Pertemuan Yang Tidak Terduga 1

Cakra yang telah menyelesaikan pertarungan di padepokan Tameng landak segera mengantar gadis yang sebelumnya di culik oleh orang orang padepokan itu.

Di pagi buta itu Cakra berpamitan kepada Mbah Gerit untuk melanjutkan perjalanan, dia menceritakan apa yang terjadi di padepokan dan memberi saran untuk membagi bagikan harta padepokan kepada warga kampung.

Kemudian Cakra melesat pergi meninggalkan kampung itu.

Mbah Gerit sendiri segera mengumpulkan warga, mereka menuju arah padepokan beramai ramai dan Mbah Gerit bersama Ki Darso melaksanakan saran dari Cakra untuk membagi bagikan harta padepokan kepada warga kampung.

* * *

Sesosok tubuh terbaring di atas cabang pohon yang tinggi, matanya terpejam dan terdengar dengkur halus pertanda sosok pemuda tampan itu sedang terlelap dalam tidur, suara burung yang riuh di pagi hari itu seakan mengantar tubuh pemuda itu semakin lelap.

Ting ... ting...

Suara denting pedang yang berbenturan mengusik tidur lelap pemuda itu, pemuda yang tidak lain adalah Cakra, dia membuka mata dengan perlahan, mencoba membaca keadaan yang telah terjadi, dia menajamkan pendengarannya.

"Masih pagi sudah ada pertempuran, mengganggu tidurku saja" gerutu Cakra.

Semakin lama suara pertarungan itu semakin terdengar jelas, tidak hanya ada satu pertarungan tapi lebih dari satu pertarungan, hal ini membuat Cakra penasaran walau sebelumnya dia tidak tertarik dan tidak mau ikut campur dengan urusan orang lain, kini dia ingin tahu siapa yang bertarung.

Huuph wushhh...

Sekali loncat dia melesat mendatangi sumber suara.

Thaaph..

Dengan ringan dia mendarat di pohon yang rimbun, segera dia memposisikan diri dengan nyaman untuk melihat pertarungan di depannya.

Sementara itu seorang perempuan telah di kepung oleh tiga orang laki laki berpakaian prajurit suatu kerajaan, perempuan itu bergerak dengan lincah, pedang di tangannya menari dengan indah membentuk pola lingkaran yang mengurung ke tiga penyerangnya, walau dia di serang oleh orang yang lebih banyak, namun tidak ada tanda tanda dia tertekan, namun dia belum juga bisa menumbangkan lawan, hal ini terjadi karena kerjasama serangan mereka sangat sempurna, mereka saling mengisi kekosongan jurus temannya hingga sulit bagi perempuan itu untuk menembus pertahanan penyerangnya.

Tidak jauh dari situ juga terjadi pertarungan tidak seimbang, dua orang laki laki di keroyok oleh lima belasan prajurit.

Nampak ke dua laki laki yang di keroyok itu dalam posisi tertekan, beberapa sayatan pedang telah bersarang di tubuh mereka, walau luka yang di derita tidak dalam namun cukup untuk mengurangi tenaga dan gerakan mereka, hingga mereka menjadi bulan bulanan para prajurit itu, hingga akhirnya mereka bisa di lumpuhkan.

Cakra yang memperhatikan itu bingung harus memihak yang mana, sehingga dia hanya memperhatikan dan mempelajari situasinya.

Sementara di pertempuran perempuan yang di keroyok tiga orang, walau perempuan itu di atas angin namun dia juga merasa khawatir tenaganya akan segera habis, apalagi saat dia melirik kedua orang kawannya telah di lumpuhkan dan juga seorang pemimpin prajurit itu yang hanya melihat pertarungan dari kejauhan.

''Dasar bodoh, meringkus seorang perempuan saja tidak becus" desis pemimpin prajurit itu dengan geram.

Saat ini dia masih bersabar menyerahkan masalah ini kepada ke tiga orang kepercayaannya, namun lambat laun dia bosan.

Wuushhh.

Dia melesat menerjang laki laki itu.

Menyadari adanya serangan dari sisi kanannya yang di dahului dengan sambaran angin yang kuat, perempuan itu menyabetkan pedangnya untuk menyambut serangan itu.

Tidak ingin tangannya terpotong, pemimpin prajurit itu menarik serangannya, merubah tangan kiri yang menjulur untuk menangkap pergelangan tangan perempuan itu, pergelangan tangan yang tertangkap itu ditariknya, hingga tubuh perempuan itu terdorong kedepan dan di papak dengan pukulan tangan kanan tepat di dadanya.

Tubuh perempuan itu terhuyung lima langkah, untung dia sudah menyalurkan tenaga dalamnya ke dada sehingga meredam efek pukulan tadi.

"Licik, beraninya berlaku curang, chuiiih" umpat perempuan itu.

"He he he, tidak ada aturan pertarungan di sini, semuanya sah sah saja, " jawab pemimpin itu.

"Huhh, dasar tidak tau malu, aku akan menghajar kalian semua" ujar perempuan itu sambil menyiapkan serangannya.

Kemudian perempuan itu menyilangkan pedangnya di depan dada, dia arahkan pedangnya tepat menusuk dada pemimpin itu, namun sebelum pedang itu mengenai dada pedang itu sudah tertangkis oleh pedang salah satu dari ke tiga penyerangnya.

"Sebelum menghadapi pemimpin kami, lawan dulu kami" kata laki laki yang tadi menangkis pedangnya.

Tanpa pikir panjang perempuan anggun yang memakai kain jarik selutut di padu celana warna merah dan kemben berwarna putih itupun menyerang mereka.

dengan jurus bayangan pedang perempuan itu menyerang, gerakan cepat pedangnya membuat bayangan yang seakan akan pedang itu menjadi terlihat banyak, serangan dahsyat itu di ladeni oleh ke tiga orang, mereka bertiga meladeni dengan bersungguh sungguh, pedang yang menyambar ke merepotkan mereka, hingga pada suatu kesempatan melihat sisi kanan seorang laki laki penyerangnya yang menggunakan pakaian serba kuning itu kosong, segera dia menyabetkan pedangnya kearah orang itu.

Aaakhhh.....

Teriak orang itu karena lengan kanannya telah terpotong.

Melihat itu, marah lah pemimpin prajurit itu, dia masuk ke dalam pertarungan itu.

Tanpa mengendurkan serangan perempuan yang telah melukai seseorang dari penyerangnya itu tetap menyerang bagai macan ketaton.

Hyaaat. . .

Dengan pedang di tangannya dia meloncat dan menyabetkan pedang itu ke leher pemimpin prajurit, namun dengan sedikit gerakan mundur lepaslah leher itu dari serangan pedang, bahkan dia membalas dengan tendangan menyapu dari arah kanan di lambari tenaga dalam penuh, telak tendangan itu mengenai perut perempuan itu, hingga dia terpental berjumpalikan.

"Ha ha ha, siapa suruh kalian berani berurusan dengan prajurit Selo Cemeng ? " ucap pemimpin prajurit itu kepada perempuan yang meringkuk kesakitan memegangi perutnya.

Mendengar itu, Cakra yang berada di pohon di dekat situ tercekat, dia tidak menyangka prajurit prajurit itu adalah prajurit kerajaan Selo Cemeng, kerajaan yang selalu menyebarkan permusuhan dan haus kekuasaan.

"Ha ha ha ha, rasakan itu wanita sundal, karena kau telah membuat onar dan melukai kami, maka kami akan memberi perhitungan padamu, " ucap laki laki berbaju biru itu mendekat ingin menjamah tubuh perempuan itu.

Thaaaaph jleeeeb. Akhhh...

Sebelum orang itu bisa menyentuh tubuh perempuan itu, tiba tiba Cakra telah melompat dan melempar selembar daun yang di lambari tenaga dalam ke arah laki laki berbaju biru itu, hingga daun itu tepat menancap di leher laki laki itu, laki laki itu berteriak kesakitan sambil memegangi lehernya dan ambruk ke tanah bergulingan dan mati.

Bertepatan dengan itu telah berdiri seorang pemuda tampan memakai baju putih dan ikat kepala putih membelakangi perempuan yang masih duduk di situ.

" Kurang ajar, siapa kau berani mencari mati ikut campur urusan kami" tanya pemimpin prajurit itu yang marah orang kepercayaannya mati dengan satu serangan.

"Aku hanya seorang pengembara yang tidak suka melihat kejahatan yang terjadi di depanku" ucap Cakra kalem.

"Jangan sok jadi pahlawan kau anak bau kencur, lebih baik kau pulang menyusu kepada ibumu" gertaknya.

Mendengar hinaan itu Cakra yang sudah terbiasa melatih hatinya tidak merasa marah, dia hanya tersenyum.

"Apa kamu takut melawan bocah seperti aku ini hingga kau ingin mengusirku dan ngumpet di balik ketiak orang kepercayaanmu itu" jawab santai Cakra.

" kurang ajar"

Segera pemimpin prajurit itu menyerang ke arah Cakra, melihat serangan yang cukup kuat dan cepat itu, Cakra tidak mau bermain main, dia segera mengeluarkan jurus sayap seribu, di lambari jurus meringankan tubuhnya , gerakan Cakra menjadi cepat dan efektif dalam penyerangan.

Serangan serangan ganas berhawa panas mengarah di kepala Cakra, Cakra menangkis dengan tangan kanannya, kakinya mencuat mencoba menendang ke arah perut, namun dapat tertangkis dengan sikut tangan kiri lawannya, melihat peluang, Cakra menamparkan tangan kanannya menuju kepala sisi kiri dari pemimpin prajurit itu.

Plaak..

Pukulan yang di lambari seperempat tenaga dalamnya itu telak mengenai sasaran.

Tidak mau malu di depan orang kepercayaannya, dia berusaha membalas serangan tadi, dia tidak mau menyuruh orang kepercayaannya untuk ikut menyerang karena takut di hina pemuda itu sebagai seorang pemimpin yang bersembunyi di balik ketiak orang kepercayaannya.

Sriiingg..

Pedang yang dari tadi belum di keluarkan dari warangkanya, kini telah tergenggam di tangannya, pedang berwarna hitam itu bukan senjata biasa, batu yang keras pun dengan mudah terbelah.

Dengan pedang di tangan, pemimpin prajurit itu menyerang Cakra, serangan yang cepat itu mengurung pergerakan Cakra, namun Cakra masih meladeni serangan itu dengan tenang, namun kini dia telah meningkatkan tenaga dalamnya sehingga di sekitar tubuhnya muncul deru angin yang cukup besar.

Deru angin yang menerbangkan tanah dan daun di sekitarnya itu kadang mengganggu serangan pemimpin prajurit, melihat serangan prajurit itu yang sedikit kacau, tidak di sia siakan oleh Cakra, dengan gerak cepat, dia mengumpulkan tenaga dalamnya ke telapak kakinya.

Dukkhh. . . .

Pemimpin prajurit sempat lengah, sehingga kelengahannya itu harus di bayar mahal dengan bersarangnya tendangan Cakra di dadanya.

Pemimpin prajurit itu terlempar ke belakang sejauh 5 tombak dengan keras dan berhenti saat tubuhnya membentur pohon, nafasnya tersengal dan tubuhnya lemah, dia merasa luka dalam yang di derita cukup parah.

Melihat pemimpin mereka telah kalah, kedua orang kepercayaan di bantu lima belas prajurit itu menyerang Cakra, mereka menyerang dengan membabi buta.

Perempuan yang tadi terluka kini sudah membaik setelah meditasi, dia tidak ingin berpangku tangan, dia melesat membantu pemuda yang menolong yang dia belum mengenal namanya.

Mereka berdua memapaki serangan demi serangan yang di lancarkan oleh prajurit kerajaan Selo Cemeng, tamparan, tendangan dan sabetan pedang silih berganti mengenai prajurit itu.

Satu demi satu prajurit itu bertumbangan, melihat posisi mereka yang terdesak, salah seorang kepercayaan yang tangan kanannya buntung, memberi isyarat untuk mundur dan membawa pemimpin mereka yang terluka.

Cakra sengaja membiarkan mereka kabur dan menghampiri perempuan itu, dia tercekat tersihir oleh wajah rupawan yang manis di hiasi titik titik keringat, menambah enak di pandang wajah itu.

Terpopuler

Comments

Elmo Damarkaca

Elmo Damarkaca

semoga tidak banyak kisah percintaan ....🙏

2022-05-29

2

Syamsu Alam

Syamsu Alam

jangan bucin lg

2022-05-26

1

Onez Dewa Ganaz Trisula

Onez Dewa Ganaz Trisula

Jgn brhenti brkarya thorrr...

2022-05-11

1

lihat semua
Episodes
1 PRAHARA
2 SANG PERTAPA
3 Doa Yang Terkabulkan
4 MENEMPA DIRI
5 Legenda Kesatrya Jatayu
6 Hadiah untuk Eyang Guru 1
7 Hadiah Untuk Eyang Guru 2
8 Kayu Gung Suhuhe Angin 1
9 Kayu Gung Susihe Angin 2
10 Jurus Bumantara
11 Potongan Sayap Jatayu
12 Meninggalkan Hutan Pancer
13 Petuah Luhur
14 Padepokan Tameng Landak
15 Menghancurkan Padepokan Tameng Landak
16 Pertemuan Yang Tidak Terduga 1
17 Pertemuan Tidak Terduga 2
18 Menuju Gunung Gembolo Arum
19 Ujian Sebelum Masuk Gua
20 Menerima Pusaka 1
21 Menerima Pusaka 2
22 Meluapkan Rindu 1
23 Meluapkan Rindu 2
24 Meluapkan Rindu 3
25 Memulai Tugas
26 Mulai Penyelidikan 1
27 Mulai Menyelidiki 2
28 Putra Mahkota 1
29 Putra Mahkota 2
30 Bergabung Dengan Putra Mahkota 1
31 Bergabung Dengan Putra Mahkota 2
32 Menyusun Rencana
33 Mencari Bantuan 1
34 Mencari Bantuan 2
35 Nyi Selasih
36 Satu Langkah Awal
37 Desa Ringin Anom 1
38 Desa Ringin Anom 2
39 Menuju Hutan Kuncoro 1
40 Menuju Hutan Kuncoro 2
41 Menuju Hutan Kuncoro 3
42 Tiba di Hutan Kuncoro
43 Mempersiapkan Pasukan
44 Di Satroni Musuh
45 Mulai Bergerak
46 Penyerangan Awal
47 Batu Penghalang
48 Pencerahan
49 Semangat Baru
50 Dendam yang Membinasakan 1
51 Dendam yang Membinasakan 2
52 Markas Baru
53 Shindung Bawana
54 Desa Mojosari
55 Dewa Tongkat Rotan
56 Umpan yang Tersambar
57 Mengatur Siasat
58 Sanja Kelana
59 Perang Terbuka 1
60 Perang Terbuka 2
61 Perang Terbuka 3
62 Perang Terbuka 4
63 Tewasnya Sangga Bhumi
64 Sumpah Jati Kusuma
65 Membangun Pemerintahan
66 Dendam Datuk Sesat 1
67 Dendam Datuk Sesat 2
68 Kabar Yang Mengejutkan
69 Pembantaian
70 Membantu Romo
71 Membantu Romo 2
72 Merenung
73 Serangan Fajar.
74 Tibanya pertolongan
75 Menggempur Musuh 1
76 Menggempur musuh 2
77 Tercerai Berai
78 Serangan Pamungkas 1
79 Serangan Pamungkas 2
80 Serangan Pamungkas 3
81 Akhir Dari Perang
82 Cinta Buta
83 Kecamuk Perang Di Hati
84 Merindukan Eyang Bagaskara
85 Menyelidiki Kematian Eyang Guru
86 Jalan Yang Terjal
87 Melacak Jejak Pembunuh
88 Empat Setan Gendut
89 Rahasia Pendekar Seruling Bambu 1
90 Rahasia Pendekar Seruling Bambu 2
91 Rahasia Pendekar Seruling Bambu 3
92 Rahasia Pendekar Seruling Bambu 4
93 Perebutan Patung Garuda Emas 1
94 Perebutan Patung Garuda Emas 2
95 Perebutan Patung Garuda Emas 3
96 Balas Budi Kawan Lama
97 Roh Garuda Agni 1
98 Roh Garuda Agni 2
99 Roh Garuda Agni 3
100 Roh Garuda Agni 4
101 Mencoba Kekuatan Baru
102 Menuju Gunung Semeru
103 Menuju Gunung Semeru 2
104 Perjalanan Yang Tertunda
105 Menghadapi Ki Ambiseno ( Gagak Merah )
106 Semeru Menunggu
107 Fitnah
108 Pengkhianatan Permana
109 Jati Diri Empu Songgo Langit
110 Serangan Licik
111 Matinya Murid Durhaka
112 Tugas Baru
113 Wujud Pedang Garuda Yang Baru
114 Meninggalkan Padepokan Gunung Semeru
115 Desa Randu Alas 1
116 Desa Randu Alas 2
117 Desa Randu Alas 3
118 Desa Randu Alas 4
119 Penculikan
120 Lautan Api di Hutan Murwo
121 Pertarungan Sepasang Pendekar
122 Pertarungan Sepasang Pendekar 2
123 Teror Siluman Kera
124 Teror Siluman Kera 2
125 Teror Siluman Kera 3
126 Raja Siluman Kera 1
127 Raja Siluman Kera 2
128 Raja Siluman Kera 3
129 Resi Wisrawa
130 Mustika Sodo Jagad
131 Mustika Sodo Jagad 2
132 Serangan Mendadak
133 Serangan Mendadak 2
134 Serangan Mendadak 3
135 Penobatan
136 Membangun Tatanan Baru
137 Menunjukkan Kekuatan Baru
138 Kebun Istana
139 Memenuhi Undangan
140 Memenuhi Undangan 2
141 Mengakhiri Pertarungan.
142 Lawan Menjadi Kawan
143 Restu Orang Tua
144 Restu Orang Tua 2
145 Restu Orang Tua 3
146 Restu Orang Tua 4
147 Kejutan 1
Episodes

Updated 147 Episodes

1
PRAHARA
2
SANG PERTAPA
3
Doa Yang Terkabulkan
4
MENEMPA DIRI
5
Legenda Kesatrya Jatayu
6
Hadiah untuk Eyang Guru 1
7
Hadiah Untuk Eyang Guru 2
8
Kayu Gung Suhuhe Angin 1
9
Kayu Gung Susihe Angin 2
10
Jurus Bumantara
11
Potongan Sayap Jatayu
12
Meninggalkan Hutan Pancer
13
Petuah Luhur
14
Padepokan Tameng Landak
15
Menghancurkan Padepokan Tameng Landak
16
Pertemuan Yang Tidak Terduga 1
17
Pertemuan Tidak Terduga 2
18
Menuju Gunung Gembolo Arum
19
Ujian Sebelum Masuk Gua
20
Menerima Pusaka 1
21
Menerima Pusaka 2
22
Meluapkan Rindu 1
23
Meluapkan Rindu 2
24
Meluapkan Rindu 3
25
Memulai Tugas
26
Mulai Penyelidikan 1
27
Mulai Menyelidiki 2
28
Putra Mahkota 1
29
Putra Mahkota 2
30
Bergabung Dengan Putra Mahkota 1
31
Bergabung Dengan Putra Mahkota 2
32
Menyusun Rencana
33
Mencari Bantuan 1
34
Mencari Bantuan 2
35
Nyi Selasih
36
Satu Langkah Awal
37
Desa Ringin Anom 1
38
Desa Ringin Anom 2
39
Menuju Hutan Kuncoro 1
40
Menuju Hutan Kuncoro 2
41
Menuju Hutan Kuncoro 3
42
Tiba di Hutan Kuncoro
43
Mempersiapkan Pasukan
44
Di Satroni Musuh
45
Mulai Bergerak
46
Penyerangan Awal
47
Batu Penghalang
48
Pencerahan
49
Semangat Baru
50
Dendam yang Membinasakan 1
51
Dendam yang Membinasakan 2
52
Markas Baru
53
Shindung Bawana
54
Desa Mojosari
55
Dewa Tongkat Rotan
56
Umpan yang Tersambar
57
Mengatur Siasat
58
Sanja Kelana
59
Perang Terbuka 1
60
Perang Terbuka 2
61
Perang Terbuka 3
62
Perang Terbuka 4
63
Tewasnya Sangga Bhumi
64
Sumpah Jati Kusuma
65
Membangun Pemerintahan
66
Dendam Datuk Sesat 1
67
Dendam Datuk Sesat 2
68
Kabar Yang Mengejutkan
69
Pembantaian
70
Membantu Romo
71
Membantu Romo 2
72
Merenung
73
Serangan Fajar.
74
Tibanya pertolongan
75
Menggempur Musuh 1
76
Menggempur musuh 2
77
Tercerai Berai
78
Serangan Pamungkas 1
79
Serangan Pamungkas 2
80
Serangan Pamungkas 3
81
Akhir Dari Perang
82
Cinta Buta
83
Kecamuk Perang Di Hati
84
Merindukan Eyang Bagaskara
85
Menyelidiki Kematian Eyang Guru
86
Jalan Yang Terjal
87
Melacak Jejak Pembunuh
88
Empat Setan Gendut
89
Rahasia Pendekar Seruling Bambu 1
90
Rahasia Pendekar Seruling Bambu 2
91
Rahasia Pendekar Seruling Bambu 3
92
Rahasia Pendekar Seruling Bambu 4
93
Perebutan Patung Garuda Emas 1
94
Perebutan Patung Garuda Emas 2
95
Perebutan Patung Garuda Emas 3
96
Balas Budi Kawan Lama
97
Roh Garuda Agni 1
98
Roh Garuda Agni 2
99
Roh Garuda Agni 3
100
Roh Garuda Agni 4
101
Mencoba Kekuatan Baru
102
Menuju Gunung Semeru
103
Menuju Gunung Semeru 2
104
Perjalanan Yang Tertunda
105
Menghadapi Ki Ambiseno ( Gagak Merah )
106
Semeru Menunggu
107
Fitnah
108
Pengkhianatan Permana
109
Jati Diri Empu Songgo Langit
110
Serangan Licik
111
Matinya Murid Durhaka
112
Tugas Baru
113
Wujud Pedang Garuda Yang Baru
114
Meninggalkan Padepokan Gunung Semeru
115
Desa Randu Alas 1
116
Desa Randu Alas 2
117
Desa Randu Alas 3
118
Desa Randu Alas 4
119
Penculikan
120
Lautan Api di Hutan Murwo
121
Pertarungan Sepasang Pendekar
122
Pertarungan Sepasang Pendekar 2
123
Teror Siluman Kera
124
Teror Siluman Kera 2
125
Teror Siluman Kera 3
126
Raja Siluman Kera 1
127
Raja Siluman Kera 2
128
Raja Siluman Kera 3
129
Resi Wisrawa
130
Mustika Sodo Jagad
131
Mustika Sodo Jagad 2
132
Serangan Mendadak
133
Serangan Mendadak 2
134
Serangan Mendadak 3
135
Penobatan
136
Membangun Tatanan Baru
137
Menunjukkan Kekuatan Baru
138
Kebun Istana
139
Memenuhi Undangan
140
Memenuhi Undangan 2
141
Mengakhiri Pertarungan.
142
Lawan Menjadi Kawan
143
Restu Orang Tua
144
Restu Orang Tua 2
145
Restu Orang Tua 3
146
Restu Orang Tua 4
147
Kejutan 1

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!