Lebih dari tujuh hari Cakra melakukan semedi di sebuah ceruk yang biasa di gunakan Eyang Bagaskara bertapa untuk membersihkan jiwa raganya, di bimbing oleh gurunya secara terus menerus, menjadikan semedi yang di lakukan lebih cepat, mungkin jika orang lain melakukannya butuh empat puluh satu hari, kini Cakra sudah mampu mengendalikan hawa nafsunya.
Namun walaupun semedi yang di lakukan Cakra terlihat ringan, beda yang di alami oleh Cakra, di awal semedi muncul berkelebatan bayangan tentang penyerangan kerajaan Selo Cemeng yang mengakibatkan dia dan orang tuanya berpisah, hal ini memunculkan dendam di hati Cakra.
Tapi perasaan itu dia tekan di dalam hatinya, dia terus merenung tentang kejadian itu, dia merasa itu adalah bentuk kehendak Sang Hyang Widi dalam mempertemukan dia dengan gurunya, dengan kejadian itu pula dia berkesempatan menjadi murid dari Eyang Bagaskara, seorang pendekar pilih tanding pada masanya dan membentuk dirinya sampai mencapai kemampuan saat ini, hingga yang muncul dalam hati Cakra saat ini adalah rasa syukur yang tidak terhingga, karena pertemuannya dengan gurunya adalah anugrah luar biasa dari Sang Pencipta.
"Kau sekarang sudah berbeda dengan Cakra yang dulu anakku, kini kau layaknya manusia yang baru terlahir kembali, " buka eyang Bagaskara.
Perlahan Cakra membuka matanya mengakhiri semedinya, dia menoleh kearah eyang Bagaskara berada.
"Ini semua atas kebaikan eyang guru yang bersabar membimbing saya selama ini, " ucap Cakra.
"He he he,, kau pintar anakku, sekarang sudah waktunya kau bertapa untuk menghimpun tenaga dalammu,ikutlah aku ! " ucap eyang Bagaskara sambil melangkah pergi.
Cakra segera berdiri dari tempat semedinya dan segera menyusul gurunya pergi.
Mereka berjalan dengan santai sambil menikmati keindahan alam di sekitarnya, ini pertama kali Cakra keluar dari hutan Pancer, dia sangat menikmati pengalamannya ini, apalagi eyang Bagaskara mengajak Cakra mampir di tempat makan di suatu desa yang Cakra tidak tau namanya, hidangan nasi, sambal dan terong bakar yang di hidangkan terasa nikmat terasa, sampai tidak sadar dia dengan cepat menghabiskan makanan itu.
"Pelan pelan Cakra makannya!, jangan sampai kau tersendak, " tegur eyang Bagaskara kepada Cakra.
"Baik eyang, maaf" ucap Cakra menyadari kesalahannya.
"apa kamu mau tambah lagi Cakra? " tawar gurunya.
"Tidak eyang, cukup,,, aku sudah kenyang. " tolak Cakra secara halus.
Setelah selesai makan, mereka berdua segera melanjutkan perjalanan, tidak terasa mereka telah berjalan seharian, akhirnya mereka telah sampai di tempat yang di tuju oleh eyang Bagaskara.
Debur ombak mendayu dayu di sore itu seakan menyambut dua sosok yang baru datang.
Di pantai inilah tempat yang di tuju oleh eyang Bagaskara, di tempat yang jarang di didatangi orang itu, kini terdapat eyang Bagaskara dan Cakra muridnya, di antara batu batu padas di sekitar pantai itu eyang Bagaskara duduk berhadapan dengan Cakra.
"Apa yang kau rasakan di tempat ini Cakra? " tanya gurunya.
"Saya merasa tempat ini sangat tenang, nyaman, sejuk dan banyak energi murni di sini eyang" jawab Cakra.
" He he he,, itulah alasan kenapa aku mengajakmu kesini Cakra, di sini tempat pertemuan dua energi dari air sama angin, sangat cocok sebagai tempat bertapa menghimpun tenaga dalam dari jurus Bumantara. "
"Lakukanlah posisi bertapa, rasakan setiap aliran udara yang masuk ke tubuhmu, alirkan udara itu ke dalam perutmu, tahan dan rasakan seakan kau menghisap energi dari angin yang ada di perutmu, kemudian alirkan energi itu ke seluruh tubuhmu, lakukan itu sampai kau bisa menyerap energi angin yang besar dari setiap pori pori kulitmu."
"Jangan beranjak dari pertapaanmu di sini sampai kau berhasil menghimpun tenaga dalam Bumantara, walau tubuhmu terendam oleh air pasang kau tidah boleh berpindah dari sini" perintah eyang Bagaskara.
"Sendiko dawuh eyang" jawab Cakra sambil bersiap memulai pertapaannya.
Tidak begitu lama, Cakra pun sudah larut dalam pertapaannya, eyang Bagaskara memperhatikan sejenak, setelah itu dia pergi meninggalkan muridnya, saat ini keberhasilan tapa yang di lakukan Cakra tergantung tekad kuatnya.
kini pantai itu kembali sunyi lagi, hanya tinggal suara debur ombak dan suara burung camar yang terdengar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Alam Kundam
joss Thor
2022-07-07
2
Elmo Damarkaca
lanjut thor ...
update trus ya...
2022-05-29
3
Onez Dewa Ganaz Trisula
👍👍👍
2022-05-10
3