Jing Zishu, tuan muda kedua dari putra walikota Yuhan, Jing Shima.
Saat ini Jing Zishu tengah mondar-mandir di dalam penginapan, Sangat terlihat bahwa pemuda itu sedang merasa gusar, akan tetapi tak ada keraguan dimatanya.
“Sun, aku pikir sebaiknya kau mendatangi sakte gunung bunga persik dan minta bantuan darinya karena aku yakin orang-orang berilmu akan lebih cepat sampai kesini daripada pasukkan biasa yang dimiliki ayah di kota.” ucapnya
Pengawal Jing Zhiyu yang di panggil Sun itu pun hanya bisa menghembuskan nafas beratnya. Sambil berkata,
“Tuan muda, saya harap sebaiknya anda kembali ke pusat kota. Biar urusan kelompok itu saya yang mengurusnya semampu saya.”
“Tidak, aku tidak akan meninggalkan desa ini!” sarkas Jing Zishu dengan keras.
“Aku tidak mau tau besok kau harus pergi ke sakte gunung bunga persik.” Ucapnya lagi menghentikan perbincangan yang tidak sejalan itu.
“Sekarang aku akan memikirkan cara untuk menahan serangan mereka sampai bala bantuan datang, Kau hanya perlu sampai ke sakte itu, setelahnya baru kau kembali membantuku.” Ucapnya lagi, ia pun duduk di ranjangnya sambil berpikir.
Sun yang mendengar itu hanya bisa menghela nafas dan pergi meninggalkan tuan mudanya.
Di kamar lain, seseorang telah mendengar seluruh percakapan mereka. Itu adalah Zhou Shiyue. Remaja yang berumur 16 tahun itu merasa kagum akan pemikiran tuan muda Jing Zishu. Seumur ia hidup ia tak pernah menemui pria sebaik dan sebijaksana pemuda tersebut, pikirnya.
Keesokkan harinya, Sun pergi meninggalkan desa menuju sakte gunung bunga persik. Jing Zishu sendiri hanya duduk diam di dalam penginapan sambil menyusun strategi karena besok kelompok itu akan datang.
2 hari yang lalu…
Di tengah jalan perbatasan antara desa Yixin dan Yulu. Beberapa orang tengah mengobrol dengan serius tanpa menyadari keberadaan Jing Zishu dan Sun yang tengah bersembunyi.
“Bagaimana keadaan di desa Yulu? Apa disana terlihat pendekar-pendekar aliran putih yang tangguh?” tanya Ryu Shi kepada salah satu rekannya.
“Memang ada pendekar aliran putih yang singgah disana tetapi tidaklah tangguh, mungkin hanya berada pada tahap bumi. Aku tidak melihat pendekar yang kuat disana.” Jawab Ming Hao.
“Bagus, dengan begitu kita tidak perlu khawatir dengan adanya perlawanan yang kuat. Karena beberapa pendekar setingkat bumi tidak akan bisa menghalangi rencana kita untuk menghancurkan desa itu.” Ucap Jian Kun , rekan mereka yang lainnya.
Jing Zishu ingin sekali menghajar mereka sekarang juga tetapi karena tatapan Sun yang memberinya peringatan bahwa mereka tak bisa melawab orang itu maka Jing Zishu hanya bisa mengepalkan tangannya.
Kembali lagi ke posisi Zhou Shiyue.
Disebelah kamarnya ia mendengar suara dobrakan dari luar, ia yang juga merasa terkejutpun langsung keluar dari kamar untuk melihat apa yang sedang terjadi dengan kamar milik Jing Zishu.
Dua orang pertopeng hitam dengan sepasang pedang dipunggung mereka masing-masing tengah mengepung Jing Zishu.
“Kau telah mengetahui rencana kami, setelah mencari selama dua hari akhirnya aku menemukanmu. Sekarang kau harus ikut dengan kami!” ancamnya sambil menarik paksa Jing Zishu dari dalam kamar.
“Aku tidak akan ikut dengan kalian walau kalian memaksaku!” sahut Jing Zishu dengan keras, ia meronta sambil melakukan perlawanan saat dua orang itu menarik paksa dirinya.
Namun ia bukanlah seorang pendekar yang memiliki kekuatan jadi ia hanya bisa pasrah saat kedua orang itu mulai memukulinya dan membuatnya tersungkur. Akan tetapi sebuah kipas menghantam dua orang itu dalam satu waktu.
Keduanya menatap arah datangnya kipas tersebut yang ternyata dipegang oleh seorang pria berparas tampan yang berjalan mendekati mereka.
“Siapa kau?” mereka menatap Zhou Shiyue dengan was was.
“Aku?Kalian tak berhak mengetahui namaku.” Jawabnya dengan sinis.
Jing Zishu hanya terbengong menatap Zhou Shiyue sambil mengingat dimana ia pernah bertemu pria tampan itu. Karena ia yakin mereka pernah bertemu sebelumnya.
“Jangan bicara sekarang, aku akan menghajar mereka lebih dulu.” Ucap Zhou Shiyue menatap Jing Zishu yang sepertinya ingin berbicara.
Tanpa basa-basi ia menghajar dua pria di tingkat langit itu dengan kipasnya. Jeritan kesakitan jelas terdengar ditelinganya akan tetapi Zhou Shiyue tak menghiraukannya dan terus memukuli dua orang itu sampai mereka tak sadarkan diri.
Anehnya tak ada satupun orang dipenginapan ini yang menengok atau memperhatikan keributan mereka. Zhou Shiyue merasa cukup aneh dengan itu tetapi ia tak terlalu perduli dan hanya berjalan mendekati Jing Zishu yang tampaknya masih merasa terkejut.
“Ayo bangun dulu!” Zhou Shiyue mengulurkan tangannya dan Jing Zishu menyambutnya dengan baik.
Dengan keadaan babak belur, Zhou Shiyue membawa pemuda itu ke kamarnya karena saat ini kamar milik pemuda itu sudah berantakan.
Ia mendudukkan Jing Zishu di ranjangnya sedangkan ia sendiri kembali berjalan dan duduk di kursi yang ada di sebrang Jing Zishu.
“Terima kasih telah membantu saya, jika anda tidak ada mungkin…” Jing Zishu terdiam dan tertunduk.
“Tidak masalah, itu tidak membebaniku. Aku hanya kebetulan lewat dan membantu orang yang memang harus aku bantu.” Jawab Zhou Shiyu dengan santai.
“Anda memiliki hati yang baik, tetapi kalau saya boleh tahu siapakah anda ini?” tanya Jing Zishu dengan sopan.
“Kau bisa memanggilku Shiyue, dan jangan terlalu formal, aku tak suka orang yang terlalu sopan padaku.” Jawab Zhou Shiyue.
“Eh baiklah, kalau begitu aku tidak sungkan. Bisakah aku bertanya lagi? Kau dari sakte mana? Sepertinya kau seorang pendekar aliran putih.”
Tanyanya lagi.
“Aku memang dari aliran putih, tapi aku tidak mengikuti sakte manapun.” Jawab Zhou Shiyue.
“Bernarkah? Sangat jarang ada pendekar yang tidak terikat dengan sakte.” Jelas Jing Zishu sedikit kaget.
“Ya, tapi aku baru tau sekarang bahwa sangat jarang ada seorang pendekar yang tidak terikat dengan sakte.” Pernyataan Zhou Shiyue kembali membuat pemuda itu terkejut namun ia tak menunjukkan reaski berlebih takut Zhou Shiyue merasa tersinggung.
“Aku tau yang kau pikirkan, aku memang baru tau karena aku juga baru memasuki dunia seni beladiri.” Jelas Zhou Shiyue membuat pemuda itu mengangguk karena merasa pertanyaannya telah terjawab.
“Sekrang aku ingin tau, siapa kau?” tanya Zhou Shiyue balik.
“Aku Jing Zishu, putra kedua walikota Jing Shima.” Jawabnya dengan jujur.
“Ohh” reaksi Zhou Shiyue yang hanya beroh ria membuat pemuda itu mengernyit heran.
‘biasanya orang-orang akan menunjukkan sifat penjilatnya saat tau aku adalah anak dari walikota. Tetapi pemuda ini? Hmm, memang memiliki sifat baik yang murni dan tidak serakah’ batinnya.
Kedua pemuda tampan itupun akhirnya mengobrol panjang, bahkan Jing Zishu memberitahukan berita tentang penyerangan kelompok itu esok hari. Juga tak jarang Jing Zishu menceritakan hal lucu membuat Zhou Shiyue tertawa lepas.
Sampai akhirnya waktu tak terasa berlalu. Kedua pemuda yang tampak seperti baru bertemu sahabat lama itu terlihat sangat akrab dan tidur di ranjang yang sama. (Eittz jangan pikir yang aneh-aneh, ini zaman kuno loh hehehe.)
Esok harinya!!!
Jangan lupa baca episode selanjutnya kawan-kawan !!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Tamburelo
Kejadian Sodom dan Gumorah jg terjadi pd zaman nabi Luth ribuan thn lalu.
2024-03-31
1
Harman LokeST
laaaaaaaaaaaaaajjjjjjjjuuuuuuuuuuuutttttt
2023-09-17
0
DewaSistem05
ini authornya perempuan?
2023-04-01
0