Cakra yang telah menyelesaikan pertarungan di padepokan Tameng landak segera mengantar gadis yang sebelumnya di culik oleh orang orang padepokan itu.
Di pagi buta itu Cakra berpamitan kepada Mbah Gerit untuk melanjutkan perjalanan, dia menceritakan apa yang terjadi di padepokan dan memberi saran untuk membagi bagikan harta padepokan kepada warga kampung.
Kemudian Cakra melesat pergi meninggalkan kampung itu.
Mbah Gerit sendiri segera mengumpulkan warga, mereka menuju arah padepokan beramai ramai dan Mbah Gerit bersama Ki Darso melaksanakan saran dari Cakra untuk membagi bagikan harta padepokan kepada warga kampung.
* * *
Sesosok tubuh terbaring di atas cabang pohon yang tinggi, matanya terpejam dan terdengar dengkur halus pertanda sosok pemuda tampan itu sedang terlelap dalam tidur, suara burung yang riuh di pagi hari itu seakan mengantar tubuh pemuda itu semakin lelap.
Ting ... ting...
Suara denting pedang yang berbenturan mengusik tidur lelap pemuda itu, pemuda yang tidak lain adalah Cakra, dia membuka mata dengan perlahan, mencoba membaca keadaan yang telah terjadi, dia menajamkan pendengarannya.
"Masih pagi sudah ada pertempuran, mengganggu tidurku saja" gerutu Cakra.
Semakin lama suara pertarungan itu semakin terdengar jelas, tidak hanya ada satu pertarungan tapi lebih dari satu pertarungan, hal ini membuat Cakra penasaran walau sebelumnya dia tidak tertarik dan tidak mau ikut campur dengan urusan orang lain, kini dia ingin tahu siapa yang bertarung.
Huuph wushhh...
Sekali loncat dia melesat mendatangi sumber suara.
Thaaph..
Dengan ringan dia mendarat di pohon yang rimbun, segera dia memposisikan diri dengan nyaman untuk melihat pertarungan di depannya.
Sementara itu seorang perempuan telah di kepung oleh tiga orang laki laki berpakaian prajurit suatu kerajaan, perempuan itu bergerak dengan lincah, pedang di tangannya menari dengan indah membentuk pola lingkaran yang mengurung ke tiga penyerangnya, walau dia di serang oleh orang yang lebih banyak, namun tidak ada tanda tanda dia tertekan, namun dia belum juga bisa menumbangkan lawan, hal ini terjadi karena kerjasama serangan mereka sangat sempurna, mereka saling mengisi kekosongan jurus temannya hingga sulit bagi perempuan itu untuk menembus pertahanan penyerangnya.
Tidak jauh dari situ juga terjadi pertarungan tidak seimbang, dua orang laki laki di keroyok oleh lima belasan prajurit.
Nampak ke dua laki laki yang di keroyok itu dalam posisi tertekan, beberapa sayatan pedang telah bersarang di tubuh mereka, walau luka yang di derita tidak dalam namun cukup untuk mengurangi tenaga dan gerakan mereka, hingga mereka menjadi bulan bulanan para prajurit itu, hingga akhirnya mereka bisa di lumpuhkan.
Cakra yang memperhatikan itu bingung harus memihak yang mana, sehingga dia hanya memperhatikan dan mempelajari situasinya.
Sementara di pertempuran perempuan yang di keroyok tiga orang, walau perempuan itu di atas angin namun dia juga merasa khawatir tenaganya akan segera habis, apalagi saat dia melirik kedua orang kawannya telah di lumpuhkan dan juga seorang pemimpin prajurit itu yang hanya melihat pertarungan dari kejauhan.
''Dasar bodoh, meringkus seorang perempuan saja tidak becus" desis pemimpin prajurit itu dengan geram.
Saat ini dia masih bersabar menyerahkan masalah ini kepada ke tiga orang kepercayaannya, namun lambat laun dia bosan.
Wuushhh.
Dia melesat menerjang laki laki itu.
Menyadari adanya serangan dari sisi kanannya yang di dahului dengan sambaran angin yang kuat, perempuan itu menyabetkan pedangnya untuk menyambut serangan itu.
Tidak ingin tangannya terpotong, pemimpin prajurit itu menarik serangannya, merubah tangan kiri yang menjulur untuk menangkap pergelangan tangan perempuan itu, pergelangan tangan yang tertangkap itu ditariknya, hingga tubuh perempuan itu terdorong kedepan dan di papak dengan pukulan tangan kanan tepat di dadanya.
Tubuh perempuan itu terhuyung lima langkah, untung dia sudah menyalurkan tenaga dalamnya ke dada sehingga meredam efek pukulan tadi.
"Licik, beraninya berlaku curang, chuiiih" umpat perempuan itu.
"He he he, tidak ada aturan pertarungan di sini, semuanya sah sah saja, " jawab pemimpin itu.
"Huhh, dasar tidak tau malu, aku akan menghajar kalian semua" ujar perempuan itu sambil menyiapkan serangannya.
Kemudian perempuan itu menyilangkan pedangnya di depan dada, dia arahkan pedangnya tepat menusuk dada pemimpin itu, namun sebelum pedang itu mengenai dada pedang itu sudah tertangkis oleh pedang salah satu dari ke tiga penyerangnya.
"Sebelum menghadapi pemimpin kami, lawan dulu kami" kata laki laki yang tadi menangkis pedangnya.
Tanpa pikir panjang perempuan anggun yang memakai kain jarik selutut di padu celana warna merah dan kemben berwarna putih itupun menyerang mereka.
dengan jurus bayangan pedang perempuan itu menyerang, gerakan cepat pedangnya membuat bayangan yang seakan akan pedang itu menjadi terlihat banyak, serangan dahsyat itu di ladeni oleh ke tiga orang, mereka bertiga meladeni dengan bersungguh sungguh, pedang yang menyambar ke merepotkan mereka, hingga pada suatu kesempatan melihat sisi kanan seorang laki laki penyerangnya yang menggunakan pakaian serba kuning itu kosong, segera dia menyabetkan pedangnya kearah orang itu.
Aaakhhh.....
Teriak orang itu karena lengan kanannya telah terpotong.
Melihat itu, marah lah pemimpin prajurit itu, dia masuk ke dalam pertarungan itu.
Tanpa mengendurkan serangan perempuan yang telah melukai seseorang dari penyerangnya itu tetap menyerang bagai macan ketaton.
Hyaaat. . .
Dengan pedang di tangannya dia meloncat dan menyabetkan pedang itu ke leher pemimpin prajurit, namun dengan sedikit gerakan mundur lepaslah leher itu dari serangan pedang, bahkan dia membalas dengan tendangan menyapu dari arah kanan di lambari tenaga dalam penuh, telak tendangan itu mengenai perut perempuan itu, hingga dia terpental berjumpalikan.
"Ha ha ha, siapa suruh kalian berani berurusan dengan prajurit Selo Cemeng ? " ucap pemimpin prajurit itu kepada perempuan yang meringkuk kesakitan memegangi perutnya.
Mendengar itu, Cakra yang berada di pohon di dekat situ tercekat, dia tidak menyangka prajurit prajurit itu adalah prajurit kerajaan Selo Cemeng, kerajaan yang selalu menyebarkan permusuhan dan haus kekuasaan.
"Ha ha ha ha, rasakan itu wanita sundal, karena kau telah membuat onar dan melukai kami, maka kami akan memberi perhitungan padamu, " ucap laki laki berbaju biru itu mendekat ingin menjamah tubuh perempuan itu.
Thaaaaph jleeeeb. Akhhh...
Sebelum orang itu bisa menyentuh tubuh perempuan itu, tiba tiba Cakra telah melompat dan melempar selembar daun yang di lambari tenaga dalam ke arah laki laki berbaju biru itu, hingga daun itu tepat menancap di leher laki laki itu, laki laki itu berteriak kesakitan sambil memegangi lehernya dan ambruk ke tanah bergulingan dan mati.
Bertepatan dengan itu telah berdiri seorang pemuda tampan memakai baju putih dan ikat kepala putih membelakangi perempuan yang masih duduk di situ.
" Kurang ajar, siapa kau berani mencari mati ikut campur urusan kami" tanya pemimpin prajurit itu yang marah orang kepercayaannya mati dengan satu serangan.
"Aku hanya seorang pengembara yang tidak suka melihat kejahatan yang terjadi di depanku" ucap Cakra kalem.
"Jangan sok jadi pahlawan kau anak bau kencur, lebih baik kau pulang menyusu kepada ibumu" gertaknya.
Mendengar hinaan itu Cakra yang sudah terbiasa melatih hatinya tidak merasa marah, dia hanya tersenyum.
"Apa kamu takut melawan bocah seperti aku ini hingga kau ingin mengusirku dan ngumpet di balik ketiak orang kepercayaanmu itu" jawab santai Cakra.
" kurang ajar"
Segera pemimpin prajurit itu menyerang ke arah Cakra, melihat serangan yang cukup kuat dan cepat itu, Cakra tidak mau bermain main, dia segera mengeluarkan jurus sayap seribu, di lambari jurus meringankan tubuhnya , gerakan Cakra menjadi cepat dan efektif dalam penyerangan.
Serangan serangan ganas berhawa panas mengarah di kepala Cakra, Cakra menangkis dengan tangan kanannya, kakinya mencuat mencoba menendang ke arah perut, namun dapat tertangkis dengan sikut tangan kiri lawannya, melihat peluang, Cakra menamparkan tangan kanannya menuju kepala sisi kiri dari pemimpin prajurit itu.
Plaak..
Pukulan yang di lambari seperempat tenaga dalamnya itu telak mengenai sasaran.
Tidak mau malu di depan orang kepercayaannya, dia berusaha membalas serangan tadi, dia tidak mau menyuruh orang kepercayaannya untuk ikut menyerang karena takut di hina pemuda itu sebagai seorang pemimpin yang bersembunyi di balik ketiak orang kepercayaannya.
Sriiingg..
Pedang yang dari tadi belum di keluarkan dari warangkanya, kini telah tergenggam di tangannya, pedang berwarna hitam itu bukan senjata biasa, batu yang keras pun dengan mudah terbelah.
Dengan pedang di tangan, pemimpin prajurit itu menyerang Cakra, serangan yang cepat itu mengurung pergerakan Cakra, namun Cakra masih meladeni serangan itu dengan tenang, namun kini dia telah meningkatkan tenaga dalamnya sehingga di sekitar tubuhnya muncul deru angin yang cukup besar.
Deru angin yang menerbangkan tanah dan daun di sekitarnya itu kadang mengganggu serangan pemimpin prajurit, melihat serangan prajurit itu yang sedikit kacau, tidak di sia siakan oleh Cakra, dengan gerak cepat, dia mengumpulkan tenaga dalamnya ke telapak kakinya.
Dukkhh. . . .
Pemimpin prajurit sempat lengah, sehingga kelengahannya itu harus di bayar mahal dengan bersarangnya tendangan Cakra di dadanya.
Pemimpin prajurit itu terlempar ke belakang sejauh 5 tombak dengan keras dan berhenti saat tubuhnya membentur pohon, nafasnya tersengal dan tubuhnya lemah, dia merasa luka dalam yang di derita cukup parah.
Melihat pemimpin mereka telah kalah, kedua orang kepercayaan di bantu lima belas prajurit itu menyerang Cakra, mereka menyerang dengan membabi buta.
Perempuan yang tadi terluka kini sudah membaik setelah meditasi, dia tidak ingin berpangku tangan, dia melesat membantu pemuda yang menolong yang dia belum mengenal namanya.
Mereka berdua memapaki serangan demi serangan yang di lancarkan oleh prajurit kerajaan Selo Cemeng, tamparan, tendangan dan sabetan pedang silih berganti mengenai prajurit itu.
Satu demi satu prajurit itu bertumbangan, melihat posisi mereka yang terdesak, salah seorang kepercayaan yang tangan kanannya buntung, memberi isyarat untuk mundur dan membawa pemimpin mereka yang terluka.
Cakra sengaja membiarkan mereka kabur dan menghampiri perempuan itu, dia tercekat tersihir oleh wajah rupawan yang manis di hiasi titik titik keringat, menambah enak di pandang wajah itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Elmo Damarkaca
semoga tidak banyak kisah percintaan ....🙏
2022-05-29
2
Syamsu Alam
jangan bucin lg
2022-05-26
1
Onez Dewa Ganaz Trisula
Jgn brhenti brkarya thorrr...
2022-05-11
1