Malam semakin larut, cahaya bulan redup terhalang awan mendung, sunyi senyap tiada satu pun hewan yang nampak, sesekali hanya suara burung hantu yang terdengar dari kejauhan, menambah kelam malam itu.
Cakra sudah siap dengan semedinya untuk menyatukan jiwanya dengan jiwa tombak Bayu Angkasa.
Dia mengambil posisi duduk bersila dengan tenang, kedua tangannya menggenggam batang tombak Bayu Angkasa, sejenak dia mengheningkan fikirannya, dia pejamkan mata berkonsentrasi pada keluar masuk nafasnya.
Tidak begitu lama, tombak Bayu Angkasa bergetar mengeluarkan cahaya.
Semakin lama getar itu semakin kuat, cahayanya semakin berkilauan, tubuh Cakra menegang, otot ototnya menjadi kaku dan peluh di tubuhnya mengalir dengan deras.
Dari dalam tubuh Cakra keluar cahaya kebiruan, cahaya itu semakin melebar dan melingkupi cahaya yang berasal dari tombak Bayu Angkasa.
Ke dua cahaya itu saling menekan satu sama lainnya, hal ini berlangsung cukup lama sampai pada munculnya fajar yang pertama cahaya itu perlahan demi perlahan menyatu menjadi satu, kemudian kedua cahaya itu menyatu menjadi satu, bertepatan dengan hilangnya cahaya itu, hilang pulalah tombak Bayu Angkasa di tangan Cakra, menyatu di dalam tubuhnya, kini dia merasa tenaga dalamnya meningkat dua kali lipat dari sebelumnya, dia merasa tubuhnya sangat ringan namun penuh tenaga, namun Cakra masih melanjutkan semedinya untuk membiasakan mengatur tenaga dalamnya yang besar itu.
.....
Dhuuuuarr...
Suara ledakan yang cukup besar terdengar, mengusik pagi yang tenang. untung bagi tubuh yang masih dalam posisi bersemedi yang di sasar cahaya kebiruan tadi bisa melesat menghindari, cahaya yang sebenarnya hanya kurang beberapa jari lagi mengenai dadanya hanya mengenai tempat kosong.
Dengan ringan dan tanpa suara, sepasang kaki mendarat di tanah.
"Luar biasa Cakra, kau bisa menghindari pukulan jarak jauhku" ucap Eyang Bagaskara menguji muridnya.
"Ampun eyang........"
Baru saja Cakra mau melanjutkan ucapannya eyang Bagaskara sudah maju menyerang Cakra, Cakra sebentar terkesiap, reflek tangannya menangkis serangan dari gurunya, kemudian dia bersalto menjauh dari gurunya, tangannya cukup bergetar dan kesemutan menandakan eyang gurunya serius menyerangnya dengan tenaga dalam.
Serangannya dapat di hindari muridnya, eyang Bagaskara segera menyiapkan serangannya yang lebih dahsyat, kini eyang Bagaskara mengeluarkan jurus cakar garuda membelah badai, dengan cepat eyang Bagaskara menyerang Cakra.
Dengan jurus sayap seribu Cakra menghindari serangan gurunya, dengan gerakan yang lincah dan lues dia bisa menghindari serangan gurunya.
Pada jurus ke lima puluh, tangan eyang Bagaskara masuk di antara tangan Cakra mengarah pada lehernya, melihat serangan itu tidak mungkin di hindari, Cakra segera memapaki dengan jurus yang sama.
Dhuaaaar....
Bunyi dua kekuatan yang saling berbenturan, kedua sosok yang saling serang pun terpental ke belakang sambil bersalto di udara dan mendarat dengan indah.
"Cukup Cakra, nafas tua ini agak agaknya sudah tidak mampu mengimbangi tenaga mudamu" jujur eyang Bagaskara yang nafasnya mulai memburu.
"Maafkan eyang, Cakra tidak bermaksud melukai eyang" jawab Cakra menghawatirkan keadaan gurunya.
" Tidak apa apa, aku hanya kekurangan nafas saja, sekarang ayo kita istirahat di pondok itu.
Eyang Bagaskara melangkah memasuki pondok di ikuti oleh Cakra di belakangnya, kemudian mereka duduk berhadap hadapan.
"Cakra, kurasa semua ilmuku telah kau kuasai, segeralah engkau keluar dari Hutan Pancer ini, perbanyaklah pengalamanmu, pergunakanlah ilmumu di jalan kebenaran dan jangan kau sembarangan menggunakan tombak Bayu Angkasa, gunakanlah dengan bijaksana. "
" Segera temukan kitab garuda, pelajarilah untuk menyempurnakan ilmumu sebagai bekal hidupmu di dunia ini. " ucap eyang Bagaskara berkaca kaca.
Mendengar itu Cakra hampir tidak bisa berkata apa apa, dia hanya menunduk mengenang awal perjumpaannya dengan eyang Bagaskara.
Dia sadar dia tidak mungkin berada di hutan Pancer ini selamanya, namun dia berat meninggalkan gurunya.
"Terimalah ini sedikit bekal bagi perjalananmu, " eyang Bagaskara menyodorkan dua kantong uang sebagai bekal Cakra.
"Tidak eyang, simpanlah ini untuk eyang, " tolak Cakra.
"Bagi orang tua seperti aku ini sudah tidak membutuhkan itu Cakra, cukup ketela dan hewan hewan di hutan ini sudah mengenyangkan bagiku, kau yang akan melakukan perjalanan jauh pasti lebih membutuhkannya, "
Dengan terpaksa Cakra menerima dua kantong uang itu, dia segera bersiap siap kemudian berpamitan kepada eyang Bagaskara.
Dengan berat dia melangkah meninggalkan jurang itu, di mulailah perjalanan itu dengan di iringi doa restu gurunya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Onez Dewa Ganaz Trisula
Mantap...
2022-05-10
2
Asep Dki
tambah seru nih berpetualang...😁😁😁
2022-04-22
1
Agus Aguskurnia
mantul thor lanjut
2022-04-18
1