Langkah demi langkah terlampaui, dengan santai Cakra berjalan sambil menikmati suasana alam di luar hutan Pancer, ini kali pertama bagi Cakra keluar dari hutan Pancer seorang diri, banyak pemandangan pemandangan baru yang di temui.
Aliran sungai yang jernih, menggoda Cakra untuk menceburkan diri di sana, dia tanggalkan pakaiannya kemudian dia mandi sepuas puasnya.
Setelah mandi dia segera melanjutkan perjalanannya, kini hamparan sawah yang menghijau subur menyambut kedatangannya, sejauh mana dia memandang, padi yang baru muncul bulirnya lah yang terlihat, di beberapa tempat terdapat saung yang di gunakan para petani beristirahat, di belai angin yang lembut dan sejuk khas persawahan mejadikan para petani itu terlelap, walau sebagian ada yang masih terjaga sambil berbincang bincang dengan kawannya, ada yang baru membuka nasi kiriman dari istrinya ada juga yang menghalau burung burung emprit yang memakan bulir padi.
Sungguh suasana yang tentram penuh kedamaian. umpama di dunia ini penuh dengan kedamaian seperti ini pasti dunia akan nyaman untuk di tinggali.
Cakra terus berjalan menyusuri pematang sawah, Tidak begitu lama dia melihat rumah sederhana tidak jauh dari situ. rumah dari anyaman bambu dan beratap daun ilalang kering itu terlihat bersih dan nyaman.
"Permisi" sapa Cakra.
Seorang kakek yang sedang duduk di lincak bambu depan rumahnya sambil menghisap rokok klobot menoleh kearah Cakra.
"Monggo, silahkan ! mau mencari siapa ? " tanya kakek itu.
"Tidak kek, saya cuma mau numpang istirahat" jawab Cakra.
"Oh ... silahkan ..silahkan duduk di sini ! " ucap kakek itu mempersilahkan Cakra duduk di sampingnya sambil membersihkan lincak itu menggunakan tangannya.
Cakra menghenyakkan tubuhnya di lincak bambu, untuk 'melepas lelah.
"Maaf kek, saya telah merepotkan, Nama saya Cakra kek" kenal Cakra sebagai bentuk sopan santun sebelum menanyakan nama orang dia menyebutkan namanya sendiri.
"Ah tidak usah sungkan, aku biasa di panggil mbah Gerit oleh orang orang kampung sini, kamu dari mana ? " tanya kakek itu yang ternyata namanya mbah Gerit.
" Saya pengembara dari hutan Pancer kek, " Cakra menjelaskan asal usulnya karena merasakan kakek ini orang yang baik.
"Jauh sekali, pasti kau lelah menempuh perjalanan jauh, "
Mbah Gerit segera beranjak ke belakang rumahnya, tidak begitu lama dia membawa sebutir buah kelapa, dengan cekatan dia mengupas kelapa itu dengan golok dan menyerahkan kepada Cakra.
"Minumlah ini agar tenagamu segera pulih! "
Tidak menunggu di tawari kedua kali, Cakra langsung menerima buah kelapa itu dan meneguk airnya, rasa segar langsung menjalari tenggorokannya.
"Terima kasih kek, air kelapa ini sungguh segar rasanya.
"Apa yang ingin kau cari ngger? " tanya mbah gerit seakan faham tujuan perjalanan Cakra.
"Tidak kek, saya hanya ingin mencari pengalaman hidup dan juga arti dari kehidupan ini" jawab Cakra berusaha menutupi tujuan utamanya.
"He he he, gurumu sudah banyak mengajarimu tentang pitutur luhur dan arti hidup, saat ini kamu tinggal melaksanakan apa yang sudah di bekalkan gurumu, semoga sesuatu yang kamu cari nanti bisa menjadikan tambahan bekal dirimu mengabdi kepada masyarakat, karena sejatinya Urip iku Urup ( sejatinya hidup adalah bermanfaat bagi orang lain) "
Mendengar itu Cakra terkesiap, tujuan utama yang dia ingin capai ternyata di ketahui oleh kakek itu.
"Ngger, di jaman dimana yang jelek meraja lela dan yang baik tinggal sedikit ini, kamu harus berhati hati, banyak perkara baik di anggap buruk dan perkara buruk di sangka baik, kau harus berpegang teguh kepada keyakinan yang terpatri dalam jiwamu, jadikan kalbumu yang bersih itu sebagai arah kemana kamu mau melangkah, "
"Ngger. ojo katungkul marang kalungguhan, kedonyan lan kemareman ( jangan mengejar ngejar kedudukan, harta benda dan kepuasan duniawi ), karena hal seperti itu bisa menjadikan manusia tamak, yang baik bisa berbalik menjadi buruk dan manusia itu terkungkung oleh hawa nafsunya. "
Cakra mendengarkan petuah luhur itu dengan seksama, dia merasa di siang hari ini tidak hanya mendapat kesegaran badan setelah beristirahat dan minum air kelapa, juga dia merasa mendapatkan mutiara kata yang indah dan bercahaya di hatinya, menerangi kalbu mengusir gelapnya nafsu.
Dia bersyukur kepada Sang Hyang Widi, yang telah mempertemukannya dengan mbah Gerit.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Onez Dewa Ganaz Trisula
Kereennn...
2022-05-10
2
Nuri Hidayatulloh
penuh pesan pesan yg tersirat dalam cerita.. sangat bagus.. selamat berkarya🙏🙏
2022-04-22
1
Agus Aguskurnia
petuah yg berguna thanks thor
2022-04-18
1