Sejak menyingsing fajar sampai tenggelamnya matahari di ufuk barat, Cakra berlatih dengan di awasi oleh eyang gurunya, berbagai jurus yang telah di turunkan kepadanya kini telah sempurna dia kuasai, gerakannya mantap dan teratur, tidak banyak gerakan yang sia sia, semua gerakan sangat efektif untuk melumpuhkan lawannya.
Di tengah latihan, sengaja eyang Bagaskara melempar batu sebesar kelapa.
Wuushhh..
Duaaaaarrr...
Batu itu meluncur dan sukses di pukul oleh Cakra hingga batu itu hancur berkeping keping.
"Bagus Cakra, lanjutkan latihanmu, aku akan beristirahat di pondok dulu" ucap eyang Bagaskara.
Cakra pun berlatih dengan serius, entah itu dia di awasi langsung oleh gurunya atau tidak di awasi secara langsung oleh gurunya, ini bukti bahwa Cakra sangat menaati setiap perintah gurunya.
Seharian sudah Cakra berlatih, kini dia sedang duduk berhadapan dengan Eyang Bagaskara untuk menerima wejangan.
"Aku lihat, perkembanganmu sangat cepat Cakra, di usiamu yang masih belia kamu sudah dengan sempurna menguasai jurus jurus silat yang aku ajarkan kepadamu" buka eyang Bagaskara mengawali wejangan itu.
"Ini semua tidak lain atas petunjuk eyang, eyang begitu sabar dan telaten mengajari Cakra" jawabnya.
"Ketahuilah Cakra, saat ini sudah saatnya bagimu untuk meningkatkan tenaga dalam" lanjut eyang Bagaskara.
"Hamba siap melaksanakan setiap perintah eyang guru" saut Cakra sambil meletakan dahinya di lantai.
"Sebelum itu aku akan bercerita tentang kayu gung susuhe angin".
,,
Dulu sewaktu Bima masih menuntut ilmu kepada gurunya, begawan Dorna. Dia di perintahkan oleh gurunya untuk mencari kayu gung susuhe angin.
Karena begitu taatnya dia dengan gurunya, tanpa pikir panjang dia menyanggupi perintah gurunya, padahal dia tidak tau di mana tempat beradanya kayu gung susuhe angin tersebut.
Hutan demi hutan dia jelajahi, keluar masuk hutan dia lakukan, tidak perduli hutan yang paling angker pun dia masuki.
Hingga pada saat Bima memasuki hutan Candradimuka, dia di hadang oleh dua raksasa kembar, dia tidak di ijinkan untuk masuk lebih dalam ke hutan Candradimuka.
"Hei siapa kamu berani masuk kehutan Candradimuka ? " tanya salah satu raksasa itu.
"Aku Bima, putra Pandu dan dewi Kunti, " jawab Bima.
"Kamu tidak boleh masuk ke hutan Candradimuka ini," gertak raksasa satunya.
"Tidak bisa, aku harus tetap masuk, karena aku ingin mencari kayu gung susuhe angin di hutan ini" bentak Bima.
"Ha ha ha , kamu tidak akan menemukan kayu gung susuhe angin di sini Bima, yang kau cari itu sebenarnya tidak ada ? "
Bima yang bersifat tegas dan berangasan tidak percaya kata kata itu, segera dia melesat memeriksa semua sisi hutan itu, hutan itu di porak porandakan oleh Bima, hingga akhirnya raksasa penunggu hutan itu geram dan terjadilah pertempuran dahsyat.
Hutan Candradimuka sekarang sudah tidak berbentuk, akibat dari pertarungan itu banyak tercipta ceruk ceruk yang dalam dan lebar.
"Ampun, ampuni kami bima" ucap salah satu raksasa yang di hajar habis habisan oleh Bima.
Blaaarrr.....
Blaaaarrr.....
Bima sudah terlanjur memunculkan kuku pancanakanya dan tepat bersarang di dada kedua raksasa itu.
Tumbang lah kedua tubuh raksasa itu, namun kejadian aneh terjadi.
Tubuh ke dua raksasa itu bercahaya dan sedikit demi sedikit menghilang berganti dengan sosok dewa yang tampan dan gagah, yang konon dewa itu adalah dewa Bayu yang dulu menganugrahi dewi kunti seorang bayi, bayi itu adalah Bima, jadi secara tidak langsung Bayu adalah ayah dari bima.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Onez Dewa Ganaz Trisula
Lanjuutt...
2022-05-08
2
Agus Aguskurnia
muter muter bossss lanjut thor
2022-04-18
1
akp
next
2022-01-12
1