin Sinwan
sepertinya lebih mengena menggunakan kata "nyai" daripada "nyonya"
2023-05-20
1