Waktu berjalan dengan cepat, Matahari timbul tenggelam sesuai titah Sang Tuhan, sesosok tubuh yang bertapa di hamparan batu karang di pinggir pantai selama tiga tahun ini sampai sekarang masih kokoh di sana, walau kadang ombak menerjang tubuhnya, namun satu mili pun tubuh itu tidak bergeser. tubuh yang kadang tenggelam oleh air pasang itu kini agak berubah lebih kekar, laksana tubuh yang di tempa oleh alam.
Perlahan Cakra membuka matanya, dia merasa sudah cukup untuk menyudahi pertapaannya, kini walau terlihat agak kurus, namun otot ototnya menyembul menambah ke gagahan pemuda berusia 14 tahun itu, sorot matanya tajam menjadikan segan orang yang menatapnya.
"Sudah berapa lama aku bertapa ? " gumam Cakra.
"Jika melihat penampilan rambutku yang telah panjang dan gimbal, pasti sudah hitungan tahun aku bertapa"
Byuuurrr...
Cakra menceburkan dirinya di air laut yang agak dalam, sesegera mungkin dia membersihkan dirinya yang selama 3 tahun tidak di bersihkan, setelah selesai dengan kotoran yang ada di tubuhnya, dia segera naik dan mengambil belati kecil yang selalu di bawanya, dia memotong rambutnya sebahu, sosok tubuh itu terlihat tampan dan menawan setelah semua kotoran di tubuhnya telah hilang.
Segera setelah dia membersihkan diri, dia menoleh ke arah matahari untuk mencari arah yang tepat kemana dia harus pergi.
setelah yakin arah mana yang harus dia tempuh dia langsung berkelebat ke arah itu.
Wuushhh.... kini Cakra telah menggunakan jurus langkah kilat menapak angin miliknya.
Tubuhnya hanya terlihat bagai bayangan, bahkan orang yang di lewati pun tidak sadar bahwa barusan ada seseorang yang berkelebat di dekatnya, perjalanan yang dulu di tempuh selama seharian, saat ini hanya di tempuh selama 3 jam.
Sampai di dasar jurang hutan Pancer, dia segera menghampiri eyang gurunya yang sedang bertapa di cerukan jurang itu, dia langsung berlutut di depan eyang gurunya sampai eyang gurunya menyelesaikan pertapaannya.
"Kau sudah menyelesaikan pertapaanmu ngger ? " tanya eyang Bagaskara sambil tersenyum senang karena muridnya sudah menyelesaikan pertapaannya.
"Atas restu dan bimbingan eyang, saya bisa menyelesaikan pertapaan ini eyang
" Bagus anakku, sekarang istirahatlah kamu! " perintah eyang Bagaskara.
Cakra pun segera memasuki pondok, dia segera membersihkan pondok itu yang kotor karena 3 tahun tidak di tempati.
Setelah membersihkan pondok dia berburu ayam hutan untuk makannya nanti.
. . .
Sore telah menaungi kawasan hutan Pancer, dua ekor ayam panggang telah terhidang di ruang depan pondok di jurang hutan Pancer.
Cakra segera menghadap eyang Bagaskara untuk mempersilahkan gurunya makan bersamanya, dengan lahap mereka berdua menghabiskan ayam panggang itu, hingga perut mereka terasa kenyang.
Setelah ayam panggang habis, mereka berbincang di situ di temani se teko wedang jahe untuk menghangatkan badan.
"Kini kau telah dewasa Cakra, sudah waktunya kau pergi dari jurang hutan Pancer ini" bincang Eyang Bagaskara sambil bersandar di dinding pondok.
"Carilah kitab Garuda Jatayu, datanglah ke gunung Gembolo arum di sebelah barat sana!, carilah tebing yang berada di sisi timur gunung itu, carilah celah di tebing itu, di sanalah tersimpan kitab itu"
Cakra mendengarkan perintah gurunya dengan seksama.
"Namun sebelum kau kesana aku akan memberikan ini padamu" ucap eyang Bagaskara sambil mengangkat tangan kanannya ke atas seakan merogoh sesuatu di ruang kosong.
Tiba tiba di tangan kanan eyang Bagaskara tergenggam tombak sepanjang 1 depa setengah, tombak yang berwarna biru itu bersinar dengan indah, di salah satu ujung tombak itu terselip semacam kapak lebar yang tajam menambah keindahan senjata tombak itu.
"Terimalah ini anakku, tombak ini bernama tombak Bayu Angkasa, konon menurut cerita tombak ini adalah perwujudan potongan sayap Jatayu yang di tebas Raja Dasamuka, walau Jatayu sudah tiada namun dia masih ingin menegakkan keadilan walau hanya dengan sepotong sayapnya yang berubah wujud menjadi tombak"
"Cakra, penuhilah harapan Jatayu untuk selalu menebar keadilan dan memusnahkan ke angkara murkaan di bumi ini, lanjutkanlah perjuangan jatayu sekuat semampumu, "
"Baik eyang, saya akan berusaha sekuat tenagaku, walau nyawaku menjadi taruhannya" jawab Cakra sambil menerima tongkat Bayu Angkasa dengan ke dua tangannya, kemudian di letakkan di dahinya.
"Nanti malam, lakukanlah ritual penggabungan jiwa antara dirimu dengan tongkat Bayu Angkasa itu." perintah eyang Bagaskara.
"Baik eyang, akan saya laksanakan".
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Yuki tanzeela
yg bner tongkat apa tombak
2023-08-06
1
Agus Aguskurnia
wah makin jossss aja thor
2022-04-18
1
Lalu Ell Leo
bagus ceritanya lanjut thor
2022-02-20
2